
Setelah sampai di toko buku.
"Pilih yang mana, Al?" Emma menunjuk rak buku penuh dengan buku catatan, yang berada di depannya dan Aldrich.
"Eee... Ini semua buku kosong?"
"Iya. Kamu bilang mau buku catatan."
Tapi kenapa harganya ratusan ribu?! Aldrich menganga melihat harga yang tertera.
"Tidak suka ya? Ayo kita pindah ke bagian sana. Kertasnya lebih bagus."
Lebih bagus? Berarti harganya lebih mahal dong!
"Ti-tidak usah kak. Yang disini saja." Aldrich akhirnya pura-pura memilih. Tapi matanya tetap dibuat silau dengan angka nol yang sangat banyak itu.
"Oke. Pilih yang gambar covernya imut, Al."
"Em... Kak, apa tidak ada yang lebih murah? Aku cuma ingin mencoret-coretnya saja."
"Ada sih sebelah sana. Tapi kertasnya tipis." Jawab Emma sambil tangannya menunjuk area lain.
"Tidak masalah kak."
"Oke ayo."
Mereka akhirnya berpindah ke rak buku lain. Aldrich kembali menelan ludah karena harganya tetap saja mahal.
Tidak beda jauh. Kenapa harga buku kosong bisa sampai ratusan ribu? Di rak ini yang paling murah 300 ribu. Memangnya kertas apa yang mereka pakai?
"Jelek Al. Pindah ke yang paling bagus saja ya."
"Eh?! Em... Tapi aku mau yang ini." Aldrich buru-buru mengambil buku yang paling murah disana sebelum Emma membuatnya serangan jantung dengan buku yang lebih mahal.
"Kamu yakin?"
"Ya yakin." Aldrich mengangguk dengan cepat.
"Baiklah. Ayo ke kasir."
Aldrich berjalan lebih dulu. Dan Emma buru-buru menukar buku itu dengan yang lebih mahal di rak sebelahnya tanpa diketahui Aldrich.
Malaikat kecilku benar-benar baik. Dia sengaja memilih yang paling murah. Kalau begitu akan kubeli yang paling mahal. Emma tersenyum puas sambil membawa buku pihannya.
Setelah membeli perlengkapan menulis seperti yang diinginkan Aldrich, mereka kembali ke mobil tempat Wayne menunggu.
"Langsung pulang kan nona? Ingat, anda memiliki jadwal rapat hari ini." Ingat Wayne.
"Bukankah aku sudah menyuruhmu membatalkannya?"
"Tapi rapat ini sangat penting. Saya mengundurkan jadwalnya agar anda bisa... Bermain dengan anak ini dulu." Wayne melirik Aldrich dengan kesal. Tapi ia tidak berani melakukan itu terlalu lama. Emma bisa memarahinya nanti.
__ADS_1
"Ck! Baiklah. Kita akan mengantarkan Aldrich dulu ke rumah, baru pergi rapat." Emma berjongkok di sebelah Aldrich dan mengusap kepala anak laki-laki itu. "Maaf, Al. Aku harus pergi rapat."
"Tidak masalah kak. Aku akan menunggu di rumah." Aldrich tersenyum sambil memeluk kantong kertas belanjaan berisi buku barunya.
Ya ampun imut sekali!!! Aku jadi tidak ingin pergi rapat.
"Ehem! Nona, waktunya pergi."
"Iya ayo."
◌
Setelah sampai di rumah, Emma benar-benar meninggalkan Aldrich dan pergi untuk rapat. Ron yang baru diberitahu Aldrich akan menjadi anak angkat Emma, turut senang mendengarnya.
"Nak, kamu mau tinggal di kamar yang mana?" Tanya Ron pada Aldrich yang sedang makan es krim sambil membaca buku di perpustakaan.
"Eh? Aku yang pilih?"
"Tentu. Itu perintah nona Emma."
"Kamar sebelumnya saja kek. Aku bingung." Jawab Aldrich sambil menggaruk kepalanya.
"Tidak boleh. Itu kamar tamu. Sekarang kamu adalah bagian dari keluarga. Jadi harus punya kamar pribadi."
"Hmmm... Aku tidak tahu kamar mana yang cocok. Kakek saja yang pilih. Pasti akan kutempati dengan senang hati."
Lagipula aku baru datang. Pasti tidak tahu kamar apa saja yang ada dirumah ini.
"Hehe maafkan aku kek."
Ron tersenyum dan mengangguk, kemudian pergi menemui asisten rumah tangga lain. Sementara Aldrich melanjutkan kegiatannya membaca buku mengenai macam-macam benda langit.
"Ruri, tolong kamar yang sudah disiapkan kemarin dibersihkan lagi ya." Perintah Ron pada salah satu asisten rumah tangga.
