Anak Dari Dua Ceo

Anak Dari Dua Ceo
Tetap Santai


__ADS_3

Hari sudah pagi. Ria menutup laptop yang baru ia pakai untuk mengurus pekerjaan. Jari wanita itu mengetuk ujung laptopnya dengan gelisah, lalu melirik obat pemberian Aldrich yang berada di sampingnya.


Aku sudah mencari tahu tentang obat dari Aldrich. Ini adalah obat penghilang nyeri biasa. Tapi termasuk dalam golongan non-steroid anti-inflamation drugs, dapat meningkatkan tekanan darah. Meski sudah mengonsumsi obat anti-hipertensi, tidak akan ada gunanya.


Efeknya bisa menyempitkan pembuluh darah dan meningkatkan jumlah sodium dalam tubuh. Keduanya dapat meningkatkan tekanan darah. Penggunaan dosis tinggi juga menyebabkan kerusakan ginjal.


Ria memasukkan obat itu ke dalam tas, dan mulai bersiap untuk pergi ke rumah sakit.


Nyonya Yelena sudah mengidap darah tinggi. Kira-kira bagaimana jadinya kalau dia meminum ini?


Aku yakin anak itu sudah tahu tentang penyakit nyonya.


Apakah ini bisa membunuh nyonya? Menurutku tidak. Tapi setidaknya bisa masuk masa kritis.


Ria berjalan keluar rumah dan pergi mengendarai mobilnya. Sesampainya di tempat parkir rumah sakit, ia melihat beberapa penjaga keamanan yang sedang heboh.


"Tidak ada yang tahu siapa yang menyandera. Katanya, mereka memakai masker wajah, dan suaranya seperti orang yang memakan gas helium."


Ria melewati gerombolan para penjaga itu dengan santai. Sungguh penjaga yang tidak berguna.


Setelah sampai di ruang rawat Yelena, Ria langsung masuk. Ternyata disana sudah ada Charles dan Korn.


Melihat Korn berada disana, Ria langsung teringat dengan tugas dari Yelena yang belum ia laksanakan, yaitu menyuruh orang menghabisi Korn dan Sylvia.


"Sylvia masih ditahan." Ucap Korn dengan ekspresi yang sedikit kesal. Mungkin sebelumnya mereka sudah beradu mulut hingga membuat pembicaraan menjadi tidak mengenakkan.


"Kau ini cerewet sekali. Pergi sekarang atau aku akan menyuruh orang untuk mengusirmu." Bentak Yelena sambil menunjuk pintu keluar.


Korn membuang muka. "Aku akan pergi sendiri. Kalian pasti akan menyesal!" Setelah selesai bicara, Korn pergi dari ruangan itu dengan cepat.


"Ria! Kenapa kau belum menyuruh orang melenyapkan dia hah?! Dia itu benar-benar sampah pengganggu." Seperti yang sudah diduga, Yelena langsung memarahi Ria.


"Maaf nyonya, kemarin-"


"Aku tidak butuh alasanmu." Yelena menyela. "Sebaiknya kau cepat singkirkan dia. Atau orang menyebalkan itu akan membuat kekacauan."


"Baik nyonya." Ria mengangguk.


"Lalu bagaimana dengan anak itu?" Tanya Charles. "Matt juga tidak ada kabar. Aku sudah menyuruh orang mencari keberadaan Matt, tapi ternyata dia tidak ada di luar negeri."


"Matt itu bukan urusanku. Sekarang yang terpenting adalah anaknya Yunna. Kita tidak bisa mengintai rumah Emma lagi, karena bisa membuat media curiga."


"Aku akan memeriksa cctv bangunan di dekat sana untuk mencaritahu apa yang terjadi hari itu." Usul Charles yang langsung disetujui Yelena.


"Bagus. Jangan buat anak itu lolos. Bagaimanapun gara-gara dia Jeff meninggal."


