Anak Dari Dua Ceo

Anak Dari Dua Ceo
Cerita Tentang Yunna


__ADS_3

Emma dan Aldrich akhirnya sampai di rumah. Hari sudah menjelang malam, dan anak laki-laki itu masih terdiam sepanjang jalan. Bahkan tidak menjawab pertanyaan Emma sebelumnya.


Aldrich masuk rumah lebih dulu, dan Emma masih belum beranjak dari mobil.


"Nona, tidak turun?" Tanya Pak Darma sambil melihat Emma dari kaca spion. Tapi nona nya itu diam saja. "Nona?"


Emma melamun, pandangannya hanya tertuju pada tangannya sendiri.


"Non?" Pak Darma menepuk tangan Emma yang terus dipandangi pemiliknya itu. Hingga Emma terkejut dan sadar sepenuhnya.


"Begini, tolong katakan pada Ron kalau aku akan pergi lagi. Dan pastikan Al makan malam."


"Eh? Anda ingin kemana?" Tanya pak Darma.


"Panti sebentar."


Lagi-lagi meskipun pak Darma bingung, tapi tetap membiarkan Emma. Ia turun dari mobil, dan Emma mengambil alih kemudi lalu pergi begitu saja.


"Loh? Nona mana?" Ron keluar rumah disaat yang tidak tepat, karena ia hanya mendapati pak Darma sendirian.


"Baru saja pergi. Katanya mau ke pantai."


"Pantai?" Ron mengangkat sebelah alisnya dengan bingung.


"Eh bukan, apa ya? Lupa. Pokoknya itulah."


"Itulah apa?"


"Hehe tadi aku tidak terlalu mendengar nona ngomong apa. Soalnya dia sedang sedih sekali. Ngomongnya kayak orang komat-kamit."



Hari sudah benar-benar malam saat Emma sampai di depan pagar sebuah rumah yang ukurannya cukup besar. Dulu ia menyebutnya tempat untuk pulang. Sekarang hanya menjadi tempat singgahnya kalau ada waktu luang.


Emma belum masuk. Ia masih berada di mobil sambil menatap bangunan itu dalam diam.


Aku benar-benar kesini. Padahal aku hanya menduga-duga saja.


Melihat masalah Al yang sekarang, membuatku tiba-tiba teringat dengan nama ibu Al yang tertulis di batu nisan. Aku bersumpah pernah membaca namanya di suatu tempat. Dan sekarang aku ingat. Aku pernah membaca itu di buku daftar anak berprestasi yang disimpan di perpustakaan panti.


Yunna Alisya, banyak memenangkan penghargaan sehingga membuat panti asuhan sangat bangga pada saat itu. Tapi kenapa aku tidak pernah melihatnya? Seharusnya dia menjadi ibu asuh kan? Pasti ada hubungannya dengan Al dan keluarga Hamilton.


Duakk!!!


Emma membenturkan kepalanya sendiri pada kemudi. Ia sangat bingung sekarang. Rasanya ingin segera bertanya dengan kakak tertua di panti. Tapi ia takut mendengar kabar yang buruk. Ia kasihan dengan Aldrich.


Tok! Tok!

__ADS_1


Emma menoleh kearah kaca mobilnya yang diketuk dari luar. Ternyata itu adalah kakak tertuanya. Emma buru-buru menurunkan kaca.


"Kenapa tidak masuk? Aku melihat mobilmu terus terparkir disini."


Emma tersenyum dan segera mengangguk. "Ini mau masuk."


"Kamu sedang banyak pikiran? Tidak apa-apa kalau ingin merenung disini dulu. Tapi jangan lama-lama nanti masuk angin. Cepat masuk dan ayo makan malam bersama."


Kakak selalu tahu apa yang kupikirkan. Tapi aku ingin segera mengetahui faktanya. Meskipun aku sudah berjanji pada diri sendiri untuk tidak mencari tahu tentang Al, nyatanya aku benar-benar khawatir dengannya.


"Kalau begitu aku akan pergi dulu-"


"Yunna Alisya." Emma menatap kakaknya dengan serius. "Tolong beritahu aku, siapa Yunna Alisya?"


Rere, nama kakak tertua Emma di panti itu nampak terkejut mendengar pertanyaan yang dilontarkan adiknya. Ia seperti orang gelagapan dan pandangan matanya tak beraturan. "Aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan." Jawab Rere dengan senyum yang dipaksakan.


