Anak Dari Dua Ceo

Anak Dari Dua Ceo
Keluarga Terkutuk


__ADS_3

Matt berjalan santai memasuki sebuah restoran yang terlihat mewah. Seorang pelayan yang sudah paham dengan kedatangan Matt, langsung mengantarkannya pada sebuah ruang VVIP yang sudah dipesan.


"Oh kau benar-benar datang Matt." Seorang laki-laki sebaya dengan Matt menyapa dari atas sofa.


"Begitulah." Matt duduk disisi laki-laki tadi dan mengambil minuman yang sudah disediakan.


"Jarang sekali kau datang ke restoranku. Biasanya kalau lapar, kau akan secara random memilih tempat yang kau lihat dipinggir jalan. Jadi aku kaget sekali saat kau menelponku dan bilang akan kemari."


"Diamlah, Juan. Suasana hatiku sedang buruk sekarang. Apalagi tadi bertemu perempuan gila yang menambah parah emosiku."


"Siapa itu? Ayo ceritakan pada sahabatmu ini." Cetus Juan, yang sudah menjadi sahabat Matt dari mereka masih berada di taman kanak-kanak, hingga lulus kuliah.


"Kau ingat Emma?"


"Hmmm..." Juan mengusap dagunya sambil mengingat-ingat nama yang tidak asing itu. "Aku lupa haha."


"Emma adik kelas kita saat SMA."


"Aduh maaf tidak kuingat. Semua perempuan yang ada di kepalaku hanya yang seksi dan cantik. Kalau aku tidak ingat, berarti dia tidak cantik. Benar?"


Matt menggeleng. "Menurutku dia tidak buruk dari segi penampilan."


"Demi Saturnus kehilangan cincin kawin!!! Ini pertama kalinya aku mendengarmu memuji perempuan lain, selain Sylvia."


"Kubilang dari segi penampilan. Selebihnya hanya ada minus besar dalam penilaianku. Bahkan kupikir otaknya rusak."


"Tunggu... Emma yang kau maksud, apakah Emma Rosaline? CEO Rose Group yang kekayaannya hampir menyamai keluargamu itu?" Tanya Juan.


"Iya dia."


"Demi Saturnus dapet dua cincin!!! Itu sih tipeku sekali. Cantik, pintar, dan kaya. Meskipun aku tidak bekerja, tetap bisa merasakan hidup mewah di akhir hayatku."


Bukannya tadi dia bilang, tidak ingat Emma karena kurang cantik dan seksi? Sudahlah, Juan juga sama anehnya. Matt hanya menggeleng sambil tersenyum sarkas.


"Lalu, bagaimana hubunganmu dengan Sylvia? Masih belum direstui?"


"Begitulah. Ayahku sangat keras kepala. Dia tidak memikirkan perasaanku sama sekali." Matt kembali meneguk minuman dan menaruh gelasnya dengan emosi. "Yang ayah pikirkan hanya... Dia. Padahal dia sudah meninggal. Ayah selalu memaksaku agar terlihat sempurna seperti dia. Memangnya aku mesin fotocopy yang bisa menjiplak semuanya dengan sempurna?"


Juan menepuk bahu sahabatnya sambil tersenyum. "Apapun yang dikatakan ayahmu, jangan sampai kau membencinya."


"Tidak. Bagiku, dia adalah kakak terbaik. Meskipun sudah tiada."


__ADS_1


"Embernya kecil!!!"


"Sstt kak Emma. Jangan bicara keras-keras." Aldrich melirik sekitar, orang-orang melihat meja mereka dengan tatapan sinis.


"Itu karena tempat ini menipu. Seember apanya. Ini ember untuk anak-anak bermain pasir di pantai. Bagiku ini cuma segayung."


"Ya sudah, kalau kurang kak Emma bisa pesan lagi." Aldrich mencoba menenangkan.


"Aku jadi malas makan. Ekspektasiku buyar."


"Memangnya ekspektasi nona tadi seperti apa?" Tanya Wayne disela kagiatan makannya.


"Embernya besar, dan aku bisa masuk kedalamnya, lalu cara makannya diambil pakai gayung."


Imajinasiku kalah dengan kak Emma. Dia sangat hebat. Aldrich menatap Emma kagum.


"Sudahlah. Setelah ini kita pindah saja ke restoran all you can it khusus ayam goreng."


"Memangnya ada?" Emma menatap Wayne antusias.


"Tentu saja ada."


"Tempatnya tidak jauh dari sini kok kak. Aku sering melewatinya ketika  ingin berjualan." Ucap Aldrich.


Bukankah itu ideku? Wayne menatap Aldrich dengan kesal.


Meskipun bilang akan pindah tempat makan, mereka tetap berada disana karena Emma bilang stroberi milkshake nya enak.


