Anak Dari Dua Ceo

Anak Dari Dua Ceo
Sulap


__ADS_3

Orang-orang mulai bertepuk tangan saat dua orang lainnya masuk ruangan setelah Matt. Mereka adalah Charles Finn Hamilton, dan Ria.


Aldrich kembali terkejut saat melihat sosok Ria yang pernah ia temui sebelumnya.


I-itukan... Bibi yang hampir menabrakku saat pulang dari rumah kak Emma. Apakah hubungannya dekat dengan kak Matt? Bukannya jabatan dia itu bawahan. Kenapa bisa ikut berdiri didepan sana?


Karena merasa situasi sekarang tidak bisa dicerna oleh Aldrich, ia semakin membenamkan wajahnya pada sapu tangan dari Emma. Hingga hanya kedua matanya saja yang terlihat.


"Lihat pak tua di depan itu? Dia adalah Charles Finn Hamilton. Ayah Matt." Bisik Emma.


Aldrich terus menatap Charles sambil membaca gerak geriknya. Sedikit curiga karena Charles tidak ingin berdiri dekat-dekat dengan Matt dan Sylvia. Dia membuat jarak dan ekspresi yang sedikit kurang senang.


Kenapa? Bukankah ini acara pertunangan anaknya? Wajahnya terlihat marah.


Charles berubah ekspresi setelah memegang mic untuk bicara. "Selamat malam semuanya. Saya sangat berterima kasih karena para tuan dan nyonya yang terhormat, sudah mau menyisikan waktu untuk menghadiri acara pertunangan putra saya Matt. Saya senang sekali."


Semua orang bertepuk tangan termasuk Emma. Sementara Aldrich masih menatap keluarga Hamilton itu.


Charles kembali melanjutkan kata-kata sambutannya, dan rasa senangnya yang palsu. Charles tidak ingin terlihat seperti keluarga yang jahat pada anaknya. Ria yang berdiri tidak jauh dari Charles ikut menatap para orang penting yang menjadi tamu mereka hari ini. Sampai akhirnya ia melihat Aldrich yang berdiri jauh di belakang sambil menutup wajahnya dengan sapu tangan.


Seorang anak laki-laki? Bukankah di daftar tamu anak-anak hanya ada 3 anak perempuan yang ikut dalam acara ini?


Karena merasa janggal, Ria terus menatap Aldrich yang juga ikut menatapnya. Tatapan mata Aldrich yang tajam membuat Ria teringat pada seseorang yang tidak asing.


"Bibi Ria. Aku tahu ini ulahmu. Kukira kau orang baik."


Kata-kata itu tiba-tiba terlintas dipikiran Ria. Ingatan tentang seorang laki-laki yang menatapnya tajam seperti itu, lalu pergi dengan amarah. Membuat Ria merinding ketakutan.


Tidak... Itu bukan aku.


Ria tidak sadar berjalan mundur, dan membuat jaraknya dengan Charles semakin melebar.


Bibi itu kenapa? Aldrich kebingungan melihat Ria yang ketakutan saat menatap dirinya.


"Al. Kira-kira kita mulai kapan?" Emma kembali berbisik.


Ria berhenti berjalan mundur saat melihat Emma yang berbicara dengan anak pemilik mata tajam itu.


Emma Rosaline? Dia kenal anak itu? Apa dia yang membawanya kemari?


Tunggu sebentar... Anak yang mirip dengan DIA yang hampir kutabrak dulu, berjalan di kawasan perumahan elit tempat rumah Emma berada. Benar juga! Jangan-jangan itu adalah anak yang sama?! Dan dia bersama Emma Rosaline!


Ria menggelengkan kepalanya untuk mendapatkan kembali sisi warasnya. Mungkin itu kenalan Emma. Aku saja yang berpikir terlalu jauh kalau anak itu mirip dengan DIA. Pasti karena rasa bersalahku.


"Sekali lagi terimakasih." Charles sedikit membungkuk setelah selesai mengatakan kalimat sambutannya. Orang-orang langsung menjawabnya dengan tepuk tangan yang meriah.


"Anu, permisi!!!" Emma berteriak sambil mengangkat tangannya. Posisinya yang berada di paling belakang, membuat semua orang langsung menoleh kearahnya.


"Si bodoh itu." Gumam Matt sambil tersenyum. Membuat Sylvia yang mendengar itu langsung menoleh kearahnya.


"Wah selamat malam nona Emma. Anda terlihat anggun dengan gaun itu." Puji Charles.


"Terimakasih tuan. Jadi bolehkah saya memberi hadiah pada Matt dan kekasihnya sekarang?" Tanya Emma diiringi tatapan orang-orang satu ruangan.

__ADS_1


"Tentu saja. Matt pasti suka."


"Ya. Berikan sesuatu yang mengejutkanku." Matt menengadahkan tangannya sambil tersenyum.


Emma perlahan berjalan ke depan, mendekati keluarga Hamilton yang berdiri di atas panggung kecil. "Ngomong-ngomong, keahlian lain yang kumiliki adalah melakukan sulap. Jadi, bolehkah aku menyulapmu menjadi lebih tampan?" Emma berhenti di hadapan Matt sambil menatapnya.


"Kau meragukan ketampananku?" Matt menarik sebelah bibirnya dengan bangga.


Melihat pemandangan itu, para orang penting yang datang saling berbisik-bisik.


"Eh, kalau dilihat-lihat mereka cocok ya."


"Entah kenapa aku lebih mendukung Nona Emma dan tuan Matt."


"Kudengar mereka teman saat SMA. Semakin cocok kan?"


