
Shila sudah berada di ruang rawat inap , kondisi nya pun sudah lebih baik dari sebelum nya . Senyum nya mengembang tangan kanan nya memangku seorang bayi mungil , lucu , dengan mata terpejam , merasakan hangat nya dekapan seorang ibu membuat bayi itu terlelap .
"Ouh, lucu nya , sayang anak pertama kita ini begitu terlelap , dalam keadaan tidur pun terlihat begitu tampan ." Shila menatap bayi di pangkuan nya tanpa henti , jari jemari nya terus mengusap lembut pipi mulus itu yang halus bagaikan sutra .
"Lihatlah bayi ini tidak seperti kakak nya yang kaku , dia terus tersenyum ." ucap Delia yang memangku bayi laki - laki yang lucu , dan menggemaskan apa lagi senyum nya itu sungguh menawan .
"Lihat ini si bungsu , ouh.. senyum nya bikin meleleh , mata nya yang indah , bulu mata nya yang lentik , dia terlihat bahagia seperti nya putri kalian ini akan tumbuh menjadi gadis cantik , baik hati , murah senyum seperti ibu nya ." Shila terenyuh mendengar ucapan Bi Inem barusan , memang benar kata Bi Inem bayi perempuan itu benar - benar mirip dengan Shila sangat mirip , karena Bi Inem masih ingat wajah Shila saat masih bayi sama persis seperti bayi yang di gendong nya saat ini.
Lengkap sudah kebahagiaan Shila saat ini , di tambah dengan anggota baru di keluarga nya , tiga pasang anak kembar sungguh tidak pernah terbayangkan Shila akan menjadi ibu dari ke enam anak nya .
"Tuan muda , seperti nya panggilan itu tidak cocok lagi untuk mu ." Alvin langsung mendapat tatapan tajam dari bos nya itu , Vero sedikit tersinggung dengan ucapan Alvin , lebih tepat nya cibiran .
"Apa maksud mu Alvin ?" tanya nya demikian .
"Kau masih tidak mengerti , sekarang anak mu sudah bertambah ada enam , sebentar lagi kau akan menua tidak mungkin kan di panggil Tuan muda lagi ."
"Alvin " semua orang tertawa ketika melihat wajah Vero yang kesal dengan perkataan Alvin barusan. Entah kenapa rasa nya Vero menolak untuk tua , walau pun dia seorang ayah dari enam anak namun Vero tetap terlihat muda , wajah nya pun semakin tampan , masih terlihat muda .
"Wah, ku akui kejantanan mu Vero , kamu berhasil mencetak enam anak bahkan hanya satu bibit langsung tumbuh tiga bibit , Shila apa Vero begitu agresif saat di ranjang ? Alvin seperti nya kamu harus belajar dari nya biar nanti istri mu cepat ... ." Indra datang tiba - tiba dan langsung berbicara hal konyol membuat wajah Shila memerah karena mendapat pertanyaan konyol dari Indra . Begitu pun Zeni ucapan Indra membuat nya tersipu malu .
"Hai , dokter kalau kau hanya ingin berbicara konyol lebih baik pergi saja ."
"Aku kesini untuk melihat keponakan ku , wah.. lucu nya , semoga saja tidak nakal seperti kakak - kakak nya ." celetuk Indra namun yang di singgung tidak mendengar karena mereka sudah terlelap , mungkin karena lelah .
"Selamat untuk kalian berdua ."
__ADS_1
"Terima kasih dokter Indra ." jawab Shila dengan senyuman .
"Sayang biar aku mengendong bayi kita ." Shila memberikan bayi dalam gendongan nya kepada Vero , dengan hati - hati Vero menggendong bayi mungil itu .
"Apa kalian sudah menyiapkan nama untuk bayi kalian ?" tanya Zeni yang membuat orang penasaran .
"Iya Vero apa nama untuk bayi kalian ? Berikan nama yang indah untuk cucu ku ." Delia tak henti - henti nya terus memandang bayi dalam gendongan nya.
"Aku belum tahu ma, tapi.. mungkin Mas Vero sudah menyiapkan nama untuk anak kita ." Shila mendongakkan kepalanya menatap Vero di samping nya yang masih menggendong bayi mungil nya .
"Mas , apa kamu sudah tahu nama yang akan di berikan ?" tanya Shila demikian .
Vero diam sejenak lalu berkata " Rey, " ucap nya demikian .
"Rey , nama untuk ketiga anak kita , Rey yang artinya baik semoga anak kita menjadi anak yang baik nanti nya . Rey Kenzo Alvero Wallandou nama untuk putra pertama kita .Nama Kenzo aku ambil dari bahasa jepang yang arti nya pintar dan kreatif .Rey Kenzo itu nama untuk mu sayang semoga kamu jadi kakak yang baik untuk kedua adik mu , dan kamu harus menjadi anak yang paling pintar dari kedua adik mu ." Vero mengecup lembut kening Kenzo .
"Lalu , apa nama untuk putra yang kedua ." tanya Delia agar Vero segera memberikan nama untuk cucu yang berada dalam gendongan nya .
