Anak Dari Dua Ceo

Anak Dari Dua Ceo
Jadi Detektif


__ADS_3

Pesawat yang ditumpangi Aldrich dan yang lain sudah mendarat dengan aman. Sepanjang perjalanan, Aldrich terus memikirkan tentang Sylvia yang duduk di bangku belakang dengan selingkuhannya. Ia memikirkan banyak rencana untuk bisa mengajak Emma ikut serta tapi tidak terlalu mencolok. Saat turun dari pesawat pun, Aldrich sengaja menahan Emma sebentar agar Sylvia bisa turun lebih dulu, sehingga Aldrich bebas melihat gerak geriknya dari belakang. Sangat susah mengawasi orang jika ia berada di depan.


"Non, temenin ke toilet dong." Ruri memegang perutnya yang tiba-tiba terasa mules.


"Kau ini seperti anak kecil saja. Pergi sendiri lah."


"Aduh, tidak bisa bahasa Inggris non. Nanti malah masuk toilet laki-laki gimana?"


"Kan ada gambarnya. Masa iya gambar orang pakai rok itu toilet laki-laki."


"Lama ah. Ayo!" Ruri menarik paksa Emma ke kamar mandi.


"Al!!! Tolong aku diculik untuk boker!"


Aldrich hanya melambaikan tangan sambil tersenyum kearah Emma.


Setelah memastikan Emma benar-benar pergi. Aldrich berjalan mendekati Sylvia yang sedang membeli minuman soda bersama pacarnya di depan mesin minuman otomatis.


"Sayang, nanti kita menginap di hotel mana?" Tanya si laki-laki sambil menyandarkan tubuhnya di mesin minuman.


"Hotel Sun Flower aja. Deket dari sini. Tinggal naik taksi." Jawab Sylvia setelah meneguk minumannya.


Aldrich terus menyimak pembicaraan mereka sambil duduk tidak jauh dari tempat mereka mengobrol. Ia pura-pura makan permen lolipop coklat yang sebelumnya diberikan Emma.


"Astaga Matt itu bodoh sekali ya. Sampai kapan kita mengeruk uang dari si bodoh itu?"


"Sampai uangnya habis hahaha." Sylvia tertawa terbahak-bahak sambil berjalan menjauh bersama pacarnya.


Sebelum uangnya habis. Kakak cantik dulu yang akan habis. Aldrich tersenyum dan kembali berlari mendekati koper Emma dan Ruri yang ditinggalin.


15 menit kemudian. Emma dan Ruri keluar dari toilet. Wajah Emma tampak berseri-seri, sementara Ruri terlihat pucat.


"Aku diare." Ucap Ruri sambil mengusap perutnya.


"Salahmu sendiri makan saos kebanyakan." Cibir Emma. "Menunggumu buang air, aku bisa benerin make up dulu nih. Udah cantik belum?"


"Masa bodoh lah. Aku ingin buang air lagi!" Sebelum Ruri berlari ke toilet, Emma menahan tangannya.


"Tahan sebentar. Hotel kita dekat kok. Buang air disana saja. Dari pada aku dan Aldrich menunggumu buang air disini?"


Aldrich mencolek lengan Emma dan bertanya. "Memangnya kita akan menginap di hotel mana kak?"

__ADS_1


"Namanya hotel Sun Flower. Banyak bunga matahari di lobinya loh. Katanya lagi viral."


Sip bagus. Kita akan menginap di hotel yang sama dengan kak Sylvia tadi.


"Apapun itu ayolah." Ruri yang sudah tidak tahan berlari lebih dulu untuk mencari taksi.


"Hati-hati nanti berceceran di lantai!!!" Teriak Emma sambil menggandeng Aldrich, dan menarik koper dengan tangan satunya.


"Nona, jangan buat aku malu. Masih tahan kok!" Balas Ruri dengan wajah memerah.


Setelah keluar dari bandara, Ruri berhasil mendapatkan taksi bermodalkan teriak 'help me' dan membuat orang-orang disekitarnya salah paham.


Benar saja, tidak butuh waktu lama, mereka akhirnya sampai di hotel yang dituju. Penampakan hotel dari luar sangatlah unik. Banyak hiasan bunga matahari dan warna yang dominan kuning, membuatnya terlihat sangat mencolok dari jauh. Hotel itu juga tidak terbilang besar. Hanya ada sekitar 7 lantai jika dilihat dari luar.


"Ayo kita masuk." Emma memimpin jalan dan menuju meja resepsionis. Aldrich sendiri membantu Ruri yang kesulitan berjalan karena menahan mules.


Ditengah kesibukannya menjaga Ruri, Aldrich juga celingukan mencari keberadaan Sylvia. Semoga saja kak Sylvia tadi tidak melihat kami disini.


"Ayo. Aku sudah memesan kamar." Emma datang sambil membawa kunci kamar yang berbentuk seperti kartu.


"Iya aku sudah tidak tahan."


"Hati-hati bibi Ruri. Kalau salah melangkah nanti keluar semua." Ucap Aldrich pelan.


Aduh seneng deh ada yang bilang cocok. Emma berjalan disisi Ruri dengan hati berbunga-bunga.


