Anak Dari Dua Ceo

Anak Dari Dua Ceo
Pemaksaan


__ADS_3

Setelah melihat mobil Emma pergi, pak Darma kembali menutup gerbang dan menguncinya seperti biasa.


Enaknya hari ini menanam bunga apa ya? Oh iya! Bagaimana kalau aku menanam tanaman lain? Seperti tanaman herbal atau buah. Ya, pasti sangat berguna.


Sebelum membeli tanaman yang direncanakannya, pak Darma memilih untuk menyiram tanaman lebih dulu, tidak lupa ia menambahkan pupuk di beberapa tanaman yang terlihat kurang sehat.


Hm... Tiba-tiba aku kepikiran bunga lily laba-laba merah. Kira-kira bisa ditanam disini tidak ya? Coba cari di pasar bunga sekalian ah.


Setelah selesai dengan tugasnya, pak Darma membasuh tangan dan sekopnya di kran air yang berada di taman.


Dududu tanaman baru, dudududu jangan sampai nona tahu.


Tong! Tong!


Pagar besi yang sebelumnya ditutup oleh pak Darma diketuk dari luar.


Apa nona Emma memesan paket lagi?


Tanpa curiga, pak Darma mendekati pagar dan membukanya. Tapi yang ia lihat bukanlah kurir pengantar paket, melainkan 5 orang bertubuh kekar dan berwajah sangar. Mereka datang bersama Melin.


"Siapa?" Tanya pak Darma.


"Minggir!" Salah seorang laki-laki bertubuh besar itu mendorong pak Darma sampai terjatuh.


Klontang!


Sekopnya menjadi benda pertama yang jatuh menghantam lantai.


"Hei siapa kalian?! Jangan masuk seenaknya!"


Kekuatan pak Darma yang mencoba menghalangi mereka kalah. Orang-orang itu berhasil masuk rumah dengan seenaknya.


Ron yang mendengar keributan segera pergi untuk mengecek. Tapi belum sampai di pintu, seseorang sudah mendobrak pintu depan dengan keras.


"Cari anak itu!" Perintah salah satu dari orang berwajah sangar sebelumnya.


"Tunggu ada apa ini?"


"Diamlah pak tua! Atau kau akan kami bunuh." Ancam orang menyeramkan lainnya sambil menodongkan pisau.


"Cepat cari!"


Orang-orang itu mulai menggeledah. Memasuki ruangan-ruangan yang ada dengan tidak sopannya. Tidak lupa mereka juga mengecek dibawah meja dan di dalam lemari. Benar-benar tidak ingin luput satu bagianpun.


"Apa kalian tahu apa yang sedang kalian lakukan? Aku bisa melaporkan ini pada polisi." Ucap Ron yang masih ditodong dengan pisau.


"Silahkan laporkan saja. Memangnya kalian bisa melawan keluarga Hamilton?"


Keluarga Hamilton? Jadi para preman ini suruhan keluarga Hamilton? Kenapa?

__ADS_1


"Sial! Anak itu tidak ada dimanapun!" Teriak salah seorang yang baru keluar dari kamar Aldrich.


Sebenarnya siapa yang mereka cari? Apakah nak Aldrich?


"Pak tua, tunjukkan kamar bocah itu sekarang!" Pisau tadi didekatkan ke leher Ron untuk mengancamnya. Tapi ekspresi Ron tidak terlihat takut sedikitpun. Dia hanya melirik pisau yang mengkilap itu sekilas.


"Aku tidak tahu bocah siapa yang kau maksud."


"Ck! Panggil Melin."


Tidak lama seorang perempuan masuk. Ron menatap tajam kearah Melin yang nampak biasa saja itu. Dia menggaruk rambutnya dengan bosan dan menunjuk salah satu kamar. "Disana tuh."


"Tidak ada! Jangan menipu kami ya dasar babu! Kuanggap tugasmu memata-matai gagal, supaya nyonya bisa menghabisimu segera."


"Aku bersumpah itu kamarnya!"


Ron bingung. Aldrich tidak ada? Terakhir aku melihatnya sedang mengobrol bersama Ruri.


Preman lainnya turun dari tangga dengan cepat. "Di lantai 2 dan 3 juga tidak ada. Yang kutemukan hanya pembantu kembar ini." Milly dan Molly langsung didorong hingga tersungkur.


"Hentikan ini sekarang." Ucap Ron dengan ekspresi yang masih sama seperti sebelumnya.


"Aku benci melihat wajahmu pak tua. Tatapanmu terlihat sombong. Bisa apa kau dengan tubuh rentamu itu?"


"Oh? Kalian mau lihat?"


