Anak Dari Dua Ceo

Anak Dari Dua Ceo
Bukan Dari Tempat yang Sama


__ADS_3

Sylvia terus menatap kearah pintu tempat Matt pergi, sambil sesekali ia tersenyum saat ada orang penting yang menyapanya dan mengucapkan selamat. Charles dan Ria nampak tidak memperdulikan Sylvia sama sekali. Mereka memilih mengobrol dengan para pengusaha sambil membicarakan masalah bisnis.


"Lihat itu. Ada apa dengan tunangan tuan Matt? Dia diam saja di disitu dan tidak berbaur dengan yang lain."


"Sstt! Dia itu hanya orang biasa. Jelas tidak tahu cara bersosialisasi dengan kita."


"Minder pasti. Beda kasta. Ajak ngobrol gih."


"Males ah. Lebih enak ngobrol dengan nona Emma. Orangnya asik. Sekalian mau tanya trik sulap tadi hihi."


Sylvia mendengar semua obrolan para nona muda yang diam-diam membicarakan dirinya.


Sial! Awas saja kalian kalau aku sudah resmi menjadi istri Matt. Akan kubuat keluarga kalian hancur!


Tidak lama pintu terbuka. Ternyata itu bukan Matt seperti yang Sylvia tunggu. Melainkan Emma yang nampak terburu-buru dan langsung mengarah ke meja Eclair.


Aldrich sebenarnya merasa was-was kalau bertemu Floryn. Tapi untung saja, sosok gadis kecil itu sudah tidak nampak disana. Ia jadi bebas menemani Emma mencuri Eclair.


"Nona Emma. Yang tadi itu luar biasa."


Tiba-tiba gerombolan nona muda yang berpakaian mewah mendekati Aldrich dan Emma.


"Oh? Terimakasih." Emma cengegesan sambil memasukkan beberapa Eclair ke dalam tas nya.


"Ternyata anak laki-laki yang dibawa tuan Matt adalah kenalan anda ya." Seorang nona muda lainnya berjongkok di depan Aldrich dan mengusap kepalanya. "Halo anak tampan."


"Halo juga... Em... Tante."


"Pfftt! Tante haha. Padahal kau belum menikah." Teman nona itu tertawa terbahak-bahak sambil memukul lututnya.


"Ah maaf. Em... Kakak." Ulang Aldrich.


"Tidak apa-apa panggil tante saja. Tante yang tadi cuma bercanda kok."


"Kenapa aku juga ikutan dipanggil tante?!"


"Ngomong-ngomong, anak ini bukan hanya sekedar kenalanku. Tapi dia adalah anakku." Ucapan Emma membuat semua orang terdiam. Mereka saling menatap tidak percaya.

__ADS_1


"Anakmu?"


"Seriusan?!"


"Anak angkat hehe." Emma langsung menarik Aldrich perlahan dari zona nona muda rempong yang sebentar lagi hendak bergosip itu.


"Oalah anak angkat." Semua yang mendengar itu langsung merasa lega dan mengangguk bersamaan.


"Beneran nona Emma banget ya. Tidak terduga. Bisa-bisanya tidak ada angin tidak ada hujan, mengangkat seorang anak. Apa jangan-jangan nona Emma tidak ingin menikah? Hanya ingin punya anak angkat?"


Pertanyaan dari salah satu nona itu membuat Emma terdiam sesaat. Ia berpikir bagaimana cara menjawabnya. Sebenarnya ia sendiri juga tidak tahu dengan dirinya yang masih belum memiliki kekasih bahkan orang yang dicintai.


"Entahlah. Masa depan tidak ada yang tahu. Sekarang hanya ingin fokus karir. Adopsi anak supaya ada yang diajak main kalau stress haha. Lagipula dia sudah besar, tidak perlu banyak mengurusi." Kata Emma dengan senyum kakunya. Ia tidak terlalu suka diajak bicara nona muda kaya seperti mereka.


Sudah besar apanya? Tadi aku bilang begitu tidak boleh. Aldrich hanya bisa melirik Emma dengan kesal.


"Iyakah? Sudah besar ya? Kamu sudah bisa mandi sendiri belum?" Tanya salah satu nona sambil mengusap kepala Aldrich.


Astaga, mereka ini bicara apa?! Umurku 10 tahun, dan badanku sebesar ini. Masih saja bertanya hal bodoh begitu?


"Aduh imutnyaaa."


Emma menangkap ekspresi Aldrich yang menjawab dengan ogah-ogahan. "Ah maaf ya, kami akan pulang sekarang."


"Eh? Cepat sekali nona Emma perginya. Baru saja ngasih hadiah langsung pulang? Padahal kami pikir bakal lebih lama. Kan tuan Matt adalah teman anda saat sekolah dulu."


