Anak Dari Dua Ceo

Anak Dari Dua Ceo
Rejeki Nomplok


__ADS_3

Tuk! Tuk!


Aldrich berjalan dengan santai sambil menendang beberapa kerikil yang ia temui. Meskipun sudah berjalan agak lama, tapi ia masih belum keluar dari area perumahan elit yang Emma tinggali.


Rumah disini semuanya mewah. Apakah keluarga Hamilton juga tinggal di wilayah ini?


Hmmm... Mungkin tidak. Kedudukan keluarga mereka lebih tinggi, pasti tidak mau tinggal satu area dengan orang kaya lainnya.


Biasanya sih seperti itu.


Saat Aldrich melewati sebuah jalan untuk keluar menuju jalan raya, ia melihat pohon Kamboja yang sedang berbunga dengan lebat.


Wah bunganya banyak sekali. Kalau kuambil boleh tidak ya? Seharusnya tidak masalah bukan? Ini hanya tanaman hias dipinggir jalan.


Akhirnya Aldrich mulai memetik bunga dan menjadikan bajunya sebagai wadah untuk bunga-bunga itu.


Segini saja. Jangan diambil semua, sayang pohonnya nanti tidak cantik.


Aldrich kembali melanjutkan perjalanannya dengan riang gembira. Ia bermaksud membawa bunga-bunga itu pada sang ibu. Setelah ibunya dimakamkan kurang lebih seminggu yang lalu, ia belum melihatnya lagi karena terlalu sedih. Tapi entah kenapa sekarang pikirannya jauh lebih tenang, dan sudah mulai menerima kepergian ibunya.


Wah berapa ya bunganya? Satu, dua, tiga, ...


Aldrich berjalan sambil menunduk untuk menghitung bunga, ia tidak melihat jalan yang dilaluinya.


Tin! Tin!


Tiba-tiba dari arah berlawanan, sebuah mobil melaju kencang kearahnya.


Oh tidak!


Ckiiit!!!


Aldrich sepontan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Ia sangat terkejut hingga kakinya tidak sanggup untuk berlari.


Tapi untung saja mobil itu dapat berhenti sebelum menyambar tubuh kecil Aldrich. Hanya kurang dari 10cm lagi nyawa bocah itu bisa melayang.


"Aduh maaf. Aku salah menginjak pedal gas. Maafkan bibi ya nak." Seorang wanita yang terlihat lebih tua keluar dari mobil dengan ekspresi bersalah. Apalagi setelah melihat bunga-bunga yang dibawa anak itu dengan riang gembira jatuh karena dirinya.

__ADS_1


"Ti-tidak apa-apa." Aldrich yang tadinya hanya menutupi wajahnya akhirnya membukanya. "Maafkan aku juga bibi, karena tidak melihat jalan."


Setelah melihat wajah Aldrich, entah kenapa bibi itu langsung terdiam. Ekspresinya sangat terkejut dan kedua matanya menatap Aldrich tidak percaya. Dengan tangan yang bergetar, ia menutup mulutnya yang kaku.


"Ka-kamu..."


"Hm?" Aldrich memiringkan kepalanya dengan bingung. Ia tidak tahu kenapa bibi itu bersikap aneh saat melihatnya.


"Ah ti-tidak. Hahaha pasti aku salah orang. Maaf ya. Selamat tinggal." Sedikit ketakutan dan terburu-buru, wanita itu masuk kembali ke dalam mobilnya.


Tidak mungkin kan? Wajahnya mirip orang itu! Atau mungkin aku sudah gila?


Wanita yang sudah berada di dalam mobil itu sempat melihat kearah Aldrich lagi, setelahnya ia pergi dengan cepat.


"Eh eh eh? Bungaku diinjak mobilnya." Aldrich menatap bunga-bunganya yang sudah rusak dengan bekas jejak ban mobil disana. "Yahh tidak jadi kuberikan pada ibu. Maaf ya bunga, kau kupetik cuma untuk diinjak mobil. Semoga pohonmu bisa menghasilkan bunga yang cantik lagi." Perlahan Aldrich menyingkirkan bunga yang sudah penyok itu ke tepi jalan. Tapi saat memunguti bunga, ia melihat sebuah kartu yang tergeletak didekatnya.


"Eh? Ini kartu nama milik bibi tadi?" Aldrich memungutnya dan membaca tulisan yang tertera.


Aria Lita


Jabatan : Direktur Operasional Hamilton Group


Mantap jiwa!!! Ini sih rejeki nomplok!


Aldrich melompat kegirangan.



Di pemakaman umum.


Aldrich menatap sebuah nisan yang terbuat dari kayu. Tulisan 'Yunna Alisya' begitu indah tersemat disana. Perasaan di dalam tubuh Aldrich sekarang bercampur aduk seperti es buah. Ia sedih, senang, dan bingung.