Emma menghela nafas, lalu turun dari mobil dan menghampiri Rere. "Aku pernah membaca nama itu di perpustakaan. Kakak tidak bisa bohong padaku."


Bukannya menjawab, Rere malah celingukan melihat keadaan sekitar. Ia seperti takut akan ada orang yang mendengar pembicaraan mereka.


"Kak?"


"Ayo masuk. Kita makan malam dulu." Rere kembali memperlihatkan senyum palsunya dan berjalan memasuki area panti. Karena masih penasaran, Emma mengikutinya.


Setelah jauh dari jalanan dan mulai memasuki teras panti. Rere berbisik pada Emma. "Jangan katakan nama itu dengan keras. Berbahaya. Ayo ikut aku."


Emma masih tidak mengerti, Rere tiba-tiba membawanya ke perpustakaan. Dan setelah sampai, Rere segera menutup pintu dan jendela perpustakaan yang sedang sepi, tak lupa sebelumnya ia mengecek keadaan sekitar.


Rere menaruh buku besar itu diatas meja. Debunya sempat membuat Emma terbatuk-batuk. Ia jadi tahu kalau sejak terakhir kali ia buka, buku itu tidak tersentuh lagi.


Setelah membuka beberapa halaman. Rere berhenti di sebuah foto seorang gadis yang tampak manis, sedang memeluk piala besar dengan tulisan juara 1.


"Dia Yunna Alisya."


Emma terkejut dan menutup mulutnya tidak percaya. Karena wajah Yunna mirip sekali dengan Aldrich. Kalau saja rambutnya tidak panjang, ia sudah mengira itu adalah Aldrich.


Rere duduk diatas kursi dan menunduk dengan sedih. "Kak Yunna adalah anak kebanggaan panti asuhan ini sebelum kamu. Dia sangat disukai banyak orang. Tutur katanya halus, pintar, rajin, dan ramah pada siapapun. Kak Yunna seperti cerminan bidadari. Sampai akhirnya, bencana datang saat dia kuliah di luar negeri."


Emma duduk disamping Rere dan mengusap punggung kakaknya. Rere terlihat seperti ingin menangis, dan Emma berusaha menenangkannya. "Bencana apa?"


"Tapi sebelumnya kamu harus berjanji, jangan katakan hal ini pada siapapun. Karena nyawa orang-orang di panti asuhan ini bisa terancam."


Emma terdiam sejenak, ia sebenarnya bingung kenapa nyawa orang-orang disini bisa terancam hanya karena sebuah cerita? Tapi Emma mengangguk lebih dulu dan mencoba mendengarkan ceritanya.


"Ibu asuh pemilik panti sebelumnya harus meninggal demi melindungi informasi keberadaan kak Yunna."


"Meninggal?! Kenapa?"

__ADS_1


"Karena keluarga Hamilton." Rere tampak meremas tangannya dengan kuat. Sementara Emma menahan rasa terkejutnya dan menunggu Rere bercerita lebih jauh. "Saat kuliah di luar negeri, kak Yunna bertemu dengan Jeff Hamilton, dan dimulailah semua bencana ini."


"Jeff Hamilton? Siapa itu? Bukankah anak keluarga Hamilton cuma Matt Hamilton?"


Rere menggeleng pelan. "Mereka itu iblis. Jangan percaya."


Emma mengangguk. Ia harus diam dulu dan menunggu kakaknya cerita. Ia juga akhirnya tahu kalau semuanya benar-benar ada hubungannya, tentang Aldrich dan keluarga Hamilton.


"Kak Yunna mulai menjalin hubungan dengan Jeff Hamilton, anak pertama keluarga Hamilton."


Anak pertama?! Jadi gosip yang dulu itu benar?


"Hubungan mereka tidak direstui oleh keluarga Hamilton. Setelah itu, lama sekali aku tidak mendengar kabar tentang dia. Sampai suatu hari dia menelpon setelah sekian lama, dan mulai bercerita pada ibu panti asuhan menggunakan kode. Ibu asuh tidak bercerita apapun pada kami tentang kabar yang dia dengar. Hanya mengatakan untuk diam saja kalau ada yang bertanya tentang kak Yunna."


