
Aldrich mengikuti langkah cepat Emma memasuki rumah. Di belakangnya, Ruri dan pak Darma sibuk menurunkan koper dari bagasi mobil. Ia sebenarnya ingin membantu, tapi Emma terus menarik tangannya agar ikut masuk rumah.
"Nona Emma." Seorang perempuan dengan rambut sebahu dan berkacamata tebal langsung berdiri saat melihat Emma datang.
"Wah maaf jadi membuatmu menunggu lama." Emma menerima uluran tangan Ratna.
"Tidak nona. Saya juga baru saja datang."
Aldrich melirik sesuatu di atas meja. Disana ada cangkir teh yang sudah diminum setengah, dan biskuit yang hanya tersisa beberapa keping diatas piring.
Kurang lebih, kakak ini sudah berada disini setengah jam yang lalu. Kenapa rela menunggu selama itu? Apa ada pembicaraan penting?
"Aku tidak ingin basa-basi lagi." Emma melepaskan tangan Aldrich dan menatap Wayne tajam. "Wayne, menurutmu kenapa aku memanggil Ratne kemari?"
Aldrich yang bingung dengan situasi aneh ini, memilih duduk di ujung sofa sambil memperhatikan ekspresi serius para orang dewasa di depannya.
Apakah ini permasalahan orang kaya? Kenapa kak Emma seperti ingin menginterogasi paman Wayne?
"Saya tidak tahu nona." Wayne mengangkat kedua bahunya.
Emma beralih menatap Ratna dan menjulurkan tangannya. "Mana berkas yang kusuruh?"
"Ini nona." Ratna dengan sigap memberikan sebuah map pada Emma.
"Sekarang jelaskan padaku Wayne. Kenapa kau mengambil uang perusahaan?!" Emma tiba-tiba meninggikan suaranya dan melemparkan map yang baru diterimanya pada Wayne.
Dengan terkejut Wayne menerima map itu dan membaca isinya. Ternyata semua yang ada di dalamnya adalah bukti penarikan dana yang seharusnya dihilangkan oleh Ratna. Yang lebih parahnya lagi, semua bukti itu tertera sejak ia mengambil uang untuk pertama kali.
Paman Wayne korupsi? Astaga. Aldrich mengambil biskuit yang tersisa diatas meja, lalu memakannya bak menonton drama.
"I-ini bukan saya! Nona, bukankah kita sudah mengenal selama bertahun-tahun? Saya tidak mungkin melakukan ini. Pasti semuanya hanya akal-akalan Ratna! Dia ingin terlihat hebat dan mencuri posisiku!" Wayne menunjuk Ratna dengan emosi.
"Apa? Aku tidak-"
Sebelum Ratna membuat pembelaan, Wayne menyelanya. "Aku punya buktinya! Semua uang yang hilang di perusahaan adalah ulahmu. Kau yang mentransfer semuanya!"
"Tapi tuan Wayne yang menyuruhku."
__ADS_1
"Tidak usah mengada-ada! Kau seharusnya punya otak, kalau atasan menyuruhmu melakukan hal yang tidak benar, harus ditolak. Aku tidak pernah menyuruhmu. Semuanya hanya bualanmu saja."
"CUKUP!!!" Emma berteriak dengan kencang hingga membuat Aldrich mengurungkan niat mengambil biskuit yang kedua.
"Aku sudah tahu mana yang salah." Emma menatap Wayne dan Ratna bergantian. Ekspresinya sekarang berubah dingin. Tatapannya tajam seolah bisa melukai siapapun. Wayne dan Ratna langsung ketakutan. Mereka belum pernah melihat ekspresi Emma yang seperti itu.
"Lagi-lagi orang yang bisa membuatku sadar adalah malaikat kecilku, Al"
"Eh?! Uhuk! Ehem!" Aldrich terkejut dan hampir saja tersedak biskuit. Ia hanya anak kecil yang sedang menonton. Kenapa tiba-tiba diseret?
"Bocah itu?" Wayne benar-benar muak mendengar Emma terus memuji Aldrich. Tapi ini bukalah saat yang tepat.
"Sebenarnya Ratna sudah memberitahu padaku soal kecuranganmu memanipulasi daftar keuangan sejak awal. Tentu saja aku tidak percaya. Wayne, kau sudah banyak melihatku tumbuh. Kau juga sering mengajariku tentang bisnis kalau tuan Cassius sedang sibuk dan tidak sempat mengajariku. Aku benar-benar menganggapmu seperti keluarga sendiri."
Emma berjalan mendekati Ratna dan menepuk bahunya. "Tapi aku tidak bisa mengacuhkan perkataan Ratna begitu saja. Secara diam-diam, aku dan Ratna sering memantau dirimu. Bahkan aku masih tidak percaya kalau kau mengambil uang perusahaan, meskipun banyak bukti sudah diberikan Ratna. Kupikir, Wayne adalah keluargaku, tidak mungkin bertindak jahat padaku. Hingga akhirnya, aku melihat tindakanmu pada Al. Aku jadi yakin, kalau sebenarnya aku yang tidak mengenalmu Wayne."
