
7 tahun kemudian.
Hanya dalam waktu 7 tahun, semua yang dulu sudah sepenuhnya berubah. Begitupun dengan panggilan beberapa orang.
"Silahkan tuan muda."
Seorang Pria berumur membukakan pintu mobil yang baru datang itu dengan sopannya. Laki-laki yang mengenakan pakaian rapi turun dari mobil. Jas hitam, dan sepatu kulit mengkilap membuatnya terlihat menawan.
"Panggil saja aku seperti dulu, paman Darma."
"Hahaha itu karena kamu sudah tidak terlihat seperti anak kecil lagi." Pak Darma menepuk-nepuk bahu laki-laki tadi dengan gembira.
"Hanya fisikku saja. Aku masih Aldrich yang dulu. Ngomong-ngomong bagaimana keadaan mama?" Tanya Aldrich sambil membenahi posisi jam tangannya.
"Nona Emma sebenarnya baik-baik saja. Dia hanya pura-pura sakit agar kamu berkunjung kesini."
Aldrich tersenyum. "Aku sudah tahu. Bukankah mamaku sangat lucu? Yang kumaksud tadi, bagaimana keadaannya sebelum aku datang?"
"Dia menghabiskan dua ember ayam goreng sendirian. Mungkin setelah kamu masuk, nyonya akan berakting kalau ajalnya sudah dekat."
Aldrich heran dengan sifat Emma belakangan ini yang mulai mendramatisir. Padahal ia baru saja berkunjung kemarin, tapi sekarang bilang rindu dan ingin bertemu. Sikap tidak wajar itu membuatnya teringat kembali dengan Emma saat hamil anak pertamanya. Sikap manja dan ingin diperhatikan itu sama persis.
Jangan-jangan dia hamil lagi?
"Baiklah, lalu bagaimana dengan-"
Puk!
Tiba-tiba sebuah makhluk kecil menggelayuti punggung Aldrich.
"Tidak jadi paman. Aku masuk dulu." Merasa pertanyaannya sudah terjawab, Aldrich segera memasuki rumah.
Rumah sudah jauh berubah sejak Aldrich meninggalkannya 7 tahun yang lalu. Detail yang tak ia lihat perkembangannya, seperti taman bunga lily laba-laba merah buatan pak Darma, dan pohon buah mangga adalah beberapa efek karena ia sudah tinggal disini lagi. Hanya berkunjung beberapa hari sekali tidak bisa membuatnya ingat secara mendetail.
Luas rumah ini menjadi lebih besar dua kali lipat sejak Emma membeli rumah di sampingnya dan membongkar tembok penghalangnya 3 tahun yang lalu. Perempuan itu merasa rumahnya kurang besar untuk orang-orang, jadi memperluasnya dengan Wayne sebagai pemilik rumah kedua.
Saat sampai di dalam rumah, Aldrich disambut dengan Emma yang terbaring lemah diatas sofa. Selimut tebal dan kompres kepalanya terlihat dipasang dengan terburu-buru. Pasti Emma meletakkannya saat mendengar mobil Aldrich datang.
"Uhuk! Uhuk! Anakku sudah besar, usianya sudah 18 tahun, dia jadi jarang pulang ke rumah. Disisa umurku, aku ingin melihat dia lagi."
Drap! Drap! Drap!
Matt datang dengan panik kearah Emma. "Bertahanlah istriku! Jangan pikirkan anak itu lagi! Dia sudah besar. Meskipun tanpa kita, dia sudah menjadi laki-laki yang mandiri."
Aldrich melihat drama itu dalam diam. Ia tidak habis pikir kenapa orang tua angkatnya itu melakukan sesuatu yang tidak berguna seperti ini. Haruskah ia memberikan sebuah piala? Atau mendaftarkan mereka untuk audisi menjadi artis? Bahkan di dekat sofa ia masih melihat sisa remahan ayam goreng, sesuai cerita pak Darma tadi.
"Kalian ini sedang apa?" Tanya Aldrich sambil berjalan mendekati Emma.
"Al? Itu kamu? aku sedang sakit sekarang." Emma bicara dengan nada orang sekarat.
"Kamu jarang berkunjung ke sini. Mamamu sampai banyak pikiran dan sakit." Ucap Matt menyempurnakan drama Emma.