Ria terdiam sambil meremas tangannya. Dulu ia juga sering berkata begitu pada Charles agar dia berpikir kalau Yunna adalah orang yang jahat, dengan memakai sistem doktrin padanya. Itu semua perintah Yelena. Tapi sekarang ia menyesal sudah menghasut Charles. Bagaimanapun ia tahu kalau itu bukan salah Yunna, melainkan Yelena.

__ADS_1


Ria diam-diam mengambil obat pemberian Aldrich dari dalam tasnya. Lalu berjalan mendekati meja kecil di samping Yelena. "Saya akan mengganti bunganya." Ucap Ria sambil mengangkat vas bunga disana. Sembari tangannya menenteng vas, ia menjatuhkan obat dari Aldrich itu ke tumpukan obat harian yang sudah disiapkan  oleh suster untuk Yelena diatas nampan.


Ria berjalan keluar kamar. Jujur jantungnya hampir saja berhenti berdetak saking ketakutannya, bagaimana jika ada yang sadar? Tapi untung saja, misinya berjalan lancar.


"Tunggu!" Charles memanggil dan berlari mendekati Ria yang sudah berjalan cukup jauh.


"Ada apa?" Tanya Ria khawatir. Apakah ia ketahuan?


"Aku akan menemanimu." Ucap Charles sambil berjalan disisi Ria.


Meskipun bingung, Ria tetap membiarkannya. Mungkin Charles memiliki sesuatu untuk dibicarakan padanya. Dia selalu melakukan itu ketika pikirannya sedang buntu. Satu-satunya teman curhat yang dimiliki Charles hanya Ria. Semenjak istrinya meninggal, Ria lah yang dianggapnya sebagai teman hidup, dan sering berbagi cerita bersama.


"Aku khawatir pada Matt." Akhirnya Charles bicara.


Ria mengangguk. Ia paham betapa khawatirnya Charles saat ini. Tapi ia tidak tahu bagaimana cara menghiburnya, karena Matt benar-benar tidak ada kabar.


"Apakah dia berada di rumah temannya?"


Charles menggeleng. "Aku sudah bertanya pada teman-temannya. Dia tidak ada disana."


"Sebaiknya utus lagi seseorang untuk mencarinya."


Charles tiba-tiba berhenti berjalan, dan Ria ikut berhenti sambil menatapnya bingung. "Sebenarnya, bukan hanya Matt yang kukhawatirkan."


"Lalu?"


"Anak itu juga." Charles menatap Ria dengan ekspresi serius, yang membuat wanita itu langsung paham maksudnya. "Saat aku bertemu dengannya, benar-benar mengingatkanku pada Jeff. Saat itu alih-alih ingin menangkapnya, aku malah ingin memeluknya. Kalau saja ibuku tidak berteriak, mungkin aku benar-benar akan memeluknya." Charles tertawa sambil menggaruk tengkuknya dengan canggung. "Apakah aku salah?"


"Anak itu juga sepertinya mewarisi kepintaran Jeff dan Yunna. Terlihat jelas dari sorot matanya."


Dia memang pintar dan licik. Aku saja tidak berdaya berhadapan dengannya. Ria hanya bisa membuang muka karena bingung menjawabnya.



"Jadi... Ini rapat yang kalian bilang untuk menghancurkan keluarga Hamilton?" Tanya Ivan, preman yang sebelumnya disiksa Emma dengan kecoak.


"Ya benar, ini rapatnya." Jawab Aldrich singkat sambil menatap Emma yang sedang serius.


Klotak!


Emma melemparkan dadu. "Kyaaa aku turun lagi!!! Kenapa aku selalu mendapat ular?!"


Sekarang semua orang sedang bermain ular tangga di perpustakaan. Entah apa maksudnya, tapi Aldrich lah yang mengajak mereka. Dan diterima dengan senang hati oleh Emma yang memang selalu hiperaktif itu. Matt juga disana dan sangat menikmati permainan, sedari tadi terus naik tangga hingga membuatnya berada di posisi pertama. Tentu saja Ivan yang dipaksa ikut merasa bingung. Bukankah mereka sedang berada di kondisi yang kurang bagus?