Rere berdiri dan menutup buku besar yang ia buka sebelumnya. "Lalu suatu hari banyak orang jahat yang datang kesini, menanyakan keberadaan kak Yunna. Sesuai perintah ibu asuh, kami tidak bicara apapun, lagipula kami juga tidak tahu kak Yunna dimana. Mereka akhirnya mendatangi ibu asuh dan mengatakan soal bukti telepon. Karena tidak menjawab pertanyaan mereka, tanpa basa-basi salah satu orang jahat itu menembaknya hingga tewas."


Emma tidak tahu harus berkomentar apa. Ia tidak percaya kalau keluarga Hamilton sebenarnya sangat kejam.


Rere melanjutkan ceritanya sambil menatap Emma. "Saat itu aku ketakutan, tapi tidak harus berbuat apa. Setelah menghabisi ibu asuh, mereka memaksa kami untuk bicara. Katanya, kalau tidak mengatakan yang sebenarnya, akan ditembak juga. Kami sudah bersumpah tidak tahu apapun, tapi mereka tetap mengancam. Akhirnya aku memberanikan diri untuk mengancam balik keluarga Hamilton. Jika mereka membunuh orang dari panti asuhan ini lagi, maka aku akan membocorkan fakta soal Jeff Hamilton pada publik."


Pilihan kak Rere cukup bagus di situasi yang mendesak itu. Keluarga Hamilton pasti tidak ingin informasi itu terbongkar, makanya sengaja menyembunyikan itu selama bertahun-tahun.


"Akhirnya mereka setuju dengan permintaanku, dan tidak menyentuh panti asuhan ini lagi. Tapi sesekali aku melihat orang yang mencurigakan mengawasi tempat ini. Aku tidak tahu kenapa mereka mencari keberadaan Kak Yunna, dan kenapa ibu asuh begitu melindunginya sampai mengorbankan nyawa. Yang jelas, aku masih berharap kak Yunna masih hidup dengan bahagia sekarang."


Emma membuang muka, dan menghela nafas berat. Ia berdiri dan mendekati Rere. "Kak Yunna sudah mati. Dia memiliki anak yang sekarang tinggal bersamaku."


Rere terdiam. Ia menatap kearah Emma tak percaya. "Be-benarkah? Dan bagaimana kamu tahu? Saat itu kamu masih sangat kecil, hanya pernah bertemu dengan kak Yunna satu kali sebelum dia kuliah di luar negeri dan tanpa kabar. Ketika kamu sudah diadopsi barulah kak Yunna memberi kabar."


"Aku datang ke makamnya, dan nama Yunna Alisya yang tertulis di batu nisan. Lalu aku mengasuh anaknya yang masih kecil."


Rere terjatuh saking terkejutnya. Kemudian ia menangis sejadi-jadinya. Kakak yang selama ini ia doakan baik-baik saja, ternyata sudah tidak ada lagi di dunia ini. Dan yang lebih parah... Meninggalkan seorang anak?


Dengan suara bergetar, Rere mencoba bertanya. "Apakah anak itu tahu kamu berasal dari panti asuhan yang sama dengan ibunya, dan berharap kamu mengasuhnya?"


Emma menggeleng. "Tidak. Menurutku ini adalah takdir. Anak itu mungkin mendatangiku untuk urusan lain yang masih belum kuketahui."


"Urusan lain?" Rere mendongak dan menatap Emma.


"Dia adalah anak dari kak Yunna dengan Jeff Hamilton."


"Me-mereka sampai punya anak?! Berarti alasan ibu asuh melindungi keberadaannya dulu, karena kak Yunna memiliki anak?" Rere mencengkram kepalanya yang tiba-tiba kemasukan banyak informasi.


"Dari cerita kak Rere tadi, akhirnya aku mengerti sesuatu. Alasan anak kak Yunna mendekatiku adalah untuk balas dendam pada keluarga Hamilton."


"Maksudnya?"


Emma tiba-tiba merasa ingin bertemu dengan Aldrich secepatnya. Setelah ia tahu, rasanya ingin segera mendengar pengakuan dari anak itu. "Kak aku pulang dulu."

__ADS_1


"Tunggu Emma, jelaskan dulu."


"Akan kujelaskan semuanya, tapi setelah aku benar-benar mengerti. Sampai jumpa!" Emma bicara dengan buru-buru sambil berlari meninggalkan panti asuhan.


__ADS_2