
"Jadi siapa itu?" Asher mengangkat kedua alisnya dengan ekspresi jahil ke arah Matt.
"Bukan siapa-siapa." Jawaban Matt yang tidak memuaskan itu membuat kedua temannya menghela nafas bersamaan.
"Ayolah, kita kan sudah menjadi sahabat sejati sejak masih mahasiswa baru. Jangan ada rahasia diantara kita." Juan bersikap melankolis sambil menepuk-nepuk bahu Matt.
"Aku serius, tidak ada apa-apa. Ryker saja yang terlalu banyak berpikir. Mungkin karena beberapa hari ini aku sering bertemu dengan perempuan itu."
Asher langsung menggeser duduknya mendekati Matt. Ia memasang pendengarannya dengan tajam sambil bertanya. "Memangnya siapa? Dan bagaimana dengan Sylvia? Apa benar yang kubaca di berita kalau hubungan kalian memburuk?"
"Berita? Ada yang memberitakanku?"
"Banyak! Kau itu seperti artis. Secara pribadi, aku lebih mengusulkanmu menjadi artis saja. Posisi CEO tidak cocok untukmu."
"Diamlah Juan! Biarkan Matt cerita!" Asher memukul kepala Juan untuk membuatnya diam.
"Cerita apa? Intinya tidak ada apa-apa antara aku dan dia."
"Kalau tidak ada apa-apa kenapa tidak mengatakan nama perempuan itu? Ayolah, kami penasaran. Iyakan Juan?" Asher melirik Juan yang terlihat tidak terlalu tertarik sakarang.
"Hm." Gumam Juan. Ia tahu kalau Matt jarang dekat dengan perempuan. Sylvia saja merupakan pacar pertama Matt, padahal mereka kenal saat sudah dewasa. Kalau berita mereka berpisah itu benar, akan sulit mendapatkan pengganti Sylvia. Ryker mungkin memang terlalu banyak berpikir.
"Ck! Cerewet sekali kau. Oke kuberitahu, dia Emma Rosaline."
"Apa?!" Kedua teman Matt berteriak bersamaan.
Matt bingung. "Kenapa kalian seterkejut itu?"
Juan langsung menyerobot Asher yang ingin bertanya. "Apa kalian makan bersama? Berduaan? Dan saling berpegangan tangan?" Juan masih tidak yakin dengan Matt. Apalagi sohibnya itu adalah orang yang tidak peka. Mungkin saja maksudnya rapat soal bisnis.
Tapi Matt berpikiran lain. Ia mengingat kembali kebersamaannya dengan Emma. Mereka memang pernah makan bersama saat Matt mentraktir Emma dan Aldrich karena permasalahan ayam yang dimakan Ezra. Matt juga memegang tangan Emma saat ingin mengucapkan permintaan maaf, dan itu ia katakan saat berdua saja.
Matt langsung mengangguk. "Iya, aku melakukan semua itu dengan Emma."
"Apa?!" Kedua temannya kembali histeris.
__ADS_1
"Sial! Aku iri sekali." Juan melemparkan tisu bekas lap wajahnya kearah Matt.
"Aku kalah telak." Asher langsung telungkup diatas meja.
"Kalian ini kenapa? Emma bukan tipe orang yang susah didekati. Dia sangat friendly. Coba saja ajak dia bicara. Lalu kalian akan tahu kalau kita tidak ada hubungan apapun." Usul Matt, tapi kedua temannya menggelengkan kepala bersamaan.
"Aku sudah mencobanya." Asher mengangkat tangan dengan lesu. "Sepertinya tahun lalu. Aku mengajak Emma Rosaline makan berdua. Kalian tahu apa jawabannya? Katanya mau ngasih makan mobil. Kupikir maksudnya bensin, jadi hari berikutnya aku membawa bensin menemuinya. Tapi jawabannya, mobilku vegetarian. Bukankah itu penolakan yang sangat sadis?!"
Emma mengerjainya. Matt berusaha keras menahan tawa.
"Lebih sadis lagi kasusku." Ucap Juan sambil menuangkan minuman ke gelasnya lagi.
"Kau juga pernah?" Tanya Matt.
"Ya. Kalau tidak salah, beberapa minggu yang lalu aku mengajaknya liburan bersama. Dia malah menjawab kalau sudah ada jadwal memanjat menara Eiffel pakai karet gelang. Itu mustahil kan?!" Juan menggaruk kepalanya dengan frustasi.
Ya ampun, tragis sekali. Matt tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Lagipula kenapa kalian menargetkan Emma?" Tanya Matt. Ia ingat betul kalau masih banyak anak perempuan dari para pembisnis yang seumurannya, dan belum memiliki kekasih.
