Anak Dari Dua Ceo

Anak Dari Dua Ceo
Menjabarkan Cerita


__ADS_3

Setelah Aldrich dan Ruri selesai makan mie instant. Emma mulai membuka semua barang bawaannya satu persatu, dan sukses membuat meja makan penuh dengan belanjaan.


"Ini ada jaket baru, bagus tidak? Lalu yang ini sepatu baru." Emma dengan antusias membuka barang belanjaannya di depan Aldrich. Karena semua yang ia beli untuk anak semata wayangnya itu.


"Kenapa banyak sekali? Barang-barang yang dibelikan kak Emma sebelumnya masih ada yang belum kupakai." Ucap Aldrich sambil menatap ngeri kearah barang-barang mewah di hadapannya.


"Ya tidak apa-apa. Lemarimu kan masih banyak tempat kosong." Jawab Emma sambil membuka belanjaan lainnya.


"Memangnya mau diisi seberapa banyak? Sampai lemarinya jebol?"


"Tentu saja tidak. Kalau lemarinya sudah banyak isi, akan kubelikan lemari baru hahaha."


Aldrich menepuk dahinya sambil menghela nafas. Entah kenapa ia selalu kalah dengan Emma dalam hal ini.


"Aku akan lebih senang, kalau kau ikut senang menerimanya. Karena... Meskipun aku memiliki banyak uang, aku tidak tahu untuk siapa semua uang itu. Semakin tinggi aku naik, semakin aku merasa sendirian. Padahal uangku sudah kubagikan ke beberapa badan amal. Tapi tetap masih banyak."


Aldrich mengangguk. "Baru kali ini aku lihat ada orang yang bingung cara menghabiskan uang."


"Hahaha meskipun begitu, aku tidak mau uangku habis untuk membeli sesuatu yang tidak berguna. Misalnya rumah, untuk apa? Toh aku juga tidur di satu kamar. Kalau beli rumah untuk dikontrakan malah nambah beban lagi, uangnya bertambah terus. Aku hanya suka bekerja, dan tidak ingin kalah dari siapapun. Aku ingin mengalahkan keluarga Hamilton. Dan menjadi pemenangnya."


Pantas saja kak Emma masih tinggal di rumah bekas peninggalan tuan Cassius. Kalau dilihat-lihat lagi, rumah ini terbilang kecil untuk orang yang menyandang predikat terkaya kedua di negara ini. Meskipun memiliki mobil langka yang mewah, tapi bukankah itu cukup biasa untuk kalangan orang kaya?


"Baiklah, maafkan aku kak. Sebenarnya aku sangat senang dengan semua hadiah ini. Tapi tidak enak jika dibelikan terus."


Emma menepuk kedua telapak tangannya karena terpikirkan sebuah ide cemerlang. "Kalau begitu, minta saja sesuatu padaku, lalu aku akan berhenti membelikanmu barang-barang yang tidak kamu inginkan ini."


"Meminta sesuatu?"


"Ya, wajib! Atau kamu akan melihat gunung hadiah di pintu depan."


Aldrich terpikirkan sebuah ide yang cukup bagus. Mungkin jika ia meminta barang itu sekarang, Emma akan bingung membelinya atau tidak, dan dirinya bisa bernafas lega dari hadiah mewah pemberian Emma selama beberapa hari kedepan.

__ADS_1


"Aku mau ponsel." Ucap Aldrich sambil tersenyum. Ia tahu kalau Emma adalah orang yang mementingkan hal-hal berbau kepedulian anak. Mungkin dia akan berpikir ratusan kali untuk membelikannya ponsel atau tidak. Mengingat umurnya yang masih kecil, tidak bagus jika memiliki ponsel.


"Astaga Al!!!"


Nah ini dia, pasti tidak boleh.


"Kenapa pikiran kita sama? Lihat, hari ini aku membelikanmu ponsel."


APAAA?!


"Senangnyaaaa... Berarti kita sudah mulai memiliki ikatan batin. Benar-benar seperti ibu dan anak sungguhan. Ututututu." Emma kembali memeluk Aldrich yang masih syok.


Apakah kalau aku minta dibelikan helikopter juga akan dituruti?


Ditengah suasana haru, Aldrich melihat sebuah tas belanja yang berisi mainan superhero. Emma bukanlah tipe orang yang akan membelinya.


"Apa kak Emma bertemu kak Matt?"


