Anak Dari Dua Ceo

Anak Dari Dua Ceo
Mencari Bukti


__ADS_3

"Pa-papa?"


Apakah kak Matt stress karena kak Sylvia menipunya? Lalu dia jadi gila seperti kak Emma.


"Kemarilah." Matt merentangkan tangan seperti sebelumnya. Memberikan kode untuk menggendong Aldrich.


"Terimakasih kak. Tapi aku bisa jalan sendiri."


Banyak pegawainya yang melihat. Kalau kak Matt terlalu baik padaku sampai menggendong segala, bisa-bisa ada gosip yang tidak-tidak untuk kak Emma.


"Kamu ini selalu begitu ya." Seperti sebelumnya juga, Matt langsung meraih tubuh Aldrich dan menggendongnya.


Yahh mungkin aku akan dikira anak tersembunyi dari kak Matt dan kak Emma. Julukanku semakin bagus saja.


"Ryker, urus Sylvia seperti perintahku sebelumnya."


"Baik tuan." Ryker yang baru saja kembali setelah membantu pegawai tadi diobati, harus pergi lagi untuk membawa Sylvia.


"Kalian mau membawaku kemana? Lepaskan aku! Matt, suruh mereka melepaskanku sekarang! Aku ini tunanganmu ingat?" Sylvia masih berteriak sambil meronta.


Matt melihat Sylvia dengan ekspresi jijik. "Lalu apa kau masih mengingatku sebagai pasanganmu saat bersama King Korn itu?"


Kedua mata Sylvia langsung terbelalak. "Kau memata-mataiku? Kenapa kau tidak percaya padaku? Dengarkan aku Matt, akan kujelaskan semuanya. Korn itu... Kakakku! Ya dia kakakku!"


Kakak? Lucu sekali. Aldrich ikut tersenyum sinis.


Matt menghela nafas dengan kasar. Ia tadi sudah membaca data diri lengkap dari Sylvia yang sudah dikumpulkan Ryker. "Nama aslimu Nina Karmila. Orang tuamu sudah mati. Karena disuruh kerja di ladang oleh bibimu di desa, kau memilih kabur ke kota. Awalnya kau bekerja dengan benar sebagai pembantu rumah tangga 5 tahun yang lalu, tapi dengan teganya kau mencuri uang majikanmu lalu kabur. Dengan uang yang banyak itu, kau memalsukan identitas dan memulai kehidupan serba mewah. Kau mengenal Korn lebih dulu, dan bekerjasama dengannya untuk menipuku. Apa aku bicara terlalu detail?"


Sylvia menggeleng dengan cepat. "I-itu salah! Matt percayalah padaku! Semuanya bohong."


"Aku merasa bodoh sudah mempercayaimu sebelumnya. Seharusnya aku sadar lebih awal." Matt berbalik badan dan berjalan menuju lift. "Aku bahkan malu dengan Aldrich."



Aldrich sekarang sedang duduk dengan patuh di atas sofa empuk yang berada di ruang kerja Matt. Pemilik ruangan itu sibuk menelpon entah pada siapa. Sementara Aldrich melihat sekeliling ruangan untuk mencari foto keluarga atau semacamnya, tapi selain lukisan abstrak tidak ada apapun yang tergantung di dinding.


"Aku sudah menyuruh seseorang membuatkanmu minuman dan cemilan." Matt duduk disamping Aldrich.


"Terimakasih kak Matt."


"Katakan kamu berasal dari panti asuhan mana? Bagaimana bisa Emma mengadopsimu? Setahuku dia bukan orang yang seperti itu."


"Aku bukan anak panti asuhan. Tapi anak jalanan. Aku bertemu kak Emma saat berjualan gorengan di lampu merah." Jelas Aldrich.


Kedua alis Matt berkerut. "Tapi kamu tidak terlihat seperti anak jalanan. Kulitmu putih bersih, dan cara bicara juga sangat sopan. Berbeda dengan imej anak jalanan."


Dan juga... Saat melihat dia sepintas mirip kakak. Mungkin itu hanya halusinasiku karena merindukan kakak.


"Kata ibuku, aku mirip ayah. Dan soal cara bicaraku, ibu juga yang mengajariku."


"Ibumu kemana?"

__ADS_1


"Sudah meninggal."


Matt mengangguk. Ia merasa seperti memiliki ikatan yang kuat dengan Aldrich. Apakah karena sama-sama tidak memiliki ibu?


"Kamu masih memanggil Emma dengan sebutan 'kak'. Jangan-jangan kamu masih tidak suka dengan Emma. Kalau benar begitu, lebih baik kamu bersamaku saja. Mau panggil papa atau ayah, bebas. Tapi lebih bagus papa."


Ya ampun, jadi aku diperebutkan? Lagipula belum apa-apa disuruh panggil papa. Aku memanggil kak Emma karena dia jauh lebih muda dari ibuku tahu!


"Kak Matt salah paham. Aku sangat menyayangi kak Emma." Aldrich tersenyum.


"Yahh... Padahal aku juga ingin kamu jadi anakku."


"Kenapa?"


"Karena kamu berbeda dari anak-anak lainnya. Entah kenapa saat mengobrol denganmu, serasa mengobrol dengan orang dewasa seusiaku. Kamu mudah paham dan  pintar. Seperti anak orang kaya yang sudah dididik dari kecil. Sejak kapan kamu bersama Emma?"