Vero memberikan Kenzo kepada Shila , setelah itu Vero berjalan ke arah putra nya yang di gendong Delia . " Dia selalu tersenyum bukan ? Dan senyum nya sangat menawan , Rey Kenzie nama untuk nya , yang arti nya menawan senyuman nya akan membuat hati semua orang meleleh . Semoga kamu menjadi anak yang baik ya sayang Kenzie ku ." Vero mengecup kening lembut Kenzie dan membuat Kenzie tersenyum .
Vero kembali melangkahkan kaki nya menuju arah Bi Inem yang menggendong putri kecil nya , yang selalu tersenyum ceria . Vero mengambil alih gendongan putri nya yang begitu cantik , manis , ceria , bulu mata yang lentik , dan wajah yang bersinar seri bagaikan harta yang berharga ."Putri ku yang cantik , nama yang cocok untuk mu adalah Kanza yang berarti harta , kau adalah harta kami yang paling indah . Rey Kanza nama untuk mu ." Vero mengecup lembut kening Kanza dan membuat nya tersenyum .
"Nama yang bagus triple Rey . Rey Kenzo, Rey Kenzie , dan Rey Kanza , nama yang sangat indah ." seru Delia .
"Triple J , Triple Rey , J-Rey , panggilan yang bagus bukan ." ucap Indra
__ADS_1
"Ya .. nama yang bagus , triple Rey ." Semua orang tersenyum bahagia , semoga nama yang di berikan untuk ke tiga bayi kembar itu menjadi berkah dan anugerah , semoga kelak mereka jadi anak yang baik , pintar , berguna untuk bangsa dan negara .
****
Setelah cukup lama di rumah sakit pasangan pengantin Alvin dan Zeni pamit pulang terlebih dulu , karena mereka begitu lelah , pakaian pengantin pun masih melekat di tubuh mereka berdua . Alvin membawa Zeni ke apartemen nya setelah sampai Zeni dan Alvin langsung membersihkan diri masing - masing , keringat yang melekat di tubuh membuat mereka merasa tidak nyaman dan ingin segera menyiram nya dengan air.
Saat ini Zeni dan Alvin sedang berada di atas tempat tidur . Entah kenapa kedua nya merasa canggung padahal mereka sudah sah menjadi suami istri . Bahkan kedua nya duduk berjauhan bagaikan musuh .
"Alvin , apa mau aku buatkan teh ? tunggu sebentar aku segera kembali ." Zeni turun dari tempat tidur dan berjalan menuju dapur . Alvin hanya diam mematung melihat kepergian Zeni entah kenapa tidak ada keberanian dalam diri nya untuk memulai , untuk berbicara saja Alvin begitu kaku .
Di dapur Zeni sedang menyiapkan secangkir teh untuk Alvin , entah kenapa Zeni juga merasa canggung padahal ini bukan pertama kalinya mereka untuk bertemu." Ya .. tuhan kenapa jantung ku berdebar begini , bisa - bisa nya aku meninggalkan suami ku di dalam kamar ." gerutu Zeni dalam hati .
Setelah selesai Zeni langsung membawa secangkir teh itu ke dalam kamar dengan tangan yang gemetar .
Cklek,
Jantung Alvin semakin berdetak tak menentu , ketika Zeni kembali datang ke kamar nya membawa secangkir teh untuk nya ." Ini teh nya ." Zeni menyimpan cangkir teh nya di atas nakas samping Alvin .
"Terima kasih , duduklah ." Zeni kembali duduk di atas tempat tidur berada di samping Alvin suami nya . Alvin mengambil cangkir teh itu dan akan meminum nya , namun hal tak terduga terjadi karena teh yang panas membuat lidah nya panas dan tanpa sengaja teh nya pun tumpah membasahi dada nya .Zeni yang melihat itu pun terkejut dan langsung membersihkan dada Alvin yang terkena teh panas .
"Hati - hati teh nya masih panas ." Tanpa sengaja Zeni menyentuh dada bidang milik Alvin membuat nya bagai tersengat listrik , aliran listrik yang membuat jantung nya berdebar . Alvin menghentikan tangan Zeni yang membersihkan dada nya , merasa tangan nya di sentuh Alvin , Zeni pun mendongakkan kepala nya dan kini kedua nya saling pandang .
Deg,
Jantung terasa begitu cepat berdetak , tatapan Alvin membuat Zeni terhipnotis dan terdiam tanpa bergerak sedikit pun. Bahkan saat Alvin mendorong tubuh nya tak terasa sedikit pun bahkan saat ini tubuh nya sudah berada dalam kungkungan Alvin . Entah sejak kapan tubuh nya sudah terbaring seperti ini , tatapan Alvin mampu menghipnotis nya dan tanpa sadar Alvin sudah menautkan bibir nya , dan Zeni tetap masih diam . Semakin dalam bibir kedua nya saling menautkan , perlahan Zeni membuka mulut nya membiarkan Alvin untuk lebih bebas menautkan bibir nya. tangan Alvin mulai bergrilya menyusuri tubuh sang istri , dan tangan satu nya mematikan lampu tidur nya yang membuat kamar menjadi gelap .
__ADS_1