"Sekarang giliranku." Matt dengan semangat mengocok dadu dan melemparkannya. "Yes! Naik lagi!"


"Curang! Curang!" Teriak Ezra yang menjadi penonton kubu Emma.

__ADS_1


"Tuan tidak curang." Balas Ryker yang menjadi suporter Matt.


"Enaknya punya pendukung." Aldrich malah iri karena hanya dirinya yang tidak memiliki fans.


"Aku akan mendukungmu." Ruri muncul secara tiba-tiba dan memeluk Aldrich dari belakang.


"Terimakasih bibi Ruri. Tapi sebaiknya bibi kembali ke posisi." Perintah Aldrich.


"Aku lelah mengawasi orang-orang."


Ruri diberikan misi baru oleh Aldrich, yaitu mengawasi area depan rumah dari lantai 3. Karena semakin lama semakin banyak wartawan yang berkumpul di depan rumah Emma untuk meminta keterangan perihal masalah yang sedang menerpanya.


Brak!


Ivan tiba-tiba menggebrak meja tempat mereka bermain monopoli. Hingga membuat semua orang melihat kearahnya.


"Oh tidak! Pionku jatuh!" Teriak Emma.


"Kalian ini apa-apaan hah?!" Bentak Ivan. "Apakah kalian tidak tahu sedang berada di posisi apa? Sekarang keluarga Hamilton menginjak kalian. Kenapa santai sekali? Bagaimana cara membalikkan keadaan kalau kalian hanya bermain-main seperti ini? Ternyata dugaanku benar, kalau kalian tidak bisa diandalkan. Kalau begini caranya, pasti tidak butuh waktu lama untuk kehancuran kita."


Aldrich membenahi posisi duduknya dengan santai. "Justru sekarang kita harus menikmati waktu yang indah ini. Melihat mereka semakin berjaya, malah membuatku semakin senang. Sekarang aku sengaja membiarkan mereka tertawa dan merasa kemenangan sudah berada didepan mata. Dengan begitu, saat semuanya runtuh hanya dengan satu jentikan jari, akan membuat mereka gila."


"Aku tidak mengerti maksudmu." Ivan menggelengkan kepala.


"Percayalah pada Aldrich. Sekarang dia otaknya. Aku saja juga tidak paham maksudnya." Ruri terkekeh diakhir kalimatnya.


"Bibi Ruri sebaiknya kembali pengawasi." Aldrich mengulangi perintahnya.


"Aku bosan tahu! Lagipula di depan hanya ada wartawan. Kenapa harus diawasi? Apa ada seseorang yang kamu tunggu?"


Aldrich mengangguk, dan membuat semua orang terkejut.


"Siapa yang kamu tunggu?" Tanya Emma.


"Kalau bibi Ruri terus mengawasi. Pasti akan tahu." Aldrich mengambil cemilan dan memakannya dengan santai.


"Aku jadi kepo." Ruri berlari menuju lantai 3.


"Pasti cuma akal-akalan teman seumuranku ini, agar kak Ruri kembali mengawasi." Tebak Ezra, tapi Aldrich segera menggeleng.


"Kalian akan tahu sebentar lagi."


Saat semua orang sedang terdiam karena menerka-nerka sendiri. Tiba-tiba Ruri berteriak histeris.


"Aaa!!! Mustahil!!!" Ruri berlari dengan heboh menuju lantai dasar.


"Kenapa? Ada apa?" Tanya Emma antusias. Ia tidak percaya kalau yang dikatakan Aldrich ternyata benar-benar terjadi.

__ADS_1


"Ada King Korn!!!"


"Hah?" Matt terlihat tidak senang.


__ADS_2