"Pikirannya mungkin tertutup ayam goreng dua ember." Aldrich duduk di dekat Emma yang terkejut dengan kata-kata anak laki-lakinya itu. Bagaimana dia tahu?
Aldrich melepas makhluk kecil yang sedari tadi masih menempel di punggungnya. "Kamu juga kenapa ikut gila seperti mereka? Maya."
Ternyata yang menggelayuti punggung Aldrich adalah seorang anak perempuan kecil berkuncir dua. Namanya Maya, anak dari Emma dan Matt yang sekarang sudah berusia 5 tahun. Kulitnya putih dengan mata coklat yang besar. Wajahnya tenang seperti Matt, tapi ketika tersenyum terlihat usil seperti Emma. Dia adalah anak yang terlampau aktif dan sering menjadi buronan orang-orang rumah. Karena sedetik saja tidak diperhatikan, Maya sudah hilang entah kemana.
"Aku merindukanmu. Ayo main!" Baru saja dilepaskan, Maya kembali menempel kearah Aldrich, dan bergelantungan di leher kakaknya.
"Mama, kenapa kau mengajari adikku menjadi monyet?"
"Kemarin lebih parah. Dia ikut pak Darma memanjat atap untuk mengecek kebocoran. Aku sudah menasehatinya." Kata Emma santai sambil melipat kembali selimut yang ia pakai untuk memainkan drama tadi.
__ADS_1
"Cuma dinasehati?! Ini rumah 3 lantai! Bagaimana kalau dia jatuh? Seharusnya mama memarahinya. Supaya dia tidak begitu lagi."
"Banyak memarahi anak itu tidak baik. Lagipula bagus kan kalau dia kuat?" Ucap Matt sama santainya dengan Emma.
"Diamalah paman, aku tidak bicara padamu."
"AKU INI PAPAMU TAHU!!!"
Sejak Emma dan Matt menikah, Aldrich memutuskan untuk memanggil Emma dengan sebutan Mama, dan Matt harus puas dipanggil Paman. Sebenarnya Aldrich melakukan itu hanya untuk menyulut emosinya saja.
"Mama, kakak dan papa bertengkar lagi." Adu Maya.
"Biarkan saja." Emma mengambil sisa ayam goreng yang ia sembunyikan tadi dan lanjut memakannya. Tapi belum juga menggigit sedikit, Aldrich langsung merampasnya.
"Berhenti makan makanan yang tidak sehat. Mama sedang hamil, perbanyaklah makan sayuran."
"Bagaimana kamu tahu aku hamil?! Matt! Kau mengatakannya pada Al ya? Sudah kubilang itu kejutan!" Emma marah sambil menunjuk Matt yang kebingungan.
"Tidak, aku tidak mengatakan apapun."
Aldrich mengangkat Maya dan meletakkan anak perempuan itu di pangkuannya. "Aku yang menebaknya sendiri. Karena sikapmu sama seperti saat hamil Maya."
"Susah juga punya anak cerdas. Tidak bisa diberikan kejutan. Ngomong-ngomong apa kamu tidak tahu Al? Katanya kalau banyak makan sayur anaknya perempuan, kalau banyak makan daging anaknya laki-laki. Karena aku sudah punya anak perempuan, jadi sekarang harus laki-laki." Emma menarik ayamnya perlahan dari tangan Aldrich.
"Bukankah kau sudah punya anak laki-laki? Berikutnya tidak masalah kalau perempuan lagi." Aldrich menjauhkan ayam itu dan memakannya dengan sadis.
"Ayamkuuu..." Emma menangis sambil berguling-guling diatas sofa.
"Al, berikan itu pada mamamu." Matt berusaha meminta ayam goreng yang sudah dirampas Aldrich tadi untuk Emma.
"Paman jangan memanjakan mama."
"AKU PAPAMU!!!"
Aldrich hanya acuh lalu pergi dengan menggendong Maya, menuju taman belakang.
"Aku mau mencari udara segar sambil mengobrol dengan Maya. Oh iya, berikan saja daging rebus pada mama kalau dia benar-benar ingin anak laki-laki." Kata Aldrich sambil melenggang pergi.
