Anak Dari Dua Ceo

Anak Dari Dua Ceo
Sudah Bisa Terbaca


__ADS_3

Emma sesekali melirik Aldrich ditengah kegiatannya menyetir mobil. Ia sangat khawatir dengan Aldrich yang baru bangun dari pingsan. Ia sangat menyesal membiarkan anak itu pergi sendiri. Padahal dia hanya ingin bermain.


Emma berbelok ke jalan lain, dan itu membuat Aldrich langsung sadar.


"Bukankah jalannya ke sana? Kita mau kemana kak?" Aldrich yang sedari tadi hanya melamun menatap jalanan, akhirnya melihat kearah Emma.


"Kita akan cari makan siang. Kamu lapar kan?"


Aldrich terlihat bingung, lalu melihat jam tangannya. "Ini belum terlalu siang. Lagipula aku tidak terlalu lapar."


"Tidak apa-apa. Kita beli cemilan saja ya." Emma melirik Aldrich dan melihat anak itu mengangguk.


Mereka akhirnya sampai di sebuah restoran mewah. Emma membawa Aldrich ke salah satu meja dan memesankannya makanan penutup seperti es krim dan kue.


"Yakin tidak ingin yang lain?" Tawar Emma tapi Aldrich hanya mengangguk.


"Baiklah itu saja. Tolong cepat ya." Ucap Emma sambil mengembalikan buku menu pada pelayan restoran.


"Baik. Akan segera kami sajikan." Setelah mengatakan dengan sopan, pelayan itu pergi.


Aldrich sibuk melihat kemewahan restoran itu. Dari hiasan dinding dan furnitur disana sangat elegan. Benar-benar layak menjadi restoran kaum kelas atas.


Tidak disangka Aldrich melihat sebuah momen yang sangat indah. Di salah satu meja yang jauh darinya, terdapat keluarga kecil yang sedang merayakan ulang tahun. Ayah, ibu, dan seorang anak laki-laki seumurannya memakai topi ulang tahun berbentuk kerucut. Kue besar dengan hiasan karakter superhero terlihat sangat indah dengan lilin yang menyala. Keluarga kecil itu tersenyum senang saat sang anak sudah selesai meniup lilin. Lalu si ayah mengeluarkan tiket penerbangan yang disambut lompatan ceria anak yang tengah berulang tahun. Sepertinya mereka akan berlibur bersama untuk merayakan ulang tahun itu.


Ayahku pasti sudah meninggal, iya kan? Kalau tidak, bagaimana mungkin kak Matt yang dikabarkan jadi penerusnya keluarga Hamilton. Bukankah seharusnya ayahku yang merupakan kakaknya?


Tapi jika itu benar, berarti bagus. Ibu bisa bertemu dengan ayah.


Apakah hanya begini saja? Inikah akhir dari semuanya? Ayahku sudah meninggal. Setelah mengetahui itu apakah aku masih ada alasan untuk berada disini? Di tempat mewah ini?


Aldrich tidak sadar meneteskan air mata. Ia sudah tidak tahu lagi bagaimana cara melanjutkan hidupnya. Selama ini ia berusaha tegar karena ingin bertemu ayahnya. Tapi sekarang, siapa yang ingin ia temui? Apa yang harus ia lakukan selanjutnya?


"Kapan hari ulang tahunmu?"


Aldrich tersadar dengan suara Emma. Ia buru-buru mengelap air mata yang tidak diinginkan itu.


"Jangan menangis. Aku tahu apa yang kamu inginkan, Al." Emma menyodorkan tisu pada Aldrich.


"Yang aku inginkan?" Aldrich menerima tisu itu dengan bingung.


Apakah kak Emma tahu kalau aku menginginkan suasana keluarga yang hangat? Tidak mungkin! Kak Emma kan tidak peka.

__ADS_1


"Kamu pasti ingin aku dapet jodoh kan? Supaya kamu punya papa. Hahaha tenang saja Al. Aku, Emma Rosaline mulai sekarang akan mencari papa untukmu. Agar kita bisa makan bertiga. Dan untuk ulang tahunmu... AKU AKAN MEMBUAT ACARA MEWAH UNTUK ULANG TAHUNMU HAHAHA." Emma berteriak dengan keras, sampai keluarga yang memiliki anak berulang tahun tadi menatap Emma. Mereka merasa Emma sedang menyindir acara mereka.


Aldrich tersenyum sambil memegang kepalanya. Ya ampun, cerewet sekali. Tapi... Tidak buruk juga.



Acara makan siang heboh sudah selesai. Setelah itu, Emma mengantarkan Aldrich pulang, lalu pergi lagi untuk kembali bekerja.


"Nak, mau kakek buatkan sesuatu? Cemilan atau minuman?" Tanya Ron sambil melihat Aldrich masuk dari pintu depan.


"Jangan-jangan kakek sudah diberitahu kak Emma kalau aku pingsan ya? Tenang saja kek, aku baik-baik saja." Aldrich tersenyum hingga matanya sipit.


