Anak Dari Dua Ceo

Anak Dari Dua Ceo
Jangan Salah Paham


__ADS_3

Suasana membosankan tiba-tiba terjadi. Matt sibuk menelpon di dekat pintu, sementara Aldrich melamun sambil menatap perkotaan dibawah gedung, melalui tembok kaca raksasa di ruangan itu.


Aku tahu posisi gedung ini. Disana adalah rumahku.


Aldrich menunjuk kaca sambil sesekali mengukurnya dengan tangan.


Jaraknya lebih dari satu kilometer. Tapi jika dilihat dari atas, seperti dekat. Tower air untuk toilet umum sebelah rumah pak RT tinggi sekali, dari sini kelihatan.


Kira-kira bagaimana keadaan disana ya? Apakah rumahku baik-baik saja? Kalau ada banjir, airnya akan masuk rumah. Siapa yang mengangkat barang-barang dibawah? Kasurnya bagaimana?


Aduh, kenapa tiba-tiba aku memikirkannya? Ini belum masuk musim hujan. Besok aku akan kesana untuk lihat-lihat.


"Bosan?" Matt menghampiri Aldrich dan berdiri disampingnya.


"Tidak terlalu." Jawab Aldrich jujur. Ia sibuk melihat pemandangan, dan memikirkan rumah. Tidak ada waktu baginya untuk bosan.


"Ehem! Kapan-kapan... Mau liburan bersama?"


Aldrich menatap Matt bingung. "Liburan? Hanya berdua? Atau bertiga?"


"Ber-bertiga."


"Oh bertiga." Aldrich mengangguk sambil tersenyum.


"Jangan salah paham ya! Sebenarnya aku hanya ingin pergi berdua bersamamu. Tapi nenek lampir itu pasti tidak mengizinkannya. Jadi ya mau tidak mau pergi bertiga." Elak Matt dengan wajah memerah.


"Aku tidak salah paham kok."


"Siapa yang kau sebut nenek lampir?" Emma tiba-tiba muncul dibelakang Matt dan Aldrich.


"Waaa!!!" Dua laki-laki itu melompat kaget.


"Lihat ini." Emma menyodorkan kotak kecil bergambar ayam krispi. "Temanku membuka toko ayam goreng, dan mengantarkan ini untuk dicicipi. Apa kalian bisa mencium bau enaknya? Aku bahkan bisa menciumnya dari jarak 30 meter."


"Lalu kenapa cuma satu? Ada tiga kepala disini." Matt melipat tangannya, dan kembali pada dirinya yang sok keren.


"Memangnya aku bilang ingin membaginya? Ini hanya untukku. Kalian cuma kupamerin." Emma sedikit membungkuk di depan Aldrich. "Kamu nanti kubelikan sendiri ya Al. Kali ini aku ingin mencobanya dulu."


Aldrich dan Matt saling lirik.


"Kak. Katanya, tidak boleh mengonsumsi makanan cepat saji terlalu banyak, bisa menyebabkan kolesterol. Jadi... Untukku saja!" Aldrich merebut kotak ayam Emma, lalu berlari keluar ruangan dengan cepat.


"Al!!!" Emma hendak mengejar Aldrich tapi Matt lebih dulu menarik tangannya.


"Eee... Telpon orang untuk mencarinya juga. Kasihan kalau tersesat. Lebih baik dicari banyak orang."


"Kau benar! Awas kamu Al!" Emma mendekati mejanya, lalu menelpon. "Nina, suruh semua satpam mencari keberadaan Aldrich ya. Dia lari, dan aku takut dia memakan ayamku- eh salah! Aku takut dia tersesat."

__ADS_1


Dia bicara terlalu jujur.


Setelah selesai menelpon, Emma berniat pergi tapi lagi-lagi Matt menghalanginya.


"Kenapa kau begitu memusingkan ayam? Biarkan saja kalau dimakan Aldrich." Ucap Matt.


"Siapa yang memusingkan ayam? Aku takut dia tersesat. Aku bisa membeli ayam sebanyak yang kumau."


"Bohong tuh." Goda Matt.


"Kau-" Emma hendak memukul bahu Matt, tapi laki-laki itu sudah lebih dulu menahan tangannya yang satu lagi.


"Maafkan aku."


Emma terkejut mendengar perkataan Matt. Tiba-tiba saja mengucapkan kata-kata diluar pembahasan mereka. "Maaf untuk ayam tadi?"


"Bukan. Ini soal Sylvia. Maaf karena aku tidak mempercayaimu, dan meragukanmu sebelumnya. Sekarang aku sudah tahu tentang semua keburukannya."


Emma mengangguk, lalu menarik tangannya dari cengkraman Matt. "Sebenarnya kau tidak perlu meminta maaf padaku. Tapi, minta maaflah pada dirimu sendiri."


