
Ngiung ... ngiung ... ngiung ...
Mobil ambulance pun berhenti tepat di depan rumah sakit . Beberapa perawat dan dokter bergegas menghampiri kedua mobil itu , keduanya langsung di larikan ke ruang UGD.
"Dokter , saya mohon selamatkan Alvin dokter ." ujar Zeni yang masih terus menangis .
"Tenang dulu ya mba , kami harus memeriksanya terlebih dulu ." jawab seorang dokter .
"Dokter kekasih saya terkena tembakan di dada nya , saya mohon selamatkan dia dokter ."
"Mba , di mohon tenang ya , biarkan dokter menangani nya silahkan mba tunggu di luar ." ujar seorang suster .
"Saya mau ikut masuk sus ,"
"Maaf mba, biar dokter menangani nya mba tidak bisa ikut masuk ke dalam tolong mengerti nya mba ." Zeni hanya bisa pasrah ketika Alvin di bawa masuk ke ruang UGD , Zeni hanya bisa menunggu di luar dan berdoa berharap Alvin baik - baik saja .
"Elin , ini semua karena dia , aku harus menemui nya ."
Zeni berjalan menghampiri ruangan yang dimana Elin sedang di tangani dokter . Polisi memang sudah memberitahukan bahwa Elin sudah meninggal , namun Zeni ingin memastikan lagi apa Elin benar - benar sudah meninggal atau tidak .
Di sebuah ruangan tepat nya keberadaan Elin , polisi masih terus menunggu kepastian dari dokter , Zeni yang baru saja datang ikut berkumpul dengan polisi .
Tak berselang lama sebuah keranjang rumah sakit keluar dari dalam ruangan itu , seorang suster mendorong nya . Di atas ranjang tersebut terdapat jasad Elin yang akan di pindahkan ke kamar jenazah .
Zeni yang memastikan itu , benar - benar sangat lega , karena Elin di nyatakan sudah meninggal . Setelah jenazah Elin di bawa Zeni kembali ke ruang UGD untuk melihat kondisi Alvin .
Sesampai nya di UGD Zeni melihat Alvin yang berada di atas ranjang pasien di bawa keluar dar UGD oleh beberapa perawat dan dokter . Zeni yang melihat itu pun jadi panik dan berlari ke arah mereka .
"Dokter , kekasih saya mau di bawa kemana?" tanya Zeni panik .
"Kami harus segera melakukan operasi kepada pasien , karena peluru itu masih berada di dalam tubuh pasien demi keselamatan pasien kami harus segera melakukan operasi . " jawab dokter lalu membawa Alvin ke ruang operasi , Zeni pun mengikutinya dari belakang .
****
Tokyo, Japan
Vero dan Shila sudah keluar dari dalam rumah sakit , dan sekarang mereka berdua berada di dalam mobil .
"Tuh kan Mas, aku juga bilang apa cuma keram doang ."
"Iya cuma keram saja , tapi kamu harus ingat kata dokter jangan panik , stres , harus tenang aku gak mau kamu seperti ini lagi ."
__ADS_1
"Kalau Elin gak kabur , aku gak bakalan panik Mas ."
"Elin pasti ketemu kamu tenang saja ."
"Ya udah deh Mas, kita pulang udah malam juga kan ."
"Masa pulang , sudah terlanjur keluar dari rumah ."
"Lalu kita mau kemana ?"
Vero tidak menjawab pertanyaan Shila , namun Vero langsung melajukan mobilnya meninggalkan rumah sakit .
"Mas kita mau kemana ? "
"Nanti kamu juga tahu sayang ." jawab Vero tersenyum penuh arti . Shila hanya menyipitkan mata nya , melihat suaminya yang tersenyum penuh arti .
"Aku jadi curiga deh Mas, sama kamu !"
Vero yang mendengar itu hanya tersenyum tipis pandangan nya fokus pada jalanan depan .
Beberapa menit kemudian ...
Vero menghentikan mobil nya tepat di sebuah hotel , Vero dan Shila pun turun dari dalam mobil .
"Udah jangan bawel ayo ." Vero memeluk Shila dari samping dan berjalan ke dalam hotel .
Sebelum nya Vero memang sudah chek in terlebih dulu , Vero memesan kamar VIP di hotel ini , untuk acara baby moon istri nya , Vero ingin menghabiskan malam ini berdua saja dengan istri nya tanpa gangguan orang lain .
Cklek,
Vero dan Shila sudah memasuki kamar hotel , Shila langsung mendudukkan tubuh nya di atas tempat tidur .
"Kita akan menginap disini Mas ?"
