Anak Dari Dua Ceo

Anak Dari Dua Ceo
Pertemuan


__ADS_3

"Apa?" Emma terlihat tidak yakin dengan pendengarannya. Telinga bangun tidurnya mungkin tidak menangkap suara dengan jelas. Ia kembali menatap Wayne dan bertanya. "Kau tadi bilang Al sudah pulang duluan?"


"Iya nona. Sudah daritadi. Kita harus cepat menyusulnya, dan segera kembali."


"Itu tidak mungkin. Dia anak yang patuh. Aku sudah memberitahunya untuk tidak sembarangan keluar hotel tanpaku." Emma buru-buru masuk ke dalam kamar, dan Wayne mengikutinya. "Al pasti masih di sekitar sini." Emma menyambar ponselnya untuk melacak keberadaan Aldrich. Hasilnya nihil, tidak ada tanda apapun yang terlihat di map.


Eh? Kok aneh?


"Anda mengira saya berbohong? Dia sudah pulang lebih dulu. Dan mungkin saja karena jarak terlalu jauh, GPS tidak bisa mendeteksi keberadaannya." Ucap Wayne sambil tersenyum.


Tunggu sebentar... Kenapa Wayne seolah-olah tahu kalau Aldrich membawa alat yang bisa kulacak?


Lagipula aneh sekali. Kata pembuat jam itu, meskipun pemilik jam berada diluar jangakauan peta, pasti ada titik koordinat yang muncul di layar peta.


Kalau tidak muncul apa-apa begini... Pasti jam itu mati. Mustahil kalau kehabisan baterai, karena baterai jamnya bisa diisi dengan tenaga surya. Lagipula tanpa mengisi energi, jam itu masih bisa bertahan 3 hari.


Aku membeli barang mahal yang hebat. Tidak mungkin salah.


"Nona? Ayo berkemas. Kita harus segera kembali." Ingat Wayne.


"Tunggu, aku akan menelpon Ron dulu. Apakah sudah bertemu Aldrich di bandara atau belum."


"Jadi benar, anda tidak mempercayai saya? Setelah mengabdi bertahun-tahun?"


"Bukan begitu. Hanya saja, aku khawatir dengan Al."


Wayne tersenyum penuh pencitraan. "Anda tahu sendiri kalau Aldrich itu anak penurut. Dia pasti baik-baik saja. Justru kalau anda menelpon Ron dan bertanya, pasti membuat Aldrich risih dan merasa dikekang. Benar?"


Benar juga. Tapi...


"Ruri bangun. Waktunya pergi." Wayne mulai membangunkan Ruri.



"Eh kurang?" Floryn terlihat sedih saat kasir toko es krim yang selesai ia kunjungi berkata kalau uangnya kurang.


"Tidak apa-apa. Sisanya pakai uangku saja." Aldrich mengambil sisa uang yang berada di saku celananya, lalu memberikannya pada pelayan.


"Maaf ya kak. Padahal awalnya aku ingin mentraktir kak Al sebagai ucapan terimakasih." Floryn terlihat sedih.


"Tidak apa-apa. Terimakasih juga sudah menyarankan toko ini. Enak sekali es krimnya." Aldrich tersenyum ramah sambil menepuk bahu Floryn.


"Kak Al baik sekali. Ganteng pula. Saat besar ayo kita menikah!"


HAH?!


Aku tahu kebanyakan anak kecil itu sering bicara aneh. TAPI INI TERLALU ANEH!


"Eee... Ayo kita kembali ke hotel saja. Orang tuamu pasti sedang mencarimu."


"Kak Al mengalihkan topik! Pasti tidak mau menikah denganku! Huaaa." Floryn pura-pura menangis, tapi berhasil menarik perhatian beberapa orang disekitarnya.


Aduh. Apa aku akan dikira memarahi adik kecil?


"Jangan menangis."


"Hiks tapi tapi tapi"


"Baiklah, kita akan menikah. Tapi kalau berjodoh ya." Aldrich terlihat puas dengan jawabannya.

__ADS_1


"Apa itu jodoh?"


Waduh! Bagaimana menjelaskannya? Aldrich menggaruk kepalanya dengan bingung.


"Jodoh itu..." Aldrich mulai mencari kata-kata yang tepat agar dipahami oleh Floryn. "Jodoh itu kalau kita tidak sengaja bertemu lagi suatu hari nanti."


"Eh? Berarti harus pisah dulu?"


"Ya harus pisah."


"Oke. Aku mau pulang ya kak. Selamat tinggal!" Floryn berlari meninggalkan Aldrich.


Eh? Langsung pergi? Kenapa tidak dari tadi?



Emma dan yang lain sudah sampai di bandara. Ia menarik kopernya dengan wajah lesu. Setiap langkah kakinya terasa berat seperti ada yang menghalanginya untuk pergi.


"Nona kenapa? Sakit?" Ruri merangkul Emma yang berjalan di belakang.


"Tidak. Hanya saja... Aku pikir, Al masih disini."


"Bukankah tadi kita juga diam-diam bertanya pada staff hotel, dan mereka bilang Aldrich keluar bersama tuan Wayne? Mungkin dia benar-benar sudah pulang."


"Tapi kopernya masih ada."


"Hm... Mungkin dia sangat rindu ibunya jadi tidak bawa koper. Ayolah nona jangan sedih. Atau jangan-jangan nona cemburu kalau Aldrich rindu ibu kandungnya." Goda Ruri.


