
Langit sudah berubah gelap. Emma memberhentikan mobilnya di tempat yang sama seperti ia menurunkan Aldrich tadi pagi.
Hari ini rapatnya lama sekali. Jadi pulang terlambat. Al, gimana ya? Kok tidak ada disini?
Emma celingukan. Jalanan di depannya yang mengarah pada perkampungan padat itu nampak sepi. Lampu jalan pun terlihat sudah tidak menyala lagi karena dimakan umur.
Duh, Al baik-baik saja kan?
Emma mengecek ponselnya, dan memang tidak ada notifikasi tentang kondisi Aldrich yang buruk.
Ck! Aku bersumpah setelah ini akan membelikannya ponsel, supaya bisa berkomunikasi. Masa bodo dia masih kecil atau apa. Aku sangat mengkhawatirkannya sekarang.
Emma kembali melihat jalanan sepi sebelumnya. Tidak ada tanda-tanda orang yang akan melintas dari sana.
"Aku akan menyusulnya." Emma keluar dari mobil. Lalu berjalan sendirian melalui jalanan sepi yang gelap itu.
Meskipun sekarang Emma ketakutan, tapi tidak ada pilihan lain untuk menjemput Aldrich. Sebelumnya ia selalu bersama Wayne yang bisa karate dan tidak takut setan, jadi meskipun melewati jalanan yang sepi, preman ataupun dedemit tidak bisa membuat Emma takut. Tapi sekarang ia merasa takut lagi setelah sekian lama.
"Wih ada mangsa empuk nih." Seorang laki-laki tiba-tiba muncul dengan ajaib di depan Emma, hingga membuat perempuan itu terkejut bukan main.
"Siapa kau?"
"Kami cuma orang biasa kok." Ternyata gerombolan laki-laki lain muncul dan mengerubuni Emma. Di tengah suasana yang gelap itu, semua terjadi sangat cepat.
"Sendiri aja mbak?"
"Tidak. Aku berdua kok." Emma menggeleng.
"Lho? Mbaknya halusinbubur ya?"
"Bodoh! Yang benar halusinasi!" Preman lainnya menjitak temannya tadi.
"Kan kalau nasi dihalusin jadi bubur."
"Serah deh. Bodoh kok dipelihara, ntar beranak loh."
"Diam kalian! Mbaknya jadi ga takut nih. Gimana mau dipalak?" Ucap preman yang bertubuh lebih besar dan terlihat seperti bossnya.
Waduh, ternyata aku mau dipalak.
Emma langsung ketar-ketir. Dirinya yang tidak bisa bela diri dan selalu mendapat nilai merah saat pelajaran olahraga dulu, pasti tidak akan bisa lolos dari situasi ini.
"Cepat serahin duitmu!" Akhirnya preman tadi mulai mengancam.
"Jangan ada yang bergerak! Nanti temanku marah." Gertak Emma.
"Kau sendirian mbak. Teman dari mana coba?"
"Kalian tidak bisa melihatnya. Disebelahku sekarang ada sosok tak kasat mata yang bisa kusuruh mengahajar kalian. Bentuknya begini." Emma menggambarkan ada seseorang disampingnya dengan tangan.
"Boss gimana nih? Dia punya perewangan."
__ADS_1
"Bodoh! Mana ada! Dia itu bohong!"
"Tapi kalau beneran ada gimana?"
"Ck!" Karena frustasi dengan bawahannya, boss preman itu mendekati Emma sendirian dengan mengambil sebuah pisau lipat dari dalam sakunya. "Jangan basa-basi denganku. Cepat serahkan semua barangmu!"
Bagaimana ini? Bossnya kelihatan lebih pintar. Sebenarnya tidak masalah menyerahkan uang demi nyawaku. Tapi apakah mereka akan membiarkanku pergi begitu saja setelah memberikan uang?
Emma mulai mengeluarkan keringat dingin karena tidak tahu bagaimana caranya menghindari ini. Sebenarnya ia memiliki ide untuk berpura-pura gila. Tapi sepertinya sudah terlambat.
"Ada apa ini?" Aldrich muncul dari belakang para preman. Tubuhnya yang kecil membuat kemunculannya susah diketahui.
Emma merasa bahaya mungkin saja menimpa Aldrich. "Al, lari-"
"ALDRICH!!!" Para preman itu terkejut dan berteriak penuh haru.
"Ya ampun, kemana saja kamu? Popol tuh nyariin sambil ngesot." Salah satu preman memeluk Aldrich.
"Kenapa ngesot?"
"Katanya dia ga bakal berhenti ngesot sebelum menemukanmu."
"Lalu, kenapa popol tidak ada disini?" Aldrich melihat sekeliling.
"Pantatnya sakit hahaha."