"Jangan besar mulut! Aku akan membunuhmu sekarang!!!"


Pyar!


Tiba-tiba terdengar suara jendela pecah dari kamar Aldrich. Sepontan semua preman itu langsung masuk untuk mengecek.


Dari sana, terlihat Aldrich berada di luar rumah, tersenyum sambil memainkan batu di tangannya. Ia membuat ancang-ancang dan melemparkan batu kloter kedua.


Pyar!


"Kemari dan tangkap aku, dasar pencundang!" Teriak Aldrich yang kemudian berlari pergi.


"Apa yang kalian lihat? Ayo cepat kejar!"


Semua pareman itu berbondong-bondong menuju jendela, dan lompat dari sana. Mereka berlari mengejar anak kecil dengan tas ransel di punggungnya itu.


Preman yang menodong Ron sebelumnya juga ingin pergi. Tapi tangannya segera ditahan oleh Ron. Lalu beberapa detik kemudian tubuhnya terangkat lalu jatuh ke lantai.


Brak!


"Hebat sekali tuan Ron, anda bisa membantingnya." Seru Milly dan Molly sambil bertepuk tangan.


"Sekarang Ruri!" Perintah Ron, dan secara ajaib Ruri keluar dari balik pintu belakang, lalu memukul preman itu dengan wajan penggorengan di tangannya.

__ADS_1


Toeng!


"Dia sudah pingsan." Milly mengecek.


"Ruri juga hebat, memukul dengan kuat sambil menunjukkan bibir seksimu." Goda Molly


"Diamlah!"


Pintu tiba-tiba kembali terbuka. Membuat semua orang terkejut setengah mati karena mengira itu preman lainnya. "Hei aku bertemu ini. Dia mau kabur." Pak Darma masuk sambil menyeret Melin.


"Kita amankan dia dulu. Yang terpenting sekarang adalah nak Aldrich. Ada 4 orang yang mengejarnya." Ucap Ron sambil menatap kearah jendela tempat para preman sebelumnya pergi.


"Biarkan aku saja yang menyusulnya." Pak Darma mengeluarkan sesuatu dari tangannya yang satu. "Lihat aku punya golok untuk membersihkan rumput."


"Kyaaa tapi kepalamu berdarah." Ruri langsung panik saat melihat kepala bagian belakang pacarnya berwarna merah darah.


"Oh ini tadi salah satu preman melemparku dan aku jatuh keatas cat yang biasanya kupakai mengecat pot bunga. Mungkin mereka juga mengira ini darahku jadi membiarkanku terkapar begitu saja. Tapi jujur ini sadikit sakit haha."


"Baiklah, kau kejar Aldrich. Jangan sampai dia kenapa-kenapa. Aku akan menelpon nona. Dan menyekap dua orang ini." Titah Ron yang langsung dilaksanakan oleh pak Darma.


"Kalian tidak bisa melawan keluarga Hamilton. Kita ini cuma mainan bagi mereka." Melin akhirnya membuka mulut sambil meronta.


"Huh! Mereka punya kekuasaan, tapi kita punya kekeluargaan. Jelas kita yang akan menang, iyakan?" Ruri menatap teman-temannya.


"Tidak juga sih." Si kembar menggeleng.


"Kalian bukan keluarga!"



Bruk!


"Dia yang terakhir." Ryker melempar stun gun yang baru saja ia pakai. Semua bodyguard sudah berhasil ia lumpuhkan seorang diri. Ya benar seorang diri, karena tuannya sangat tidak berguna, hanya bisa memeluk katana mahalnya sambil berteriak "Awas Ryker!" Menyebalkan sekali.


"Akhirnya aku bebas!" Matt melakukan selebrasi seolah-olah ini berkat dirinya.


"Baiklah, ayo kita pergi." Ryker hendak menarik Matt, tapi tuannya itu malah menepisnya.


"Pergi kemana?"


"Luar negeri. Bukankah biasanya kalau anda bertengkar dengan nyonya Yelena pasti pergi ke luar negeri?"


Matt menggeleng. "Aku ingin pergi ke suatu tempat."


"Kemana?"


"Rumah Emma. Aku ingin memastikan Aldrich baik-baik saja."


Ryker tersenyum. Ini adalah pertama kalinya ia melihat tuannya begitu khawatir pada orang lain. Bahkan saat bersama Sylvia dulu pun, Matt hanya akan menyuruh orang lain melihat keadaannya. Tapi sekarang berbeda, dia ingin melihatnya sendiri.

__ADS_1


Apakah tuan mulai berubah?


"Baiklah, ayo."


__ADS_2