"Sepertinya kalian mulai bertemu secara diam-diam." Goda Aldrich sambil mengangkat alisnya.


"Apa-apaan kamu? Jangan meniru Nina ya. Tadi Matt mampir ke kantor cuma untuk menanyakan soal liburan."


Liburan? Benar juga! Kak Matt mengajakku dan kak Emma liburan bersama. Ini adalah waktu yang tepat untuk mencari informasi lebih. Semakin aku dekat dengan kak Matt, semakin mudah juga mengorek informasi darinya.


"Liburan ke Jepang itu ya? Aku mau! Aku mau! Pingin lihat kuil raksasa." Aldrich pura-pura tertarik dan melompat kegirangan.


Belum juga tanya, udah bilang mau aja. Ya sudahlah, aku akan mengabari Matt.


"Eh? Nona sudah pulang?" Ron memasuki dapur sambil membawa barang belanjaan juga seperti Emma. Tapi yang ia beli adalah barang-barang kebutuhan rumah.


"Siapkan makanan, aku lapar." Perintah Emma, yang langsung dilaksanakan oleh Ron.

__ADS_1


Ketika ingin mulai memasak, Ron menoleh kearah Emma dan Aldrich seperti baru teringat sesuatu. "Oh iya, tadi di jalan saya bertemu tuan Wayne."


"Wayne?" Tanya Emma tidak percaya. Setelah kepergian Wayne hari itu, Emma benar-benar tidak mendengar kabarnya lagi. Entah dia pergi kemana, padahal selama ini dia hanya tinggal bersama Emma. Jadi seharusnya dia tidak memiliki tempat tinggal lain.


"Iya, tapi saya tidak menyapanya. Hanya melihatnya dari jauh. Dia sedang membeli ikan, lalu setelah itu pergi ke toko buah. Tuan Wayne juga sempat berdebat dengan tukang buah soal harga yang naik."


Ya ampun, apakah kakek membuntutinya? Sampai tahu setelah itu pergi kemana.


Aldrich hanya terdiam sambil ikut mendengarkan.


"Ikan? Bukankah Wayne tidak suka ikan? Dia juga tidak terlalu suka buah. Kenapa membeli itu semua?" Sempat bingung, tapi setelah itu Emma tersadar. "Ah terserah juga. Bukan urusanku."


Aldrich menatap punggung Emma yang buru-buru pergi menuju kamarnya setelah bicara dengan labil.


Paman Wayne aneh sekali. Tidak suka ikan tapi beli ikan? Lalu sempat berdebat dengan penjual buah soal harga.


Jangan-jangan...


"Apakah paman Wayne memiliki istri?"


Klotak!


Ron yang terkejut dengan pertanyaan Aldrich, menjatuhkan nampan kayu yang hendak dipakainya. "Istri? Tidak mungkin. Tuan Wayne bahkan tidak terlihat dekat dengan wanita lain selain nona Emma."


"Habisnya, dia membeli ikan tapi tidak suka ikan. Berarti dia membelikan itu untuk orang lain. Lalu berdebat dengan tukang buah soal harga, berarti paman Wayne sedang mengirit uang tapi tetap ingin beli buah. Dengan kata lain, dia sedang menghidupi seseorang. Kalau ingin berhemat untuk dirinya sendiri, kenapa membeli sesuatu yang tidak disukainya?"


Ron menganga mendengar penjelasan Aldrich. Itu sangat masuk akal jika dijabarkan. Tapi melihat prilaku Wayne selama ini, yang seperti laki-laki tidak suka wanita itu, membuat Ron ragu. Lagi-lagi itu cukup masuk akal, jika Wayne sudah memiliki wanita yang disukai, pasti tidak melirik wanita lain. Itu benar!!!


"Soalnya aku tidak tahu tentang paman Wayne sih. Jadi hanya bisa mengira-ngira. Sudah dulu ya kakek. Aku mau mandi." Ucap Aldrich yang langsung berlari menuju kamarnya.


Ron melihat kepergian Aldrich sampai masuk ke dalam kamar. Apakah perkataan Ruri itu benar? Kalau nak Aldrich adalah anak yang berbeda dari yang lain? Karena hanya dengan mendengar ceritaku saja sudah bisa menyimpulkan hal yang bahkan tidak terpikirkan olehku.

__ADS_1


Nona, sebenarnya anak seperti apa yang anda bawa kesini?


__ADS_2