
"Ayah dia siapa?" Tanya anak laki-laki yang menyebut dirinya Chris itu.
"Oh ini." Wayne menepuk bahu Aldrich seolah sangat akrab. "Dia anaknya teman ayah. Tadi tersesat di pasar. Jadi ayah ajak saja dia kesini. Sekalian bisa main sama Chris."
Aldrich langsung menoleh kearah Wayne. Tunggu, apa? Siapa yang tersesat? Siapa juga yang ingin jadi temannya? Aku siapa? Aku dimana?
"Halo namaku Chris." Tangan Aldrich langsung diajak bersalaman dengan paksa oleh Chris.
"A-aku Aldrich."
"Kita main masak-masakan yuk." Lagi-lagi Chris melakukan pemaksaan terhadap Aldrich, dengan menariknya kearah taman yang terdapat mainan plastik berupa kompor dan mangkok.
"Kamu kan laki-laki, kenapa main masak-masakan?" Tanya Aldrich.
"Eh? Kata ayah, koki banyak yang laki-laki kok. Cita-citaku jadi koki. Supaya bisa masak untuk semua makhluk. Termasuk gajah dan buaya. Aku takut buaya karena giginya banyak. Tapi kata ayah, buaya sebenarnya suka makan kue, hanya saja dia malu. Jadi aku ingin membuat kue yang enak supaya buaya tidak malu lagi."
Aldrich menepuk dahinya. Astaga anak ini bicara tanpa henti. Lagipula apa-apaan itu? Buaya makan kue? Konyol.
"Berapa usiamu?" Tanya Aldrich.
"Aku 7 tahun."
Aldrich menggelengkan kepalanya pelan. "Dengar ya, Chris. Buaya adalah reptil bertubuh besar yang hidup di air. Secara ilmiah, buaya meliputi seluruh spesies anggota famili Crocodylidae. Buaya juga bisa disebut aligator, kaiman dan gavial. Makanan utama buaya adalah hewan-hewan bertulang belakang seperti bangsa ikan, reptil dan mamalia, kadang-kadang juga memangsa moluska dan krustasea bergantung pada spesiesnya."
"Hahaha apa itu? Aku tidak paham."
Hah?! aku di umur 7 tahun sudah hafal semua hewan di luar kepala.
Aldrich celingukan mencari keberadaan Wayne. Tapi ternyata orang itu sudah lebih dulu masuk rumah, dan meningalkan dirinya bersama anak aneh yang berpikir buaya makan kue.
◌
Emma menatap tajam kearah komputernya yang sedang menampilkan berita palsu tentang dirinya.
"Ah tidak! Turun lagi! Saham kita turu lagi!!!!" Ezra berteriak histeris sambil menggoncangkan tablet di tangannya. "Kalau terus begini, kita akan jatuh miskin huhuhu." Lanjutnya sambil menangis.
Emma meremas tangannya dengan kesal. Keluarga Hamilton! Berani sekali kalian!!!
Drrttt!
Emma melirik ponselnya yang bergetar diatas meja. Disana tertulis 'Home'.
__ADS_1
"Halo?"
"Nona, gawat!!!" Suara Ron terdengar panik.
Brak!
Ezra sampai melompat kaget saat Emma tiba-tiba memukul meja setelah mengangkat telpon. "Kenapa? Ada apa?"
"Aku harus pulang. Kau disini saja."
"Apa? Aku ditinggal nih? Tapi kakak, di bawah banyak wartawan loh. Mereka akan menghujanimu pertanyaan."
"Tenang saja, ini perusahaanku jadi aku tahu bagaimana pergi dari sini tanpa lewat pintu utama. Yang lebih penting..." Emma menunjuk kursinya pada Ezra. "Kau jaga disini dan terus pantau situasi di sosial media. Saat kusuruh kau harus siap."
"Eh? Suruh apa?"
"Entahlah. Aku pergi dulu." Emma buru-buru mengambil jas dan tasnya.
Ya ampun, aku disuruh melakukan hal yang tidak pasti.
◌
"Seperti yang sudah saya jelaskan di telepon. Aldrich pergi dan sampai sekarang belum kembali." Ron menuntun Emma masuk kamar Aldrich yang sebelumnya ada insiden lemparan batu. Dan saat melihat keadaannya, kaca jendela benar-benar pecah.
