Anak Dari Dua Ceo

Anak Dari Dua Ceo
Ingin Percaya Padamu


__ADS_3

"Apa kau bilang? Nyawa?" Matt mengedarkan pandangannya pada sang ayah dan Ria. Ekspresi mereka terlihat serius tanpa terkejut dengan ucapan neneknya. "Tidak, ini gila."


Aku harus memberitahu Emma!


Matt buru-buru berjalan menuju pintu. Tapi entah kenapa sang ayah tiba-tiba berlari mendahuluinya lalu menutup pintu yang akan Matt lalui.


"Kamu jangan pergi kemana-mana." Ucap Charles seolah tahu apa yang akan Matt lakukan.


"Apa ayah gila?! Kenapa melarangku pergi? Minggir, atau aku akan memakai kekerasan." Matt mengepalkan tangannya. Meskipun begitu, ia tidak akan memukul sang ayah, dirinya hanya ingin membuat Charles takut dan menyingkir.


"Ck! Benar-benar tidak berguna." Yelena mengganti posisinya menjadi tiduran, sambil mengibas-ngibaskan tangannya kearah Matt. "Bawa anak bodoh ini pergi. Buat jadi tahanan rumah, dan jangan sampai dia memegang alat yang bisa dipakai untuk berkomunikasi."


"Baik." Ria mengangguk dan mulai memanggil bodyguard untuk membawa Matt.


"Tunggu! Kalian tidak bisa berbuat seperti ini padaku! Aku tidak akan mau menjadi penerus keluarga kalian lagi!"


"Huh! Perkataanku itu mutlak. Meskipun kau menolak menjadi penerus, kau tetap harus melakukannya." Kata Yelena dengan santainya.


Matt tersulut emosi. Ia mendekati neneknya dengan kepalan tangan yang siap diarahkan pada wanita angkuh itu. Tapi tiba-tiba tangannya ditahan oleh kekuatan yang lebih besar. Ternyata itu adalah para bodyguard neneknya yang sudah datang. Sekitar 5 orang bodyguard menahan gerakan Matt, lalu membawanya pergi.


"Awas saja! Kalian akan menerima balasannya dasar picik!"


Suara Matt semakin mengecil seiring dengan tubuhnya yang diseret pergi oleh para bodyguard sebelumnya.


"Akhirnya kita bisa berada di titik ini." Yelena tersenyum sambil menatap langit-langit kamar rawatnya. "Aku benar-benar ingin mendapatkan anak itu. Kalau perlu hancurkan saja Rose Group. Cari skandal yang bisa membuat mereka gulung tikar. Lalu tawarkan kerjasama yang menguntungkan dengan syarat Aldrich."


"Baik ibu." Charles mengangguk lalu pergi, dan Ria mengikutinya dari belakang.

__ADS_1


Setelah jauh dari ruangan sang ibu, Charles tiba-tiba berhenti berjalan. Ia menatap lantai tempatnya berpijak dan tersenyum tipis. "Dia masih hidup."


"Ya." Ria mengangguk.


"Apakah menurutmu aku bisa menyelamatkannya dari ibu?" Charles menoleh kearah Ria yang menggeleng pelan.


"Nyonya sangat menantikannya. Jadi, kita tidak bisa berbuat apapun."


"Kau benar. Dan kuharap, kehidupan Matt akan lebih baik lagi. Semuanya harus diakhiri sampai disini. Ayo." Charles kembali berjalan dan Ria dengan setia mendampinginya.



Berhasil. Setelah rencananya matang, aku akhirnya bisa menunjukkan pada mereka kalau aku masih hidup. Dengan begini, keluarga Hamilton akan mengincarku, dan semuanya berakhir.


Aldrich terus tersenyum sambil menatap pemandangan di luar mobil. Sekarang ini, ia dan Emma sedang dalam perjalanan pulang.


Aldrich menoleh kearah perempuan yang terlihat khawatir di sampingnya. Ia hampir saja melupakan keberadaan Emma.


"Ya?"


"Tadi itu kenapa?" Tanya Emma.


"Eh? Entahlah."


Emma terdiam. Anak disampingnya ini tiba-tiba menjadi sosok yang tidak ia kenali. Sejak keluar dari rumah sakit, dia terus tersenyum seolah menikmati apa yang terjadi.


"Aku ingin mencari seorang anak. Umurnya kisaran 10 sampai 11 tahun. Dia memiliki tanda lahir di bahu kanannya."

__ADS_1


Emma teringat permintaan tolong Matt padanya saat mereka pertama bertemu setelah sekian lama. Kalau diingat-ingat, anak yang dicari memang umurnya seperti Aldrich. Tapi apakah memang dia?


Tanda lahir?


"Tolong berhenti sebentar." Perintah Emma pada pak Darma yang menjemput mereka. Meskipun bingung dengan permintaan nona nya, tapi pak Darma tetap menepikan mobilnya dan berhenti.


"Coba lihat bahu kananmu." Emma menatap Aldrich dengan serius.


"Kenapa kak?"


"Cuma lihat saja."


Apa kak Emma sudah tahu tentang tanda lahirku? Kak Emma adalah teman kak Matt, pasti kak Matt meminta tolong padanya untuk menangkapku.


"Tenang saja. Aku tidak seperti mereka."


Aldrich terkejut dan menatap kedua mata Emma. Kenapa kak Emma tahu apa yang aku khawatirkan?


"Mungkin, kamu tidak bisa jujur padaku karena tidak mempercayaiku. Tapi apapun itu, percayalah aku tidak sama dengan mereka."


Apa itu benar? Apa aku bisa mempercayainya?


"Jangan dekati CEO! Jangan percaya dengan mereka!"


Tapi ibu, kak Emma berbeda. Saat bersamanya, aku merasa tidak seperti diriku. Dia memberikanku kehangatan, yang akhirnya membuatku mengerti kalau dunia ini ada berbagai macam manusia. Semua yang kulalui bersamanya selalu berisi tawa. Hanya saat diriku yang lain memberitahu kalau itu semua palsu, membuatku sedih.


Sejak awal, aku mengikuti kak Emma untuk mencari informasi. Bukannya untuk mendapat semua kebahagiaan ini. Jadi, apakah aku boleh mendapatkannya juga? Apa aku terlalu serakah?

__ADS_1


Aku tidak ingin berpisah darinya.


__ADS_2