Anak Genius : Ayah Ku Ceo Sombong

Anak Genius : Ayah Ku Ceo Sombong
BAB 54


__ADS_3

Rani dan Tissa sudah siap - siap untuk pergi , mereka berencana akan pergi ke singapur , sebelum berangkat Rani dan Tissa mendatangi bank terlebih dulu untuk mengambil uang mereka dan ternyata cek yang mereka miliki itu palsu dan itu membuat Rani emosi hingga membuat keributan di dalam bank . Sampai akhirnya security turun tangan untuk mengusir mereka berdua dari bank .


Brugh..


Rani dan Tissa tersungkur di atas aspal , semua orang yang ada di bank menganggap mereka gila karena mereka bersikekeh ingin mencairkan uang senilai 100 milyar sedangkan cek tersebut palsu .


Arghh....


Teriak Rani histeris , amarah , benci , dendam , menjadi satu . Akhir cerita yang sangat menyedihkan yang tidak pernah terbayangkan oleh Rani , bisa - bisa nya dia di tipu dan di perlakukan seperti binatang . Seandainya Rani menyadari kesalahannya dulu mungkin sekarang yang di alami nya adalah karma , karma atas perbuatan nya dulu pada Shila saat diri nya mengusir Shila , mendorong nya hingga tersungkur ke tanah dan semua itu Rani alami sekarang.


"Mama , kenapa jadi gini sih , aku gak terima di perlakukan seperti ini , kita harus cari orang yang telah menipu kita ma ." ujar Tissa yang juga emosi .


"Kamu benar , kita cari orang itu bila perlu kita bunuh saja dia , Orang itu pasti ada di rumah kita sekarang ." Rani dan Tissa akhir nya pergi kembali ke rumah karena yakin bahwa orang yang menipunya sekarang ada di rumah itu .


Sesampai nya di rumah Tissa dan Rani menyerobot masuk ke dalam tapi aksi mereka terhenti karena ada banyak pengawal yang menjaga pintu rumah itu .


"Kalian siapa ? berani - beraninya menghentikan saya ." ucap Rani yang di tahan oleh pengawal.


"Maaf , kalian tidak boleh masuk ." ucap si pengawal .


"Ini rumah saya , kalian mau apa ? mau menahan saya ?." bentak Rani yang tersulut emosi .


"Jangan halangi kami ." timpal Tissa .


"Ini rumah bos saya, siapapun yang berani masuk akan berhadapan dengan saya ." tegas si pengawal membuat amarah Rani semakin memuncak .


"Dimana bos kalian , cepat panggil, bos kalian itu sudah menipu saya , saya tidak terima cepat panggil bos kalian ." Teriak Rani yang sudah di luar kendali .


"Diam kalian jangan membuat keributan disini." bentak si pengawal .


"Kalian yang diam ." teriak Rani .


"Non ,Tuan, di luar ada nyonya sama non Tissa ." ujar Bi Inem di dalam rumah memberitahukan pada Shila dan Adi yang tengah duduk di ruang tengah .


"Mau apa lagi mereka ." ucap Adi yang sudah geram mendengar nama Rani dan Tissa .


"Mereka sudah memiliki uang , untuk apa lagi mereka datang " sambung Adi .


"Bibi denger sih non katanya mereka di tipu ." ujar Bi Inem menjelaskan apa yang dia dengar .


"Di tipu , maksud nya ." gumam Shila yang bingung siapa yang menipu mereka dan apa hubungannya dengan dirinya.


Di luar sana Tissa dan Rani berhasil menerobos masuk dan menghadang kedua pengawal . Amarah nya masih belum surut emosi Rani masih memuncak Rani dan Tissa berjalan menuju pintu masuk .


"Bibi bawa papa ke kamar ." pinta Shila agar Bi Inem membawa Adi ke kamarnya . Karena Shila takut Rani akan membuat kekacauan .


"Non Shila mau kemana ? ." tanya bi Inem.


"Shila mau temui mereka , mereka sudah membuat rusuh di sini ." jawab Shila .


"Jangan Non , Tuan muda 'kan sudah bilang Non Shila gak boleh keluar biar nanti para pengawal saja yang urus mereka ." ujar Bi Inem .


"Mereka gak bakal berhenti bi ..." ucap Shila yang tertahan karena Rani dan Tissa berhasil masuk dan membanting pintu dengan keras.


Brugh..


Membuat Shila terkejut , terutama Rani dan Tissa terkejut melihat Shila dan Adi ada di rumah ini .


"Kalian , sedang apa kalian disini ? ." tanya Rani yang masih tak percaya melihat Shila ada di hadapannya .


"Kenapa ? kalian terkejut , ada juga saya yang bertanya sedang apa kalian di rumah ku ." cibir Shila .

__ADS_1


"Apa rumah mu? ." ucap Tissa .


"Ya , ini rumah ku dan kalian sudah menjualnya pada ku jadi kalian tidak berhak ada di sini ." ucap Shila menusuk .