"Masih banyak pekerjaan. Duluan ya." Emma menutup tasnya yang sudah dipenuhi Eclair. Lalu menggandeng Aldrich pergi.


"Kak, kita benar-benar akan pulang?" Tanya Aldrich dengan suara pelan.


"Iya. Kita kan sudah selesai dengan misinya. Ruri dan Ron sudah kusuruh mengambil kotak itu kembali agar tidak ada yang bisa melihat isinya. Sudah beres semua."


"Bukan begitu. Maksudku, kak Emma tidak ingin mengobrol lagi dengan kak Matt, atau kak Brandon?" Tanya Aldrich dengan wajah polosnya.


"Tidak. Jangan bahas itu dulu. Aku ingin istirahat di rumah dan melihat jadwal rapatku yang seharusnya diurus Wayne." Emma memijat dahinya dengan frustasi.


"Baiklah." Aldrich mengangguk sambil melihat pintu yang akan membawanya pada banyak watawan.

__ADS_1



Sesampainya di rumah. Aldrich dan Emma tidak bicara banyak, karena Emma langsung pergi entah memasuki ruang apa. Merasa lelah juga, Aldrich memutuskan kembali ke kamar.


Hari ini aku tidak bisa melihat keluarga Hamilton secara detail.


Aldrich berjalan mendekati meja kecil di samping tempat tidurnya. Disana tidak lagi kosong seperti sebelumnya. Ia memajang beberapa pernak-pernik yang didapat dari jalan-jalannya ke luar negeri bersama Emma. Di atas meja itu juga terdapat foto yang ia ambil dari kamar Wayne.


Beberapa hari terakhir banyak kejadian yang membuatku terkejut. Termasuk paman Wayne ini. Kenapa dia tidak mengatakan alasannya melakukan korupsi? Benarkah hanya untuk dirinya sendiri? Tapi di kamarnya tidak ada barang mewah. Dia juga tidak terlihat memakai barang mewah setiap saat. Lalu dimana semua uangnya dikirim? Dia tidak membicarakannya.


Setelah puas memandangi foto itu, Aldrich merebahkan diri diatas kasurnya yang empuk.


Sekarang kehidupanku sudah jauh berubah. Kasurku yang tipis dan keras, berubah jadi empuk dan halus seperti bulu angsa. Apakah ini layak? Aku hanya ingin mencari ayahku. Aldrich merubah posisi tidurnya menjadi tengkurap, dan kembali menatap meja kecilnya yang meriah.


"Benar juga! Kenapa aku lupa memasangnya?"


Aldrich buru-buru bangkit dan menuju lemari pakaiannya. Disana terdapat tas kecil yang berisi barang-barang milik Aldrich yang ia bawa dari rumahnya. Setelah mencari, akhirnya ia menemukan foto sang ibu yang berada di dalam bingkai kardus buatannya dulu.


"Maaf ibu. Bukannya aku melupakanmu. Tapi aku baru saja menata mejanya tadi pagi, dan buru-buru berangkat. Jadi tidak sempat memajang fotomu. Ehehehe maaf bu, aku selalu membuat alasan." Aldrich berjalan mendekati meja dan menaruh foto ibunya disana.


Di meja ini berisi dua kenangan. Yang satunya ibuku, satunya lagi ibu angkatku hehe.



Emma masuk ruang kerjanya yang berada di lantai dua kediamannya. Sebenarnya ruangan ini jarang ia pakai. Karena lebih enak mengerjakan sesuatu di perpustakaan. Tapi berkas-berkas penting tetap tersimpan di ruangan ini.


Perlahan Emma membuka satu persatu laci meja kerjanya yang besar untuk mencari sebuah dokumen.


"Wayne, tolong carikan-" Emma tidak sadar menatap ruang hampa di sisinya. Biasanya Wayne selalu berdiri didekatnya untuk membantu apapun yang ia butuhkan. Tapi sekarang orang itu sudah tidak ada. Emma cukup sulit membiasakan diri. Kemarin saja ia terus melakukan itu hingga lebih dari 100 kali.


Sepertinya aku perlu sekertaris baru.


Emma duduk di kursi kerjanya sambil menyandarkan punggung lelahnya. Ia kembali memijit dahi sambil memainkan kursi.


Padahal aku ingin bekerjasama dengan beberapa investor baru. Tapi tidak ada sekertaris yang bisa membuatkanku jadwal. Bagaimana ini? Harus cepat cari penggantinya. Yang pintar, cekatan, dan sehati denganku.


Benar juga! Cari yang tampan sekalian. Siapa tahu bisa menjadi jodohku. Mwehehehe.

__ADS_1


__ADS_2