
Aldrich berjalan menyusuri lorong rumah Emma. Sudah pukul 4 pagi, tapi belum ada tanda-tanda orang yang sudah bangun.
Kenapa jadi seram?
Karena ketakutan, Aldrich berjalan sambil meraba tembok. Ia mempertajam pendengarannya agar mengetahui siapa yang akan datang.
Tap! Tap! Tap!
Tiba-tiba sebuah suara langkah kaki terdengar. Berasal dari tikungan lorong yang mengarah ke dapur.
A-apa itu? Setan kah? Lari kembali ke kamar masih sempat tidak ya? Tapi kakiku gemetaran.
Tap! Tap!
Suara langkah kaki itu semakin mendekat. Karena suasana yang sunyi, suara itu bergema dan memenuhi setiap sudut rumah besar Emma. Sampai akhirnya suara itu terdengar semakin dekat dan hendak berbelok kearah Aldrich.
Waaaa bagaimana ini? Ibuuu
Tap!
Akhirnya sesuatu berbelok. Mata Aldrich membulat. Itu adalah sosok yang memakai baju berantakan dengan wajah putih pucat yang tidak wajar.
"Waaaa!!! Valaq!!!" Aldrich sepontan menutup wajahnya.
"Ei! Ini bibi Ruri, ingat?" Ruri mendekat dan menepuk bahu Aldrich.
"Apakah hantunya meniru suara bibi Ruri?"
"Hahaha tentu saja tidak. Ini masker wajah, biar glowing." Ruri mengusap kepala Aldrich untuk menenangkannya. "Sekarang sudah bisa dibuka tangannya."
Aldrich perlahan menyingkirkan tangan yang menutupi wajahnya, lalu dengan takut-takut melihat wajah Ruri. Benar saja, itu hanya masker wajah.
Astaga membuatku takut saja. Aldrich mengusap dadanya
Ternyata dia masih seperti anak kecil. Dan juga benar kata nona Emma, Aldrich sangat imut.
"Kamu mau kemana? Bukankah kamarmu ada kamar mandi dalam?"
"Aku ingin ke pintu gerbang bi."
__ADS_1
"Eh? Ngapain? Masih gelap loh disana, nanti kamu takut."
Kalau bilang ingin mengambil koran, apakah terdengar aneh? Bagaimana agar tidak terdengar aneh?
Ah aku tahu!
"Aku ingin melihat koran pagi. Hari ini ada lanjutan komik kesukaanku yang sering kubaca di koran."
"Oh begitu. Tapi tukang koran belum mengantarnya. Mungkin setengah jam lagi. Mau baca koran online saja? Pakai tablet bibi Ruri ya."
"Eh? Tidak apa-apa?"
"Tentu saja! Ayo ke dapur. Baca koran sambil minum susu ya? Sepertinya ada susu di kulkas. Sambil temani bibi cuci piring."
"Um!" Aldrich mengangguk.
Ruri menggandeng tangan Aldrich dan membawanya ke dapur. Setelah itu ia memberikan tablet dan susu pada anak laki-laki itu.
"Ini makan biskuit juga." Tidak lupa Ruri menyodorkan biskuit rasa coklat ke sisi Aldrich.
"Terimakasih bibi."
"Iya sama-sama." Ruri akhirnya pergi ke wastafel meninggalkan Aldrich.
Tiba-tiba sebuah pesan masuk ke tablet yang ia bawa.
Tukang bakso : Bakso neng? Ini mau lewat depan rumah.
Tukang galon : Galon galon gagal move on. Ada galon abis ga?
Tukang bubur : Sabu enak loh. Sarapan bubur.
Ayang ♡ : Nanti jangan lupa buka pagar. Nona Emma bilang, aku harus merapikan rumput lebih awal.
Aw! Ternyata bibi Ruri pacaran dengan pak Darma tukang kebun hihihi. Tapi serasi juga, pak Darma masih terlihat muda, dan bibi Ruri sangat cantik.
Setelah banyaknya notifikasi itu menghilang, sebuah berita dengan tulisan besar muncul.
MATT HAMILTON AKAN MELAKSANAKAN ACARA PERTUNANGAN SEMINGGU LAGI.
__ADS_1
Apa?
"Bibi Ruri. Aku sudah selesai baca. Tabletnya kutaruh sini ya."
"Eh? Kenapa cepat sekali? Komiknya cuma update sedikit ya?"
"Iya." Aldrich yang merasa tidak enak, buru-buru meneguk susu buatan Ruri sampai habis, lalu ia mengambil beberapa keping biskuit dan berdiri dari kursinya. "Oh iya bi, ayangnya kirim pesan tuh."
"Eh?!" Wajah Ruri sudah memerah seperti tomat, sementara Aldrich langsung berlari pergi.
Saat Aldrich hendak melewati kamar Emma, disana ada Wayne sedang mengetuk kamar tanpa penghuni itu.
Tok! Tok!
"Nona, ada sesuatu yang harus saya bicarakan. Ini sangat penting. Nona?"
"Em... Paman Wayne, kak Emma tidur di kamarku. Kalau paman mencarinya, ayo sama-sama kesana. Aku juga ingin kembali ke kamar."
Wayne menatap Aldrich tidak suka. "Aku sudah bilang, jangan panggil paman. Panggil aku tuan. Apa kau lupa? Anak yang bodoh. Pantas saja hidupmu hanya dijalanan menjijikkan itu."
Dia merendahkanku lagi. Kali ini aku tidak akan diam saja.
Aldrich tersenyum dan mengangguk. "Ya aku lupa. Karena biasanya orang akan melupakan sesuatu yang menurut mereka tidak penting. Seperti keberadaan paman Wayne. Ups! Maksudnya tuan. Lihat? Mudah sekali lupa."
"Bocah! Jadi kau ingin bilang kalau aku tidak penting huh?" Wayne mendekati Aldrich dengan ekspresi marah.
"Ada apa ini? Kenapa kau memarahi Al?"
Mendengar suara Emma, Wayne sepontan menoleh. Dibelakangnya sudah ada Emma yang berdiri sambil melipat tangannya.
"Bukan begitu nona. Dia dulu yang-"
"Kak Emma lihat! Aku membawakan biskuit untukmu." Aldrich mendekati Emma dan menyodorkan tiga keping biskuit coklat kearahnya.
"Wah terimakasih, kelihatannya enak."
"Nona, ada hal penting yang ingin saya sampaikan." Wayne berjalan mendekati Emma.
"Hm? Awda awpha? (Sambil makan biskuit)"
__ADS_1
"Ada mendapat undangan pertunangan tuan Matt Hamilton."
"Apa?! (Biskuitnya jatuh dari mulut)"