"Oh , jadi kamu si penipu itu , sekarang kami tagih uang kami mana uang kami yang 100 milyar , bisa - bisa nya kamu menipu ku , kamu berikan cek palsu ini pada kami , kami tidak terima ." ucap Rani yang geram .


"Apa cek nya palsu ? aku tidak tahu soal itu , lagi pula untuk apa aku membayar , ini ' kan rumah ku sendiri bukan rumah kalian , dan kamu Tissa aku sudah pernah bilang 'kan pada mu kalau aku akan mengambil kembali hak ku , dan inilah hak ku rumah , perusahaan , itu semua milik ku , jadi untuk apa aku membeli rumah ku sendiri " ujar Shila yang membuat Tissa marah . Tissa berjalan menghampiri Shila dengan amarah yang melonjak dan ..


Prakk..


Satu tamparan mendarat mulus di pipi Shila hingga membuat bibir nya berdarah .


"Non Shila ." teriak Bi Inem ketika Tissa menampar Shila ." Non Shila tidak apa - apa ?." tanya Bi Inem khawatir melihat bibir Shila yang berdarah .


"Itu balasan atas tamparan mu dulu pada ku." ujar Tissa yang ingat betul bagaimana Shila saat menamparnya dulu ketika di kantornya .


Tapi tamparan yang di berikan Tissa kali ini sangat menyakitkan , hingga membuat bibir Shila berdarah tapi Shila bisa menahannya .


"Bibi , bawa papa ke kamar ." pinta Shila pada Bi Inem .


"Kenapa ? kau takut aku menampar papa mu ? ." ucap Tissa yang tersenyum getir .


"Papa , aku juga putri mu , apa kau tidak ingin menyapa putri mu ." ucap Tissa yang tersenyum sinis ke arah Adi .


"Putri kamu bilang , apa ada seorang papa yang di bunuh putri nya sendiri " ucap Shila yang juga menahan amarah lalu Shila melirik ke arah bi Inem menatap nya tajam agar bi Inem secepatnya membawa Adi ke kamarnya . Melihat tatapan Shila Bi Inem pun mengerti dan langsung membawa Adi masuk ke dalam kamar .


"Kau akan menyembunyikan papa kemana Shila ." cibir Rani yang melangkah ke arah Shila .


"Puas kamu Shila , membuat kita menderita , berkat suami mu yang kaya itu kau sekarang bisa mengusir kami dimana suami mu itu ? apa dia tidak menyelamatkan mu dari tamparan ini ."


Prakk...


Satu tamparan lagi mendarat di pipi mulus Shila yang di berikan Rani membuat Shila meringis kesakitan dan bibirnya kembali berdarah tapi itu tak membuat Shila lemah.


"Kau .." ucap Tissa yang sudah siap menampar Shila tapi tertahan oleh kedua pengawal yang menghadang Rani dan Tissa .


"Lepaskan , lepaskan saya ." teriak Rani dan Tissa ketika pengawal itu mencengkram kedua tangannya .


"Kalian sudah membuat keributan disini dan sudah melukai bos kami , sekarang kalian keluar ." bentak si pengawal .


"Awas Shila , urusan kita belum selesai aku akan membalas mu nanti ." ucap Tissa mengancam . Lalu mereka berdua di bawa para pengawal keluar dan di lemparnya ke atas tanah membuat Rani dan Tissa semakin marah .


"Syukurlah mereka sudah pergi ." ucap Bi Inem lega , ketika pengawal sudah membawa Rani dan Tissa keluar .


Bi Inem dan Adi pun kembali menemui Shila di ruang tengah .


"Non ,Non Shila , ya ampun bibir non berdarah ." Ucap Bi Inem kaget melihat keadaan Shila .


"Shila ,apa yang Rani lakukan pada mu ." ujar Adi yang juga khawatir.


"Shila , baik - baik saja kok pa , ini hanya luka kecil ." ucap Shila yang meyakinkan bahwa dirinya baik - baik saja .


"Sekarang mereka tidak akan ganggu kita lagi pa , dan rumah ini sekarang menjadi milik kita lagi, papa tinggal yang nyaman ya disini , yang tenang tanpa ada gangguan dari mama Rani dan Tissa ." ucap Shila yang selalu tenang walaupun dirinya terluka.


"Akhirnya ya Non , semua sudah berakhir dan hidup kita akan kembali tenang , tidak akan ada lagi iblis terkutuk itu di rumah ini ." ucap Bi Inem yang membuat Shila dan Adi tertawa .


"Apa bi ? iblis terkutuk ? kalau ada si kembar pasti mereka senang karena nenek lampir sudah pergi " ucap Shila yang tertawa .


"Oh iya , kemana mereka ? kenapa tidak ikut pasti seru kalau ada disini ." ujar Adi yang merindukan ketiga cucunya .


