
Aldrich berjalan keluar rumah sakit sambil melamun. Seandainya besok saat semuanya telah berakhir, apa yang akan ia lakukan selanjutnya? Tetap berada disisi Emma? Atau menata kembali keluarga Hamilton? Tapi ada Matt yang akan mengurusnya.
Kenapa aku belum memikirkan ini? Jangkauanku kurang luas. Aku harus belajar berpikir jauh kedepan.
"Kakak!!!"
Aldrich berhenti berjalan saat mendengar teriakan seseorang yang sepertinya pernah ia dengar. Saat berbalik badan, pandangan matanya langsung bertemu dengan Chris.
"Oh ternyata kau."
"Kakak kenapa disini?" Tanya Chris setelah berada di dekat Aldrich.
"Hanya mengunjungi seseorang. Kau sendiri?"
"Oh itu, aku mengantar ibu untuk periksa. Kemarin ayah membawa uang yang banyaaak sekali. Lalu membelikanku mainan robot baru. Apa kakak mau main bersama? Nanti kupinjami. Chris tidak pelit kok. Kata ibu, kalau pelit tidak punya teman."
Aldrich memutar bola matanya dengan malas. Seperti biasa, dia cerewet sekali.
"Aku ada urusan." Setelah menjawabnya singkat, Aldrich hendak pergi tapi ditahan oleh Chris.
"Tunggu, ibuku sebentar lagi akan keluar dari tempat parkir. Kalau ibuku yang mengajak, pasti kakak mau kan?"
"Tidak."
"Ah itu dia! Ibu!!!" Chris melambaikan tangan pada Karine yang mengendarai motornya. Saat melihat sang anak, perempuan itu langsung mendekat.
"Loh? kamu lagi." Karine tersenyum pada Aldrich yang hanya mengangguk. "Apa kamu tersesat lagi?"
Aldrich menggeleng. "Hanya mengunjungi seseorang."
"Eh? Sendirian?"
"Tidak. Orang tuaku sedang menunggu di jalan depan." Aldrich terlihat santai mengatakan kebohongan itu, hingga membuat Karine langsung percaya.
"Mau kuantar sampai jalan depan?" Tawar Karine yang ditolak mentah-mentah oleh Aldrich.
"Tidak terimakasih."
"Ibu, tadi kakak kuajak main ke rumah juga tidak mau. Padahal mau kupinjami mainan robot baru dari ayah kemarin."
Mendengar aduan anaknya, Karine melihat Aldrich sebentar kemudian mengusap kepala Chris. "Kakak sibuk. Kapan-kapan saja ya. Lagipula rumah kita sedang berantakan. Ingat kata ayah kan? Kalau kita harus cepat bersiap untuk pindah."
"Pindah?" Aldrich tidak sadar langsung bertanya.
"Iya. Katanya, Wayne ingin kembali menjaga bossnya yang dulu. Tempo hari mereka bertemu lagi dan mengobrol bersama. Karena rumah bossnya besar, banyak ruangan kosong, jadi sekalian pindah."
Apa?! Boss yang dimaksud itu kak Emma kan? Jadi kedepannya aku akan tinggal bersama bocah cerewet ini?! Sudah ada kak Ezra, sekarang ditambah Chris. Selamat tinggal hidup tenangku.
"Jadi rumahnya sangat besar? Apakah aku bisa main sepakbola disana?" Tanya Chris antusias.
"Katanya ayah sih begitu." Karine tersenyum sambil mengusap kepala Chris.
"Semoga rumahnya dekat sama rumah kakak." Celetuk Chris sambil menunjuk Aldrich.
Nantinya kita akan tinggal serumah, dan jika disuruh memilih, aku tidak ingin tinggal bersamamu.
__ADS_1
"Hahaha baiklah aku duluan." Usai berpamitan, Aldrich berjalan menjauh dengan cepat.
"Tunggu nak." Karine mendekati Aldrich dan bicara pelan padanya. "Aku sudah diberitahu semua tentangmu oleh Wayne. Aku hanya ingin bilang sesuatu, jalan apapun yang kamu pilih, semoga itu yang terbaik."
Hah? Maksudnya apa coba?
Tapi... Suaranya benar-benar menenangkanku.
Aldrich mengangguk. "Terimakasih, sampai jumpa."
Perjalanan Aldrich yang sempat tertunda akhirnya bisa ia lanjutkan. Setelah ini, ia bermaksud mengunjungi Popol untuk melihat hasil kerja yang sudah ia perintah sebelumnya. Tapi baru saja sampai di tepi jalan besar, sebuah mobil sedan hitam tiba-tiba menepi kearahnya.
Hah? Mobil kak Matt?
"Al!!!" Emma keluar dari mobil itu ditemani Matt.
Aldrich menghela nafas dan pura-pura tersenyum menyambut Emma yang sudah datang kearahnya. "Eh? Kakak, kenapa bisa disini?"
"Seharusnya aku yang tanya begitu. Kenapa kamu disini?"