"Siap tuan Ron." Ruri mengangguk, setelah itu kembali berucap. "Itu nak Aldrich yang kemarin ya?"
"Iya anak itu. Kenapa?"
"Tidak tuan. Hanya saja, dia sepertinya agak aneh."
"Aneh bagaimana?"
"Tidak seperti bocah 10 tahun lainnya. Ketika mengobrol dengannya seperti bicara dengan orang dewasa. Terlalu mudah mengerti, dan bicaranya sangat lancar. Maksudnya, seharusnya ada sesuatu yang tidak dipahami anak 10 tahun. Tapi dia seolah paham semuanya. Aku sampai merinding." Ruri mengusap tengkuknya sambil berekspresi ketakutan.
"Memangnya iya?" Ron kembali menoleh kearah Aldrich yang masih fokus membaca buku sambil makan es krim.
"Tuan Ron tidak pernah berinteraksi dengan anak kecil sih, jadi tidak tahu. Pulang ke desa untuk bertemu keponakan juga jarang. Tapi aku sering bertemu anak tetangga yang berusia 10 tahun. Dan dia tidak seperti Aldrich."
"Jadi maksudmu, Aldrich kesurupan?"
"Aduh bukan begitu tuan. Dia mungkin seperti anak yang ada di tv. Anak genius yang bisa menghafal dalam satu kali lihat. Cling! Begitu."
__ADS_1
"Maksudnya seperti Batman?"
"Hmm iya juga ya, Batman kan pintar sampai bikin alat canggih. Ya pokoknya itulah. Genius."
"Kalau dengan kupintaran Aldrich ditambah uang banyak milik nona Emma, apa dia bisa menciptakan alat canggih seperti Batman?"
"Aduh kenapa anda malah bercanda?"
"Hahaha, habisnya itu tidak mungkin kan? Kau saja yang terlalu banyak berpikir. Sekarang kembali bekerja."
"Iya deh." Ruri akhirnya pergi dari hadapan Ron.
Tiba-tiba setelah ada yang berkata begitu, Ron jadi memikirkannya. Memang ada beberapa yang aneh, tapi bukan berarti nak Aldrich genius kan? Duh, aku jadi overthinking. Lebih baik dites langsung saja.
Ron berjalan mendekati Aldrich kemudian menepuk bahunya. "Kenapa baca buku itu? Bukankah tidak seru?"
"Seru kek. Aku baru tahu kalau awan cumulus merupakan salah satu bentuk dasar awan. Kukira itu cuma singkatan awan Cumulonimbus. Ternyata masih ada Stratocumulus, Altocumulus, dan yang lainnya." Jawab Aldrich dengan mata yang masih terfokus pada buku.
"Wah kamu tahu banyak ya."
"Ups!!!"
Puk!
Aldrich menepuk bibirnya sendiri. Bodoh! Aku keceplosan lagi. Ibu yang melihatku dari langit pasti akan marah.
"I-itu semua tertulis di buku ini. Aku hanya membacanya hehe."
Kenapa dia terkejut dengan perkataannya sendiri? Lagipula... Memangnya buku tentang awan menarik untuk dibaca? Mungkin saja cita-citanya jadi astronot, makanya dia tertarik dengan benda-benda langit. Aku tidak boleh berpikiran aneh hanya karena Ruri mengatakan kalau Aldrich genius.
"Buku yang menarik. Lanjut saja bacanya."
"Baik kek." Aldrich mengangguk sambil tersenyum.
"Kakek pergi dulu ya. Ada beberapa hal yang harus kakek siapkan. Kamu disini saja dulu."
"Iya kek."
Aku harus lebih berhati-hati saat membahas sesuatu. Kalau keceplosan lagi bisa-bisa mereka tahu tentang kepintaranku.
Aldrich melirik tas kertas belanjaan yang berasal dari toko buku. Aku akan mulai menulis sekarang. Kebetulan kakek sedang pergi.
Aldrich mengambil buku catatan dan pulpen yang berada disana. Eh?! Ini kan bukan buku yang kupilih tadi. Seingatku harga buku ini 900 ribu. Astaga apa kak Emma
menukarnya? Hais... Kedepannya aku hanya akan meminta barang kalau terdesak saja.
Setelah membuka buku catatan mahal itu dari wadah mewahnya, Aldrich mulai menulis apa saja yang dikatakan Emma tentang keluarga Hamilton.
Jika memang dulu ada sesuatu tragedi besar yang terjadi pada ayah dan ibuku. Mungkin jika aku muncul sekarang, sesuatu yang buruk akan menimpaku.
Aldrich meremas bahu kanannya yang memiliki tanda lahir. Masih jelas dalam ingatannya, kalau sang ibu bilang, keluarga ayahnya akan mengenali dia lewat tanda lahir itu.
__ADS_1
Aku harus bersembunyi sambil mencari informasi.