
"Apa kau amnesia? Nama sendiri saja lupa." Nina menatap curiga pada laki-laki yang memperkenalkan dirinya sebagai Ezra tadi.
"Aku hanya gugup karena baru kali ini ada perusahaan yang menanyakan namaku. Biasanya mereka langsung mengusirku. Hidup sebatang kara memang susah, apalagi di jaman yang serba couple seperti sekarang ini. Bisakah kau membayangkannya?" Ezra menatap Nina dengan ekspresi memelas.
"Dasar aneh, yang menanyakan namamu hanya seorang anak, bukan perusahaan. Lagipula, memang apa hubungannya kerja dengan pasangan couple? Sekarang pergi. Kau bisa menganggu pekerjaan orang-orang disini." Nina yang ternyata memiliki sisi lain yang sangat galak, kembali mengusir laki-laki malang itu.
"Aku tidak berbuat apa-apa bisa menganggu orang lain. Bahkan korek api lebih berguna dariku." Ezra akhirnya pergi dengan melankolis.
Setelah memastikan orang tadi benar-benar pergi, Aldrich mulai bertanya pada Nina. "Kak, bukankah kak Emma sekarang butuh sekretaris?"
"Iya sih, tapi nona sudah berpesan untuk tidak menerima dia."
"Eh? Kenapa? Kakak tadi terlihat baik." Ucap Aldrich yakin.
Gerak gerik laki-laki tadi terlihat nyata dan polos. Tidak seperti orang yang penuh tipu daya.
"Wah aku tidak tahu. Saat orang itu melamar pekerjaan pertama kali, data dirinya sudah kuserahkan pada nona Emma, dan nona bilang tidak usah diterima."
Nina tiba-tiba tersadar sesuatu. Eh? Kenapa aku bicara hal seperti itu pada anak ini? Dia mana paham? Aku tidak sadar dan bercerita dengan santainya. Bisa-bisa aku dimarahi nona karena membicarakan sesuatu yang rumit pada anak ini.
"Ah lupakan. Ayo kita duduk disana sambil menunggu nona Emma. Untuk minum dan cemilan akan segera kupersiapkan."
Aldrich mengangguk dan mengikuti Nina dengan patuh. Akhirnya mereka sampai di sebuah ruang tunggu dengan sofa besar yang elegan.
"Nah duduk." Nina menepuk bahu Aldrich yang masih patuh menuruti semua perintahnya. "Minumnya aku akan mengikuti permintaanmu, tapi untuk cemilan biar aku yang pilihkan ya. Eit! Jangan protes." Nina buru-buru menutup mulut Aldrich yang hendak bicara.
Anak kecil pasti suka yang manis-manis. Hm... Selain diriku, apalagi yang manis ya?
Nina berpikir sangat keras sambil memutar jari telunjuknya pada kening.
"Ah benar juga! Di dekat sini ada toko donat yang sangat enak. Tunggu ya, akan kubelikan."
"Tidak usah-"
Belum sempat Aldrich bicara banyak, Nina sudah hilang dari pandangannya lebih dulu.
Kak Nina mirip bibi Ruri versi kantoran.
Aldrich melihat kanan kiri karena bosan. Tak jauh darinya banyak orang berlalu lalang tanpa menyadari keberadaannya. Mereka sibuk bekerja dengan tugas-tugas yang tidak bisa ia pahami.
Inikah yang dikatakan kak Emma kalau aku bisa bermain disini? Apa yang bisa kumainkan?
Aldrich mulai tiduran diatas sofa. Kedua matanya menatap langit-langit dari lantai itu. Ukiran berbentuk bunga mawar menghiasi setiap sudut.
Sampai saat ini, aku masih tidak menyangka bisa berada disini. Jalan yang kulalui terlalu mulus. Apakah ini memang takdir? Atau... Sesuatu yang buruk sedang menungguku?
"Astaga anak siapa ini?"
Aldrich bangun dan mendapati seorang office boy sedang menatapnya penuh amarah.
__ADS_1
"Hei bocah! Siapa yang membawamu kemari? Tempat ini bukan penitipan anak. Pergi! Aku ingin mengepel disini."
"Aku bisa menaikkan kakiku diatas sofa. Kakak bebas mengepel lantai kan?" Ucap Aldrich sambil menaikkan kakinya diatas sofa, dan duduk seperti orang bersimpuh diatas sana.
"Anak tidak sopan! Pergi! Sofanya jadi kotor. Aku jadi harus membersihkannya dua kali! Pergi kubilang!" Office boy tadi mendorong Aldrich hingga dia hampir terjatuh dari atas sofa.