"Diriku sendiri?"


"Ya. Kau pasti juga merasa aneh dengan Sylvia kan? Tapi kau tidak mempercayai dirimu sendiri. Aku juga yakin kalau bukan hanya aku yang mengatakan kebusukan Sylvia padamu. Pasti orang terdekatmu ada yang berkata Sylvia tidak baik. Bagaimanapun juga lingkunganmu adalah orang penting yang sangat mudah untuk mengakses informasi, jadi pasti tahu soal Sylvia. Tapi kau tetap tidak percaya. Sekarang, minta maaflah pada dirimu sendiri. Lain kali ikuti kata hatimu, jangan ikuti pendengaranmu yang dihasut kata-kata manis Sylvia."


Dia benar. Dasar ibu dan anak yang pintar bicara.


"Tunggu! Bolehkah aku memanggilnya Al juga?" Matt mengikuti.


"Tidak boleh!!!"



Aldrich duduk di salah satu meja cafetaria. Ia tadi hanya berjalan sesuai insting, lalu tertarik dengan tulisan cafetaria dengan tanda panah. Akhirnya ia memutuskan menikmati ayam krispi rampasannya disini.


Ini bukan berarti aku tidak sopan. Hanya saja ingin membalas perbuatan kak Emma yang memakan donatku.


Saat membuka wadah kotak ayam itu, Aldrich melihat tiga paha ayam goreng tepung dengan beberapa varian saus di dekatnya.


Wah kelihatannya enak. Memang apanya yang spesial dari ayam ini? Sampai kak Emma ingin memakannya sendiri. Padahal terlihat enak seperti ayam biasanya.


Aldrich mengambil satu paha ayam dan mencelupkannya ke saus.


"Minta dong!"


Aldrich terkejut dengan Ezra yang sudah duduk didepannya dengan air liur yang mengalir dari mulut. Ajaibnya orang itu sudah memakai seragam office boy.


"Sejak kapan kak Ezra disana?"

__ADS_1


"Sejak aku mencium bau ayam." Jawab Ezra dengan tatapan berseri-seri. "Minta dong, aku belum makan dari kemarin malam."


Dasar anak orang kaya satu ini.


"Bukankah kak Ezra punya tabungan?"


"Sudah habis."


Aldrich menghela nafas. Ia tidak bisa membiarkan Ezra hanya melihatnya makan dengan air liur yang mengucur deras. Bisa-bisa nafsu makannya hilang.


"Baiklah, tapi ambil satu sa-"


"Asik. Wah enaknya." Ezra mengambil dua paha ayam sekaligus, lalu memegangnya dengan masing-masing tangan, dan menggigitnya gembira.


Aduh, padahal niatnya ingin kukembalikan pada kak Emma karena isinya terlalu banyak.


Aldrich menatap paha ayamnya yang belum sempat ia gigit. Ia tiba-tiba teringat Emma yang sangat menyukai ayam.


Yang ini untuk kak Emma saja deh.


Setelah mengembalikan ayam pada wadahnya, Aldrich bersiap pergi dari cafetaria. Tapi saat ia berbalik...


"Akhirnya ketemu juga!" Emma muncul sambil menunjuk Aldrich. Lalu seketika pandangannya teralih pada Ezra yang dengan riang gembira memakan ayamnya. "Ayamkuuu."


"Isinya tiga kok kak. Ini masih satu. Aku tidak memakannya." Aldrich menyodorkan wadah yang terdapat satu paha ayam disana.


Al pasti sengaja merebut itu sebelumnya agar Matt bisa minta maaf, iya kan? Kalau tidak bagaimana timingnya bisa pas begitu. Dan saat Al sembunyi disini, Ezra memalaknya.


"Huhu anakku sayang. Terimakasih karena sudah menyelamatkan ayam-"


"Enak juga." Matt tanpa dosa memperlihatkan paha ayam terakhir Emma yang sudah berubah menjadi tulang.


"AYAMKUUU." Emma terduduk dengan ekspresi sedih.


Sungguh malang nasib kak Emma.


Matt dengan santai melihat jam tangannya lalu mengangguk pelan. "Sudah waktunya makan siang. Ayo kalian kutraktir ayam goreng dan donat."


Sontak Emma dan Aldrich saling menatap satu sama lain. "Se-serius?" Tanya Emma.


"Iya. Jangan salah paham. Aku hanya ingin mengganti ayammu yang sudah kumakan." Matt menggaruk tengkuknya dengan kaku.


Aldrich hanya tersenyum. Bilang saja sengaja. Malah menggunakan ayam sebagai alasan.


"Aku diajak tidak?" Ezra menunjuk dirinya sendiri.


"Tentu saja tidak! Kau sudah memakan ayamku!!!"

__ADS_1


__ADS_2