"Are you kidding?"


"Malah ngatain sinting." Ruri cemberut.


Emma langsung menggunakan mode bisik-bisik pada perempuan disampingnya. "Ruri saat kuhitung sampai tiga, kunci Wayne dengan jurus taekwondo mu."


"Ha? Maksud nona?"


"Tiga!!!"


Ruri yang bingung sekaligus panik, dengan cepat ia memegang kedua tangan Wayne dan menguncinya dibelakang. Wayne yang terkejut tidak bisa melakukan perlawanan apapun. Dan saat paham situasinya, dia sudah tidak bisa bergerak.


"Apa-apaan Ruri?!" Bentak Wayne.


"Aku hanya mematuhi perintah nona."


Wayne melirik Emma yang berjalan mendekatinya lalu merogoh saku jasnya. Keringat dingin langsung membasahi dahi laki-laki yang lebih tua 7 tahun dari Emma itu.


"Ketemu." Emma mengangkat sebuah kantong serut kecil berwarna hitam. Dan saat dibuka, itu berisi jam tangan Aldrich yang Emma berikan tempo hari.


"Astaga tuan Wayne! Apa yang kau lakukan?!" Ruri langsung heboh.


Emma tidak ikut memarahi Wayne. Ia seketika berlari kembali. Meninggalkan Wayne dan Ruri.


Loh? Ini bagaimana?! Dikunci terus? Ruri kebingungan.



"Sorry son. Miss Emma is out of this hotel. (maaf nak. nona Emma sudah keluar dari hotel ini.)" Ucap pelayan hotel saat Aldrich bertanya keberadaan Emma.


Eh? Sudah pulang? Aku ditinggal begitu?

__ADS_1


Rencana paman Wayne boleh juga. Idenya kreatif.


"Ok, thank you sir." Aldrich pergi dari meja resepsionis dan berjalan keluar hotel.


Sekarang apa yang harus kulakukan? Tentu saja memberitahu semua orang.


Aldrich berlari kearah telpon umum yang sebelumnya ia lihat di pinggir jalan saat makan es krim. Setelah sampai disana, ternyata Aldrich baru sadar hanya memiliki satu uang koin.


Telpon kak Emma, atau kakek Ron? Hmmm...


Akhirnya setelah berpikir cukup keras, Aldrich memutuskan menelpon Ron. Karena Ron bisa memberitahu Emma sekaligus. Dengan begini, ada dua orang yang tahu kalau Wayne membuat rencana jahat meninggalkannya di luar negeri.


Aldrich membaca langkah-langkah memakai telpon umum yang memang tertempel disana. Setelah paham. Ia segera mempraktikkannya.


"Halo? Dengan kediaman Emma Rosaline. Maaf, siapa ya?" Suara Ron langsung terdengar.


"Kakek! Ini aku Aldrich."


"Nak Aldrich? Kenapa menelpon? Sudah selesai jalan-jalan? Hari ini pulang kan?"


"Begini kek. Paman Wayne meninggalkanku di hotel, dan dia sengaja mengajak kak Emma dan bibi Ruri pulang. Bagaimana ini kek? Aku takut sekali." Aldrich pura-pura menggetarkan suaranya agar terdengar dramatis.


"Astaga! Dia keterlaluan! Tunggu disana nak. Kakek akan menelpon nona Emma. Jangan panik, duduk di dekat telpon umum ya. Jangan terima makanan dari siapapun. Jangan gegabah. Jangan- tuuuttt..."


Waktu pemanggilan selesai.


Kenapa kakek yang terdengar panik? Ya sudahlah.


Aldrich keluar dari tempat menelpon. Baru saja menutup pintunya, tiba-tiba...


Grep!


Emma langsung memeluknya dengan Erat. Lalu menangis di bahu Aldrich.


Masih terkejut, Aldrich mengedipkan matanya berulang kali sambil melirik kepala Emma yang sudah tenggelam di bahunya.


Cepat sekali datangnya. Mengalahkan kurir antar kota.


"Kak Emma?" Aldrich mengusap punggung Emma pelan.


"Diamlah! Jantungku hampir keluar dari mulut. Apa kau tahu betapa khawatirnya aku?!" Bentak Emma sambil menguatkan pelukannya.


"Baiklah. Aku diam."


Emma melepaskan pelukannya. Lalu mengusap wajah Aldrich. "Kesayanganku, jangan takut. Aku disini. Kamu tidak apa-apa kan Al? Wayne tidak berbuat sesuatu yang jahat padamu kan? Pikiranku sudah kemana-mana. Kukira Wayne memotong tanganmu hanya untuk mengambil jam tangan itu huaaaaa." Emma menangis dengan keras lalu kembali memeluk Aldrich.


Pikirannya sungguh liar. Aldrich tersenyum dan kembali mengusap punggung Emma. "Aku tidak apa-apa kok."


"Lama-lama aku akan memasang borgol agar kita bisa terus bersama."


"Waduh bagaimana cara aku makan? Hehe."


Emma melepaskan pelukannya dan menatap wajah Aldrich yang terlihat santai. "Aku akan menyuapimu hehe."


Emma berdiri dan mulai menggandeng tangan Aldrich. "Ayo kita pulang ke rumah. Dan memberi pelajaran pada Wayne."


"Ayo!"


Aku tidak sabar melihatnya. Aldrich tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2