Gawat! Apa kak Matt mulai curiga? Belakangan ini aku memang tidak sadar mengumbar kepintaranku. Karena sudah terbiasa dengan kak Emma yang tidak peka, aku seenaknya mengobrol macam-macam dengan kak Matt. Bagaimana ini?


"Kak Emma mengadopsiku belum lama."


"Wah berarti kamu hebat sekali. Bisa beradaptasi dengan baik di tingkat ini."


Aldrich hanya tersenyum sambil mengangguk. Tapi iya juga. Kenapa aku bisa beradaptasi dengan suasana orang kaya ini?


Tok! Tok!


Seperti sebelumnya, setelah bunyi ketukan pintu, Ryker masuk ke dalam ruangan. Rambutnya berantakan dengan bekas cakaran di wajahnya.


"Nona Sylvia sangat ganas. Dia susah sekali masuk kandang. Sekarang masih berteriak lalu menangis. Saya seperti mendengar suara kuntilanak di film-film."


"Ck! Dasar binatang itu. Antarkan aku kesana, dan bawakan aku stun gun." Matt melihat kearah Aldrich sebentar. "Tunggu aku ya. Sebentar lagi akan ada orang yang mengantarkan minuman untukmu. Aku tidak akan lama."


Aldrich mengangguk, dan Matt langsung pergi bersama Ryker.


Ruangan itu sepi, hanya tinggal Aldrich seorang. Tentu saja kesempatan emas itu tidak akan disia-siakan olehnya.


Pertama cek cctv.


Aldrich diam-diam memperhatikan sekeliling, dan akhirnya melihat posisi cctv yang berada diatas pintu masuk.


Hanya ada satu, tapi posisinya cukup strategis. Langsung menghadap kearah meja kerja.


Baiklah. Aku akan membuat pengecohan. Targetku adalah meja kerja kak Matt. Pasti di dalam sana tersimpan foto tersembunyi yang tidak bisa dilihat oleh siapapun, tapi bisa ia kagumi sendiri.


Aldrich berdiri, dan mulai menari-nari kecil di dekat sofa. Setelah itu ia melepas sepatunya, lalu melemparkannya ke udara dan menangkapnya lagi. Ia sengaja membuat imej anak yang sedang bosan dan mencoba bermain dengan apa saja disana.


Sekarang!


Aldrich sengaja melemparkan sepatu itu agak jauh dan berhasil terjatuh di bawah meja kerja Matt.


Tepat sasaran.

__ADS_1


Aldrich berjalan mendekati meja kerja Matt untuk pura-pura mengambil sepatunya.


Cctv hanya menyorot meja kerja Matt dari depan. Otomatis jika ada orang yang membuka laci di bagian belakang meja tidak akan tertangkap cctv. Apalagi tubuh Aldrich yang kecil pasti hanya terlihat sedang masuk kolong meja.


Aldrich dengan cepat membuka laci pertama. Disana hanya berisi beberapa kertas, stempel, dan pena. Saat membuka laci kedua, Aldrich juga menemukan hal yang serupa.


Astaga kak Matt punya banyak pena.


Aldrich langsung membuka laci ketiga. Hal pertama yang ia lihat adalah sebuah foto bergambar tiga orang anak SMA yang sedang bergaya.


I-ini... Kak Emma, kak Matt, dan... Kak Brandon kan? Wajah mereka masih mirip dengan foto ini. Jadi dulu mereka sahabat baik? Kenapa sekarang seperti orang lain? Bahkan tidak akur. Baik kak Emma, dan kak Matt. Maupun kak Emma, dengan kak Brandon.


Tunggu dulu! Kenapa aku malah menghabiskan waktu dengan foto ini?! Harus cepat!


Saat Aldrich menyingkirkan foto sahabat itu, ia melihat sebuah bingkai foto yang posisinya terbalik, jadi hanya bagian belakangnya saja yang terlihat. Disana terdapat tulisan panjang seperti nama orang.


I-ini... Foto keluarga?


Ayah, ibu, kakak, aku.


Kakak?!


Jantung Aldrich langsung berdegup kencang. Tangannya gemetar ketakutan.


Jangan-jangan prediksiku benar? Ayahku... Ada di foto ini.


Perlahan Aldrich meraih bingkai foto itu. Perasaannya bercampur aduk. Selama 10 tahun ia tidak pernah melihat bagaimana rupa sang ayah. Dan bagaimana jika itu bukan ayahnya?


"Aldrich?"


Brak!


Aldrich buru-buru menutup laci itu hingga berbunyi sangat keras.


"Kenapa kamu disana?" Matt menghampiri Aldrich di mejanya.


Dengan wajah yang masih terkejut, Aldrich perlahan mengelus kepalanya. "Ke-kebentur meja kak."


"Mau cari apa memangnya?"


"Sepatu." Aldrich menunjuk kebawah kolong meja kerja Matt.


"Kenapa bisa sampai sana? Sebentar, biar kuambilkan." Matt berjongkok untuk meraih sepatu Aldrich. Sementara bocah itu hanya berdiri mematung.


Foto ayahku... Kemungkinan disana. Foto ayah... Foto ayah...


Tiba-tiba pandangan Aldrich mulai kabur. Dan penglihatannya berubah hitam.


Gubrakk!


"Eh? Aldrich?! Kamu kenapa?!" Matt langsung menghampiri Aldrich dan mengangkat tubuhnya yang tidak sadarkan diri.

__ADS_1


__ADS_2