Anak Dari Dua Ceo

Anak Dari Dua Ceo
END


__ADS_3

Hari sudah mulai sore.


"Kami pulang." Emma masuk rumah bersama Ezra dan Wayne.


"Lelah sekali." Emma langsung terkapar di depan pintu. Aldrich menghampirinya, dan menarik kedua tangan Emma untuk menyeretnya seperti beberapa hari terakhir. "Al, hari ini aku rapat sampai tiga kali. Bayangkan saja, TIGA KALI!!! Seandainya aku bisa membelah diri pasti enak. Apakah aku bisa menyuntikkan amoeba di tubuhku? Dan mendapatkan kekuatan itu?"


Aldrich merasa kasihan pada Emma, tapi ia teringat rencana Matt yang mengharuskannya mengajak Emma keluar. "Kak, ayo makan di luar."


"Hm?" Emma menatap Aldrich dengan bingung, karena tak biasanya anak itu minta makan di luar. "Maksudnya makan di luar? Di depan kolam renang? Di taman?"


"Di restoran."


Emma sepontan mengangguk. Jarang sekali Aldrich mengatakan kemauannya. Jadi sebagai mama yang baik, ia akan mengabulkannya. "Boleh. Tunggu aku bersiap dulu. Restorannya terserah aku kan? Kebetulan ada menu ayam goreng baru."


"A-aku ingin makan di restoran lain. Se-seperti steak atau yang lainnya."


Aldrich mengutuk dirinya sendiri yang tiba-tiba bicara dengan terbata. Entah kenapa kalau masalah sepele ia tidak bisa berbohong dengan baik.


Emma sempat curiga dan menatap Aldrich yang berusaha tidak melakukan kontak mata dengannya. "Baiklah. Aku akan coba mengajak yang lain. Siapa tahu ada yang mau ikut."


"Tunggu!" Aldrich langsung menahan Emma. "Ta-tadi aku sudah mengajak mereka, tapi tidak ada yang mau ikut. Lalu kak Matt bilang kalau temannya punya restoran steak yang enak. Jadi ayo kita pergi bertiga saja."


Meskipun sangat mencurigakan, tapi Emma mencoba percaya. "Baiklah ayo kita pergi."


Emma menuju kamarnya untuk bersiap. Matt yang sedari tadi bersembunyi untuk melihat keadaan akhirnya muncul. "Bagus, Al. Nanti akan kuberi kode saat sudah siap. Lalu pura-pura lah pergi ke toilet, dan ambil bunga yang sudah kutitipkan pada pelayan. Saat kuberi kode kedua, langsung muncul ya."


"Kodenya apa?"


"Ya ampun! Apa aku harus menjelaskannya juga?"


"Aku butuh rincian detailnya."



Aldrich, Emma, dan Matt akhirnya sampai di restoran yang menjual steak. Mereka masih belum memesan karena Emma kebingungan dengan jenis daging yang restoran itu tawarkan.


"Enaknya Tenderloin atau Sirloin?" Tanya Emma sambil melihat Matt dan Aldrich bergantian.


"Aku..." Aldrich menggaruk kepalanya dengan bingung. Ia tidak tahu tentang dunia daging. Buku resep makanan yang sering ia baca dulu hanya menuliskan daging sapi atau daging ayam. Apa itu Tenderloin? Sirloin? "Tenderloin saja kak." Akhirnya ia menjawab dengan asal.


"Oke. Bagaimana denganmu Matt?" Tanya Emma pada laki-laki yang asik dengan ponselnya itu. Bahkan mungkin pertanyaan Emma tidak didengar. "Matt Hamilton! Aku bicara padamu!"


"Ha? Oh terserah." Matt menjawab dengan acuh lalu kembali melihat ponselnya.


Lah? lah? Lah? Kak Matt ini bagaimana? Katanya mau menyatakan perasaan sampai menyeretku segala, tapi kenapa kak Emma malah dicuekin? Meskipun aku mengumpatinya tetap tidak akan mengubah sisi payahnya.