"Hanya jalan-jalan."
"Apa yang sudah kamu lakukan?"
Aldrich memiringkan kepalanya dengan bingung. "Aku? Aku kenapa?"
"Apa yang sudah kamu lakukan pada nyonya Yelena?"
Senyum Aldrich langsung menghilang mendengar perkataan Emma. Ia tidak menyangka kalau Emma bisa menebaknya.
"Apa yang kak Emma katakan? Memangnya aku melakukan apa?"
Matt menepuk punggung Emma dari belakang. "Sudahlah, jangan asal menuduh. Kau tidak punya bukti."
"Kau ini berada di pihak siapa hah?"
Matt menunjuk wajahnya. "Diriku sendiri."
"Bodoh! Belum jadi bapak-bapak tapi sudah manjain anak."
"Hah?! Siapa yang memanjakan dia?"
"Kau! Kau yang memanjakannya!"
"Kau sendiri malah menuduh anak tanpa bukti."
Aldrich menghela nafas malas melihat pertengkaran orang dewasa didepannya. Mereka selalu saja bertengkar apapun masalahnya.
Aku bisa mengalihkan topik sekarang.
"Sudah, ayo kita makan saja. Aku lapar." Ucap Aldrich yang langsung disambut mata bersinar Emma.
"Aku juga lapar! Ayo makan ayam goreng. Matt yang traktir."
"Hah?! Aku? Baiklah, asal jangan pesan 5 paket keluarga saja."
__ADS_1
Emma menggeleng. "Paling cuma 3."
Bagus. Kak Emma pasti akan tenang kalau sudah menyangkut makanan yang disukainya.
◌
Sesampainya di ruangan VIP salah satu restoran langganan Matt, Emma langsung menghabiskan 2 porsi ayam goreng sendirian.
"Ayam goreng memang terbaik." Kata Emma sambil menumpuk piring kosongnya. "Paket keluarga yang kupesan kenapa belum datang ya?"
"Kau masih belum kenyang?" Tanya Matt heran.
"Apa kau bercanda? Ini hanya menggelitik lambungku."
Aldrich masih diam sambil menatap menu kroket anak-anak yang tersaji didepannya.
"Kanapa tidak makan? Katanya lapar. Jangan-jangan sama sepertiku yang sudah kenyang duluan hanya dengan melihat orang ini makan?" Matt menunjuk Emma disampingnya.
"Tidak. Aku hanya sadar sesuatu saat melihat makanan ini. Ternyata aku masih anak-anak ya."
Matt tersenyum kemudian mengusap kepala Aldrich dengan lembut. "Ya memang masih anak-anak. Tapi anak yang terpilih."
"Anak yang terpilih?"
"Dengan kemampuanmu yang sekarang, berada di titik ini bukanlah hal yang bisa dilakukan anak-anak pada umumnya."
Aldrich langsung tersenyum mendengarnya. Benar, aku anak yang terpilih. Sudah kuputuskan, aku akan mengambil alih keluarga Hamilton dan merombak semuanya. Tapi aku tidak akan melakukannya sendirian, karena aku masih anak-anak. Kak Matt harus ikut andil dalam hal ini.
Tante Karine, inilah jalan yang kupilih. Dan pastinya ini yang terbaik.
"Oh iya Al, soal nyonya Yelena-" Emma hendak mengungkit pertanyaannya tadi, tapi Aldrich segera menyela.
"Aku tidak tahu apapun. Bukankah aku selalu berada di rumah? Tidak ada waktu untuk mencelakainya. Saat rapat tadi pagi, aku langsung percaya dia kritis karena sebelumnya dia sudah sakit, jadi wajar saja kalau tambah parah saat tahu akan hancur kan?"
"Be-benar juga." Emma menggaruk kepalanya dengan bingung.
"Sudah kubilang jangan menuduhnya sembarangan."
◌
Di rumah sakit.
"Ibu tadi kambuh lagi?" Tanya Charles pada Ria yang duduk di samping Yelena.
"Iya. Untung saja dokter datang disaat yang tepat. Sekarang nyonya sedang tertidur setelah minum obat." Jelas Ria.
"Baguslah. Aku akan kembali ke perusahaan saja kalau begitu."
"Silahkan."
Charles pergi dari ruang rawat sang ibu.
Saat melihat situasi yang aman. Ria mengeluarkan banyak obat dari tas nya.
Obat dari Aldrich efeknya lambat. Aku sudah mencari obat yang lebih ampuh untuk nyonya. Sekalinya dia marah besok, mungkin nyawanya tidak akan tertolong. Maaf nyonya, tapi aku tidak ingin terseret dalam masalah keluarga Hamilton. Jadi cara satu-satunya hanya melenyapkanmu untuk menutup mulut. Aldrich benar, jauh dilubuk hatiku, aku ingin dianggap sebagai malaikat bagi keluarga Hamilton. Namaku tidak boleh buruk.
__ADS_1