
Keesokan harinya.
Di sebuah restoran.
Di salah satu meja, terdapat dia orang pria dan wanita yang sedang menikmati hidangan mewah mereka.
"Nanti malam bagaimana?" Tanya Ria dengan takut-takut pada Charles yang sudah memasang tampang emosi.
"Ck! Terpaksa aku akan datang. Anak tidak tahu diuntung itu hanya bisa merepotkanku. Kalau aku tidak hadir, para kolega dan pesaing bisnis akan berpikir buruk tentangku, dan mereka juga akan tahu kalau hubunganku dengan Matt sedang tidak bagus. Sialan! Undangan disebar oleh Matt dengan cepat. Kalau dibatalkan mau ditaruh mana muka keluarga Hamilton?"
"Tenanglah. Mungkin kali ini perempuan pilihan Matt tidak benar. Tapi siapa tahu berkat cinta tulus dari Matt, Sylvia akan berubah sikap." Ria mencoba menenangkan Charles.
"Huh! Mana mungkin perempuan sampah itu otaknya bisa berubah. Dasarnya Matt saja yang buta, tidak bisa melihat kebusukannya." Gerutu Charles sambil mengiris steak di piringnya dengan marah.
"Baiklah. Jangan terlalu emosi. Tidak baik untuk kesehatanmu."
"Oh iya, setelah ini ayo ke makam Lynda." Ucap Charles sambil menatap Ria.
"Iya. Beberapa hari ini aku belum ke makam nona Lynda."
"Biasanya kamu rutin kesana."
Ria hanya tersenyum. Ia tidak mungkin bilang karena Matt belakangan ini sering memberinya banyak pekerjaan hingga memaksanya lembur. Kalau Charles tahu. Bisa-bisa dia kembali marah pada Matt.
"Setelah ini ayo beli bunga."
"Baik." Ria mengangguk dengan patuh.
◌
__ADS_1
Matt sedang serius mengerjakan tugasnya sebagai CEO sementara Hamilton Group. Sebenarnya ia sangat sibuk sekarang, karena perusahaan yang harus ia urus bukan hanya Hamilton Group. Tapi ia mempunyai perusahaan lain dengan skala yang lebih kecil.
Matt berjaga-jaga kalau seandainya penerus kekayaan keluarga Hamilton bukan dia, minimal ia sudah memiliki perusahaan sendiri dan tidak menggantungkan hidupnya pada keluarga.
"Sayangku~" Seorang perempuan tinggi semampai dengan lekuk tubuh seksi berjalan mendekati Matt. "Malam nanti adalah acara pertunangan kita. Kenapa kau masih sibuk bekerja?" Sylvia dengan manja memeluk Matt dari belakang.
"Kau sudah pulang? Bagaimana keadaan nenekmu di desa? Kenapa kau tidak mengirimkan pesan sama sekali padaku?" Matt pura-pura kesal.
"Ya ampun sayang, di desa itu susuh sinyal. Lagipula nenekku sangat cerewet. Dia memberi banyak wejangan soal pertunangan kita nanti." Sylvia mengusap kepala Matt untuk menenangkan kekasihnya itu.
"Apa nenekmu akan datang? Aku bisa memesankan limosin untuknya."
"Tidak. Dia itu sakit-sakitan. Aku takut perjalanan jauh membuatnya capek. Lebih baik kapan-kapan saja kita mengunjunginya." Elak Sylvia yang langsung dijawab anggukan kepala Matt.
Sylvia baik sekali. Suka memperhatikan kesehatan neneknya.
"Oh? Sayangku mau apa?"
"Yey! Apa kau ingat mobil pink yang pernah kita lihat di New York? Aku ingin itu. Tapi jika tidak boleh, tidak apa-apa kok." Sylvia bersikap imut.
"Kenapa tidak boleh? Tentu saja boleh. Apa kau ingin yang lain? Akan kubelikan apapun yang kau mau." Matt mencubit pipi Sylvia dengan gemas.
Sylvia yang mendengar itu langsung senang bukan main. Senyumnya mengembang, dan buru-buru mengatakan keinginannya. "Aku ingin kalung yang pernah dikatakan temanku. Katanya, ada kalung mutiara dari kerang yang berusia ratusan tahun. Belikan dong sayang."
"Baiklah. Aku akan menelpon orang untuk membelikannya untukmu. Nanti malam pakai ya."
Astaga mudah sekali mengeruk uang Matt. Tapi aku ingin lebih. Bagaimana supaya aku mendapatkan uang Matt tanpa perlu merayunya seperti ini? Melelahkan!
Hmmm... Bagaimana jika aku menjebak Matt saja seperti yang dikatakan Korn?
__ADS_1
Matt itu membosankan, dia tidak mau tidur denganku. Aku bisa menjebaknya agar seolah-olah dia tidur denganku. Setelah itu dia akan merasa bersalah dan memberiku banyak uang tanpa kuminta.
Ide bagus!
◌
Rumah Emma.
"Oke hadap ke depan Al. Jangan bergerak."
Suasana yang jauh berbeda, terasa di rumah Emma. Perempuan itu sedang menyulitkan semua orang dengan ide anehnya.
"Kak, kenapa aku harus tiduran disini?"
Aldrich sekarang sedang tiduran dengan patuh diatas kardus raksasa dan Emma mengukurnya dengan penggaris. Lalu sedikit menggambar sesuatu yang tidak diketahui Aldrich.
"Sudah diam dulu." Emma mencoret-coret kardus yang sedang ditiduri Aldrich dengan pensil. Ekspresinya terlihat serius. "Ron! Berikan aku penghapus."
Ron yang dipanggil langsung sigap mengambil penghapus. "Ini nona."
Setelah menghapus beberapa bagian, akhirnya Emma tersenyum puas dan melompat kegirangan. "Oke selesai!"
Aldrich perlahan berdiri dan melihat apa yang digambar Emma menggunakan cetakan tubuhnya. Tapi ternyata bukan gambar orang atau sesuatu seperti di pikiran Aldrich. Melainkan gambar kotak dengan tinggi melebihi tubuhnya saja.
"Kalau cuma kotak begini, seharusnya tidak perlu membuatku tiduran disana." Ucap Aldrich.
"Memangnya nona ingin membuat apa sih?" Ruri mengintip dari balik punggung Ron.
Emma tertawa seperti seseorang yang baru memenangkan sesuatu. "Aku membuat sebuah karya seni."
__ADS_1