"Ck! Aku simpan ini!" Emma merebut ponsel Matt dan memasukkannya ke dalam tas kecil yang ia bawa.


"Hei kembalikan! Aku sedang berdiskusi hal penting." Matt mencoba mengambil tas Emma, tapi perempuan itu sudah lebih dulu menjauhkannya dari jangkauan Matt.


"Diskusinya setelah selesai makan."


"Tapi-"


Duk!


"Aduh!" Matt mengusap kakinya yang ditendang oleh Aldrich dari bawah meja.


[Aku sedang berdiskusi dengan temanku untuk kejutan Emma.] Matt bicara dengan Aldrich melalui gerakan mulut.


[Seharusnya lakukan itu tadi!] Aldrich langsung membuang muka agar tak melihat jawaban Matt.

__ADS_1


Tak berselang lama akhirnya pesanan mereka tiba. Pesanan mereka seperti didahulukan dari pelanggan yang lain. Mungkin karena pemiliknya adalah teman Matt.


Aldrich melihat steak di piringnya dengan terkejut. "Kak punyaku belum matang!"


"Memang seperti itu Al. Namanya Medium Rare. Tidak suka? Aku bisa memesankannya lagi dengan tingkat kematangan Well Done."


Aldrich menggeleng. Meskipun asing dan terlihat aneh, tapi entah kenapa ia sangat tergiur hanya dengan mencium aromanya.


Baiklah, waktunya mencoba makanan orang kaya.


Aldrich sudah bersiap dengan garpu dan pisaunya. Ia sangat penasaran dengan rasanya. Tapi belum juga menyentuh daging menggiurkan itu, Matt tiba-tiba batuk dengan aneh.


Uhuk! Ehem! Ehem! Uhuk!


Setidaknya ijinkan aku mencicipinya sedikit! Menyebalkan!


Klotak!


Emma terkejut melihat Aldrich yang melemparkan garpu dan pisau ke piring dengan sebal. "Kenapa Al?"


"Ah itu... Perutku tidak enak. Aku ke toilet sebentar ya kak." Aldrich langsung berlari pergi sambil mengumpati Matt dalam hati.


"Al kenapa ya?" Tanya Emma sambil melihat kepergian Aldrich.


"Entahlah... Mungkin benar-benar sudah tidak tahan mau ke toilet." Matt melihat sekitar untuk mencari momentum yang tepat. Ia sebenarnya sangat gugup sekarang. Tapi mengingat perjuangan orang-orang yang membantunya sekarang, ia harus berusaha semaksimal mungkin.


"Anu... Emma-"


"Jangan-jangan Al mual karena melihat dagingnya masih merah? Apa kita harus mengganti makanannya?" Emma menyela dengan ekspresi khawatir.


"Kurasa tidak. Dia seperti menyukainya." Jawab Matt yang tadi melihat Aldrich hendak memakan steak itu.


Matt kembali gugup. Bagaimana kalau Emma tiba-tiba menyelanya lagi? Semua keberanian yang sudah ia kumpulkan akan hilang.


"Begini Emma-"


"Sepertinya kita harus membelikan obat sakit perut untuk Al! Bagaimana kalau itu semakin parah?"


Sabar. Matt mengelus dadanya dengan mata terpejam.


"Kau kenapa? Ikut mules?"


Matt menggeleng. "Aku ingin membicarakan sesuatu yang serius denganmu."


"Biar kutebak. Kau pasti khawatir juga dengan Al dan ingin membawanya ke rumah sakit kan? Tidak usah. Al itu tidak suka diperlakukan terlalu berlebihan. Cukup belikan saja dia obat."


Matt tersenyum dan mengusap kepala Emma pelan. "Kau sangat menyayangi Al ya."


Wajah Emma tiba-tiba memerah. Ia menjawab tanpa melihat kearah Matt. "Tentu saja! Dia anakku."


"Bisakah kau menyayangiku juga?"


Deg!


Emma terkejut mendengar kalimat itu keluar dari mulut Matt. Ia sangat kebingungan sekarang. "A-apa maksudmu?"


