Anak Dari Dua Ceo

Anak Dari Dua Ceo
Anak Yang Dicari


__ADS_3

Di sisi lain.


Emma berjalan dengan riang gembira menuju ruang kerjanya. Ia bersenandung sambil memutar-mutar kunci ruangan itu di jari telunjuknya.


"Anakku imut, anakku lucu, anakku pintar." Emma bernyanyi sambil membuka kunci pintu perlahan.


"Lagi-lagi lama."


Emma melotot saat melihat Matt sudah bertengger di kursinya seperti kemarin.


"Kau lagi!"


"Mana Aldrich?" Tanya Matt sambil berjalan mendekati Emma.


"Aldrich tidak ikut karena tidak ingin bertemu denganmu!"


"Pembohong." Matt menatap Emma curiga. "Padahal hari ini aku membawakannya mainan yang lebih banyak."


"Berhenti memberinya mainan, kau bukan papanya. Aku bisa membelikan mainan untuk anakku sendiri."


"Kenapa kau yang cerewet? Aku membelikan mainan untuk Aldrich, bukan untukmu. Toh dia juga suka mainan pemberianku kemarin." Matt tersenyum penuh kemenangan.


Tok! Tok!


Nina lagi-lagi muncul di pintu setelah mengetuk beberapa kali.


"Maaf mengganggu waktu romantisnya. Tadi tuan Ian menitipkan berkas ini pada saya untuk diberikan pada nona. Dia tidak tahu kalau tuan Wayne sudah berhenti, jadi hanya bisa meminta saya untuk memberikan ini." Ucap Nina sambil memperlihatkan dokumen di tangannya.


"Oke. Terimakasih ya." Emma menerimanya, lalu menutup pintu saat Nina sudah pergi.


"Wayne? Bukankah dia sekretarismu?" Matt kembali duduk. Tapi kali ini ia memilih duduk di sofa.


"Ya. Aku memecatnya." Emma menaruh dokumen tadi diatas meja, lalu menghela nafas lelah.


"Hm? Kenapa? Bukankah dia sudah mengabdi lama dengan keluargamu? Dia sudah seperti asistenmu. Ryker saja mengidolakannya. Kata dia, Wayne seperti dewa para sekretaris."


"Huh? Apa-apaan itu?" Emma tertawa pelan, lalu mengalihkan pandangannya dari dokumen yang ia taruh. "Wayne membuat kesalahan yang tidak bisa kutolerir lagi."


"Kesalahan apa?"


"Itu urusan pribadiku. Kenapa kau harus tahu?"


"Kau saja mencampuri urusan pribadiku. Kenapa aku tidak boleh mencampuri urusan pribadimu?" Ucap Matt sambil menatap Emma.


"Maksudmu soal Sylvia? Aku cuma kasihan padamu. Tidak bermaksud ikut campur. Lagipula perbuatanku baik kan?"


"Aku juga ingin berbuat baik. Kalau kau butuh sekretaris bilang saja padaku, aku memiliki beberapa orang yang berpengalaman. Dan..." Matt menghentikan kalimatnya karena malu, ia terdiam sebentar lalu melanjutkannya. "Dan mulai sekarang, ceritakan lebih banyak hal tentang dirimu."


"Maksudnya?"

__ADS_1


"Ja-jangan salah paham ya, aku cuma ingin berterima kasih, jadi berharap bisa membantumu sesuatu. Untuk seterusnya, cerita saja kalau ada masalah." Wajah Matt tiba-tiba memerah karena menahan malu.


Emma tersenyum kaku.


Bagaimana bisa salah paham, aku saja tidak mengerti apa yang dia katakan. Iyain aja dulu.


"Iya. Aku akan cerita."



Di tempat lain. Sebuah Rumah yang tampak rapuh.


Aldrich memasuki rumahnya dengan ekspresi yang sulit untuk dijelaskan. Sesampainya di dalam, ia menaruh tas nya dengan asal diatas spanduk lantai yang dingin.


"Masih belum cukup... Informasinya masih kurang."


Aldrich terduduk dengan kasar. Sekarang ia tidak memiliki tenaga lagi untuk berdiri. Salahkah jika ia merasa dunia ini begitu kejam padanya?


Ibu yang selama ini hanya ia anggap galak dan suka marah-marah, ternyata orang yang memiliki cerita kelam dan rela bertahan hidup untuk menjaga dirinya.


Serta ayah yang selama ini ia anggap tidak menyanyanginya, ternyata adalah sosok misterius yang telah tiada sebelum mereka sempat bertemu.


Sekarang... Aldrich bahkan tidak tahu kenapa ia sendirian di dunia ini? Dimana sebenarnya tempat dia berada? Begitu banyak konflik yang membuatnya hampir gila.


Ayah dan ibu yang meninggal secara misterius. Dan keluarga besar yang penuh rahasia. Itu terlalu memuakkan.


Ugh!


