
Hari sudah malam, dan sekarang Aldrich sedang makan malam bersama Emma. Perempuan di hadapannya itu malah sibuk mengecek ponselnya dan tidak menghiraukan Aldrich maupun sup ikan menu makan malamnya.
Apa aku bisa bertanya pada kak Emma tentang Jeff Hamilton itu? Apakah dia tahu? Sebelumnya, dia berkata kalau anak lain keluarga Hamilton masih misteri.
"Al. Menurutmu bagus yang mana?" Emma tiba-tiba menyodorkan ponselnya pada Aldrich.
"Eh? Apa itu kak?" Tanya Aldrich sambil menunjuk foto laki-laki yang berada di ponsel Emma.
"Ini situs kencan online. Katanya bisa dapat pacar disini. Tapi karena terlalu banyak laki-laki tampan aku jadi bingung hahaha. Jadi bagaimana menurutmu? Yang ini atau ini?" Emma menggeser layar ponselnya, dan foto laki-laki lainnya terlihat disana.
Aldrich menghela nafas dan mengalihkan pandangannya dari benda itu. "Menurutku kak Emma cocoknya dengan kak Matt."
"Hah?! Laki-laki bodoh itu? Kita lebih cocok jadi musuh." Emma menggeleng dengan cepat.
"Situs kencan online itu kebanyakan berisi kebohongan. Siapa tahu data diri yang mereka tuliskan disana tidak asli. Fotonya juga bisa saja editan." Aldrich mengaduk-aduk sup ikannya dan makan perlahan.
"Hmm... Kamu benar juga. Lebih baik aku mencarinya secara offline." Emma menaruh ponselnya dan mulai makan seperti Aldrich.
Haruskah aku bertanya sekarang? Siapa Jeff Hamilton? Tapi kalau kak Emma tidak tahu, dan malah balik bertanya bagaimana? Dia juga akan heran kenapa aku mencari tahu hal seperti itu.
"Oh iya, Al. Besok ikut aku ke kantorku yuk."
"Eh? Kenapa?"
"Aduh, jangan tanya kenapa. Kamu kan anakku. Semua orang di perusahaan harus tahu. Dan juga, kamu bisa main disana. Pegawaiku baik kok, meskipun otaknya cuma setengah haha."
Jadi kak Emma memikirkan alasan yang kubuat-buat agar diijinkan bertemu kak Matt ya. Padahal aku lebih suka baca buku di rumah. Tapi jika kutolak kasihan.
"Baiklah. Aku ikut" Aldrich tersenyum.
"Jangan lupa bangun pagi ya."
◌
Keesokan harinya, pukul 07:30
"....." Aldrich menggeleng saat melihat Emma masih tidur dengan pulas di kamarnya. Ia sudah mengetuk pintu kamar perempuan itu berulang kali, tapi karena tidak ada jawaban akhirnya ia masuk yang untungnya pintu tidak dikunci. Tapi malah pemandangan ini yang terihat.
"Kak." Aldrich mendekati Emma dan mulai menggoncangkan tangannya. "Katanya ingin berangkat pagi."
Emma menggeliat dan tidak sadar menepis tangan Aldrich. "Jangan hentikan aku! Pokoknya aku ingin mukbang ayam pedas!"
Masih bermimpi?
__ADS_1
"Kak Emma. Ayo bangun." Kali ini Aldrich menarik tangan Emma hingga posisinya berubah menjadi duduk.
"Hm? Apa yang terjadi?" Emma mulai bangun dan melihat sekelilingnya. "Aku tiba-tiba berpindah ke kamar."
"Sudah jam segini. Nanti terlambat." Aldrich menunjuk jam tangannya, dan Emma melihat itu dengan bingung.
"Terlambat?" Emma menggaruk lehernya, dan mencoba mengembalikan nyawanya. "Benar juga!!! Aku terlambat!" Emma tiba-tiba melompat dari kasur dan berlari kearah kamar mandi yang berada di dalam kamarnya.
Baiklah, tinggal tunggu di luar.
Aldrich keluar dari kamar Emma dan berjalan menuju dapur. Disana ada Ruri yang sedang menaruh dua piring diatas meja makan.
"Nona Emma pasti kesiangan lagi. Ayo makan dulu Aldrich." Ruri menggeser sebuah kursi agar anak laki-laki itu bisa duduk.
"Terimakasih bibi Ruri." Aldrich duduk dan melihat roti panggang yang disajikan Ruri. Tak lupa ada segelas susu hangat disamping piring Aldrich.
Makanan seperti ini lagi. Apa orang kaya suka sarapan roti? Entah sejak kapan aku merindukan sarapan nasi.