Setelah Emma dan Matt menikah 7 tahun yang lalu, Aldrich pindah ke rumah keluarga Hamilton, sementara Matt pindah ke rumah Emma. Disana, Aldrich memecat seluruh asisten rumah tangga, dan melakukan semua pekerjaan rumah seorang diri. Gunanya untuk mencegah musuh dalam selimut. Terkadang Ryker menginap dan membantunya bersih-bersih. Aldrich cukup senang menempati rumah besar itu seorang diri. Tapi 3 tahun belakangan ini, ia diganggu oleh seseorang yang suka menginap paksa di rumahnya.
"Kak, ayo kita main lompat cicak." Maya bicara dengan senyuman yang mengembang.
"Apa itu lompat cicak? Kakak tidak tahu."
"Ah kakak kuno sekali. Lompat cicak itu caranya merangkak lalu melompat dengan dua tangan dan dua kaki bersamaan."
"Terdengar sulit."
"Ini seru tahu! Maya yang menciptakannya."
"Adikku memang pintar." Aldrich mengusap kepala Maya dengan lembut. Ia sangat menyayangi Maya seperti adiknya sendiri.
"Kak, kenapa kita main di luar? Lompat cicak bisa di dalam rumah kok."
"Kakak sedang menunggu seseorang muncul."
"Seseorang?"
Saat pergi tadi, mobil terasa lebih berat dari biasanya. Pasti ada anak itu disana. Karena penumpang gelapnya tidak langsung protes saat mobil baru sampai, berarti dia hendak protes saat aku di luar rumah. Kita tunggu saja.
"Kita duduk disini dulu ya." Aldrich duduk di kursi taman dan menaruh Maya disampingnya. "Bagaimana sekolahmu?"
"Cukup menyenangkan. Tapi teman-teman Maya bilang, kalau Maya tidak pintar. Dan menuduh Maya memberikan uang pada sekolah agar bisa naik kelas." Maya tertunduk lesu sambil meremas tangannya.
__ADS_1
Berkat didikan Aldrich pada Maya saat masih kecil, anak perempuan itu tumbuh menjadi anak yang pintar. Saat usianya satu tahun, Aldrich sudah mengajarinya menghitung dengan permainan anak-anak. Lalu di usianya yang menginjak dua tahun, ia sudah bisa melakukan penjumlahan dan pengurangan dengan lancar. Lama kelamaan kepintarannya terus berkembang secara signifikan, hingga diusia 5 tahun ini, ia sudah duduk dibangku kelas 3 SD.
"Orang yang berkata seperti itu tidak pantas kamu pikirkan. Mereka hanya sampah yang iri denganmu." Aldrich mengusap tangan Maya sambil tersenyum.
"Oh iya, besok Maya ada ujian, apakah kak Al mau menemani Maya belajar?" Maya memeluk lengan Aldrich dengan manja seperti biasanya.
"Aku bisa menemanimu belajar."
Tiba-tiba suara lain terdengar. Seorang laki-laki datang dan duduk di samping Maya. Kedua telinganya penuh tindik, dan rambutnya berwarna ungu terang.
Aldrich menghela nafas malas. Lihat? Orangnya benar-benar muncul.
"Huh! Aku tidak mau diajari kak Chris." Maya membuang muka.
"Dasar cebol!" Chris menarik salah satu kucir rambut Maya.
"Huaaaa kak Chris jahat." Maya menangis sambil memeluk Aldrich.
"Berengsek, kenapa kau disini? Tidak takut bertemu ayahmu?" Aldrich mengusap punggung adiknya agar berhenti menangis.
Chris mengangkat bahunya. "Aku tadi sembunyi di bagasi mobil kakak. Kukira kakak mau pergi ke perusahaan seperti biasa. Kan enak sekalian numpang jalan. Eh ternyata malah ke sini. Ya semoga saja aku tidak bertemu dia."
Chris, anak itu takut pulang ke rumah karena selalu dimarahi oleh Wayne. Alhasil rumah Aldrich lah yang dijadikan tempat bernaung selama masa pemberontakannya. Chris hampir memasuki usia 15 tahun, tapi kelakuannya sangat nakal hingga membuat Wayne geram. Alih-alih belajar, Chris lebih memilih balap motor liar, dan mengikuti pertarungan bebas. Sifat polosnya yang dulu membuatnya gampang dihasut oleh teman-temannya di sekolah, dan mengikuti perilaku mereka yang terbilang tidak baik. Untung saja Chris lebih memilih tinggal bersama Aldrich. Karena Aldrich sudah terbiasa menasehati orang bermasalah seperti itu, menjadikan Chris tidak terlalu jauh terjerumus dalam dunia yang salah.
