Anak Dari Dua Ceo

Anak Dari Dua Ceo
Jadilah Anakku


__ADS_3

"Keluarga Hamilton itu bisa dibilang sebagai keluarga terkaya di negara ini. Contoh bentuk segitiga, nah dia yang paling atas." Emma menyatukan tangannya untuk membentuk segitiga.


Aldrich mengangguk. Ia merasa bisa mengorek informasi lebih dalam dari pembicaraan ini. "Seberapa kaya mereka? Apa rumahnya lebih bagus dari kakak?"


"Tentu saja! Bahkan tidak hanya satu rumah. Ada banyaaak. Uang yang dihasilkan dari Hamilton group cukup untuk mandi uang hahaha. Tapi sayang sekali CEO mereka sakit jiwa." Emma tersenyum puas saat mengejek Matt. Jika orang itu didepannya sekarang, maka mereka akan bertengkar.


CEO mereka sakit jiwa? Aldrich nampak bingung.


"Jangan dipikirkan lagi. Intinya keluarga Hamilton itu yang paling berpengaruh di negara ini sekarang." Emma kembali menyambar berkas lainnya untuk melanjutkan pekerjaan.


Apakah keluarga Hamilton itu yang dimaksud ibu?


"Kalau 10 tahun yang lalu? Apakah keluarga Hamilton itu juga berjaya?" Tanya Aldrich sambil duduk kembali di kursinya.


"Hmmm sejauh ingatanku keluarga Hamilton sudah menduduki ranking satu sebagai yang terkaya di negara ini. Kurasa 10 tahun yang lalu juga sama." Jawab Emma sambil tangannya sibuk membuka lembaran dokumen.


Itu dia! Pasti keluarga Hamilton!


"CEO mereka namanya siapa kak?"


"Matt Hamilton. Dia kakak kelasku dulu saat masih SMA."


Eh? Berarti masih muda. Kalau dibandingkan dengan umur ibu, kurasa tidak mungkin dia.


"Apa Matt Hamilton itu memiliki seorang kakak?" Tanya Aldrich lagi.


"Tunggu dulu! Kenapa kamu tertarik dengan hal seperti ini Al?" Emma menaikkan sebelah alisnya sambil menatap Aldrich bingung.

__ADS_1


Ups! Aku terlalu asik mengorek informasi sampai keceplosan. Dalam hal ini aku sangat bodoh!


"Tidak. Aku hanya suka melihat kakak cerita hehe." Senyum polos andalan Aldrich kembali ditebar.


"Iya deh. Satu lagi, Matt Hamilton itu anak tunggal keluarga Hamilton." Emma tersenyum lalu kembali mengetik pada laptopnya, dan mengacuhkan Aldrich seperti sebelumnya.


Tunggal?! Jika bukan dia, lalu siapa ayahku?!


Apakah ayahnya Matt Hamilton itu?


Tidak tidak. Ibu sangat baik, tidak mungkin menjadi selingkuhan ayahnya Matt Hamilton.


Duh kepalaku pusing lagi.


Rasa sakit di kepala Aldrich kembali datang secara tiba-tiba seperti sebelumnya. Ia menumpu kepalanya sambil memejamkan mata menahan rasa sakit.


Mendengar perkataan Ron, Emma yang sebelumnya hanya terfokus pada layar laptop langsung mengalihkan pandangannya pada Aldrich.


"Al, kamu kenapa?" Emma seketika khawatir.


"Hanya pusing kak. Tidak apa-apa."


"Ron cepat panggilkan dokter paling hebat. Aku mau dia kesini kurang dari 30 menit." Perintah Emma.


"Kak, aku benar-benar hanya pusing biasa. Kalau tidur sebentar pasti sembuh."


Emma terdiam sambil menatap Aldrich. Anak laki-laki itu masih sempat tersenyum dengan kaku. Sebenarnya apa yang ia lakukan? Pasti Aldrich masih syok dengan kematian ibunya, dan bingung harus menjalani hidup seorang diri. Dirinya yang bermaksud menghibur sudah gagal dari awal, karena hanya membiarkan Aldrich sendirian tanpa menemaninya.

__ADS_1


Entah kenapa rasanya sangat kecewa. Padahal Aldrich hanya orang yang membantunya berpikir positif untuk mencari jalan keluar dari masalahnya. Tapi rasanya ada semacam kemistri aneh yang Emma rasakan saat bersama Aldrich.


Kalau dia pulang nanti, tidak ada orang yang akan menyambutnya. Dia sendirian. Lebih buruk dariku.


"Al, mau tidak jadi anak angkatku?"


Kata-kata itu tiba-tiba terlontar begitu saja dari mulut Emma. Membuat Ron menganga, dan Aldrich mengedipkan matanya berulang kali, karena tidak percaya.


"Kakak bicara apa?" Aldrich menepuk-nepuk telinganya. Mungkin karena terlalu pusing, ia jadi mendengar sesuatu yang aneh.


"Nona sadar dengan apa yang nona katakan?"


Emma berdiri dari kursinya dan menutup laptop dengan ekspresi serius. Mungkin ini adalah permintaan yang aneh dan gegabah. Tapi hati kecilnya sangat yakin dan tidak mergukan Aldrich sama sekali.


"Aku sadar dan sangat serius. Aldrich, jadilah anak angkatku. Kita akan tinggal bersama dan menjadi sebuah keluarga. Apa kamu mau?" Ulang Emma. Kali ini nada yang ia gunakan lebih mantap dari sebelumnya.


"Eh? Aku..." Aldrich menggaruk kepalanya dengan bingung. Entah kenapa secara ajaib pusingnya hilang dan tergantikan dengan kebingungan yang ia rasakan.


"Tidak apa-apa. Kamu bisa memikirkannya dulu." Emma tersenyum dengan lembut sambil mengusap ujung kepala Aldrich.


"Nona anda..." Ron masih terkejut. Dan entah kenapa keberadaannya seakan terlupakan karena Emma terus menatap Aldrich.


"Aku serius, jangan dipertanyakan lagi."


Dikejauhan, seseorang sedang bersembunyi sambil mendengarkan semua pembicaraan yang terjadi antara Emma dan Aldrich.


"Ck! Kenapa selalu anak jalanan itu? Sekarang berkata ingin mengadopsi? Yang benar saja! Dia pikir akan menjadi pewaris Rose group? Akan kubuat anak liar itu sadar akan posisinya."

__ADS_1


Wayne pergi dari tempat persembunyiannya.


__ADS_2