Akhirnya setelah banyak drama terjadi selama perjalanan menuju kamar, mereka sampai disana dengan selamat. Dan Ruri langsung bertapa di kamar mandi tanpa memperdulikan kopernya yang dibawa oleh sang nona.


"Wah bagus sekali." Aldrich terpesona melihat seisi kamar. Baru kali ini ia melihat kamar hotel yang sesungguhnya. Biasanya ia hanya melihat dari iklan hotel di koran bekas. Ditambah hotel ini sangatlah unik. Banyak bunga matahari yang disusun rapi di berbagai sudut. Bahkan seprai yang mereka gunakan memiliki motif bunga matahari, berbeda dari kebanyakan hotel yang memakai seprai polos.


"Kamu suka?" Tanya Emma yang langsung dijawab anggukan kepala Aldrich. "Syukurlah."


"Dingin ya kak."


"Benar juga. Sedang musim dingin disini. Kukira tidak akan sedingin ini. Nanti kita beli baju hangat ya. Tunggu Ruri dulu, kita akan keluar bertiga. Kasihan dia kalau tidak dibelikan juga."


Kak Emma benar-benar baik. Kapan ya dia akan bertemu jodohnya? Kuharap kekasihnya kelak adalah orang yang menyukainya juga. Dan... Kuharap kak Matt juga begitu. Kasihan dia.


"Kak. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan?"


"Hm? Apa? Jika kau ingin menolak membeli baju, maka aku tidak ingin dengar apapun." Emma ingin menutup telinganya tapi Aldrich menghalangi.

__ADS_1


"Ini soal kak Matt. Tadi aku-"


"Leganyaaaaa~" Ruri keluar kamar mandi sambil mengusap perutnya yang sudah membaik.


"Stop! Jangan bicara dulu Ruri. Aldrich ingin bicara soal Matt."


"Ups! Pantes ngamok. Ikut dengerin juga dong." Ruri duduk di samping Emma dengan sikap seperti anak rajin di sekolah.


"Jangan beritahu siapa-siapa dulu ya." Ucapan Aldrich dijawab anggukan kepala yang kompak dari Emma dan Ruri. "Tadi aku melihat tunangan kak Matt. Bersama laki-laki yang terlihat seperti pacarnya."


"Selingkuh?! Ya ampun. Sekelas tuan Matt Hamilton diselingkuhi? Laki-laki bak pangeran mana yang lebih tampan dan kaya dari tuan Matt?" Ruri sangat histeris.


"Menurutku bukan begitu bi. Mereka seperti memiliki niat lain."


"Tentang uang?" Tanya Emma dengan ekspresi yang tiba-tiba terlihat marah.


"Ya. Mereka bilang 'mengeruk harta si bodoh Matt' begitu."


"Mana orangnya?! Aku akan pinjam kapak hotel." Emma tiba-tiba berdiri.


"Dimana kamu melihatnya?" Tanya Ruri.


"Di pesawat, dan kemudian aku mendengar mereka akan menginap di hotel ini juga."


"Bagus. Ayo baku hantam." Emma meninju udara seolah akan memulai pertandingan yang sengit. "Eh tunggu! Kenapa kamu tidak bilang dari tadi sama aku, Al?"


"Karena meskipun kak Emma membuat kerusuhan dengannya. Tidak akan membuat kak Matt berhenti bertunangan dengan dia."


"Benar juga! Yang harus kita lakukan adalah membongkar perselingkuhan mereka!" Ucap Ruri dengan semangat.


"Iya ya. Kalau aku menghajarnya disini, Matt tidak akan percaya padaku dan membela calon tunangannya. Aku juga akan dilaporkan polisi dengan dugaan kekerasan." Emma akhirnya tersadar.


"Benar. Dan yang lebih penting, kak Emma jangan sampai menampakkan diri didepan kak Sylvia itu."


"Eh kenapa?"


"Karena nona belakangan ini terkenal." Celetuk Ruri.


"Ya benar, karena kakak terkenal. Banyak berita yang mengatakan kalau kak Emma kekayaannya hampir menyamai keluarga Hamilton, dan foto kak Emma sudah terpampang di berbagai surat kabar. Kak Sylvia itu tahu benar kalau kak Matt pasti akan mengundang orang-orang penting ke acara pertunangan, kak Emma kan juga termasuk orang penting. Jadi kalau kak Emma melihat dia selingkuh, maka dia akan lebih dulu membuat alibi pada kak Matt. Agar kalau sewaktu-waktu saat kak Emma membocorkannya, kak Matt tidak akan percaya. Dan menganggap kak Emma pembohong."


"Wah kamu pintar Al." Emma memeluk Aldrich dengan haru.

__ADS_1


Ruri menatap Aldrich dari sela-sela tangan Emma. Tuh kan aneh. Kenapa Aldrich bisa kepikiran sampai sana ya? Aku saja tidak kepikiran. Berarti benar dugaanku, dia tidak seperti anak-anak lain.


"Ayo! Waktunya main detektif!!!" Emma terlihat bersemangat.


__ADS_2