Anak Dari Dua Ceo

Anak Dari Dua Ceo
Mulai Liburan


__ADS_3

Aldrich paham apa yang terjadi. Pasti Matt datang untuk membawa mereka liburan. Tapi kenapa sekarang?


"Kau bilang lusa!" Emma bangkit dari kursinya, dan menatap Matt seolah ingin mencincangnya.


"Aku berubah pikiran. Memangnya kenapa?" Matt mengangkat dagunya menantang Emma.


"Kalau begitu, aku dan Aldrich tidak jadi ikut." Emma membuang muka.


"Sayang sekali, tapi barang-barangmu sudah disiapkan." Setelah Matt berkata begitu, secara kebetulan Ruri keluar dari balik punggung Matt sambil menyeret dua koper.


"Ruri, apa yang kau lakukan?"


"Eh? Tadi tuan Matt bilang, nona menyuruh saya menyiapkan koper untuk pergi liburan." Ruri terlihat kebingungan.


"Kau bahkan menipu pembantuku!" Emma terus menyalahkan Matt yang terlihat santai.


"Aku juga sudah menyewa jet pribadi. Ayo pergi sekarang." Matt berjalan mendekati Aldrich lalu menarik tangannya.


"Kau pikir naik Jet seperti naik bis umum?! Aku belum mengurus visa dan-"


"Sudah semuanya." Matt menyela. "Ryker sudah mengurusnya. Lalu untuk perusahaanmu juga jangan khawatir, Ryker akan membantu sekretaris abnormalmu selama kita liburan."


"Apa kau gila?! Bagaimana dengan perusahaanmu?"


Matt menarik sudut bibirnya mendengar pertanyaan Emma. "Jangan pikirkan orang lain. Sekarang ini kau dan Aldrich sedang kuculik tahu. Ayo kita pergi." Matt menggendong Aldrich dengan satu tangan, dan tangan lainnya menarik koper pergi.


"Hei tunggu!!! Aku belum selesai bicara." Emma mengejar Matt.



Aldrich melihat pemandangan melalui jendela kecil di sampingnya. Hamparan awan yang membentang luas, membuatnya takjub untuk kedua kalinya. Ternyata naik jet dan pesawat sama-sama seru.


"Ini yang rasa balado."


Aldrich menoleh kearah Matt yang memberikannya cemilan stik kentang. "Wah terimakasih kak Matt."


"Belajarlah memanggilku papa."


"Dih! Tidak akan pernah terjadi!" Emma yang masih kesal mengomentari Matt dengan sinis.


"Kenapa? Apa aku tidak masuk nominasi?"


Wah... Kak Matt melakukan pendekatan yang cukup bagus. Aldrich berusaha untuk pura-pura tidak paham. Tapi ia tidak bisa mengendalikan mulutnya yang tersenyum dengan paham.


"Nominasi? Apa maksudmu? Jangan bicara ngelantur, aku sedang serius tahu! Sekarang pikiranku penuh gambaran gedung Rose Group yang hancur. Karena meninggalkan bom bernama Ezra yang membuatku tidak tenang."


Sayang sekali, kak Emma tidak peka dengan kode kak Matt.


"Tenang saja. Aku sudah mengutus sekretaris es batu-ku kesana."


"Ezra itu meskipun pekerjaannya bagus, tapi sering ceroboh untuk hal diluar konteks kerjanya."


"Benarkah? Ryker juga hampir sama. Kemarin aku menyuruhnya untuk mencari rumah sakit terdekat, dia malah membawaku ke rumah sakit jiwa. Yah meskipun itu sama-sama rumah sakit sih."


Apakah semua sekretaris itu tidak waras?


"Ezra lebih parah. Kemarin dia menghancurkan proyektor, dan hampir membuat tiga anggota dewan direksi meninggal."

__ADS_1


Hari pertamanya seperti itu? Sepertinya kak Ezra terlalu bersemangat. Aldrich menahan tawanya.