"Ternyata artikel yang kubaca itu benar. Kalau sedang sakit hati, pasti perut ikutan sakit."


Untuk meredakan sakit perutnya, Aldrich berbaring sebentar. Akhirnya tubuhnya merasakan lagi dinginnya tidur tanpa alas, setelah beberapa minggu tidur diatas kasur yang empuk.


"Aku tahu kalau aku tidak boleh menyerah untuk mencari kebenaran tentang orang tuaku, meskipun lawannya adalah keluarga Hamilton. Tapi jujur saja, itu cukup susah. Aku tidak memiliki ide apapun sekarang, apa yang harus aku lakukan?"


Aldrich kembali duduk lalu mengambil bukunya dari dalam tas. Ia mulai mencatat semua cerita yang pak Hendro katakan tadi. Jika suatu saat ia linglung karena terlalu banyak berpikir, setidaknya ada catatan ini yang akan mengingatkannya.


Setelah menulis semuanya, Aldrich mengusap ujung penanya ke kepala. "Tunggu dulu... Kalau ibuku dokter, bagaimana dia bisa terkena racun? Aku ingat sekali ibu bicara soal racun sebelum meninggal."


Aldrich diam sebentar. Kesunyian rumah membuatnya nyaman untuk berpikir.


"Kira-kira apa yang akan membuat seseorang dengan sukarela makan racun tanpa curiga sedikitpun? Padahal dirinya sendiri dokter yang pasti paham soal racun."


Klotak!


Aldrich sepontan menatap pintu rumah yang sudah ia tutup sebelumnya. Benda itu bergetar seolah ingin dibuka oleh seseorang dari luar.


Krieeet...


Laki-laki misterius yang baru masuk itu berhenti bergerak saat mengetahui ada pena runcing yang disodorkan kearah lehernya.

__ADS_1


"Siapa?" Tanya Aldrich dengan tatapan dingin. Tangannya seolah tidak takut menyodorkan benda yang sebenarnya tajam itu kearah orang asing sebelumnya.


"Hei santai nak. Seharusnya aku yang bertanya kenapa anak sepertimu disini? Dan bagaimana caramu masuk? Ini adalah tempat pribadi, bukan tempat bermain."


"Tempat pribadi?"


"Ya. Rumah ini milik kenalannya nona Emma Rosaline. Tugasku untuk membersihkannya setiap hari."


Aldrich terkejut, dan perlahan menurunkan penanya. "Ternyata orang suruhan kak Emma."


"Eh? Kamu kenal nona Emma?"


"Ya. Namaku Aldrich."


"Astaga! Anak angkatnya?! Perkenalkan, namaku Tandha Thanya."


Namanya tanda tanya? Unik sekali.


"Salam kenal paman." Aldrich langsung tersenyum dan mengganti ekspresi mengancamnya tadi.


"Ya ampun, tadi aku benar-benar terkejut. Kenapa kamu hendak membunuhku?" Laki-laki yang terlihat seumuran dengan pak Darma itu merinding ketakutan saat membayangkan lagi adegan sebelumnya.


"Hehe... Aku kira paman orang jahat. Bukankah orang jahat pantas dibunuh? Anak sepertiku bisa apa untuk melindungi diri? Hanya anak kecil lemah. Makanya aku mengincar tenggorokan paman, lebih mudah ditusuk dan membuat paman mati. Kalau mengincar jantung susah, ada tulang rusuk."


Ya ampun, anak ini bicara sadis dengan ekspresi biasa saja.


"Oh iya, bagaimana aku memanggil paman?" Tanya Aldrich sambil memasukkan buku dan penanya kembali ke dalam tas.


"A-aku biasanya dipanggil Tandha."


"Paman Tandha, biasanya kemari untuk bersih-bersih ya?" Tanya Aldrich basa-basi.


"Iya. Sebenarnya harus pagi bersih-bersihnya. Tapi hari ini kesiangan."


Hampir saja. Kukira orang yang mau menerobos tadi adalah orang jahat yang mengincarku. Untung aku tidak gegabah.


Saat ini aku yakin kalau posisiku sedang diincar. Tapi mungkin orang yang mengincarku sekarang menggunakan cara yang lebih rapi dan terkesan natural. Tidak berantakan seperti saat mengejar ibuku.


Dan orang yang mencariku, pastilah melibatkan banyak pihak.



Matt hendak pergi dari ruangan kerja Emma karena urusannya sudah selesai. Tapi belum mencapai pintu, ia kembali menoleh kearah perempuan yang sekarang sedang disibukkan dengan dokumen itu.


"Oh iya Emma. Bagaimana soal permintaan tolongku sebelumnya?"


"Hm? Yang mana?" Emma masih fokus pada pekerjaannya.


"Soal anak kecil yang kucari. Apa kau memiliki petunjuk? Keluargaku kembali menanyakannya."

__ADS_1


"Tidak ada petunjuk. Cepat pergi, jangan ganggu aku."


"Iya iya."


__ADS_2