Brandon yang mendengar itu meletakkan gelas minumannya dengan malas. Seharusnya aku tetap di luar negeri saja. Aku akan mengurus kewarganegaraan setelah ini.


Sylvia merasa perhatian semua orang malah tertuju pada Emma dan Matt. Ia yang sudah berdandan cantik dan memakai perhiasan mahal, tak dipuji sama sekali.


"Nona Emma kan? Apa yang anda katakan? Bagiku Matt adalah laki-laki paling tampan." Kata Sylvia dengan nada lembut.


Emma menoleh kearah Sylvia dan tersenyum. "Benarkah? Tapi aku lebih suka tipe laki-laki tinggi seperti model majalah."


Ini cuma perasaanku saja, atau dia memang seperti menyinggungku?


"Model majalah mana yang kau lihat? Mungkin matamu buta." Ucap Matt.


Ria yang berdiri diujung, melihat dengan senang. Ia akhirnya tahu kalau hubungan Matt dengan teman-temannya masih baik.


Sampai tiba-tiba Ria sadar sesuatu. Tunggu dulu... Nona Emma disini, lalu kemana anak laki-laki tadi?


Ria celingukan mencari keberadaan anak yang seharusnya bersama Emma itu. Dia menghilang.


Charles menyikut Ria hingga membuat wanita itu terkejut. "Cari apa? Jangan sampai menarik perhatian orang-orang." Bisik Charles.


"Ah baik." Ria mengangguk.


Kenapa anak itu tiba-tiba menghilang?


"Aku sudah menyiapkan alat-alat sulapnya. Jadi bisa dimulai sekarang?" Tanya Emma.


"Tentu." Matt mengangguk, dan ayahnya melakukan hal yang sama.


Emma menepuk tangannya, dan beberapa orang masuk sambil membawa barang-barang yang aneh. Ada sebuah kotak raksasa berwarna hitam, serta kain besar berwarna hitam pula. Orang-orang yang melihat sempat kebingungan melihat barang-barang itu.


"Sepertinya ini seru." Bisik salah satu nona.


"Ayah, aku mau lihat sulap." Ucap Floryn sambil menarik tangan ayahnya.


"Ayo kita lihat dari dekat." Declan menuruti putrinya, dan berjalan ke depan.


Ternyata orang-orang yang datang sama penasarannya dengan Floryn. Mereka mulai melihat dari dekat, dan mengabaikan semua makanan disana.

__ADS_1


"Lihat semuanya, kotaknya kosong kan?" Emma memutar kotak setinggi manusia yang tengahnya berlubang itu untuk diperlihatkan ke orang-orang. Dan memang tidak apa-apa di dalamnya.


"Oke! Matt, masuk."


Matt menurut dan masuk disana. Ia bisa dilihat oleh banyak orang, karena kotaknya berlubang.


"Lalu aku akan menutupnya." Emma mengambil kain hitam besar yang sudah ia persiapkan. Lalu menutup keseluruhan kotak dengan itu.


"Nona Emma. Kalau benar-benar tuan Matt bisa menjadi tampan, aku juga mau jadi cantik dong." Cetus salah satu nona lainnya yang menonton.


"Hahaha tentu saja boleh."


"Di dalamnya tidak akan ada penata rias kan?" Goda penonton lainnya.


"Di dalam ada penata rias, penata rambut, dan tukang masak." Balas Emma yang membuat tawa orang-orang pecah.


Apaan sih, sok asik. Sylvia menatap Emma dengan sinis.


"Baiklah, sudah selesai." Emma berhasil menutup keseluruhan kotak itu dengan kain hitam. Membuat sosok Matt sudah tidak terlihat lagi.


"Mulai dari sini. Aku ingin minta bantuan kalian semua." Emma menatap para penonton.


"Jadi apa prok prok prok."


"Aduh bukan yang itu. Salah server." Emma tersenyum, lalu mengangkat tangannya tinggi-tinggi. "Ayo kita hitung sampai 200 bersama-sama."


"Banyak amat!"


Sementara itu, di dalam kotak.


Matt masih bisa mendengar suara Emma dan para tamunya yang riuh. Tapi suara itu tidak terlalu keras. Mungkin efek kain yang menyelimuti kotak, hingga suaranya sedikit teredam.


"Gelap sekali." Gumam Matt.


Tik!


Tiba-tiba saja sebuah ponsel menyala. Membuat mata Matt yang tidak siap merasa terlalu silau. Setelah selesai menutup matanya dan dirasa sudah tidak terlalu silau, Matt membuka matanya.


Eh?!


Seorang anak laki-laki yang berdiri di depannya sambil membawa ponsel membuat Matt terkejut setengah mati.


"Aa-" Matt yang hampir saja berteriak langsung dibungkam oleh Aldrich yang sedang membawa ponsel itu.


"Jangan berteriak. Sssstttt!"


Matt akhirnya sadar kalau anak itu adalah anak yang pernah dipamerkan Emma padanya.


"Kamu kenapa bisa di dalam sini?" Tanya Matt yang seharusnya di dalam kotak itu hanya ada dirinya.


"Sebelum aku menjawab kakak. Coba lihat sekeliling." Aldrich mengarahkan ponsel ke dinding kotak. Membuat cahaya dari layar ponsel itu menerangi sesuatu disana.


"I-ini... Apa-apaan ini?" Matt dibuat terkejut dengan banyaknya foto yang tertempel di seluruh dinding kotak. Dan itu semua adalah foto Sylvia bersama selingkuhannya.

__ADS_1


__ADS_2