"Berarti itu lebih gawat lagi. Meninggalkan dua orang ceroboh bersama." Komentar Aldrich membuat Emma melotot. Dia baru kepikiran soal itu. Ryker dan Ezra sangat tidak cocok.


"Ini mimpi buruk." Emma menjambak rambutnya.


Tiba-tiba Aldrich merasakan kakinya ditendang pelan oleh seseorang. Ia tahu kalau pelakunya adalah Matt yang duduk di depannya. Saat Aldrich melihat kearahnya, Matt bicara tanpa suara pada anak laki-laki itu. 'Bantu aku'


Aldrich paham dan mengangguk.


Astaga, aku tidak percaya kalau kak Matt ingin sekali liburan dengan kak Emma. Baiklah, karena aku juga akan diuntungkan, lebih baik kubantu.


"Tidak apa-apa kak." Aldrich mulai menepuk-nepuk bahu Emma pelan. "Meskipun kak Ezra ceroboh, tapi pekerjaannya aman. Jadi di luar konteks pekerjaan ada paman Ryker yang mengurusnya. Setidaknya ada orang disisinya yang akan memadamkan api kalau terjadi kebakaran."


Matt menepuk dahinya. Kenapa malah bicara begitu?!


"Kamu benar Al." Emma mulai tersenyum dan mengusap kepala Aldrich. "Kalau mereka berdua mati terbakar, berarti Hamilton Group juga akan kesusahan."


Ini ibu dan anak pikirannya sadis sekali.


"Astaga, tidak akan ada kebakaran. Kalian berpikir terlalu jauh." Ucap Matt sambil membuka minuman bersoda dan menaruhnya di atas meja kecil yang memisahkan mereka. "Itu minum."


Emma mengambilnya, dan minum perlahan. "Oh iya, nanti kita akan jalan-jalan kemana?" Tanya Emma setelahnya.


"Aku sudah memikirkan ini. Disana akan ada festival kembang api. Jadi kita akan pergi ke kuil bersama untuk melihat kembang api."


"Festival kembang api? Apakah kembang apinya sangat banyak?" Tanya Aldrich sambil memakan cemilan yang diberikan Matt sebelumnya.


"Tentu saja, ada banyaaak sekali."


"Benarkah? Dinyalakan bersama-sama?"


Emma melihat Matt dan Aldrich yang saling mengobrol dengan serunya. Sesekali Matt akan memperagakan gerakan lucu tentang kembang api, dan Aldrich tersenyum dengan aneh. Entah itu senyum kebahagiaan, atau senyum mengejek gaya Matt. Yang jelas itu membuat Emma sedikit senang. Ia seperti melihat dirinya sendiri yang dulu juga sangat senang ketika bercerita banyak hal pada tuan Cassius.


Al, sepertinya butuh sekali sosok seorang ayah. Dia dulu juga hanya tinggal bersama ibunya tanpa ayah. Aku harus mencarikannya ayah.


Melihat Matt dan Al yang dekat, berarti... AKU HARUS MENCARI LAKI-LAKI YANG MIRIP MATT!!!



"Tidak ada? Coba cari lagi."


Matt bicara dengan penuh keyakinan, dan pegawai hotel segera melaksanakan perintahnya.


Merasa Matt sudah lama bicara di meja resepsionis, Emma akhirnya menghampirinya. "Kenapa lama sekali? Ada masalah apa?"


"Ryker sudah memesan kamar kemarin, tapi katanya nama kita tidak ada di daftar."


"Apa mungkin Ryker lupa? Coba tanya dia."


Matt mengambil ponselnya dari dalam saku. "Dari tadi pesanku tidak dibaca. Ku telpon sajalah."


[Halo tuan?] suara Ryker akhirnya terdengar setelah lama menunggu.


"Namaku tidak ada di daftar hotel. Apa kau benar-benar sudah memesankan kamar?"