"Baiklah." Aldrich turun dari atas sofa.
"Pergi yang jauh hus hus."
Lagi-lagi orang yang merendahkanku. Benar-benar pegawai yang tidak kompeten. Bukannya mencaritahu dulu siapa aku, malah mengusirku karena tidak ingin pekerjaannya bertambah berat. Kak Emma tidak membutuhkan orang seperti ini.
Aldrich melirik ke belakang, ia melihat Nina yang sedang berjalan kearahnya dikejauhan. Pandangan perempuan itu sedang fokus menghitung donat di kantong plastik yang dia bawa.
Hmmm... Waktu yang bagus.
"Tapi aku ingin tiduran diatas sofa, kenapa tidak boleh? Mamaku bilang, bahkan aku dibolehkan melompat-lompat diatas sofa ini dengan memakai sepatu." Ucap Aldrich untuk memicu emosi office boy itu.
"Apa kau bilang? Memang mamamu siapa? Aku bilang pergi!"ย Si office boy mendorong Aldrich, meskipun bukan dorongan yang kuat tapi Aldrich pura-pura terjatuh hingga tersungkur.
"Lihat donatnya sudah-" Nina terkejut melihat Aldrich didorong tepat di depannya.
"Kakak Nina, saya melihat anak tidak sopan ini duduk diatas sofa dan menolak pergi." Office boy itu menunjuk Aldrich yang masih belum bangun dari posisi jatuhnya.
"Apa yang kau lakukan hah?! Dasar gila!" Nina segera menghampiri Aldrich dan menepuk-nepuk badan anak laki-laki itu untuk menghilangkan debu di badannya. "Kamu tidak apa-apa kan?"
"Eh? Kakak Nina kenal anak ini?"
"Tidak tahu."
Sebelum Nina bicara, Aldrich tiba-tiba memotongnya. "Perkenalkan kak, namaku Aldrich, anak Emma Rosaline."
Sekali-kali sombong tidak apa-apa kan? Dia sendiri yang mencari gara-gara.
"A-apa? Bohongkan? Nona Emma tidak memiliki anak."
"Percaya atau tidak, dia memang anak nona Emma. Sepertinya kau akan dipecat." Nina dengan lembut kembali menggandeng Aldrich dan menyuruhnya duduk di sofa.
"Tidak! Aku tidak mau dipecat."
"Apa aku mendengar kata-kata pecat?" Ezra tiba-tiba muncul dan mengejutkan semua orang. "Aku bisa menggantikan dia kalau sudah dipecat."
Kakak ini lagi. Dia muncul dengan senyuman polos seperti sebelumnya.
Aldrich diam-diam memperhatikan Ezra.
"Astaga kenapa kau masuk lagi?" Nina memijat kepalanya. Kejadian ini membuat kepalanya hampir meledak.
"Ada apa ini? Ramai sekali?" Emma muncul. Nina terlihat sangat senang melihat nonanya datang. Ezra langsung menutup setengah wajahnya dengan amplop coklat yang dia bawa. Sementara office boy tadi langsung bersimpuh di depan Emma, bersiap memohon maaf.
__ADS_1
"Lihat aku cepat kan, Al? Tentu saja karena tidak ingin meninggalkanmu terlalu lama." Emma mengusap kepala Aldrich sambil tersenyum.
Anak itu benar-benar anaknya nona Emma?! Office boy tadi terkejut.
"Tidak apa-apa kalau lama. Kakak ini tadi mengajakku bermain." Aldrich menunjuk office boy yang tadi mendorongnya.
"Benarkah? Terimakasih ya. Anakku memang imut, jadi setiap orang yang melihatnya pasti akan langsung suka dan mengajaknya bermain."
Astaga Aldrich itu baik banget. Dia pasti tidak ingin orang lain kehilangan pekerjaannya.
Nina menatap Aldrich dengan haru. Meskipun ia begitu ingin melaporkan tindakan tadi, tapi jika anaknya memaafkan, ia tidak bisa berbuat apa-apa.
Aldrich tersenyum diam-diam.
Hehe... Kak Nina akan berpikir aku anak baik, sementara kakak itu akan takut padaku karena aku bisa mengadukannya setiap saat. Seru sekali.
"Lalu yang ini?" Emma menunjuk Ezra yang masih menutupi wajahnya.
"Ini aku." Ezra membuka penutup wajahnya.
โ
โ
โ
Halo, author akan memberikan visual beberapa tokoh.
Emma Rosaline
Matt Hamilton
Sylvia
King Korn
__ADS_1
Atau sesuai imajinasi para pembaca saja hehe๐