Anak Dari Dua Ceo

Anak Dari Dua Ceo
Akan Menjadi Keluarga


__ADS_3

Diatas kasur besarnya, Aldrich menyebar semua kertas dari dalam tasnya. Kebanyakan dari semua itu adalah kertas berisi tulisan tangan sang ibu. Kalau dipikir-pikir, ibunya yang saat itu melarikan diri sambil membawanya tidak akan membawa banyak benda.


Aldrich lagi-lagi melihat foto ayah ibunya. Tiba-tiba ia menemukan benda berharga yang ingin ia simpan sekarang. Sebelumnya tidak ada satupun benda yang ia anggap istimewa.


"Ehem! Halo ayah ibu. Sekarang aku berada di rumah kak Emma. Disini sangat menyenangkan, jadi jangan khawatirkan aku. Oh iya, apa kalian berdua sudah bertemu? Ibu pasti terkejut kalau ayah juga berada disana kan? Sekarang apa yang harus aku lakukan? Apakah ayah tidak tenang karena tidak ada yang tahu kematianmu? Tenang saja... Aku akan mengungkapkannya."



Emma berada di perpustakaan rumahnya. Ia melamun dengan jari yang mengetuk meja kayu secara konstan.


Al, sepertinya sedang sedih. Ada apa ya? Apakah aku bisa menghiburnya?


Sebenarnya... Aku tidak benar-benar tahu kesukaan Al, bagaimana cara menghiburnya? Selama ini dia menerima semua yang kuberikan sambil tersenyum.


Argh! Aku bingung!


Emma melirik ponselnya, benda itu menyala dengan sebuah panggilan telpon disana.


"Halo?"


[Ah maaf menganggumu pagi buta.] suara Matt terdengar di ujung telpon.


"Pagi? Oh sudah pagi? Aku tidak sadar." Emma celingukan dan melihat jendela kaca besar di dekatnya, memperlihatkan langit yang mulai berubah warna. Ternyata ia sudah melamun semalaman.


[Jangan-jangan kau tidak tidur? Dasar bodoh! Otakmu yang sudah rusak itu akan tambah rusak.]


"Jadi kau menelpon hanya untuk membicarakan soal otakku?"


[Tentu saja bukan. Aku ingin bertanya pendapat.]


"Kebetulan, aku juga ingin bertanya pendapatmu."


[Soal apa?]


"Aldrich sepertinya sedang sedih. Dia belum keluar dari kamarnya. Aku tidak tahu kenapa dia begitu. Menurutmu-"


[Oke aku kesana sekarang.]


Tuuuttt...


Setelah suara Matt yang terburu-buru itu, panggilan berakhir. Membuat Emma bingung. Ia merasa seperti memberikan ide untuk Matt supaya bisa menemui Aldrich.


Cih! Tahu begitu tidak usah cerita saja.


Emma menaruh ponselnya dengan kasar, lalu memijat kepalanya. Ia masih kepikiran soal Aldrich. Apakah anak itu sedih karena teringat ibunya? Tapi kalau memang begitu, ia tidak bisa berbuat apapun selain menghiburnya saja.


Aku akan mengisi tenagaku dulu. Di dapur ada cemilan tidak ya?


Emma keluar dari perpustakaan, dan berjalan kearah dapur. Tapi belum sampai di sana, dari jauh Emma melihat Aldrich sedang duduk di meja makan sendirian. Bingung harus apa, Emma memilih untuk bersembunyi dulu.


Aldrich tampak sedang makan sup iga yang dibuat Ron semalam. Ia menepati janjinya dengan memakan itu esok harinya. Emma terus memperhatikan anak itu sampai selesai makan. Tapi bukannya menaruh mangkok kotor di wastafel, Aldrich malah hendak mencucinya dengan mengambil sabun cuci piring.


"Eh eh tunggu!" Emma keluar dari tempat persembunyiannya dan buru-buru menghalangi Aldrich.


"Bikin kaget saja. Ternyata kak Emma."


"Kamu mau ngapain?" Emma langsung merebut sabun cuci piring yang dibawa Aldrich.

__ADS_1


"Ah maaf. Itu... Aku mau cuci piring."


"Tidak boleh! Ini pekerjaan Ruri."


"Tapi-"


"Al aku marah." Emma melipat tangannya dengan ekspresi kesal. "Kamu itu anakku. Tugasmu hanya duduk manis dan terima jadi. Di rumah ini, kamu adalah pangeran. Tidak perlu susah-susah, suruh saja seseorang melakukannya."


Aldrich tersenyum lalu mengangguk. "Memang benar sih. Tapi ini soal kemandirian, bukan tugas ataupun pekerjaan. Suatu saat, kalau kak Emma sudah memiliki anak, jangan suruh dia bergantung pada orang lain."


Emma terdiam, dan membiarkan Aldrich merebut kembali sabun cuci piring, lalu mencuci sendiri mangkok dan gelas yang baru saja dia pakai.


Itu benar.


"Kamu mengajariku banyak hal, Al." Emma duduk dan melihat Aldrich melakukan kegiatannya.


"Benarkah? Sebenarnya kak Emma yang mengajariku banyak hal." Aldrich menoleh kearah Emma sambil tangannya sibuk mencuci mangkok.


"Aku? Aku mengajari apa?"


"Hmmm... Tentang sikap tidak tahu malu bisa membantu seseorang."


"Apa-apaan itu?"


