Anak Dari Dua Ceo

Anak Dari Dua Ceo
Setelah Itu


__ADS_3

Satu bulan kemudian.


Langit masih hitam. Jam yang melingkar di tangan Aldrich menunjukkan pukul 03:30 am. Tapi pemiliknya sudah terbangun dan sedang berkutat dengan tumpukan kardus di salah satu ruangan.


"Terimakasih tuan Cassius atas informasinya. Aku mengembalikan potongan koran ini padamu." Aldrich memasukkan beberapa potong kertas koran ke dalam kardus asalnya.


"Terimakasih juga atas didikan anda pada kak Emma. Dia menjadi pribadi yang baik berkat anda. Sebenarnya saya sangat mengidolakan anda. Tegas, dan lembut dalam satu waktu. Saya akan belajar seperti anda. Sekali lagi terimakasih." Aldrich menunduk di depan kardus itu, lalu pergi.


Satu bulan sudah berlalu sejak konferensi pers yang mencengangkan itu. Banyak hal yang berubah. Seperti rumah ini, rasanya semakin ramai semenjak Chris sudah resmi pindah. Tidak disangka anak kecil itu langsung dekat dengan Ezra si penghancur telinga, Alhasil Aldrich semakin stress dengan combo mereka.


Kondisi Rose Group juga semakin membaik. Malahan, pendapatan mereka berada di puncak tertinggi sejak terciptanya perusahaan itu. Emma semakin sibuk, tapi lebih bisa mengontrol pekerjaannya karena dibantu oleh dua sekretaris, yaitu Ezra dan Wayne.


Aldrich berjalan menuju perpustakaan, setelah itu membuka ponselnya untuk melihat berita terbaru di internet. Lalu sebuah topik hangat bertengger di posisi paling atas.


KELUARGA HAMILTON MEMULAI SEMUANYA DARI NOL. KIRA-KIRA SIAPA YANG BISA MEMBAWANYA NAIK?


Aldrich tersenyum dan meletakkan ponselnya diatas meja. Tentu saja aku.


Beberapa hari sebelumnya, Aldrich sudah resmi menjadi pewaris keluarga Hamilton yang sah. Kedepannya, ia yang akan mengatur semua urusan bisnis yang ada. Tapi sebelum itu, Aldrich harus belajar mengenai bisnis terlebih dahulu. Matt yang akan menggantikan posisinya sementara selama beberapa tahun kedepan.


Sidang untuk Ria, Yelena, dan Charles juga sudah mulai berjalan. Tapi khusus untuk Yelena, sidang atas kasusnya ditunda sampai kesehatannya membaik, atau minimal bisa diajak berbicara. Karena sampai sekarang, dia masih belum bisa bangun dari tempat tidur.


Dua minggu yang lalu, Matt mengajak Aldrich untuk mengunjungi makam Jeff, ayahnya. Saat sampai disana, ia tidak tahu harus berekspresi seperti apa. Rasanya sedih, bingung, dan rindu secara bersamaan. Alhasil ia hanya berdiri mematung dengan raut wajah datar. Ezra langsung memberikan julukan 'hati batu' padanya.


Semua orang seperti bersukacita selama sebulan terakhir. Termasuk Popol dan teman-teman Aldrich yang lain. Remaja laki-laki itu akhirnya bisa melanjutkan sekolahnya berkat Emma yang menyekolahkannya. Sementara paman Tong dan anak buahnya, menjadi bodyguard pribadi Matt. Karena kasus yang terjadi pada keluarganya, Matt sering menjadi sasaran kemarahan, dan banyak mendapat ancaman dari beberapa orang yang kecewa dan marah kepada keluarga Hamilton.


"Pagi temanku." Sapa Ezra yang tiba-tiba berdiri dibelakang Aldrich sambil menguap.


"Tumben kak Ezra sudah bangun." Sungguh suatu keajaiban, karena biasanya Ezra menjadi orang yang terlambat bangun, mengalahkan juara bertahan sebelumnya, yaitu Emma.


