
"Hahaha aku tidak pernah sesenang ini." Yelena tertawa sambil melihat berita di ponselnya. "Sekarang apa kau sudah mengambil foto lainnya?" Tanyanya pada seorang laki-laki yang berdiri sambil memakai topi hitam.
"Iya. Foto terbaru yang kudapat seperti yang anda suruh. Saat preman dari kita masuk rumah Emma bersama asisten rumah tangganya. Foto ini bisa menambah buruk citranya, dengan mengatakan kalau itu preman milik Emma yang lain."
"Bagus bagus. Berikan fotonya sekarang." Tangan Yelena menengadah. Tapi laki-laki yang membawa kamera itu enggan memberikannya. Korn, laki-laki itu hanya terdiam. "Kenapa? Cepat berikan padaku!"
"Sesuai kesepakatan kita, aku ingin Sylvia segera dibebaskan dari penjara. Aku tidak butuh uang lagi, hanya tolong bebaskan dia. Baru aku akan memberikan foto ini."
Yelena memutar bola matanya dengan malas, lalu berdesis. "Kau ini cerewet sekali ya. Aku bilang iya, pasti iya. Sebentar lagi kekasihmu itu akan bebas, jadi cepat berikan padaku sekarang!"
Yelena langsung merebut kamera dari tangan Korn, lalu menyuruhnya pergi seolah tidak menginginkannya lagi. "Lalu kapan Sylvia bisa bebas?" Tanya Korn sebelum keluar ruangan.
"Tunggu saja. Aku sedang sibuk sekarang!"
◌
"Kejar dia! Cepat!"
Aldrich terus berlari sekuat tenaga. Tepat di belakangnya, para preman itu mengejar dengan kekuatan penuh. Ia tahu kalau terus seperti ini, dirinya akan kalah dengan cepat.
Hampir sampai. Aku harus bertahan sedikit lagi.
Tujuan Aldrich sudah disiapkan dari awal. Yaitu pasar. Bagi tubuh kecilnya, berlarian diantara banyaknya orang dewasa bisa membuatnya sulit ditemukan. Ia berharap para preman itu kehilangan jejaknya disana.
Itu dia!
Aldrich tersenyum saat sudah melihat pasar tradisional di depannya. Ia langsung mempercepat larinya, dan memasuki area pasar.
"Berpencar!" Salah satu preman memberikan arahan. Dan mereka langsung terbagi menjadi dua tim, yang berlari menuju arah yang berbeda.
Aldrich terus berlari meliuk-liuk melewati banyaknya orang-orang. Idenya cukup berhasil, karena jaraknya dengan para preman itu semakin jauh. Tapi bukan berarti mereka menyerah. Dengan kasarnya, preman itu menabrak orang-orang yang menghalangi jalan mereka dalam mengejar Aldrich. Bahkan tega menabrak dagangan para penjual disana hingga berantakan.
"Hei! Apa-apaan kalian!"
"Dagangankuuu."
"Awas! Ada anak-anak."
"Minggir, dasar berengsek."
Aldrich mendengar semua suara teriakan itu dibelakangnya. Ia mulai merasa kasihan dengan para penjual. Dan karena kebanyakan pembeli adalah ibu rumah tangga, pasti membawa anaknya untuk belanja. Bagaimana kalau anaknya masih bayi? Kenapa ia tidak memikirkan itu sebelumnya?
Cih!
Aldrich langsung mengubah rutenya. Ia memasuki kawasan pasar yang sepi. Pada bagian itu, hanya berisi ruko kosong dan sisanya adalah tumpukan rongsokan tempat para pedagang membuang barang-barang bekas mereka.
Sebenarnya Aldrich cukup paham seluk beluk pasar ini, karena ia pernah kesini beberapa kali. Rute yang ia pikirkan sebelumnya, seharusnya berakhir ke sebuah lapangan yang jauh lebih ramai, agar keberadaannya benar-benar hilang dari pandangan pengejarnya. Tapi rencana berubah, dan ini adalah rute yang berbahaya karena dekat dengan pintu belakang pasar, yang sangat mudah untuk membuatnya terkepung.
"Kena kau bocah!!!"
Perkiraan Aldrich menjadi kenyataan. Dua preman sebelumnya langsung menghadangnya dari pintu belakang pasar.
"Sial." Aldrich tersenyum lalu melirik ke belakangnya. Dua preman yang mengejarnya tadi juga sudah sampai. Dan ia benar-benar terkepung sekarang.
"Halah cuma anak kecil. Pikirannya mudah ditebak, pasti ingin kabur lewat pintu belakang pasar haha."