Emma celingukan kearah lantai. "Dimana batu yang Al lempar?"
"Eh? Saya juga belum melihatnya. Sebentar, saya bantu cari." Ron ikut melihat ke sudut lantai dan mencari ke bawah ranjang. Akhirnya ia menemukannya. "Ini nona!"
"Sudah kuduga." Emma mengambil batu itu yang ternyata dililit oleh karet yang di ujungnya terdapat kertas yang dilipat menjadi kecil. Ron baru menyadari itu, karena sebelumnya hanya melihat saat Aldrich melemparnya.
Emma membuka kertas itu, dan membaca tulisan yang berada di dalamnya.
Aku tidak pergi. Hanya akan mengecoh mereka sebentar. Tunggu aku pulang. Bukankah kita sudah berjanji?
Emma tersenyum, lalu menaruh kertas itu diatas kasur. "Aku yakin Al baik-baik saja sekarang, aku percaya padanya. Sekarang bawa aku menemui orang yang disandera."
"Lewat sini nona." Ron memimpin jalan dan Emma mengikutinya.
Mereka pikir bisa menang begitu saja? Bodoh.
Tok! Tok!
__ADS_1
Emma dan Ron sepontan berhenti berjalan setelah mendengar ketukan pintu. Mereka lalu sepakat untuk merubah rute ke pintu depan. Sekarang keadaan lantai satu sedang sepi karena Ruri dan si kembar berada di lantai dua. Perlahan Emma membuka pintu dengan sebuah sapu yang sudah ia bawa untuk berjaga-jaga.
"Akhirnya, apa kau baik-baik saja? Kenapa membawa sapu?"
Emma terdiam setelah melihat ternyata orang yang datang adalah Matt, dan Ryker.
"Kenapa kau kesini?" Tanya Emma dengan nada ketus.
"Ah itu, aku... Khawatir pada Aldrich. Apa dia baik-baik saja? Bisa aku bertemu dengannya?" Ucap Matt.
"Bertemu?" Emma tersenyum sinis. "Untuk apa? Agar bisa kau bunuh? Dari awal, jangan-jangan kau menyuruhku mencari anak untuk dibunuh ya?!"
"Kau sudah tahu? Dengar, aku tidak sama seperti mereka. Itu semua ide nenek. Percayalah."
"Huh? Tiba-tiba membuat pembelaan, malah terdengar semakin mencurigakan." Emma membuang muka. "Lalu kalau kau tidak berada di pihak mereka, kenapa tidak memberitahuku dari awal? Atau minimal seminggu yang lalu, saat kita liburan. Tapi kau malah menghilang. Bukankah itu mencurigakan?"
"Aku ditahan oleh nenekku." Bela Matt.
"Lalu kenapa tidak berusaha kabur?"
"Saya sependapat dengan nona." Ryker mengacungkan ibu jarinya.
"Kau ini!" Matt menyingkirkan tangan Ryker. "Jujur saja aku tidak tahu tentang Aldrich. Dan setelah aku mengerti, nenek menahanku. Aku akui saat itu aku memang bodoh karena tidak mencoba kabur, tapi-"
"Bukan saat itu, tapi sekarang anda juga masih bodoh." Sela Ryker.
"Bisa diam tidak?!"
"Saya hanya meluruskan fakta."
Emma dan Ron malah menjadi penonton dadakan dari drama boss vs sekretaris. Entah apa yang mereka perdebatkan, tapi itu terlihat tidak penting.
"Jadi intinya apa?" Emma melipat tangannya dengan ekspresi kesal.
"Intinya, aku berada di pihakmu dalam membalas keluarga Hamilton. Sebenarnya, aku ingin keluargaku sadar dengan kelakuan mereka yang salah, dan ingin memperbaiki tatanan keluarga yang gila ini. Jadi... Mari berteman." Matt mengulurkan tangannya kearah Emma.
Perempuan di depannya terlihat tidak yakin. Ia berkali-kali menatap Matt kemudian beralih ke Ryker. Mereka berdua tidak terlihat seperti orang yang sedang berbohong.
Jadi bisakah aku percaya?
Emma menerima uluran tangan Matt.
__ADS_1