
Keesokan pagi nya Shila sudah mengemas barang - barang yang akan Vero bawa untuk tinggal di luar kota .
Shila juga membantu Vero memakai baju dan kemejanya .
"Mas , kamu ke luar kota bersama Alvin juga ?." tanya Shila yang mengancingkan kemeja Vero .
"Hm.. ." gumam Vero .
"Kalau sudah sampai di sana jangan lupa telepon ." ucap Shila yang sudah selesai mengancingkan kemeja nya dan beralih memakaikan dasi untuk Vero .
"Iya , aku akan telepon kamu 1 jam sekali ." ucap Vero mencubit pipi mulus Shila lembut .
"Janji , satu jam sekali ya ."
"Hm..."
"Sudah , selesai ." ucap Shila yang sudah selesai memasangkan dasi nya ." Pakai jas nya dulu ." Shila memakaikan jas pada Vero .
"Ayo mas , semua barang udah di bawa ke mobil , gak ada yang ketinggalan kan mas ? kalau begitu kita keluar sekarang ." ajak Shila namun di tahan oleh Vero .
"Ada yang lupa ." Vero menatap lembut mata Shila .
"Apa ? ." tanya Shila , Vero tidak menjawab perkataan Shila Vero langsung mendaratkan bibir nya pada bibir tipis Shila mengecapnya dengan lembut . Merasakan manisnya bibir istrinya itu .
"Sudah mas, kalau begini terus kapan berangkat nya Alvin sudah menunggu ." Shila melepaskan kecupan bibir Vero .
"Sekali lagi ."
"Tidak ." Ucap Shila yang menatap tajam mata Vero . Vero yang baru melihat tatapan tajam istrinya itu langsung mendengus kesal . Setelah itu melangkah keluar dengan malas .
Shila , Delia juga si kembar mengantarkan Vero sampai depan . Di depan sana sudah ada Alvin yang menunggu .
"Ingat ! jangan pergi kemanapun kalau mau keluar harus dengan pengawal ." ucap Vero yang mengingatkan Shila lalu beralih menatap Delia ." Ma , titip Shila dan anak - anak ya ." ucap Vero yang menatap Delia.
"Pasti nya , mama akan jaga menantu kesayangan mama dan juga cucu - cucu mama ." ujar Delia yang menenangkan Vero .
"Papi , mau bertarung sekarang ?." tanya Joanna lolos begitu saja .
"Hm.. kamu jaga mami dan adik - adik mu oke ?."
"Siap papi ." Jawab Joanna penuh semangat .
"Bye .. papi ." ucap si kembar kompak .
Vero pun masuk ke dalam mobil . Setelah Vero masuk Alvin pun ikut masuk lalu menjalankan kemudinya dengan kecepatan standart . Setelah mobil Vero pergi jauh. Shila , Delia dan si kembar pun kembali masuk ke dalam rumah .
Di luar sana , ada sebuah mobil yang mengintip di balik gerbang menatap kepergiaan Vero lalu beralih menatap Shila yang masih ada di luar . Mobil yang sama dengan mobil yang menyerempet Shila tempo hari . Dengan pakaian yang sama memakai hoodie yang menutupi kepalanya juga masker dan kacamata hitam nya. Setelah Shila sudah masuk ke dalam rumah, orang itu pun kembali melajukan mobilnya meninggalkan kediaman Vero .
__ADS_1
****
"Alvin apa kita tidak bisa sehari saja disana ? " ucap Vero yang duduk di jok belakang .
"Memang nya kenapa Tuan muda , gak bisa jauh - jauh nya dari Shila ." ucap Alvin sedikit meledek .
"Alvin ." Vero menatap tajam Alvin yang sedang menyetir . Alvin menyadari tatapan Vero dari cermin mobil ." Aku tidak terbiasa memanggilnya Nyonya muda Tuan ,lagian Shila juga gak keberatan . Tenang saja Tuan muda aku hanya memanggil namanya bukan mengambil hatinya ." Vero langsung menatap Alvin dengan sorot mata tajam nya ketika mendengar ucapan Alvin . "Awas saja kalau kamu berani ." Alvin langsung menelan salivanya ketika mendapat tatapan tajam dari Vero . Baru kali ini Alvin melihat tatapan tajam dari Vero . Alvin pun kembali fokus pada jalanan di depannya tidak ada percakapan lagi di antara mereka .