Gawat, aku tidak punya ide lagi. Bagaimana caranya bisa lolos dari ini? Ayo berpikir! Berpikir!
"Sekarang ikut kami bocah. Tidak ada penolakan, karena percaya atau tidak kalau kami bisa membawamu dengan paksa."
Aldrich berusaha menunjukkan sikap setenang mungkin, agar pikirannya juga tidak ikut panik saat mencari jalan keluar. "Ikut kemana? Apakah paman ingin membelikanku es krim?"
__ADS_1
"Ya. Di dalam kuburanmu hahaha."
"Hahaha." Aldrich ikut tertawa.
"Diam! Sekarang ikut."
"Bagaimana kalau aku teriak? Mungkin ada banyak orang yang akan mengeroyok kalian loh. Ini di pasar, sudah pasti ramai kan?" Aldrich mencengkram tas ranselnya. Ia sebenarnya sangat panik sekarang.
"Coba saja bocah. Ayo bawa." Kedua kubu preman secara bersamaan berjalan mendekati Aldrich sambil memperkecil celah diantara mereka agar anak itu tidak kabur lagi.
"Tolong-"
"Berisik sekali."
Semua orang terkejut dengan suara pendatang baru yang muncul dari arah gundukan besi bekas di dekat mereka. Saat menoleh, Aldrich lebih terkejut lagi melihat orang yang sekarang sedang menatap kearahnya.
"Paman Wayne?" Gumam Aldrich.
"Kalian menghalangi pintu keluar." Ucap Wayne dengan ekspresi malas.
"Siapa kau hah?! Jangan ganggu kami, dan anggap saja kau tidak lihat apapun. Pergilah!"
"Baiklah aku juga tidak ingin ikut campur. Lanjutkan saja kegiatan kalian." Wayne berjalan santai sambil menenteng beberapa bungkusan, dan salah satu dari bungkusan kantong plastik itu, terlihat berisi buah dan ikan. Seperti yang diceritakan Ron sebelumnya.
Tapi saat melewati preman yang menghadang Aldrich, tiba-tiba Wayne berhenti berjalan. "Oh iya, aku lupa. Ternyata aku kenal dengan anak itu."
"Hah?"
Wayne mengambil salah satu bungkusan di tangannya dan mengeluarkan isinya. Ternyata itu adalah sebuah linggis, dan dengan cepat ia menghantamkan benda itu ke kepala preman di dekatnya.
Bruk!
Preman itu langsung tumbang.
"Maaf ya, aku bohong."
Klontang!
Wayne melemparkan linggisnya dengan sombong, lalu menatap Aldrich sambil mengangkat sudut bibirnya. "Bocah sialan sepertimu dimana saja hanya membawa kesialan. Ini, jaga saja makananku. Aku akan membunuhmu kalau itu sampai jatuh." Wayne melemparkan plastik berisi ikan dan buahnya kearah Aldrich. Untung saja anak itu berhasil menangkapnya dengan baik, kalau jatuh ia bisa mati.
Setelah mendapatkan ikan dan buah, Aldrich berlari ke sudut toko kosong sambil mendekap belanjaan Wayne. Ia terus melihat kearah laki-laki yang sudah ia usir dari sisi Emma itu.
"Tanpa senjata pun aku bisa menghabisi kalian." Ucap Wayne sambil melakukan peregangan.
"Oh? Besar kepala sekali. Ingin menjadi pahlawan kepagian hah?"
"Eh? Iya juga, baru jam 9 pagi. Yah... Tidak keren dong." Wayne tertawa setelah melihat jam tangannya.
"Sialan, berani tertawa ya!"
Bugh!
Pertarungan dimulai. Sekarang hanya ada 3 preman, setelah satu diantara mereka yang dipukul linggis tadi tidak bergerak sama sekali.
Aldrich hanya bisa melihat Wayne dengan kagum. Ia tidak pernah melihat orang yang begitu kuat seperti itu sebelumnya. Sekarang ia jadi tahu kenapa Emma tidak takut berpergian kemana-mana meskipun hanya dijaga oleh Wayne. Karena laki-laki itu ternyata sangat kuat.
Wayne melakukan serangan terus menerus, dan seolah sudah tahu gerakan lawan, dia berhasil menghindar dengan sempurna. Lawannya terus terkena serangan tanpa bisa menyentuh ujung rambut Wayne. Hingga semuanya berakhir.
Bruk!
Preman terakhir tumbang.
__ADS_1
"Pahlawan kepagian menang. Oh aku lupa, kalian tidak bisa mendengarku. Sudah mati atau sekarat? Kasihan sekali." Wayne tersenyum sarkas sambil menginjak tangan dan kaki lawannya yang menghalangi jalannya pergi.