"Oh iya kak. Apa teman kakak tadi benar-benar anak tunggal keluarga Hamilton?" Aldrich memberanikan diri untuk bertanya. Karena tadi bertemu Matt, jadi bisa sedikit membahasnya.


"Aku juga tidak yakin sih." Jawab Emma sambil mencoba mengambil buah stroberi didasar gelasnya.


"Tidak yakin? Jadi bisa saja kak Matt itu memiliki kakak lain?"


"Entahlah. Karena keluarga Hamilton itu aneh. Kata orang, keluarga mereka itu dikutuk." Emma sedikit berbisik saat mengatakannya.


Oh tidak, apakah ini imajinasi kak Emma lagi? Aku sedang ingin mengobrol dengan serius. Tapi mau tidak mau, aku harus menanggapinya.


"Eh? Dikutuk bagaimana?" Aldrich ikut berbisik.


"Keluarga Hamilton itu, akan mengumumkan anak mereka ke publik hanya saat usia anaknya 26 tahun. Katanya sih biar tidak diculik begitu, kan mereka kaya. Kalau sudah 26 tahun, mereka bisa melindungi diri sendiri."


"Oh begitu. Jadi kalau anaknya dua, yang diumumin si kakak dulu ya?"

__ADS_1


"Eit! Keluarga Hamilton itu disebut terkutuk, karena hanya akan memiliki satu anak. Semua keturunan mereka dari jaman nenek buyut buyut buyutnya lagi buyut, anaknya cuma satu."


Banyak sekali buyutnya.


"Bagitu ya. Jadi saat diperkenalkan ke publik, kak Hamilton itu anak tunggal?" Tanya Aldrich yang dijawab dengan anggukan kepala Emma. "Tapi bisa saja kan, kalau dia punya adik lagi."


"Sayangnya tidak. Ibu Matt sudah meninggal, dan ayahnya tidak menikah lagi." Emma kembali melanjutkan kegiatannya mengambil stroberi.


"Jadi seperti itu." Aldrich menunduk.


Padahal kupikir, mungkin saja aku anak dari kakaknya Matt Hamilton itu. Bisa saja kan?


"Tapi..." Emma tiba-tiba bersuara lagi. "10 tahun yang lalu. Kabarnya, keluarga Hamilton ingin melakukan acara pengenalan anak, tapi tiba-tiba dibatalkan dengan misterius. Banyak desas-desus yang bilang, mereka memiliki anak lagi tapi meninggal sebelum diperkenalkan ke publik. Dengan kata lain, umurnya belum genap 26 tahun. Pasti gara-gara kutukan itu kan? Hiii serem."


Ha? Tunggu dulu... 10 tahun yang lalu? Bukankah seperti umurku?


Sebenarnya apa yang terjadi 10 tahun yang lalu? Apakah ada tragedi besar?


"Apa kak Emma percaya? Kalau kak Matt memiliki kakak?"


"Aku ragu. Karena 10 tahun yang lalu, Matt terlihat biasa-biasa saja. Kalau memang dia kehilangan kakak, pasti akan sedih dan tertekan bukan?"


Benar juga. Tapi tetap saja, aku merasa ada yang janggal.


10 tahun yang lalu, keluarga Hamilton batal melaksanakan acara pengenalan anak, yang biasanya dilakukan di umur 26 tahun. Ibu bilang, 10 tahun yang lalu, keluarga ayah merupakan keluarga terbesar di negara ini, jelas itu keluarga Hamilton. Dan soal ibu yang diracun... Pasti ada hubungannya.


Racun... Dan desas-desus anak keluarga Hamilton meninggal. Jangan-jangan...


"DAPAT!!!" Emma berteriak setelah mendapatkan stroberi yang daritadi coba ia ambil dari dasar gelas.


Bikin kaget saja. Aldrich mengusap dadanya.


"Kak, bolehkah aku minta sesuatu?"


"Oh apa itu malaikat kecilku?"


"Aku ingin buku catatan, dan Alat tulis." Pinta Aldrich dengan malu-malu.


"Hanya itu? Oke, setelah ini kita beli ya."


"Terimakasih kak."


Aku akan menulis semua kejadian janggal dulu agar tidak lupa. Setelah itu mengurutkannya menjadi garis besar. Mungkin aku bisa mengetahui rahasia apa yang coba ditutupi. Pasti semuanya berhubungan.

__ADS_1


Wayne terus menatap Aldrich yang hanya melamun sambil menatap gelas air minum. Cih! Baru saja diadopsi sudah minta-minta beli barang. Mungkin beberapa tahun lagi dia akan merengek minta dibelikan mobil atau rumah. Dasar anak yang tidak pernah lihat uang.


__ADS_2