
Keesokan harinya.
Langit masih belum berubah warna. Sinar matahari belum terlihat dari ufuk timur. Tapi entah keajaiban dari mana, Emma sudah bangun dan sedang duduk di pintu belakang dekat dapur. Ia melamun seperti orang yang penuh beban pikiran.
"Dududu~" Ruri bersenandung sambil membawa cucian sprei untuk dijemur.
Hari ini jemur sprei lebih awal, supaya nanti bisa pergi sama ayang makan bakso di perempatan. Hihi senangnya. Tuan Ron kemarin sudah mengijinkanku dan ayang pergi.
Saat Ruri hendak keluar melalui pintu belakang, ia melihat Emma yang duduk menghalangi jalan.
"Ya ampun! Setan dari mana kau? Pergi dari sini!" Ruri berteriak sambil mengangkat bak cuciannya untuk dilempar pada Emma.
"Kau ini kenapa? aku Emma, nona mu."
"Tidak mungkin! Nona Emma itu tidak pernah bangun pagi. Sekalipun tidak tidur, pasti dia berada di ruang kerja dan keluar saat hari sudah siang. Kau pasti setan yang menyerupai nona Emma!"
"Ruri, kau punya dua pilihan. Satu, dengarkan curhatanku lalu kukasih bonus gaji. Atau dua, terus saja mengataiku setan lalu kau hanya akan melihat satu lembar uang di amplop gajimu."
"Hehe bercanda, non. Ya ampun, gitu aja marah. Sini mau curhat apa?" Ruri menaruh ember cuciannya dan duduk di samping Emma.
"Al hari ini minta ijin untuk lihat-lihat rumah lamanya." Emma langsung terlihat lesu.
"Lalu?" Ruri memiringkan kepalanya dengan bingung. Ia merasa tidak ada yang salah dengan itu.
"Bodoh! Bagaimana kalau dia meninggalkanku?"
"Ha? Nona, anda terlalu banyak berpikir."
"Kemarin dia kuajak ke perusahaan. Nah, disana dia hanya melamun dan terlihat bosan. Aku juga sibuk karena ada dua rapat sekaligus. Matt malah ikut mengganggunya, dan mengajarkannya hal buruk. Al terlihat malas dan malah bergaul dengan Ezra."
Siapa Ezra? Ruri hanya menggaruk kepalanya karena bingung.
"Lalu tiba-tiba dia ingin pulang. Huwaaaa Al pasti tidak mau bersamaku lagi." Emma menutupi wajahnya dengan sedih.
"Aldrich hanya ijin ke rumah lamanya. Dia tidak akan meninggalkanmu."
"Hiks, bisa saja kan katanya lihat-lihat trus waktu kujemput dia bilang ingin menginap beberapa hari, lalu tidak kembali ke sini."
"Anda terlalu banyak berpikir. Adakalanya orang merindukan sesuatu di masalalu, tapi kenyataan kalau kita hidup di masa sekarang itu tidak bisa dipungkiri. Jadi, apapun yang terjadi, Aldrich pasti kembali. Karena anda adalah dunianya yang sekarang."
Emma menatap Ruri dengan mata berkaca-kaca. "Benarkah?"
"Ya benar."
"Huhu terimakasih Ruri." Emma memeluk Ruri penuh haru.
__ADS_1
"Sama-sama, dan jangan lupa bonusnya."
Aldrich yang sebenarnya mendengarkan dari jauh, tersenyum puas melihat adegan dramatis disana.
Aku ragu mengatakan permintaanku, karena aku sudah menebak kalau kak Emma akan berpikir begitu. Untung saja kata-kata bibi Ruri bagus. Serasi sekali dengan paman Darma.
Aldrich kembali ke kamarnya dengan langkah hati-hati agar tidak di ketahui Ruri dan Emma.
Sesampainya di kamar, Aldrich mengambil tas kecil, dan memasukkan buku catatannya beserta pulpen ke dalam. Ia bermaksud ingin menggali informasi lebih dalam jika menemukan sesuatu yang disembunyikan ibunya di dalam rumah.