Aldrich melihat Wayne mendekatinya, lalu ia menyodorkan belanjaan Wayne dengan tangan bergetar. Ia takut karena sebelumnya sudah membuat orang itu marah.
Wayne menatap Aldrich sebentar, lalu merebut belanjaannya dengan kasar dari tangan Aldrich. "Bocah. Apa yang terjadi dengan Emma?"
Aldrich terkejut, lalu memberanikan dirinya untuk menatap mata Wayne. "Kak Emma?"
"Aku membaca beritanya tadi pagi, kenapa Emma bisa mendapat berita seperti itu?"
"Aku... Tidak tahu." Aldrich sebenarnya ingin jujur, tapi ia bingung harus menjelaskan dari mana.
"Tidak tahu? Oke." Wayne berjongkok dan membuatnya langsung berhadapan dengan Aldrich.
Duk!
Wayne menjambak rambut Aldrich lalu membenturkan kepala anak itu ke dinding. "Jawab aku!"
"Sakit." Aldrich mencoba menahan tangan Wayne.
"Lucu, aku bahkan tidak menggunakan kekuatan sama sekali. Sekarang, aku tanya lagi. Ada apa dengan Emma? Dia baik-baik saja kan?"
Aldrich tersenyum dan balas menatap Wayne dengan tajam. "Kenapa kalau paman peduli dengan kak Emma, malah berniat menghancurkannya dulu? Sampai melakukan korupsi segala. Sekarang siapa yang lucu? Aku? Atau paman?"
"Bocah sialan!" Wayne mendorong Aldrich kesamping, hingga anak itu tersungkur. "Kau tidak mengerti apapun jadi diamlah! Cukup jawab saja pertanyaanku, apa kau bodoh?"
Aldrich mulai bangun. "Paman pikir, ini semua gara-gara aku?"
"Tentu saja! Sebelum kau datang semuanya baik-baik saja. Sekarang kau lihat, apa yang berita itu katakan tentang Emma? Lalu aku juga dengar kalau pertunangan tuan Matt Hamilton gagal karena Emma? Kenapa sejak kau datang kesialan selalu menimpanya?"
Aldrich kembali menatap Wayne. Pikiranku salah, ternyata paman Wayne sangat baik. Dia melakukan ini padaku karena sangat peduli pada kak Emma. Seperti foto yang terus ia pajang di kamarnya.
"Maafkan aku." Aldrich membungkuk di depan Wayne, membuat laki-laki heran setengah mati. "Ini salahku."
Benar, ini karena aku mencari informasi di rumah kak Emma. Membuatnya ikut terkena masalahku. Seharusnya kak Emma tidak ada hubungannya. Tapi...
Aldrich mendongak. "Tapi... Yang menyakitinya sekarang bukan aku. Dan aku bersumpah akan membuat orang itu menerima balasannya ratusan kali lipat."
Wayne bingung. "Siapa yang melakukannya?"
"Keluarga Hamilton."
"Hah?! Aku tidak paham." Wayne menggaruk kepalanya. "Untuk apa keluarga orang kaya melakukan hal seperti itu? Mereka memang saingan bisnis, tapi hubungan kita dulu cukup baik."
"Aku akan menjelaskannya sangat rinci. Tapi tidak disini." Aldrich menatap sekelilingnya.
Wayne juga merasa perkataan Aldrich ada benarnya. "Baiklah, ayo ke rumahku. Pasti Chris akan senang melihatmu."
Hah?! Serius nih diajak ke rumahnya? Bukannya paman Wayne tidak suka padaku? Dan siapa itu Chris?
Aldrich mengikuti Wayne dengan patuh. Ia belum bisa kembali ke rumah Emma sekarang, karena bisa saja ada preman lainnya yang menunggu. Tidak baik juga untuk para pekerja di rumah itu.
◌
Tidak berjalan cukup jauh. Wayne berhenti di sebuah rumah yang terlihat sederhana. Di bagian depannya terdapat taman yang cukup luas.
"Ayah sudah pulang!!!" Seorang anak kecil laki-laki yang hampir seumuran dengan Aldrich berlari menghampiri Wayne dan memeluknya.
"Menunggu ayah pulang?" Tanya Wayne dengan lembut. Aldrich sampai tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
"Iya, Chris daritadi menunggu ayah. Masakan ibu sudah siap, enak sekali loh!"
__ADS_1
Tunggu, apa ini? Ayah? Ibu? Bukannya paman Wayne jomblo? SESEORANG TOLONG JELASKAN PADAKU!!!