Krosak!
Semua orang menoleh kearah rerumputan yang tiba-tiba saja bergerak. Ternyata disana terdapat anak laki-laki yang usianya lebih tua dua tahun dari Maya.
"Halo Chester." Sapa Aldrich. Tapi anak yang berdiri menatapnya itu hanya terdiam, lalu pergi dengan sebuah mangga di tangannya. Mungkin dia baru saja memetik mangga dari halaman rumah Emma.
"Hei Chester! Awas saja kalau kau memberitahu ayah kalau aku disini." Teriak Chris.
Anak yang dipanggil Chester berhenti berjalan dan menoleh kearah Chris. "Kalau kau berteriak seperti itu malah akan ketahuan, dasar bodoh."
Anak yang wajahnya seperti hasil fotocopy Wayne itu adalah anaknya dengan Karine. Chester lahir tepat di hari pernikahan Emma dan Matt. Saat ini usianya sudah menginjak 7 tahun. Sifat anak itu berbanding terbalik dari Chris semasa kecil. Chester cenderung pendiam dan irit bicara. Kegiatan sehari-harinya hanya diisi belajar dan belajar. Kadang ia frustasi karena sebanyak apapun buku yang dibacanya, tetap saja kepintarannya kalah dengan Maya. Hal itu juga yang membuatnya tidak ingin bergaul dengan Maya. Rasa malu dan iri membuatnya tidak suka dengan Maya. Dan untuk kakaknya Chris, Chaster lebih suka dianggap tidak punya kakak. Baginya kakak yang bodoh itu hanyalah aib. Andai saja kakaknya adalah Aldrich, pasti ia akan sangat bangga.
"Kau-"
"Sudahlah, jangan berdebat dengan anak-anak." Aldrich menenangkan Chris yang hendak marah.
"Al, besok-" Emma tiba-tiba muncul dan terkejut melihat Chris disana. "Ya ampun Chris! Kenapa kamu bisa disini?! Kapan datangnya?"
"Ssstt! Tante jangan keras keras bicaranya. Nanti ayahku tahu."
"Kamu baik-baik saja kan? Dan... Warna rambut ganti lagi? Perasaan kemarin hijau lumut. Sekarang jadi terong terongan?"
"Tolong berikan julukan yang lebih bagus."
"Tante, aku boleh ambil mangganya satu?" Teriak Chester dikejauhan.
"Oh ada kamu juga. Boleh boleh, ambil saja. Tidak usah bilang segala." Emma mengangguk dengan ramah.
Awalnya aku juga tidak ingin bilang. Tapi suara kakak bodoh itu keras sekali. Ayah di dalam rumah bisa dengar. Aku hanya tidak ingin ada pertengkaran, jadi sengaja menyamarkan suaranya dengan suaraku. Bukan berarti aku peduli pada kakak bodoh itu.
Chester berjalan pergi menuju rumahnya di sebelah.
Aldrich tersenyum melihat Chester. Anak itu sudah mulai menerima Chris, dan membantunya. Padahal sedari awal dia tidak ingin bicara dengan Emma soal mangga, tapi ketika Chris bicara dia ikut bicara. Sengaja menyamarkan suara ya? Anak pintar.
"Kenapa senyum-senyum sendiri Al?"
"Ah tidak, tadi mama ingin bilang apa?" Tanya Aldrich mengalihkan topik.
"Besok ada acara di panti asuhan. Kamu harus datang."
__ADS_1
"Baiklah. Akan kukosongkan jadwalku."
Beberapa tahun belakangan ini, Aldrich sering berkunjung ke panti asuhan asal Emma dan ibunya. Saat pertama kali berkunjung kesana, banyak orang-orang yang memeluknya sambil menangis. Meskipun Aldrich saat itu tidak tahu kenapa mereka menangis, tapi yang pasti bukan tangis kesedihan.