Anak Dari Dua Ceo

Anak Dari Dua Ceo
Naik Wahana


__ADS_3

Aldrich dan rombongannya sekarang sampai di kawasan taman bermain yang sangat besar. Kata Emma, tempat itu adalah taman bermain terbesar di negara yang sedang mereka kunjungi ini.


"Eh eh, ini bacanya apa?" Ruri tiba-tiba menyodorkan paperbag yang berisi jas kedepan wajah Aldrich.


"Hmmm... Apa ya?"


Bibi Ruri kenapa daritadi bertanya hal random terus? Dia selalu tanya 'bacanya apa?' entah itu nama papan jalan atau rambu-rambu lalu lintas. Aneh, apa bibi Ruri sedang mengetesku?


Aldrich pura-pura menggaruk kepalanya sambil tersenyum. "Bacanya Laily Store. Tapi aku tidak bisa bahasa Inggris, entah bagaimana pengucapannya."


"Kalau begitu kita sama hahaha." Ruri tertawa sambil menepuk-nepuk bahu Aldrich.


Emma yang berjalan paling depan, menoleh ke belakang. "Kalian jalannya lelet sekali. Sebentar lagi giliran kita yang naik."


Ruri tiba-tiba tersadar, ia sedari tadi seperti terkena hipnotis dan tidak tahu berjalan kearah mana, karena sibuk mencari ide mengetes Aldrich. Ia hanya mengekori Emma, yang malah membawa mereka antri untuk naik rollercoaster.


"Ki-kita naik ini non?" Tanya Ruri sambil melihat rollercoaster yang lewat diatasnya, membawa penumpang yang berteriak histeris.


"Memangnya kenapa? Sudah terlambat untuk protes." Emma menarik tangan Aldrich dan maju satu langkah, karena antrian mereka semakin mengecil.


"Ta-tapi..."


"Tidak apa-apa bibi Ruri..."


Eh? Aldrich mau memberikan semangat untukku? Lumayan lah buat menambah keberanian.


"Aku juga takut. Bibi ada temennya." Lanjut Aldrich.

__ADS_1


Woi! Semangatin dikit kek. Ruri semakin ketakutan.


"Tidak ada yang perlu kalian takutkan. Lihatlah aku, tidak takut sama sekali."


Kalau nona Emma jangan ditanya.


Akhirnya giliran ketiga orang itu datang. Dan seperti yang sudah diduga, Ruri berteriak dengan heboh saat rollercoaster meliuk-liuk di udara. Sementara Aldrich terus menutup mata demi menghindari pemandangan yang menyeramkan, tapi tetap saja dia ketakutan karena tubuhnya seperti terbolak-balik dengan cepat. Sedangkan Emma menjadi satu-satunya orang yang tertawa saat menaiki wahana itu.


"Oh tidak, aku mau muntah." Ruri berjalan terseok-seok setelah turun dari rollercoaster.


"Biar kucarikan minum. Al, tunggu disini sama bibi Ruri ya." Perintah Emma, dan langsung dijawab anggukan kepala Aldrich. Setelahnya, Emma masuk ke salah satu toko di taman hiburan itu.


"Bibi Ruri lebih baik langsung muntah saja. Biar lega." Ucap Aldrich sambil mengusap punggung Ruri.


"Bibi baik-baik saja." Ruri mengacungkan ibu jarinya dengan percaya diri.


"Ini. Minum pelan-pelan." Emma menyerahkan air minum itu pada Ruri. Lalu, ia memberikan roti yang juga dibawanya pada Aldrich. "Coba makan ini Al. Enak loh."


"Eh? Untukku?" Aldrich menerima dengan bingung. Padahal ia tidak bilang lapar atau ingin cemilan. Ya meskipun itu sudah sering terjadi, Emma selalu memberikannya semua yang tidak ia minta. Tapi kali ini terlalu random.


"Dulu aku pernah kemari dengan tuan Cassius saat masih seiusiamu. Lalu, tuan Cassius membelikanku roti itu. Rasanya sangat enak dan itu menjadi kenangan yang paling membekas dalam ingatanku. Setelahnya, dia akan menggendongku di bahunya, dan aku memasangkan bando kelinci di kepalanya. Hehe." Emma terlihat tersenyum saat menceritakannya, meskipun begitu, sebenarnya ia sangat sedih ketika mengingat sosok tuan Cassius.


Aldrich menatap roti yang sudah ia bawa. Siapa sangka, roti itu memiliki kesan tersendiri bagi Emma. Ternyata orang kaya bisa menganggap sesuatu yang sederhana seperti ini sebagai sumber kebahagiaan.


Aldrich tersenyum. "Mulai sekarang, ini adalah makanan kesukaanku."


Emma menatap Aldrich nanar. Ia tidak menyangka kalau anak itu akan mengatakannya. Kemudian Emma ikut tersenyum. "Oke, cobalah."

__ADS_1


Aldrich segera membuka bungkus si roti kenangan. Ia langsung menggigitnya dengan lahap.


Ugh!


Kenapa... Rasanya sangat tidak enak?!


Apa ini? Seperti mocca tapi ada manis dari selain stroberi, ditambah... Kenapa bisa ada keju juga? Serius, ini rasa apa?!


"Bagaimana? Enak kan Al?" Tanya Emma antusias.


Aldrich merasa tidak tega kalau harus mengatakan yang sebenarnya. Ia berusaha sekuat tenaga menelan hasil kunyahannya. Bibirnya bergetar dan memaksakan diri untuk tersenyum. "Enak kak."


"Mau kubelikan lagi?"


"Ti-tidak usah kak. Aku kenyang sekali. Mungkin hanya bisa menghabiskan roti ini saja."


"Baiklah. Kalau kita ke sini lagi suatu saat, ayo beli roti ini."


"Um!" Aldrich mengangguk. Ia merasa beruntung karena tidak harus memakan roti tidak enak itu lagi.


"Apa ada yang mendengarku?" Ucap Ruri sambil melirik Emma dan Aldrich yang sibuk mengobrol sendiri.


"Eh? Sampai lupa. Bagaimana bibi? Masih kuat?" Tanya Aldrich sambil kembali mengusap punggung Ruri.


Ruri menggeleng lemah sambil terus-terusan memegang perut. "Aku istirahat disini saja. Nona Emma dan nak Aldrich saja yang lanjut naik wahana lain."


"Oke. Ayo Al." Emma dengan cepat langsung menarik tangan Aldrich pergi. "Jaga tas ya Ruri." Teriaknya kemudian.

__ADS_1


Sepertinya tujuanku ikut ke luar negeri untuk menjaga nona Emma dan Aldrich. Tapi kenapa malah jadi menjaga tas?


__ADS_2