Aldrich mengambil roti panggangnya dan bersiap untuk makan. Tapi belum sempat ujung roti masuk ke mulutnya, suara Emma terdengar memenuhi satu rumah.
"Al, ayo berangkat!!!"
Hah?! Cepat sekali kak Emma bersiap? Aku bahkan belum menggigit rotiku.
Aldrich hanya pasrah dengan roti yang masih menggantung di mulutnya, sementara Ruri hanya melambaikan tangan sambil menahan tawa.
◌
Aldrich dan Emma sudah sampai di gedung Rose Group. Terdapat gambar mawar raksasa di puncak gedung itu.
"Sepertinya aku harus mencari sekretaris baru. Aku kesusahan mengatur jadwal seorang diri." Emma melihat jam tangannya sambil berjalan cepat memasuki gedung.
Aldrich hanya mengikuti Emma dan tidak tahu harus berbuat apa.
Setelah sampai di dalam gedung, Emma menatap sekeliling dengan cepat, lalu menunjuk seorang perempuan yang berada di balik meja resepsionis. "Nina, kemari."
Perempuan yang dimaksud langsung menghampiri Emma. Dia sempat bingung melihat anak laki-laki di samping nona mudanya, tapi ia berusaha tidak membahasnya. "Ada apa nona?"
"Tolong jaga anakku. Aku mau rapat."
Perempuan yang bernama Nina itu memasang ekspresi bingung.
Hah? Aku tidak salah dengar kan? Anak? Menurut beberapa berita, nona Emma memang datang ke acara pertunangan tuan Matt sambil membawa anak misterius. Tapi tidak kusangka itu anaknya.
__ADS_1
"Al, tunggu aku ya. Rapatnya cuma sebentar kok." Emma menyempatkan diri mengelus kepala Aldrich.
"Baiklah." Aldrich mengangguk, dan Emma langsung pergi meninggalkannya.
Nina dan Aldrich saling menatap dengan bingung. Nina tidak tahu harus memulai pembicaraan apa, sementara Aldrich bingung harus memanggilnya kakak atau bibi.
"Mau minum dulu? Akan kusiapkan." Akhirnya Nina berinisiatif memulai pembicaraan.
"Iya." Aldrich mengangguk. Setelah memakan roti sarapannya di dalam mobil tadi, ia belum sempat minum air.
"Mau minum apa? Ada susu, kopi, dan teh. Atau mau dicampur-campur?"
"Air putih saja kak." Akhirnya Aldrich sudah menentukan panggilan untuk Nina.
"Aduh jangan, nanti nona Emma memarahiku."
"Bilang saja, aku yang minta. Pasti kak Emma tidak akan protes." Aldrich tersenyum dan membuat Nina langsung luluh.
Tunggu dulu... Kak Emma? Dia tidak memanggilnya dengan sebutan ibu atau mama?
"Permisi~"
Aldrich dan Nina menoleh bersamaan. Seorang laki-laki dengan rambut pirang dan senyuman ramah baru saja masuk dari pintu depan.
"Kau lagi, sudah kubilang disini tidak membuka lowongan." Nina menghampiri laki-laki itu sambil berkacak pinggang.
"Siapa tahu kalian membutuhkan tukang bersih-bersih?" Tanya laki-laki itu sambil menyodorkan amplop berwarna coklat.
"Tidak ada. Maaf ya, aku sudah lelah berkata padamu untuk yang ke 255 kalinya, tapi silahkan pulang dan cari tempat lain."
"Kau yakin? Apa aku boleh bertemu nona Emma Rosaline?"
"Duh, apalagi bertemu nonaku. Mustahil. Pergilah. Ya ampun, kenapa satpam memperbolehkanmu masuk sih?"
Aldrich menonton kejadian itu dari jauh. Ia meneliti pakaian yang dipakai laki-laki malang pencari kerja itu.
Melamar pekerjaan jadi tukang bersih-bersih kenapa pakai jass dan sepatu kulit segala? Apakah dia meminjam dari orang agar kelihatan rapi saat melamar pekerjaan? Tapi dari wajahnya seperti orang kaya. Rambutnya juga terlihat seperti pirang alami. Warna matanya hazel.
Dia sepertinya orang kaya.
"Tunggu sebentar." Aldrich berjalan mendekati Nina dan laki-laki tadi. "Nama kakak siapa?"
Laki-laki itu terkejut dan tiba-tiba saja gelagapan. "Eh? Siapa ya? Tunggu sebentar." Dengan panik ia membuka amplop lamaran kerjanya dan membaca bagian nama. "Oh iya, namaku Ezra."
__ADS_1
Aldrich dan Nina. "....."