Emma menarik nafas dalam-dalam, ia berpindah kehadapan Wayne dan mempersiapkan kata-kata yang akan dilontarkannya. "Wayne. Kau kupecat. Dan aku juga tidak ingin melihatmu disini. Pergi dari rumahku."
"Apa?" Wayne menggeleng tidak percaya. Sekali lagi ia tatap wajah serius perempuan dihadapannya. "Kau mengusirku? Setelah aku dan ayahku melakukan segalanya untuk keluargamu?!"
"Hanya karena aku mengambil beberapa uang, kau sudah membuangku? Dan juga karena dia!" Wayne menunjuk Aldrich yang terkejut lalu menaruh kembali biskuit ketiga yang akan dimakannya. "Hanya karena anak gelandangan itu-"
Plak!
Emma menampar Wayne dengan keras. Semua orang dibuat terkejut, termasuk Ron yang melihat dari jauh bersama asisten rumah tangga yang lain.
"Dia punya nama." Ucap Emma dengan nada dingin.
Wayne tersenyum lalu mengangguk perlahan. "Baik, aku mengerti. Diusir seperti anjing tidak buruk juga. Aku akan pergi tanpa membawa barang apapun, karena aku tidak merasa hidup menumpang disini. Tapi ingat, aku akan kembali untuk melihat kalian menderita. Camkan itu."
Wayne melangkah keluar rumah, dan Emma terus menatapnya dalam diam. Perempuan itu bahkan tidak bergerak setelah beberapa menit Wayne menghilang dari pandangannya.
Apakah Kak Emma sebenarnya sulit untuk mengusir paman Wayne?
"Aku lelah." Emma akhirnya bicara, dan orang-orang langsung bernafas lega mendengar itu. "Kau bisa kembali Ratna."
"Baik nona, permisi." Ratna membungkuk tanda hormat, kemudian pergi.
__ADS_1
"Apakah anda membutuhkan sesuatu nona?" Tawar Ron setelah memberanikan diri mendekati Emma.
"Tidak ada. Aku hanya ingin tidur sebentar." Emma berjalan perlahan memasuki kamarnya.
"Kak-"
"Tidak apa-apa." Ron menghalangi Aldrich yang berniat menghibur Emma. "Nona Emma kalau sedih memang begitu, tiba-tiba beralasan ingin tidur, padahal sebenarnya ingin menangis di dalam kamar. Tapi tidak apa-apa, karena dia pasti akan kembali ceria lagi."
"Begitu ya."
Memangnya paman Wayne orang yang sangat penting bagi kak Emma? Sampai harus menangisi kepergiannya di dalam kamar.
"Apa kamu penasaran dengan Wayne?" Ron menangkap ekspresi penasaran Aldrich, dan bocah itu mengangguk.
"Apakah paman Wayne benar-benar dianggap keluarga bagi kak Emma?
"Kemari." Ron menggandeng tangan Aldrich dan menuntunnya ke sebuah ruangan. "Ini adalah kamar tuan Wayne. Karena pemiliknya sudah pergi, jadi kamu bebas lihat-lihat." Ron mengeluarkan rentengan kunci dari sakunya. Ia memilih sebuah kunci yang sudah dihafalnya, lalu membuka kamar Wayne dengan itu.
Pintu kayu itu terbuka. Aroma pengharum ruangan apel hijau langsung menyeruak. Sebuah kamar yang rapi menyambut pandangan Aldrich. Disana hanya ada sebuah kasur, lemari pakaian, meja kecil yang ramai dengan buku, dan kursi belajar didekatnya. Sungguh kamar yang sangat normal. Tidak disangka pemiliknya adalah orang seperti Wayne.
Aldrich berjalan masuk. Perhatiannya langsung tertuju pada sebuah bingkai foto diatas meja. Disana terdapat sebuah foto yang mirip dengan foto keluarga. Aldrich berinisiatif membalik bingkai foto itu, dan sesuai dugaannya, terdapat tulisan disana.
Tuan Cassius (39 tahun), Ayah (53 tahun), Saya (18 tahun), Emma (11 tahun)
Selamat ulang tahun pertama di rumah ini Emma!!!
Aldrich sekarang paham kenapa Emma begitu berat melepas Wayne. Karena mungkin bagi Emma, Wayne adalah satu-satunya keluarga yang tersisa.
"Kakek, bolehkan aku menyimpan foto ini?" Tanya Aldrich sambil mengangkat bingkai foto di tangannya.
"Hmmm... Bagaimana bilangnya ya? Pemiliknya juga tidak menginginkannya, jadi ambil saja." Ucap Ron yang merujuk pada Wayne saat bilang tidak ingin membawa barang apapun.
Aldrich mengangguk dan melihat kembali tulisan di paling bawah foto.
Suatu hari nanti. Aku ingin kebahagiaan di foto ini terulang kembali.
- Wayne
__ADS_1