"Syukurlah kalau-"


"Apa?! Pingsan?!" Ruri yang sebelumnya mengepel lantai di dekat Ron, tiba-tiba heboh sendiri. "Kamu pingsan?"


"I-iya bibi." Jawab Aldrich setengah kebingungan.


"Bagaimana rasanya? Kasih tahu dong. Aku sampai umur segini belum pernah ngerasain pingsan. Rasanya kayak tidur gitu?"


"Eee... Aku juga tidak bisa menjelaskannya bibi." Aldrich menggaruk kepalanya dengan bingung.


"Ruri, kembali pada pekerjaanmu." Ron menghalangi Ruri mendekati Aldrich.


"Kakek, aku ingin baca buku di perpustakaan." Ucap Aldrich.


"Yakin? Kamu habis pingsan, nanti pusing bagaimana?"


"Tapi aku ingin baca buku." Aldrich memperlihatkan muka memelasnya, dan seketika membuat Ron luluh.


"Baiklah, tapi jangan lama-lama ya."


"Asikkkk"


Aldrich segera melesat ke perpustakaan, sementara Ron yang melihatnya ikut merasa senang. Rasanya seperti membahagiakan cucu sendiri.



Tanpa basa basi lagi, Aldrich menuju rak buku bagian bisnis. Ia mencari buku pertama yang pernah ia baca ditempat ini. Entah bagaimana bisa dirinya lupa tentang buku itu. Waktu Aldrich selama berada disini malah terbuang karena mengurusi sesuatu yang bukan tujuan utamanya. Tapi jika dipikir-pikir, dirinya bisa berada disini dan tahu semuanya adalah berkat kak Emma.


Berita tentang anak lain keluarga Hamilton sudah lama. Jadi yang harus kucari adalah buku keluaran lama. Sekitar 10 tahun yang lalu.

__ADS_1


Eh? Kenapa buku itu tidak ada? Dimana? Dimana?


Aldrich dengan heboh berpindah dari satu rak ke rak yang lain. Membuka deretan buku, dan membaca judulnya satu persatu.


Benar-benar tidak ada.


"Nak? Kamu tersesat disana lagi? Ingin cari buku apa?" Ron muncul tiba-tiba dan berjalan mendekati Aldrich.


"Kakek, aku mulai tertarik dengan bisnis. Apakah kakek bisa membantuku mencari buku yang mudah kupelajari?"


Sudah tertangkap basah beberapa kali. Sekarang hanya perlu berbohong sedikit.


"Ingin belajar? Susah loh."


"Hehe yang mudah dulu."


"Begini nak, karena kamu baru bangun dari pingsan dan buku-buku bisnis pasti hanya berisi tulisan panjang, lebih baik tanya-tanya pada nona Emma dulu. Dia pasti akan mengajari yang mudah."


Aduh bukan begitu. Kak Emma pasti juga bingung bagaimana mengajariku. Aku hanya ingin buku.


"Atau... Jangan-jangan kamu sedang mencari buku tentang bisnis yang sebelumnya pernah kamu baca diam-diam ya?" Ron mengusap kepala Aldrich dengan ekspresi jahil. "Kakek tahu loh."


"Ehehehe... Aku ketahuan?" Aldrich tertawa sambil menggaruk tengkuk.


"Bukunya sudah kakek perbaiki, karena halamannya ada yang rusak. Bagian sobeknya sudah kakek ganti dengan halaman utuh."


"Bagaimana caranya?"


"Tentu saja lihat di internet. Kakek mencocokannya dengan cetakan pertamanya. Padahal buku itu bagus tapi tidak terlalu laris. Jarang ada orang yang tahu." Sambil bercerita, Ron mengarah ke sebuah tempat duduk kecil di ujung ruang perpustakaan.


Wah bukunya terlihat seperti baru. Aldrich sudah melihat buku itu diatas meja yang dituju Ron.


"Ini dia. Bacanya pelan-pelan saja. Kalau tidak paham, tinggal tunggu nona Emma pulang dan menjelaskannya padamu." Ron menyerahkan buku itu pada Aldrich.


"Baik terimakasih kek."


Setelah mendapatkan bukunya. Aldrich mencari tempat duduk yang nyaman. Akhirnya ia memilih duduk di dekat taman berbunga yang ia lihat bersama pak Darma pagi tadi. Tak lama kemudian, Ruri mengantarkan cemilan dan minum untuk Aldrich, lalu pergi lagi untuk membersihkan rumah.


Ini dia!


Aldrich akhirnya menemukan halaman buku yang sebelumnya sobek dan tidak bisa ia baca. Tapi kali ini sudah menjadi halaman yang utuh. Aldrich mulai membacanya perlahan.

__ADS_1


Metode tadi juga dipakai oleh keluarga Hamilton. Dimana keluarga itu sekarang menjadi orang terkaya di negara ini. Dengan salah satu anaknya yang menjadi Ceo, yaitu Jeff Hamilton.


Apa?! Jeff Hamilton?


__ADS_2