[Eh? Memangnya tuan menyuruhku memesan kamar?]

__ADS_1


Matt menghela nafas kasar, ia sepertinya tahu apa yang terjadi. "Jadi kau belum memesan kamar? Kau pikir aku ke sini akan menginap di teras toko?"


[Iya.]


Matt langsung mematikan panggilan. Ia bersumpah akan memotong setengah gaji sekretarisnya itu saat pulang liburan.


"Sialan itu ternyata belum memesan kamar." Ucap Matt dengan emosi.


"Oh ya sudah, pesan saja langsung. Aku mau bayar sendiri." Emma hendak mengeluarkan dompet dari dalam tas, tapi Matt segera menghalangi.


"Aku yang mengajakmu liburan, jadi aku yang bayar."


"Hehehe kalau begitu terimakasih tuan Matt Hamilton."


Dia langsung mengiyakan tanpa sungkan sedikitpun. Dasar pecinta gratisan!


Meskipun di dalam hati berkata begitu, Matt tidak sadar menyinggungkan senyum sambil melirik Emma yang menepuk tas dengan gembira, karena uang miliknya tidak berkurang.


"Maaf tuan, tapi nama anda benar-benar tidak ada." Pegawai hotel kembali bicara setelah sebelumnya mengecek di komputer.


"Baiklah, aku pesan kamar saja. 2 Presidential suite room."


"Maaf tuan, Presidential suite room sudah penuh. Banyak orang dari luar negeri yang datang untuk melihat festival dan memesan kamar." Kata pegawai hotel sambil membungkuk untuk meminta maaf.


"Ck! Lalu kamar apa yang tersisa?"


"Satu Deluxe Room, dan lima Standard Room." Jawab pegawai sambil melihat data di komputer.


"Ya sudah tidak jadi. Aku akan cari hotel lain saja." Matt menunjukkan ekspresi kesal dan ingin pergi.


"Silahkan tuan."


"Tunggu sebentar." Emma menarik tangan Matt, dan mulai berbisik di telinganya. "Mereka terlihat percaya diri sekali. Mungkin hotel lain juga kehabisan kamar. Ini pasti karena efek festival. Sudahlah, terima saja."


"Kau tidak dengar tadi? Itu kamar jelek, dan murah. Mau ditaruh dimana mukaku? Aku ini Matt Hamilton."


"Ditaruh di kepala lah. Kau mau menaruhnya di kaki? Itu cuma kamar, jangan mendramatisir. Kalau kau tidur, pasti nutup mata kan? Gelap kan? Apa bedanya kamar murah dan mahal? Memangnya mau dilihatin terus?"


"Tapi kan..."


"Sudah kita pesan saja. Aku lelah."


Karena bujukan Emma, Matt kembali menuju resepsionis dan memesan kamar dengan ekspresi yang masih kesal.


"Ah maaf tuan-"


"Maaf saja terus sampai besok. Daritadi permintaanku selalu ditolak. Mana managermu? Aku mau-"


Emma langsung menarik Matt, dan menggantikan posisi laki-laki itu. "Maafkan dia. Tingkat kesabarannya setipis masker wajah. Jadi ada masalah apa lagi ya?"


"Kamar Deluxe baru saja dipesan orang saat tuan tadi bilang akan cari hotel lain. Sekarang hanya ada kamar Standar. Maaf nyonya."


"Baiklah, pesan dua."


"Emma! Kita cari hotel lain saja." Matt masih tidak terima.


"Tidak usah. Aku ingin cepat-cepat tiduran. Jadi diamlah."

__ADS_1


Aldrich yang sedang duduk di ruang tunggu bersama koper, melirik kearah meja resepsionis. Ia melihat Emma dan Matt yang sedang membahas sesuatu dan seolah berbeda pendapat hingga membuat obrolan mereka terlihat seru.


Heh... Apakah ada cerita klise tentang kamar yang habis atau semacamnya?


__ADS_2