"Hahaha aku bicara sungguh-sungguh." Aldrich terkekeh saat melihat ekspresi sebal Emma.


"Aku lapar." Emma menangkupkan kepalanya di meja makan. "Apakah supnya masih ada?


Aldrich menggeleng. "Sudah habis."


"Aaaaa lapar."


"Cemilan? Tidak tidak. Aku melarangmu." Emma menggeleng. "Itu sudah tidak termasuk mandiri. Jadi jangan lakukan itu. Lebih baik aku membangunkan Ron dan menyuruhnya masak."


"Hm? Memangnya seorang anak tidak boleh pamer pada mamanya kalau dia bisa memasak?"


Emma langsung melotot. He? He? Heee?! Apakah Al baru saja memanggilku mama secara tidak langsung?!


"O-oke... To-tolong buat sesuatu yang enak." Emma langsung menutupi wajahnya setelah mengatakan itu. Ia sangat malu sekarang.


"Siap laksanakan!"



"Kita sampai." Ryker melirik tuannya yang duduk di kursi belakang melalui spion.


"Sudah lama aku tidak kemari. Terakhir kali waktu SMA, mengantarkan seragam olahraganya yang tertinggal karena tersangkut ring saat bermain bola basket." Matt melihat bangunan rumah Emma untuk mengenang masa lalu.


Hah? Bagaimana caranya seragam olahraga bisa tersangkut di ring? Apakah orangnya ikut dilempar?


Ryker hanya bisa menyimpan pertanyaan itu sendiri.


"Kau pulang saja Ryker. Nanti akan kuhubungi kalau mau pulang."


"Tidak mau. Saya akan menunggu anda saja. Kalau ditinggal, anda akan lama pulangnya."


"Memangnya aku orang yang seperti itu? Palingan beberapa menit saja pulang."

__ADS_1


"Anda lupa kejadian dua hari yang lalu? Anda menemui nona Emma pagi hari dan pulang hampir sore. Saya akui memang membagi waktu dengan keluarga itu bagus, tapi jangan melupakan pekerjaan."


"Membagi waktu dengan keluarga?"


"Bukankah nona Emma dan nak Aldrich akan menjadi bagian dari keluarga Hamilton?"


Wajah Matt langsung memerah, ia menggeleng dengan malu. "Jadi maksudnya aku dan Emma menikah begitu?"


"Oh ya ampun, saya tidak mengatakan hal itu. Berarti Anda mengakui sendiri kalau menyukai nona Emma?"


"Berisik! Kau menyebalkan!!!" Matt segera keluar dari mobil dan berjalan memasuki gerbang rumah Emma yang terbuka.


Ryker menyebalkan! Lihat saja nanti, gajinya akan kupotong!


"Eh?" Pak Darma yang sedang memotong rumput di samping pagar kaget melihat Matt masuk. "Apakah anda... Matt Hamilton?" Tanya pak Darma saat melihat setelan jas rapi yang dipakai Matt.


"Iya benar. Emma sudah tahu kalau aku akan kemari."


"Oh silahkan masuk. Tadi katanya nona Emma sedang di dapur bersama nak Aldrich." Pak Darma langsung membukakan pintu dan mempersilahkan Matt masuk rumah.



Sementara itu, di dapur.


"Ini dia yang selanjutnya." Aldrich menaruh piring penuh berisi bakwan jagung ke atas meja. Sebelumnya, ia sudah membuat tahu isi dan langsung ludes dimakan Emma dan Ruri yang mengambil secara diam-diam.


"Astaga kelihatannya enak sekali! Ron cepat ambilkan saus lagi!" Perintah Emma pada Ron yang masih mengunyah tahu isi terakhir hasil pemberian Aldrich.


"Persediaan sausnya habis."


"Kalau begitu beli sana!"


Ron langsung menuruti perintah Emma. Ia berjalan dengan malas ke luar area dapur. Tapi tidak sengaja ia berpapasan dengan Matt. Anak laki-laki keluarga Hamilton itu memberi isyarat pada Ron untuk diam. Dan Ron mengangguk lalu pergi untuk membeli saus.


"Tidak usah pakai saus sebenarnya tidak apa-apa. Kan bisa makan pakai cabai." Usul Aldrich dan mulai membuka kulkas untuk mencari cabai.


Emma mengambil satu bakwan jagung sambil melihat Aldrich. "Kayaknya di sana, Al. Tempat Ron biasanya naroh cabai."


Krauk!


Emma sepontan menoleh. Dibelakangnya ada tamu tak diundang sedang menggigit bakwan jagung di tangannya.


"Waa!!! Jalangkung!"


Aldrich langsung melihat kearah Emma yang sedang berteriak heboh.


Kak Matt?


"Hei rasanya enak. Siapa yang membuatnya?" Tanya Matt.


"Bukan urusanmu, dasar tidak sopan! Pergi!"


Kak Matt kalau dilihat-lihat mirip ayah. Mungkin karena mereka bersaudara. Jika ayahku masih hidup, pasti aku akan bahagia memiliki paman seperti kak Matt. Sekarang, kita bukanlah keluarga.


"Aldrich, papamu datang. Buatkan makanan yang enak juga." Matt melambaikan tangannya pada Aldrich.


"Papa apanya! Berhenti membuat julukan aneh! Dan makan saja di rumahmu sendiri." Protes Emma.

__ADS_1


Aldrich tersenyum. Ya, mungkin aku dan kak Matt masih bisa menjadi keluarga. Tapi dengan status yang berbeda.


__ADS_2