"Lihatlah kesana." Matt menunjuk kearah langit yang bisa dilihat dengan jelas melalui jendela kaca disamping mereka. Emma menurutinya.


Ternyata di langit terbang ratusan drone yang menyala. Drone itu membentuk formasi tulisan raksasa dilangit, berbunyi Will you marry me?


"I-itu..." Emma berdiri dari kursinya dan mencari posisi untuk melihat langit dengan lebih jelas.

__ADS_1


"Jawaban-"


"Hebat sekali! Apakah ada orang di restoran ini yang sedang melamar kekasihnya? Romantis. Jadi pingin."


Matt menepuk kepalanya dengan frustasi. Bagaimana mungkin Emma masih belum paham?


"Aku yang menyuruh orang menerbangkan itu."


Emma terkejut. "Benarkah?! Kau... Sedang melamar seseorang?"


"Ya."


"Kenapa kau tidak memberitahuku? Siapa perempuan itu? Aku mau bertemu! Awas saja kalau orangnya seperti Sylvia lagi."


Matt tersenyum sambil merogoh saku celananya. "Aku akan mempertemukanmu dengannya." Benda yang ia ambil adalah cermin.


"Apa itu?"


"Lihat! Dialah orang yang sedang kulamar sekarang." Matt mengarahkan cermin itu di depan wajah Emma.


"A-aku?" Tanya Emma dengan suara bergetar. Ia sangat syok sekarang. Benarkah Matt melamarnya? Apa yang harus ia lakukan?


"Iya. Aku mencintaimu, Emma."


Emma terkejut setengah mati. Kedua tangannya menutup mulutnya yang menganga lebar. Otaknya seakan tidak berfungsi. Ia terkejut, bingung, senang.


Matt menyukaiku? Dia? Lalu bagaimana denganku? Apakah aku juga menyukainya? Aku...


"Emma. Maukah kau-"


"Kak, katanya bunganya harus bayar dulu." Aldrich tiba-tiba muncul diantara Emma dan Matt dengan tangan yang menengadah meminta uang.


"JANGAN GANGGU DULU!" Matt emosi. Sedari tadi ia terus diganggu.


"Lah? Memangnya belum? Lama sekali. Itu orang yang ngirim bunganya minta uang." Aldrich masih tetap disana dengan tangan menengadah.


"Cari saja temanku, namanya Juan. Ini salah satu restoran dia, jadi orang itu pasti ada disini. Suruh dia bayarin dulu."


"Aku disuruh ngutang?" Aldrich melipat tangannya dengan ekspresi kesal.


"Aku tidak bawa uang cash."


"Calon papa yang payah sekali. Kak Emma, tolak saja dia. Tidak bisa diandalkan sama sekali. Carikan papa untukku yang kaya raya saja."


Matt menarik kedua pipi Aldrich. "Apa kamu bilang? Uang jajanmu akan kupotong."


"Memangnya aku meminta uang jajan padamu? Weeekkk!" Aldrich berhasil melepaskan diri dari Matt, lalu mengejek laki-laki itu dikejauhan. "Aku akan memanggilmu paman, bukan papa. Paman! Paman! Paman!"


"AHAHAHA"


Aldrich dan Matt sama-sama bingung melihat Emma yang tiba-tiba saja tertawa terbahak-bahak. Apa yang lucu?


"Kalian seperti ayah dan anak yang sedang bertengkar saja." Emma mengusap air matanya yang keluar setelah tertawa.


"Benarkah? Menurutku kita seperti musuh abadi." Kata Matt sambil menunjuk Aldrich.


"Kemarilah." Emma menarik Aldrich dan merangkulnya. Ia juga melakukan hal serupa pada Matt. "Mulai sekarang, kita akan menjadi keluarga yang sebenarnya. Selalu bersama dan tak terpisahkan. Saling membantu satu sama lain, tanpa memandang status kita yang sebelumnya. Setuju?"


Matt terkejut. "Tunggu dulu! Berarti..."


Emma mengangguk. "Ayo kita menikah."

__ADS_1


__ADS_2