
"Apa? King Korn?" Aldrich berdiri dari kursinya karena terkejut.
"Bukannya kamu sudah tahu kalau ada yang datang? Kenapa kaget?" Tanya Matt.
"Kukira itu bukan King Korn. Tapi kalau benar-benar itu dia, sepertinya aku paham kenapa dia bisa kesini." Aldrich mengusap dagunya sebentar, lalu melirik Emma. "Kita harus membawanya kemari."
"Hah? Apa kamu gila?" Matt terlihat tidak setuju.
"Tentu saja aku mengusulkan ini karena kita bisa memanfaatkan dia. Tapi, itu masih belum pasti."
"Kalau tidak pasti begitu, lebih baik tidak usah."
Emma melipat tangannya dengan kesal sambil melihat kearah Matt. "Kau ini apa-apaan hah? Bossnya disini adalah Al. Jadi terserah dia ingin melakukan apa. Lagipula kenapa kau masih sebal dengan si kingkong itu? Apa masih merasa tidak rela kehilangan Sylvia?"
"Kenapa kau tiba-tiba marah?" Tanya Matt bingung.
"Aku? Aku tidak marah. Kau yang marah."
"Aku tidak marah."
Ruri mendekati Aldrich dan berbisik di telinga anak itu. "Prahara rumah tangga, sebaiknya tidak usah didengarkan."
Aldrich menggangguk. "Berikan sinyal diam-diam pada King Korn itu untuk masuk rumah lewat gerbang belakang, dan ayo kita berunding di halaman."
"Laksanakan." Ruri kembali naik tangga.
__ADS_1
"Ayo kita pergi. Sepertinya akan ada bantuan lagi." Aldrich berjalan pergi diikuti Ezra, Ryker, dan Ivan. Sementara Emma dan Matt tertinggal karena masih lanjut berdebat.
◌
Semua sudah dilakukan sesuai perintah Aldrich. Sekarang Korn sudah berdiri berhadapan dengan anak itu. Sementara di belakang Aldrich, ada Emma dan Matt. Bala tentara mereka seperti Ezra, Ryker, dan Ivan juga masih setia berada disisinya.
"Jadi pada siapa aku harus bicara?" Tanya Korn sambil melihat satu persatu orang didepannya.
"Aku." Aldrich mengangkat tangannya karena hampir saja keberadaannya tidak disadari oleh Korn.
"Oh ayolah, aku serius." Korn melipat tangannya dengan kesal. Apakah ia sedang dipermainkan?
"Kakak jagung bisa bicara sekarang. Karena waktu terus berjalan." Aldrich mengetuk jam tangan mewahnya.
"Hah? Jagung? Dasar bocah! Kau bilang apa hah?!"
"Oh aku mengerti sekarang." Korn berjongkok hingga tinggi badannya setara dengan Aldrich. "Kau anak yang dicari mereka itu ya. Sampai membuat semua orang gempar. Ternyata hanya anak biasa yang terlihat bodoh. Aku kasihan dengan dua CEO dibelakangmu itu."
Aldrich menarik sudut bibirnya santai. "Begitu? Aku juga merasa kasihan pada kak Jagung. Jauh-jauh kemari dan bersikap arogan, padahal untuk meminta belas kasihan dari kak Matt."
Matt terkejut namanya tiba-tiba dipanggil. Aku?
"Belas kasihan?"
"Biar kutebak. Kak Jagung adalah orang yang memotret kak Emma kan? Kedua foto yang membuat gempar itu adalah hasil jepretanmu. Alasannya sangat sederhana, agar kak Sylvia bisa keluar dari penjara. Tapi karena nyonya Yelena yang budiman tidak mengabulkan keinginanmu setelah memberinya foto, kakak pun jadi putus asa. Lalu datang kemari untuk meminta belas kasihan kak Matt, sebagai orang yang menjebloskan kak Sylvia ke penjara untuk segera membebaskannya. Apa aku... Salah?"
__ADS_1
Korn terkejut. Ia sampai jatuh terduduk karena tidak percaya dengan apa yang ia dengar. "Ke-kenapa kau bisa tahu?"
Aldrich mengangkat bahu. "Awalnya aku tidak tahu. Karena jujur saja aku melupakan keberadaanmu. Kukira orang yang memotret kak Emma adalah orang malang lain yang ditindas oleh Yelena Hamilton, seperti kak Ivan. Tapi ternyata itu adalah kak Jagung."
Ivan yang ikut berada disana untuk mendengarkan juga terkejut. Kenapa anak ini bisa tahu begitu detail? Jadi apa itu benar? kalau dia bukan anak sembarangan? Pantas saja keluarga Hamilton takut padanya. Sekarang aku menjadi sedikit tenang berada disisinya.
Korn gelagapan. Itu akan sengat memalukan kalau tujuannya untuk memohon pada Matt sudah ketahuan lebih dulu oleh anak kecil. Apakah ia harus benar-benar memohon sekarang?
Apa ada cara lain? Aku sangat kesal, dan tidak ingin tebakan anak itu menjadi nyata. Meskipun aku benar-benar akan melakukannya tadi.
"Ka-kau salah!" Korn langsung berdiri. "Aku kemari bukan untuk meminta belas kasihan!"
"Lalu ingin apa? Baku hantam?" Ryker mengepalkan tangannya. Disampingnya, Ezra secara ajaib mengeluarkan palu mainan dari balik jas nya.
Aldrich tersenyum. "Posisi kak Jagung sekarang tidak bagus untuk baku hantam loh."
"A-aku juga tidak ingin melakukan kekerasan!" Elak Korn lagi.
"Ck! Jangan bertele-tele. Atau aku akan menyiramkan seember kecoak kearahmu." Ucap Emma, dan Matt langsung menutup mulutnya menahan muntah.
"Aku ingin berunding! Matt, keluarkan Sylvia sekarang! Atau aku akan mengatakan keberadaanmu pada keluarga Hamilton. Mereka sedang mencarimu kemana-mana." Ancam Korn.
Matt kembali serius saat rasa mualnya sudah hilang. "Hah? Kau sedang mengancamku?"
"Cepat keluarkan Sylvia sekarang!" Korn tiba-tiba tersulut emosi karena melihat Matt yang masih sombong.
__ADS_1
"Bukan ini caranya memohon." Aldrich melipat tangannya. "Aku akan memberimu dua pilihan. Memohon dan aku akan membantumu. Atau tetap menggertak dan tidak mendapat apapun?"