Setelah tiga jam perjalanan , Alvin dan Vero pun sudah sampai di bandung . Alvin menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah hotel yang memang tempat mereka meeting sekarang sekaligus tempat mereka menginap .
Saat turun , Vero langsung di sambut oleh manajer hotel karena Vero adalah owner hotel tersebut . Vero dan Alvin pun masuk ke dalam hotel dan menuju ruang meeting .
"Selamat datang Tuan muda ." ucap manajer hotel itu yang bersalaman dengan Vero ."Senang sekali karena Tuan muda bisa datang , ini pertamakali nya Tuan muda datang ke hotel kami suatu kehormatan bagi saya ." ucap manajer itu .
"Terimakasih " ucap Vero yang tersenyum ramah . Lalu manajer pun mempersilahkan Vero untuk duduk di kursi yang sudah di sediakan .
Di tengah perbincangan mereka tiba-tiba ada seorang pria yang masuk ke ruang meeting , sang manajer pun bangun dari duduknya dan penyambut pria itu lalu mengenalkannya pada Vero dan Alvin yang kebetulan membelakangi pintu masuk .
"Selamat datang pak Redan , ini owner kita sudah datang . Tuan muda perkenalkan ini bapak Redan founder hotel ini ." Vero dan Alvin terkesiap melihat pria di depan nya amarah , benci , dendam menjadi satu saat melihat pria itu Vero menatap nya tajam sedangkan Alvin melirik ke arah Vero yang menatap tajam pria di depannya . Seperti singa yang ingin menerkam mangsanya. Namun Alvin mencoba menenangkan Vero agar tidak terpancing emosi.
"Apa kabar Tuan Muda Alvero ." ucap pria itu yang tersenyum tipis ke arah Vero
"Bagas." Ucap Vero geram .
"Maaf pak ini founder kita yang baru ?." tanya Alvin pada si manajer .
Vero masih bisa menahan emosi nya saat ini , mungkin karena ada nya klien lain di ruang meeting ini namun seandainya Vero bertemu dengan Bagas di tempat lain mungkin Vero sudah menghajarnya . Akhirnya Vero bisa mengendalikan emosinya sampai meeting selesai .
"Tuan muda apa Tuan muda ingin jalan - jalan mengelilingi hotel ." tanya si manajer setelah meeting selesai namun Vero menolaknya .
"Pak Redan ." si manajer beralih menatap Bagas dan bertanya mungkin dia ingin pergi melihat - lihat hotelnya . Namun jawaban yang di berikan sama . "Tidak , pak saya masih ingin berbincang-bincang dengan sahabat saya ini " ucap Bagas yang menarik senyum di ujung bibirnya .
"Baik kalau begitu silahkan kalian berbincang - bincang dahulu saya permisi dulu ." ucap si manajer yang berlalu pergi .
Vero dan Bagas saling tatap satu sama lain tatapan yang sulit di artikan terutama Vero menatapnya tajam rasanya ingin sekali saat ini dia menghajarnya . "Alvin , kau bisa keluar ." ucap Vero tanpa menoleh pada Alvin di sampingnya . Alvin mengerti apa yang di rasakan bos nya saat ini ." Alvin ." teriak Vero dengan tegas agar Alvin cepat keluar meninggalkannya dengan Bagas .
"Tuan muda jangan lakukan itu disini ." Alvin tahu apa yang akan di lakukan Vero, itu sebabnya Alvin mengingatkan agar tidak ada perkelahian diantara mereka .
"Kalau kamu tidak ingin keluar , tidak apa ,aku tetap akan melakukannya ." ucap Vero dingin lalu beranjak dari kursinya dan berjalan ke arah Bagas yang duduk di depan nya . Alvin yang melihatnya pun tegang entah apa yang akan di lakukan Vero .Sedangkan Bagas dia duduk santai dan tersenyum pada Vero yang berjalan ke arahnya .
"Apa kau ingin menyambut teman mu ini ." ucap Bagas santai
Bugh..
