Anak Dari Dua Ceo

Anak Dari Dua Ceo
Kepura-puraan yang Indah


__ADS_3

Keesokan harinya.


Pipip! Pipip!


Matt meraba sekitar bantalnya, bermaksud mematikan alarm ponsel yang memang sengaja ia pasang sebelumnya.


Setelah berhasil mematikan alarm, Matt melirik ke samping, mencari keberadaan bocah laki-laki yang seharusnya masih terlelap di sebelahnya. Tapi betapa terkejutnya ia saat anak yang dicari tidak ada.


"Hm? Aldrich?" Matt meraba sekitar kasur, berharap penglihatannya salah. Tapi ia tetap tidak menemukan anak itu. "Gawat! Aldrich!!!"


Matt sepontan bangun. Kedua matanya langsung bertatapan dengan Aldrich yang baru saja keluar dari kamar mandi sambil membawa gelas berisi ikan masnya semalam.


"Kenapa kak Matt?" Aldrich menaruh gelas ikannya diatas meja.


"Ah tidak, kukira kamu hilang."


"Aku sudah bukan anak kecil lagi. Tidak mungkin hilang."


"Kenapa kamu bisa bangun sepagi ini?" Matt mengucek matanya dan menguap dengan malas.


"Aku sudah terbiasa. Tubuhku akan bangun dengan sendirinya."


Matt mengangguk. Berkat ucapan Emma semalam, Matt jadi tidak lupa lagi tentang pekerjaan Aldrich sebelumya. Dia pasti sering bangun pagi untuk berjualan. Tidak seperti dirinya yang bangun dengan malas-malasan setiap hari.


"Ngomong-ngomong, kamu ingin pergi kemana lagi?" Tanya Matt.


Aldrich menoleh kearah Matt lalu mengangkat bahu. "Kemanapun itu tidak masalah, yang penting aku bisa bersama kak Emma dan kak Matt."


"Aku juga?"


"Iya. Bukankah kak Matt menyukai kak Emma? Aku tidak masalah dengan itu, jadi selama kita bersama, aku merasa senang. Seperti kemarin malam."


Bohong deh. Senang? Tidak. Aku sebenarnya memanfaatkan kalian.

__ADS_1


Benar, sejak awal aku memang memanfaatkan kak Emma, dan sekarang aku memanfaatkan kak Matt. Sangat sulit untuk mencapai titik ini. Tapi akhirnya aku bisa sampai disini. Setelah aku membalas dendam maka semuanya berakhir.


Sekarang tinggal sedikit lagi. Sebelum aku bertemu dengan Yelena Hamilton, kepalsuan ini masih harus berlanjut.


"Ka-kamu tahu perasaanku?!"


Aldrich tersenyum. "Tentu saja. Itu terlihat sangat jelas. Tapi sayang, kak Emma tidak peka."


"Tunggu disini. Aku akan cuci muka dulu lalu kita bicara." Matt melompat dari atas kasur dan berlari menuju kamar mandi. Sekarang ia sedang malu tapi sekaligus senang. Mungkin ia bisa mendapatkan restu dari anak angkatnya.


Aldrich melirik Matt yang baru saja masuk kamar mandi. Tatapan anak itu berubah dingin.


Pagi tadi aku bermimpi tentang ibu. Dia sedang menangis sambil memelukku. Saat bangun, aku sadar tentang sesuatu. Kalau selama ini aku terlalu banyak membuang-buang waktu dengan semua kepura-puraan ini. Aku terlalu menikmati hal yang seharusnya hanya kebohongan semata.


Rasanya sangat menyebalkan. Aku benci dengan diriku yang terkadang berada diluar kendali dan melupakan tujuan utama kenapa aku disini.


Tapi sekarang tidak lagi. Karena jarakku dengan orang itu hanya tinggal satu langkah. Aku tidak akan membuat semuanya gagal karena perasaan palsu ini. Hubunganku dengan mereka kelak akan berakhir juga.


Pintu kamar mandi terbuka, dan Matt keluar dari sana dengan sebuah ide cemerlang. "Ayo kita pergi ke taman bermain. Dan kamu harus menolongku mendekati Emma."


Aldrich pura-pura tersenyum dan mengangguk. "Pasti. Ayo kita pergi!"


"Ayo!!!"



"Woaaah!!! Taman bermain!!!" Emma berteriak dengan keras sambil membentangkan tangannya, seakan-akan hanya ada dirinya disana. Beberapa orang yang lalu lalang menatapnya aneh, bagaimanapun ini tempat umum.


"Kak Emma, kendalikan dirimu."


"Oh maaf, Al. Aku terlalu senang hihi. Ayo kita beli es krim setelah itu baru naik wahana!" Ucap Emma cepat dan menarik tangan Aldrich secara paksa.


"Hei! Aku bagaimana?" Teriak Matt sambil mengikuti mereka.

__ADS_1


"Terserah mau ikut atau tidak."


"Jahat sekali."


Setelah selesai membeli es krim, Emma mengajak Aldrich naik wahana cangkir putar. Karena Emma terlalu bersemangat mempercepat putaran cangkir, es krim yang dia bawa tumpah, dan setelah selesai menaiki itu, Emma muntah-muntah di toilet. Sementara Matt hanya bisa duduk dengan kepala pusing. Dia bahkan tidak bergerak selama 15 menit. Hanya Aldrich yang tidak terpengaruh sama sekali.


"Aku tidak akan naik itu lagi." Emma akhirnya bicara setelah beberapa saat hanya mengusap perutnya yang malang.


"Pilihanmu jelek sekali. Itu lebih buruk dari rollercoaster." Ucap Matt sambil memijat kepalanya.


"Ayo naik wahana yang lainnya" Aldrich melihat sekeliling untuk memilih mana yang cocok.


"Istirahat dulu. Perutku tidak enak sekali."


"Penglihatanku masih berputar-putar."


"Payah sekali. Ya sudah, naik bianglala saja yuk. Sekaligus menikmati pemandangan."


Emma dan Matt saling menatap. Mereka merasa kasihan karena melihat Aldrich ingin main, sementara mereka yang mengajak kesini malah sekarat. Akhirnya Emma dan Matt mengangguk bersama, memilih untuk mengabaikan rasa sakit dan naik bianglala bersama demi Aldrich.


"Baiklah ayo."


Ting!


Matt mendengar notifikasi pesan yang datang dari ponselnya. "Kalian duluan saja, aku akan menyusul"


"Baiklah, kami akan pesan tiket dulu." Kata Emma sambil menggandeng Aldrich pergi.


Matt mulai membuka pesan yang masuk.


Pergi kemana kamu?! Dasar anak kurang ajar! Perusahaan kamu tinggalkan begitu saja, bahkan tanpa Ryker! Pulang sekarang juga!!!


"Ck! Berisik sekali. Mengganggu kebahagiaan orang saja." Matt kembali mengantongi ponselnya tanpa niat ingin membalasnya. Lalu pergi menyusul Emma.

__ADS_1


__ADS_2