Boss preman berwajah sangar tadi berbalik badan dan menatap Aldrich. "Aw! Tobeli kecil sayang!" Dengan gaya gemulai boss preman itu ikut memeluk Aldrich.
"Haha boss Tong masih mengingat pertemuan pertamanya denganmu, saat kamu ngasih stroberi itu."
Apa-apaan ini? Mereka temannya Al? Bukankah kebanyakan berita mengatakan kalau preman seperti mereka sering menyuruh anak kecil untuk bekerja paksa?
"Kalian sedang apa?" Tanya Aldrich dan tidak sengaja saling bertemu pandang dengan Emma yang sekarang mulai terlihat dari balik preman bertubuh besar itu.
"Lihat Tobeli, kita menemukan mangsa empuk. Kelihatannya dia kaya."
Aldrich tersenyum lalu berjalan mendekati Emma. "Kalau yang ini tidak boleh. Karena dia... Mamaku." Ucap Aldrich sambil memeluk lengan Emma.
"Apa?! Mama?!" Semua orang terkejut, termasuk Emma.
Al, memanggilku mama, kyaaa.
"Mama gimana nih maksudnya?"
"Dia yang merawatmu sekarang gitu? Jadinya dipanggil mama?" Tanya boss preman, yang bernama Tong tadi.
"Benar sekali." Aldrich menatap Emma sambil tersenyum. "Ayo mama, kita pulang."
"I-iya."
"Okelah kalau gitu. Ati-ati di jalan mbak. Kalau kemari lagi bawa Aldrich ya. Kita kangen. Apalagi temennya tuh si popol."
__ADS_1
Emma tiba-tiba diberi kata-kata yang hangat. Ia yang awalnya takut melihat mereka, sekarang berganti menjadi iba.
"Oh iya ini." Emma mengeluarkan beberapa lembar uang dari dalam tas. "Ini buat kalian jajan." Emma membagikan uang itu pada para preman.
"Eh?! Serius ini mbak?" Tanya salah satu preman yang tidak percaya bisa memegang uang tanpa memalak.
Emma mengangguk. "Iya terimakasih juga ya, sudah menjadi teman Al."
"Tidak masalah mbak."
Tong selaku boss preman langsung berdiri diantara yang lain. "Semuanya beri hormat kepada mama Tobeli. Hormat grak!"
"Terimakasih." Semua preman membungkuk di depan Emma bermaan.
Aldrich menarik Emma untuk pergi. Dan perempuan itu melambaikan tangannya dengan gembira kearah para preman yang melakukan hal serupa.
"Mbak tadi baik banget ya." Ucap salah satu preman yang diikuti anggukan kepala temannya.
"Cocok buat Aldrich. Dia juga suka bantuin kita bikin strategi tawuran, dan ngasih tau tempat malak yang bagus."
"Boss Tong juga sepemikiran kan? Boss? Boss?" Para anak buah preman itu heran melihat bossnya yang hanya diam sambil menatap sebuah gang sempit di dekat mereka.
"Kenapa boss?"
"Seperti ada yang sedang merhatiin kita."
"Dih apaan sih boss, jangan nakutin ah."
"Yuk lapor pak RT kalau lampu jalan mati lagi. Serem nih kalau ada penemapakan."
"Preman kok takut penampakan."
Akhirnya gerombolan preman itu pergi. Dan... Seseorang yang bersembunyi di gang Sempit tadi keluar dari balik tempat persembunyiannya. Pakaiannya yang serba hitam membuatnya dengan mudah melebur dengan kegelapan. Ia tersenyum saat melihat hasil jepretan dari kamera di tangannya.
"Tamatlah karirmu, Emma Rosaline. Kira-kira berapa harga foto ini jika kukirimkan pada pesaing bisnismu?"
◌
Dalam perjalanan pulang. Aldrich dan Emma hanya saling diam. Emma sebenarnya ingin memulai pembicaraan seperti biasa, tapi Aldrich terlihat sedih dan banyak melamun. Sepertinya senyum yang dia tunjukkan di depan para preman tadi palsu.
"Al, tadi aku sudah menyuruh Ron membuat sup iga untukmu."
"Ah iya, terimakasih kak." Jawab Aldrich sambil melihat keluar jendela.
Dia memanggilku kak lagi.
"Lalu-"
"Sebenarnya, aku sangat lelah. Bolehkah aku langsung tidur saja saat sampai rumah? Aku berjanji akan makan supnya besok." Aldrich tiba-tiba menyela Emma. Padahal ia jarang melakukan hal itu.
"Baiklah, istirahat yang banyak ya."
__ADS_1
Aldrich diam-diam mengepalkan tangannya dengan kesal. Aku akan menghabiskan waktu sepanjang malam kalau perlu. Yang pasti, aku harus membaca semua barang di laci itu, dan mencari tahu kebenarannya.