"Kakak Emma Tiran! Kak Wayne Tiranosaurus! Mereka menyuruhku kerja lembur sampai kepalaku berlumut. Aku bahkan tidak tidur semalaman. Sekarang rasanya sangat mengantuk tapi tidak bisa tidur. Aku yakin sistem otakku sudah rusak!"


Aldrich tersenyum dan menunjuk arah dapur. "Pergilah minum susu, setelah itu tiduran. Pasti tidak butuh waktu lama sudah terlelap."


"Yang benar?! Megic!"


"Coba saja."


Belum sempat pergi, seorang laki-laki lain kembali muncul dari arah yang ditunjuk Aldrich. "Pagi, sedang membicarakan apa?" Tanya Matt sambil menenteng secangkir kopi.


"Eh?! Kak Matt lagi-lagi menginap disini?" Tanya Ezra kaget.


"Iya, memangnya kenapa?"

__ADS_1


"Astaga, kau kan punya rumah sendiri. Kenapa sering menginap disini sih?! Padahal tidak tidur sekamar dengan kakak Emma, tapi sukanya nginep terus. Kasihan amat jomblo 30 tahun ini, tinggal satu atap sudah senangnya minta ampun. Nikah sana!" Cibir Ezra.


"Al, pegang ini." Matt menberikan cangkir kopinya pada Aldrich. Lalu berjalan mendekati Ezra.


"Ampun! Ampun! Aku cuma bercanda! Tidak! Jangan gelitiki aku lagi. Pukul saja tolong! Aaa!!!"


Aldrich hanya menatap aksi yang lebih parah dari kekerasan itu dalam diam. Semenjak Matt memanggilnya dengan sebutan Al, rasanya mereka semakin dekat layaknya keluarga.



"Nasi gorengnya sudah siap." Ucap Karine yang menjabat sebagai kepala koki khusus nasi goreng di rumah Emma. Meskipun sudah dilarang memasak oleh Emma, wanita berhati lembut itu tetap ingin memasak untuk semua orang sebagai ucapan terimakasih sudah diberi tempat tinggal. Akhirnya Emma memperbolehkannya memasak, tapi hanya saat waktu sarapan, dengan menu nasi goreng andalannya. Itu semua juga karena Aldrich bilang ingin sarapan nasi.


"Aku! Aku duluan!" Emma mengangkat piringnya tinggi-tinggi.


"Tidak! Aku duluan!" Chris menyela.


"Hei nak, aku akan membelikanmu mainan buaya makan kue kalau kamu memperbolehkanku makan duluan." Goda Emma.


"Tidak mau!" Chris masih bersikukuh.


"Kalau begitu dua mainan!"


"Tambah lagi!"


"Ini silahkan dimakan." Karine menuangkan nasi goreng sengketa itu di piring Wayne.


"Curang! Aku yang duluan." Protes Emma sambil berdiri dari kursinya.


"Maaf, aku bingung. Karena Wayne suamiku, jadi aku memilihnya saja." Ucap Karine disertai senyuman lembutnya.


"Kalau begitu menikahlah denganku!" Teriak Emma.


Matt langsung berdiri dari kursinya. "Aku tidak akan membiarkannya!"


Tiba-tiba Wayne juga ikut berdiri, dan menatap Matt. "Maksudnya, anda juga ingin menikahi istri saya?"


"Bukan!!!"


Aldrich kembali tersenyum sambil menopang kepalanya melihat kerusuhan yang terjadi. Ini masih tidak seberapa, karena Ezra tidak ikut serta akibat susu yang membuatnya tertidur. Kemarin hampir saja terjadi tawuran karena Emma mengajukan diri menjadi anak angkat Karine, dan Ezra ingin menjadi adik angkat wanita itu juga.


Kalau kupikir-pikir lagi, salah satu hal yang tidak bisa kutangani adalah suasana rumah ini.


