Anak Dari Dua Ceo

Anak Dari Dua Ceo
Hari Penentuan


__ADS_3

Keesokan harinya.


Aldrich terbangun dengan sendirinya seperti biasa. Ia langsung melihat jam tangannya untuk mengecek.


Bagus, semua berjalan lancar.


Di luar pintu kamarnya, terdengar suara orang berlarian kesana kemari. Terdengar juga suara dari beberapa orang yang sedang mengobrol.


Pasti sibuk persiapan konferensi pers nanti.


Aldrich mengubah posisinya menjadi duduk, menggaruk kepala dengan kasar, lalu turun dari kasurnya dan bersiap.


Kemarin aku sudah memprovokasi tante Ria. Apakah hari ini dia akan melakukan suatu kejahatan? Seharusnya iya, karena dia pasti tidak ingin terlibat dengan berita yang akan keluar hari ini. Tapi sayangnya, aku tetap akan menyeret dia nanti. Percuma saja membersihkan nama sekarang.


Setelah selesai bersiap, Aldrich keluar kamar. Suasana sudah berubah sepi. Bahkan Emma dan Matt tidak terlihat batang hidungnya lagi.


Aldrich berjalan menuju dapur, ternyata disana ada Ruri, si kembar, dan Sylvia. Para perempuan itu sepertinya sedang berseteru.


"Huh! Sebenarnya nona menyuruhku untuk memberikan makanan anjing padamu. Tapi karena aku orangnya ga tegaan, jadi kukasih makanan kucing aja nih!" Seru Ruri sambil menyodorkan piring kearah Sylvia.


"Kau mengejekku?" Sylvia berdiri dari kursinya dan berjalan mendekati Ruri.


"Memangnya kenapa? Mau melawanku? Ayo maju sini. Aku bisa bela diri. Kubanting ayo!"


Melihat pertengkaran Ruri dan Sylvia, si kembar berusaha memisahkan mereka.


"Ruri, bukankah nona berpesan untuk memberikannya mie instan? Bukan makanan hewan."


"Sudah jangan bertengkar lagi."

__ADS_1


"Ehem!" Aldrich pura-pura berdeham, dan perhatian semua orang langsung teralihkan padanya.


"Aldrich, sudah bangun ya? Ayo kesini. Akan bibi buatkan roti panggang dengan irisan daging kesukaanmu." Ruri langsung terlihat senang.


Kapan aku bilang suka makanan itu? Pasti bibi Ruri hanya ingin mengiming-imingi kak Sylvia.


"Baiklah." Aldrich mengangguk dan duduk di salah satu kursi meja makan. Ia melirik Sylvia yang hanya diam saja menatap piring berisi makanan kucingnya.


Melihat ekspresi itu, entah kenapa Aldrich jadi teringat dengan kejadian dulu. Saat ia menyiram Sylvia dengan air ketika berada di perusahaan milik keluarga Hamilton.


"Kak Sylvia, jika kau meminta maaf padaku. Maka akan kuminta bibi Ruri memberikan makanan yang sama sepertiku." Ucap Aldrich sambil tersenyum.


"Hah? Memangnya aku punya salah apa padamu?"


"Bukankah kak Sylvia pernah mengataiku? Masih bagus aku menyuruhmu minta maaf, bukan bersujud di kakiku seperti perintah kak Matt  yang belum kau laksanakan sampai sekarang."


Ruri yang sedang memanggang roti sepontan menoleh kearah Aldrich. Kenapa dia tiba-tiba bilang begitu? Apa yang terjadi?


Aldrich hanya menatap kepergian Sylvia. Orang seperti dia tidak akan pernah berubah.


"Ini dia sarapanmu." Ruri meletakkan piring yang sudah berisi roti dan irisan daging panggang.


"Apa kak Emma dan kak Matt sudah pergi?" Tanya Aldrich basa-basi. Ia sebenarnya sudah tahu, tapi sengaja bertanya untuk mengecek siapa saja yang ikut dengan mereka.


"Ya sudah. Meskipun Ezra dan Ryker sempat ribut tentang siapa yang mengemudi, tapi semua berakhir baik. Korn dan Ivan juga ikut pergi bersama mereka. Kalau tuan Ron, sedang duduk di teras depan bersama ayangku."


Aldrich mengangguk. "Kalau kak Melin, kabarnya bagaimana?"


"Sangat mengenaskan." Si kembar menggeleng bersamaan.

__ADS_1


"Hahaha aku mencoret-coret wajahnya dengan lipstik pemberian nona. Lalu berbohong padanya kalau itu tidak bisa hilang selamanya. Jadi semalaman dia menangis karena benar-benar tidak bisa hilang. Nasib orang yang terlalu memperhatikan penampilan begitu, lebay."


Syukurlah tidak semengerikan kak Emma.


"Apakah aku boleh menyusul kak Emma? Aku ingin lihat konferensi pers nya."


"Tidak boleh. Kata nona, kamu di rumah saja sambil melihat berita itu di tv. Kita lihat sama-sama yuk."


Sudah kuduga tidak boleh datang. Tapi aku tetap akan kesana.


Aldrich pura-pura mengangguk sambil tersenyum. "Baiklah."



Akhirnya saat yang ditunggu-tunggu pun datang. Tv besar yang berada di ruang santai kembali menyala setelah lama tidak digunakan. Ruri, dan si kembar menjadi penonton barisan pertama. Di dekat mereka ada Ron dan pak Darma yang secara ajaib membawa banyak popcorn untuk dibagikan pada para penonton. Sementara di sudut ruangan ada Sylvia yang tentu saja tidak ingin ketinggalan berita. Aldrich sendiri hanya berdiri di jarak yang cukup jauh, setara dengan Sylvia tapi tidak berdekatan satu sama lain.


Sudah waktunya. Aldrich melirik jam tangannya.


"Keraskan volumenya. Telinga tuaku tidak bisa mendengarnya dengan baik." Protes Ron.


"Ya ampun tuan Ron, acaranya sudah dimulai dari tadi tapi kenapa baru protes sekarang?" Ruri yang ogah-ogahan, mengeraskan volume tv dengan sedikit berlebihan, hingga terdengar seperti orang hajatan.


"Nah ini baru enak." Ron menikmatinya sambil memakan popcorn.


[Jadi dengan semua bukti-bukti ini, apakah nona Emma akan menuntut keluarga Hamilton?] tanya salah satu reporter.


[Aku tidak akan melakukannya. Meskipun aku cukup dirugikan dengan berita palsu buatan mereka, tapi aku percaya kalau mereka hanya iri saja. Karena keirian mereka itu, malah membuatku sadar kalau ternyata aku sudah berada dititik tertinggi. Sampai keluarga Hamilton saja iri padaku dan ingin menjatuhkanku.]


"Dih! Malah besar kepala." Komentar Ruri.

__ADS_1


"Katanya itu adalah usulan nak Aldrich. Menyuruh nona mengatakan sesuatu yang membuatnya terlihat rendah hati dan kuat disaat yang bersamaan. Gunanya untuk mendorong opini publik kearah yang lebih positif." Kata Ron.


"Wah kamu hebat sekali ya." Ruri menoleh ke tempat Aldrich berdiri tadi. "Eh? Aldrich mana?"


__ADS_2