"Ibu, selamat siang." Aldrich berjongkok dan menyandarkan kepalanya pada nisan sang ibu. "Biasanya di jam ini waktunya ibu makan siang dan minum obat. Tapi syukurlah ibu tidak perlu minum obat lagi. Rasanya tidak enak kan? Obatnya pahit kan? Untung saja... Semuanya sudah berakhir." Aldrich mengusap air matanya yang tiba-tiba saja keluar, lalu tersenyum. Meskipun tadi perasaannya sudah membaik, tapi nyatanya ia tetap akan menangis saat sampai makam.


"Ibu. Aku mungkin sudah menemukan keberadaan ayah. Tapi aku tidak yakin. Apakah keluarga Hamilton itu yang dimaksud olehmu bu? Aku akan susah menemuinya kalau begini. Keluarga ayah sangat kaya. Mungkin saja hanya berdiri di depan pagar rumah mereka, aku sudah diusir hehe."


Dengan lembut Aldrich mengusap nisan ibunya yang terasa dingin. "Ibu, hari ini ada... Seorang kakak yang menginginkan aku menjadi anaknya. Eh tapi tenang saja! Ibu jangan cemburu ya! Karena ibu kandungku hanya satu. Kakak itu ingin merawatku saja, dan mungkin dijadikan teman untuk tinggal di rumah besarnya. Hahaha aneh kan? Terdengar seperti pedofil. Tapi menurutku dia sangat baik, murah senyum, dan sedikit kikuk. Saat berurusan dengan pekerjaan, dia akan berubah menjadi orang yang sangat serius." Aldrich tersenyum sendiri saat mengingat sosok Emma.

__ADS_1


Semakin lama, Aldrich tidak sadar hanya membicarakan tentang Emma pada ibunya. Ia bercerita dengan menggebu-gebu sampai tidak sadar waktu berlalu dengan sangat cepat. Sekarang langit sudah berubah warna, semburat berwarna jingga menghiasi langit.


"Aldrich, sudah sore. Kenapa masih disini?"


Aldrich terkejut melihat salah satu tetangganya menegur. Dia adalah paman Tong yang tinggal di depan rumahnya. Kepribadiannya baik dan ramah. Dia yang hanya bekerja sebagai tukang sapu jalan, sering membantu Aldrich membeli obat untuk sang ibu ketika bocah itu tidak mendapatkan uang dari hasil berjualan. Sayangnya istri paman Tong tidak suka dengan Aldrich, dan sering memarahinya karena sang suami perhatian dengan Aldrich.


"Ah iya paman. Aku juga tidak sadar sudah selarut ini." Aldrich berdiri dan menepuk-nepuk bajunya yang kotor. Tadi ia bercerita sambil tiduran disisi makam ibunya. Membuat bajunya penuh dengan tanah.


"Apa kamu sudah makan? Dari kemarin rumahmu sepi. Kamu dimana?"


Benar juga, saat kak Emma menjemputku, pasti paman Tong sedang bekerja. Jadi tidak tahu.


"Aku menginap di rumah kenalan." Jawab Aldrich sambil tersenyum.


"Oh begitu. Makan malam dirumah paman saja yuk. Kamu belum punya makanan kan?"


"Hmmm..." Aldrich sedikit menimbang-nimbang. Sebenarnya tidak masalah untuk makan bersama paman Tong. Tapi istrinya sangat menyebalkan. Terakhir kali saat makan bersama keluarga paman Tong, istrinya menendang kaki Aldrich dari balik meja makan dan membuatnya tersedak.


"Terimakasih tawarannya paman. Tapi aku sudah ada makanan."


"Benarkah? Baiklah kalau begitu. Kalau besok-besok tidak ada lauk, jangan sungkan datang ke rumah paman ya."


"Iya. Terimakasih paman."


Paman Tong menyempatkan diri mengusap kepala Aldrich lalu pergi. Paman Tong memang suka bersliweran di area pemakaman, dia sering mengunjungi makam sang anak yang sudah tiada.


"Sudah ya bu. Aldrich pulang dulu. Jangan sedih ya, aku akan berusaha datang sesering mungkin. Selamat tinggal." Aldrich mengecup nisan sang ibu, lalu pergi.



Diwaktu yang sama.


Brak!


Seorang wanita menutup pintu kamar mewahnya dengan keras. Ekspresinya ketakutan. Ia duduk di balik meja rias besar di kamarnya, lalu menatap dirinya sendiri di depan cermin.


"Tidak mungkin. Anak yang kulihat tadi sekilas mirip sekali dengan orang itu. Matt sedang mencarinya, dan apakah itu orangnya? Tapi kenapa malah aku yang menemuinya dulu? Apakah ini karma? Karna aku sudah... Argh!" Wanita itu menarik rambutnya dengan kuat. Ia stress karena dihantui oleh rasa bersalah selama bertahun-tahun.

__ADS_1


"Kalau memang itu anaknya. Apa yang harus kulakukan? Aku sudah membuat ayah dan ibunya seperti itu. Maafkan aku."


__ADS_2