__ADS_1


Acara sarapan yang berlangsung lama itu akhirnya berakhir. Emma sudah pergi bekerja bersama Wayne dan Ezra. Rumah jadi terasa lebih tenang sekarang. Chris yang menjadi salah satu biang kerok kerusuhan, ikut pergi ke pasar bersama Ruri. Meskipun sebentar, Aldrich bisa mengistirahatkan kupingnya.


"Kak Matt tidak berangkat kerja?" Tanya Aldrich saat melihat Matt masih duduk di perpustakaan sambil mengetik di laptopnya.


"Ini aku sedang bekerja." Jawab Matt singkat.


"Disini?"


"Aku sedang mencoba menarik investor asing untuk perusahaanku. Kamu tahu kan? Kalau selain bisnis milik keluarga Hamilton, aku juga memiliki perusahaan sendiri, yah meskipun kecil. Karena kasus keluargaku, perusahaan itu ikut goyah. Jadi aku harus mencari suntikan dana. Ryker juga sedang membantuku. Dalam artian lain, sekarang aku miskin."


Aldrich mengangguk. "Apakah semiskin itu sampai kak Matt harus menjual motor sport?"


Uhuk! Uhuk!


Matt tersedak kopi yang baru saja diminumnya. "Ehem! Bagaimana kamu tahu aku menjual motor Sport?"


"Aku tidak sengaja melihat dokumen jual belinya."


"Ah benar juga. Aku seharusnya tidak meremehkanmu. Baiklah benar, aku menjual motor. Karena keluargaku hancur, teman-temanku memberikan hadiah motor sport. Aku tidak tahu mau kuapakan, jadi kujual saja."


"Yang sabar." Aldrich menepuk bahu Matt dengan iba.


"Bantulah aku. Perusahaan milik keluarga Hamilton tidak sehancur perusahaanku, jadi kamu punya waktu luang kan?"


"Aku tidak bisa bisnis." Aldrich mengangkat bahu.


"Memangnya aku tidak tahu? Kamu sering hilir mudik di perpustakaan untuk belajar bisnis sendiri kan? Kemampuanmu pasti sudah tinggi. Kita sedang membicarakan otak cerdasmu. Pasti tidak butuh waktu lama untuk paham."


"Entahlah. Aku tidak yakin." Aldrich yang tidak ingin pembahasan ini berlanjut, memilih untuk mengganti topik. "Bagaimana kabar kak Jagung dan kak Sylvia?"


"Setelah dibuang oleh Emma ke luar negeri, Korn dan Sylvia mencoba mencari pekerjaan sebagai model majalah lokal disana. Setelah itu aku tidak mendengar kabar mereka lagi."


Aldrich mengangguk. Nasib kedua orang itu ternyata lebih bagus dari apa yang ia duga. Emma terlalu baik dengan tidak menuntut apapun pada mereka.


"Oh iya! Bantu aku!" Matt tiba-tiba mencengkram kedua bahu Aldrich dengan heboh.


"Sudah kubilang, aku belum bisa bisnis."


"Bukan itu!" Matt menggeleng dengan cepat. "Bantu aku mengatakan perasaanku pada Emma. Aku sangat menyukainya."


Aldrich berdesis sambil memutar bola matanya dengan malas. "Kak Matt payah. Meskipun aku membantumu, itu malah akan mempermalukan dirimu sendiri."


Aldrich mencoba mengungkit kembali kejadian seminggu yang lalu. Setelah selesai mengunjungi makam ayahnya, Matt mengajak Emma dan dirinya untuk pergi ke taman bermain. Aldrich mengusulkan untuk masuk rumah hantu, berharap akan ada adegan romantis antara Matt dan Emma. Tapi malah Matt yang ketakutan dan berlindung dibalik punggung Emma sampai mereka keluar. Payah!

__ADS_1


"Ayolah bantu aku. Ini yang terakhir. Aku yakin kali ini pasti berhasil. Hanya saja butuh dukunganmu." Matt menyatukan kedua tangannya memohon belas kasihan Aldrich.


Merasa kasihan, mau tidak mau ia menerimanya. "Baiklah, aku ikut."


__ADS_2