Aku yakin ibu memiliki sesuatu. Fakta soal bros yang masih disimpan itu membuatku yakin kalau masih ada barang-barang lainnya yang bisa kujadikan pentunjuk. Dulu saat di rumah, selain suka melihat jendela, ibu juga suka membuka laci kecil dibagian bawah lemari baju. Ibu bahkan selalu menguncinya dan melarangku untuk membukanya.
Disana pasti ada sesuatu!
◌
07:30 pagi.
Aldrich dan Emma sudah sampai di kawasan dekat rumah lama Aldrich.
"Kamu yakin turun disini saja, Al?"
"Iya kak. Aku ingin jalan sendiri ke rumah."
Aldrich melirik Emma dan menangkap ekspresi khawatir ibu angkatnya itu.
Emma tersenyum lebar dan kekhawatirannya seketika hilang. Al, berarti akan kembali!
"Akan kusuruh Ron membuatkannya lagi. Oh iya, bagaimana dengan makan siangmu?"
"Aku bisa beli mie instan, bisa sekalian dibuat di warung."
Emma mengangguk senang. "Oke, tapi hati-hati ya. Jam tangannya jangan di lepas. Dan tekan tombol merah di samping untuk mengaktifkan mode darurat. Itu terhubung ke ponselku."
Ternyata jam tangan ini bisa melakukan itu juga.
Aldrich mengangguk. "Baik kak."
Akhirnya mobil Emma pergi setelah pengemudinya mengucapkan 'hati-hati' lebih dari dua puluh kali.
Baiklah. Mulai dari sini aku akan menghafalkan kondisi jalan.
Jika dilihat-lihat, tempat ini memiliki banyak tikungan dan banyak gang buntu. Orang yang tidak tinggal di tempat ini akan mengiranya sebagai labirin raksasa.
Haha cukup bagus jika dijadikan tempat persembunyian. Apalagi, rumahku berada di paling ujung perkampungan padat ini.
__ADS_1
Jadi apakah... Ibu sudah memperkirakannya?
Aldrich berjalan pelan sambil mengunyah permen karet pemberian Ron. Ia juga berpikir kalau permen karet bisa mengurangi rasa ketegangan saat nanti ia mengobrak-abrik rumahnya. Semoga jika sambil makan permen karet ia tidak pingsan. Sedih juga rasanya kalau pingsan tapi tidak ada yang menolong.
"Eh? Lho nak Aldrich kan ini?"
Aldrich menoleh dan mendapati pak Hendro, ketua RT menyapanya. Meskipun memiliki jabatan sebagai ketua RT, tapi warganya sedikit, karena sebagian besar orang yang tinggal di sekitar sini tidak memiliki identitas resmi.
"Halo, lama tidak bertemu." Aldrich sedikit membungkuk untuk menghormati pak Hendro yang sudah berusia lanjut itu.
"Ya ampun, bapak cariin kamu loh. Kok tiba-tiba ngilang. Bapak khawatir soalnya kamu cuma tinggal sendiri sama ibumu."
Pak Hendro mungkin terlalu fokus dengan arak-arakan gajah kak Emma saat itu. Jadi tidak sadar kalau setelah itu aku ikut kak Emma pergi.
"Saya ikut tinggal sama kenalan ibu." Jawab Aldrich sepontan.
"Syukurlah ternyata ibu kamu itu punya sodara. Habis waktu pertama kali datang kesini, dia dikejar-kejar sama banyak preman. Dan sejak itu ibu kamu tidak pernah keluar dari perkampungan ini."
A-apa?!
Aldrich langsung tertarik dengan pembicaraan itu dan menatap pak Hendro dengan serius. "Maaf, bisakah bapak ceritakan lebih banyak?"
"Kamu tidak diceritain ibumu? Yaudah sini bapak ceritain. Kasihan kalau anak tidak tahu apa-apa sampai besar. Ayo ke rumah bapak, sekalian makan cemilan."
Aldrich mengikuti pak Hendro dengan emosi yang tiba-tiba meluap.
Dikejar preman huh? Pasti itu berasal dari...
◌
◌
◌
Halo... Author akan memberikan ilustrasi dua bocil di cerita ini.
Aldrich
Floryn
__ADS_1
Atau sesuai imajinasi para pembaca😆