Matt pura-pura mengangguk. Penilaian kalian salah besar.
"Tapi sebagai teman yang baik, aku mendukungmu dengan Emma. Tidak kusangka orang kaku seperti biksu ini, bisa meluluhkan hati seorang Emma Rosaline." Asher merangkul bahu Matt dengan bangga.
"Oh ayolah, ini bukan sesuatu yang istimewa."
"Oke! Untuk menyemangati teman kita Matt Hamilton, aku Juan Xander akan mentraktir kalian es teh dua teko!" Juan berseru dengan tangan terangkat.
"Tidak mau!!!"
◌
Tidak terasa hari sudah malam. Matt kembali ke rumahnya yang bak istana itu bersama Ryker. Rasanya meskipun rumah ini sangat besar, tapi tidak memiliki satu hal yang penting, yaitu kebahagiaan.
Saat Matt turun dari mobil, ia melihat sebuah mobil hitam lain terparkir di dekat taman rumahnya. Ia sangat mengenali mobil itu. Pemiliknya adalah orang paling menyebalkan di hidupnya.
__ADS_1
"Orang itu disini ya?" Tanya Matt pada Ryker yang hendak pergi memasukkan mobil ke garasi.
"Sepertinya begitu, tuan. Itu adalah mobil nyonya besar." Setelah menjawab, Ryker pergi untuk melakukan tugasnya. Dan Matt masuk ke dalam rumah sendiri.
Saat sampai di dalam, Matt melihat seorang wanita yang duduk sambil ditemani sang ayah mengobrol. Seharusnya sebagai cucu, Matt harus menyapanya sekarang. Tapi sekedar melihat wajahnya saja sudah memuakkan. Jika hukum kesopanan itu tidak ada, sekarang ia akan menginjak-injak wajah wanita tua itu.
"Oh Matt, kau sudah pulang." Sapa Charles, dengan senyuman. Beberapa hari yang lalu, Matt sudah meminta maaf pada sang ayah tentang Sylvia, sama seperti ia meminta maaf pada Emma. Tidak disangka ternyata sang ayah memaafkannya. Tapi bukan berarti hubungan mereka sudah membaik.
"Ya." Jawab Matt malas.
"Nenekmu ada disini. Apa tidak ada niatan untuk menyapa?" Ucap wanita sebelumnya sambil melirik Matt kesal.
"Selamat malam nenek. Apa yang membuat nenek kemari? Seharusnya tidur saja di rumah nenek sendiri sambil menikmati masa tua. Silahkan kalau mau pergi." Matt membungkuk sambil tangannya menunjuk pintu keluar.
"Berani sekali kamu! Dasar cucu kurang ajar!"
"Ibu, tenang. Matt pasti kelelahan, jadi bicaranya sedikit tidak sopan." Bela Charles.
Dasar! Sekarang ingin bersikap jadi ayah yang baik huh? Dari dulu kau tidak pernah membelaku saat nenek memarahiku. Hanya kakak yang... Selalu ada untukku.
Sudahlah, itu tidak penting lagi sekarang.
Matt hendak berjalan menuju kamarnya, tapi lagi-lagi neneknya kembali berteriak. "Kembali ke sini! Matt! Nenek belum selesai bicara!"
"Tapi aku sudah selesai bicara." Jawab Matt tanpa melirik kearah neneknya, dan kembali berjalan menuju kamarnya dengan cepat.
"Dasar kurang ajar! Kalau bukan karena kau satu-satunya harapan keluarga Hamilton, aku sudah membuangmu!"
"Ibu hentikan."
Suara Charles menjadi suara terakhir yang didengar Matt sebelum pintu kamar kedap suaranya meredam itu.
Matt duduk di tepi ranjangnya. Ia membayangkan betapa enaknya hidup orang-orang diluar keluarga yang menjunjung tinggi uang. Hanya demi uang, ia dan kakaknya harus menerima beban seberat ini. Semua agar keluarga Hamilton terus menjadi nomor satu.
"Sial! Nenek pasti sudah tahu tentang Sylvia, makanya dia menyempatkan diri datang kemari untuk memarahiku. Cih! Umurku sudah 30 tahun, sampai kapan mereka mengurusi kehidupan pribadiku? Menyebalkan!" Matt menjambak rambutnya sendiri dengan frustasi. Ia sekarang tahu apa yang dirasakan kakaknya dulu. Menjadi orang yang dikekang sangat tidak enak.
__ADS_1
Maafkan aku kak Jeff.