"Hmm..
Cup , Vero mengecup bibir Shila singkat
" Sepertinya triple baby ingin di jenguk papi nya !" ucap Vero yang tersenyum penuh arti .
"Bilang saja kamu yang mau Mas , jangan jadikan anak kita sebagai alasan ."
__ADS_1
Vero tergelak , mendengar ucapan Shila yang sudah tahu apa keinginan suami nya .
"Mas kalau tuan Azema mencari kita bagaimana ? Kita kan bilang mau ke rumah sakit saja, nanti kalau mereka khawatir bagaimana Mas ." ucap Shila sembari memainkan jari nya di dada bidang suaminya .
"Tadi aku sudah mengirim pesan pada Tuan Azema , dia pasti mengerti sayang ."
"Baby , papi akan menjenguk mu boleh ? "
"Boleh papi ." ucap Shila yang menirukan suara anak kecil .
"Kalau begitu , siap - siap ya sayang papi akan menengok mu sekarang , jangan terkejut nya sayang ." ucap Vero yang mengecup perut Shila.
Setelah itu Vero memangku tubuh Shila menidurkan nya di atas ranjang , menaruh nya di bawah kungkungan nya . Vero memulai dengan pemanasan , menyusuri wajah Shila dengan kecupan nya , dari mulai kening , mata, pipi , hidung , lalu bibir manis nya .
Setelah puas mengecup lembut bibir manis Shila yang sudah menjadi candu nya , kini kecupan nya beralih ke leher jenjang milik istri nya , Vero mengecup lembut ,sampai suara erangan keluar dari mulut Shila ketika Vero meninggalkan jejak cinta pada leher istrinya . Kalau kata si kembar mah , tanda bekas nyamuk 😄.
Setelah pemanasan Vero langsung melakukan kegiatan ekstrim nya yang menguras tenaga nya itu , namun Vero tetap melakukannya dengan hangat , lembut dan pelan agar tidak melukai triple baby nya . Kini sepasang suami istri itu menghabiskan malam baby moon nya di dalam hotel .
****
Jakarta
Lampu ruang operasi masih menyala , sudah dua jam lama nya Alvin masih melewati operasi nya , Zeni yang setia menunggu begitu khawatir dan gelisah , apakah operasi nya bejalan lancar atau tidak, Zeni benar - benar tidak bisa bayangkan kalau Alvin tidak selamat , dan Zeni merasa bersalah karena dia tidak bisa menyelamatkan Alvin saat itu .
waktu berjalan begitu cepat , sudah tiga jam lamanya , masih belum ada tanda - tanda dokter keluar dari dalam ruangan operasi , Zeni semakin cemas , khawatir dan gelisah ' kenapa operasinya lama sekali ' itu yang di pikirkan Zeni saat ini .
Sedangkan dalam ruang operasi dokter masih sibuk mengoperasi Alvin , bahkan Alvin sempat kekurangan darah dan detak jantung nya sempat menurun , namun itu semua bisa di atasi tuhan masih berpihak kepada Alvin , tuhan masih memberikan Alvin kesempatan untuk hidup dan memperjuangkan hidup dan mati nya .
Alvin masih berjuang , dan Zeni masih tetap setia menunggu , dokter pun masih tetap berusaha , yang bisa di lakukan saat ini adalah berdoa kepada sang pencipta semoga Tuhan memberikan kesempatan kepada Alvin untuk tetap hidup .
Empat jam sudah berlalu , akhirnya lampu operasi pun mati , Zeni yang sedari tadi menunggu dan menangis langsung berdiri ketika pintu ruang operasi terbuka menampakan empat orang dokter yang mendorong ranjang pasien yang terdapat Alvin di atas ranjang tersebut . Alvin terbaring lemah dengan selang oksigen di hidung nya , Zeni langsung berlari dan menghampiri Alvin .
"Dokter , bagaimana operasi nya ?"
"Operasi nya berjalan dengan lancar , namun saat ini pasien masih dalam keadaan kritis , dan belum sadarkan diri , kami akan membawa pasien ke ruang ICU ." jelas seorang dokter yang mendorong ranjang Alvin berlalu pergi meninggalkan ruang operasi .
"Permisi mba ." seru seorang suster yang menghentikan langkah Zeni . Zeni pun menoleh ke arah suster yang memanggil nya .
"Ini barang - barang pasien mungkin mba harus menyimpannya ."
"Terima kasih suster ."
__ADS_1
Zeni mengambil barang - barang milik Alvin , berupa handphone , dompet , jas , dan lain - lain . Setelah itu kembali menyusul Alvin ke ruang ICU .