"Mereka ada di rumah bersama mama , mereka harus sekolah besok jadi tidak Shila ajak , papa juga harus istirahat dan tidur karena besok papa akan kembali ke perusahaan Shila akan menemani papa besok ." ucap Shila yang senang akhirnya besok Shila akan kembali ke perusahaannya .

__ADS_1


"Tapi luka mu , harus di obati dulu ." ucap Adi yang khawatir melihat bibir Shila yang berdarah .


"Papa jangan khawatir Shila bisa obati sendiri , oh iya bi kotak obat dimana ya? ." tanya Shila pada bi Inem .


"Ada di kamar Non , sebentar bibi ambilkan "


"Tidak usah bi , biar Shila aja yang ambil bibi antar papa aja nya ke kamar " ucap Shila


"Ya sudah kalau begitu , terakhir bibi lihat kotak obatnya ada di kamar Non Shila ." Ucap Bi Inem lalu melangkah menuju kamar Adi untuk mengantarkan Adi .


Shila berjalan ke arah kamar nya yang berada di lantai atas tidak jauh dari kamar Tissa . Melihat kamar nya ini Shila jadi teringat masa - masa kecilnya dulu yang bercerita pada ibunya kalau suatu saat Shila akan menikahi pangeran berkuda , yang tampan , dan baik , dan Shila akan tinggal di sebuah istana yang besar bersama si pangeran yang di kawal banyak pengawal dan juga banyak pelayan di istana .


"Ma , impian Shila menjadi kenyataan , sekarang Shila sudah menikah dengan pangeran yang Shila impikan , dan mama tahu Shila juga tinggal di istana yang besar, banyak pengawal juga banyak pelayan . Ma ,seandainya mama ada disini Shila pasti memperkenalkan pangeran Shila pada mama ." ucap Shila yang duduk di kursi rias sambil menatap foto ibu nya dulu saat bersama nya saat kecil.


"Siapa pangeran itu ." ucap Vero yang tiba - tiba muncul .


"Mas , kok ada disini?" tanya Shila


"Kenapa kamu tidak bilang kalau wanita iblis itu kembali datang , mereka benar - benar membuat masalah ." ujar Vero yang berjalan ke arah Shila lalu duduk di bibir ranjang menghadap ke arah Shila .


"Kenapa bibir mu " ucap Vero yang khawatir melihat darah di bibir Shila .


"Tadi , Tissa menampar ku , tapi aku gak apa - apa kok mas , cuman luka kecil " ucap Shila yang sedang mengobati bibir nya sambil bercermin .


"Apa kamu bilang Tissa menampar mu ? lalu apa yang di lakukan pengawal itu kenapa tidak menghadang Tissa , dasar kerja mereka tidak becus ." ucap Vero kesal.


"Mas, jangan salahkan mereka , lagian aku gak apa - apa kok mas ." ucap Shila yang menenangkan amarah Vero .


"Sini biar aku obati ." ucap Vero yang meminta Shila untuk duduk di sampingnya , lalu Vero mengobati luka di bibir Shila .


"Aku akan membalas perbuatan Tissa yang telah menampar mu , berani - beraninya dia menampar istri ku." ucap Vero kesal. Seraya mengobati luka di bibir Shila .


"Oh iya mas , besok aku ke perusahaan papa ya aku mau bantu papa ." ucap Shila .


"Aku sudah bilang , tidak mengizinkan mu kerja ." bantah Vero .


"Mas, aku cuman bantu papa saja , lagian papa sedang tidak sehat , ya mas, boleh ya ." pinta Shila yang memelas seperti seekor kucing yang memohon pada tuannya .


"Iya - iya ." akhirnya Vero pun mengizinkan .


"Makasih mas." ucap Shila tersenyum senang .


"Hm..." ucap Vero dingin.


"Aww..." ringis Shila karena Vero menekan luka nya . " Sakit mas , pelan - pelan ." ucap Shila .


"Maaf , maaf , apa sangat sakit ?."


"Ya iyalah mas sakit , gimana sih perih tahu ." ucap Shila yang menekan pelan bibir nya .


"Mau sakit nya hilang tidak ? ." ucap Vero dengan tatapan yang tak bisa di artikan .


"Apa ?." ucap Shila dengan tatapan curiga .


"Mas , nanti tambah sakit ." ucap Shila yang menahan bibir Vero untuk mengecupnya.


"Tidak akan ." ucap Vero


"Tapi .." ucap Shila yang tertahan karena di sanggah Vero .


"Pelan - pelan ." ucap Vero sedikit berbisik .Lalu mencium bibir nya Shila dengan lembut , dan tidak membuat Shila sakit sedikit pun .

__ADS_1


"Sakit ?." tanya Vero , menghentikan ciuman nya sejenak Shila hanya menggelengkan kepala nya sebagai jawaban .Vero pun kembali memberi sentuhan lembut pada bibir Shila membuat Shila terhayut .


__ADS_2