Satu tamparan mendarat di pipi mulus Bagas dan membuat nya sedikit berdarah ." Inikah cara kau menyambut ku ." ucap Bagas yang mengusap darah di bibirnya dengan jari tangan nya .
Bugh..
__ADS_1
Satu tamparan lagi mendarat di pipi Bagas . Vero memukul wajahnya di kedua pipi nya namun Bagas masih terlihat santai sambil mengusap darah di bibirnya karena pukulan Vero . saat Vero melayangkan pukulannya kembali Alvin mencekal tangannya ." Tuan muda hentikan , jangan disini ." Alvin tidak ingin ada orang lain yang melihat nya apalagi Bagas sama sekali tidak melawan dan itu akan menyudutkan Vero nantinya .
"Alvin lepaskan ." Vero berusaha melepaskan cekalan tangan Alvin , namun Alvin sangat kuat mencekal tangannya ." Tidak Tuan muda , saya tidak akan membiarkan Tuan muda terpancing emosi oleh nya . Tuan muda harus kendalikan amarah Tuan muda sudah cukup memukulnya jangan mengotori tangan muda sendiri ." Alvin berusaha meredakan amarah Vero .
"6 tahun , 6 tahun saya menahannya dan sekarang saya kembali melihat nya ." ucap Vero yang menatap tajam Bagas ." Dan sekarang saya tidak ingin membiarkan laki - laki ini hidup tenang ."
Bugh..
Vero memukul nya kembali sampai Bagas terhuyung ke atas lantai . Alvin pun tidak bisa meredakan amarah Vero yang memang sudah lama menantikan pertemuan nya dengan Bagas . Alvin hanya melangkah ke depan pintu untuk menguncinya agar tidak ada orang yang melihat pertarungan antara mereka .
"Kenapa kau begitu marah ? apa karena wanita yang tidur bersama mu? seharusnya kau berterimakasih pada ku karena aku kau akhirnya menikah dengan wanita itu ."
Bugh..
Vero kembali memukul Bagas sampai wajahnya lebam - lebam . Bagas pun bangun dan berdiri lalu..
Bugh..
Satu pukulan mendarat di pipi mulus Vero , membuat Alvin terkejut melihat nya ." Jangan anggap aku lemah ." ucap Bagas yang sudah memukul Vero ."Aku pikir kau sudah mati Vero , kalau aku tahu kau masih hidup pasti aku akan menghajar mu lebih dulu ." Bagas melihat mobil Vero yang bertabrakan dengan container saat itu dan ternyata itu container yang di sewa Bagas untuk membuat Vero celaka sampai mobil nya hancur parah . Saat itu Bagas berpikir Vero sudah mati namun Vero bisa selamat walaupun sempat mengalami kritis dan koma .
"Sebelum itu terjadi aku yang akan menghajar mu lebih dulu .. Bugh." Alvin yang sudah geram mendengar ucapan Bagas pun mendaratkan pukulannya pada Bagas ."Siapapun yang ingin mencelakai Tuan muda akan berhadapan dengan saya ." Ucap Alvin dengan tegas. Vero pun baru melihat sikap Alvin yang tegas seperti itu ." Alvin , kenapa tidak dari tadi saja kau memukulnya kalau begitu aku tidak harus mengotori tangan ku ." pekik Vero pada Alvin yang meregangkan tangannya.
"Tadi aku masih tegang Tuan muda ." elak Alvin .
"Hm.. kau ini ." tanpa mereka sadari Bagas sudah tidak ada di tempat dia sudah pergi melarikan diri , Vero dan Alvin pun terkejut saat tidak melihat Bagas di tempatnya .
"Alvin, pergi kemana dia ?" Alvin hanya menaikan bahunya bahwa dia tidak tahu . Vero semakin geram dan kesal namun Vero tidak akan melepaskan Bagas begitu saja . Setelah lama berada di ruang meeting Vero dan Alvin pun keluar menuju kamar hotel untuk menginap karena besok masih ada pekerjaan lagi.
...----------------...
Mampir ke novel thor yang lain yuk
Sinopsis:
Apa jadinya bila hanya dengan sebuah face brush, wajahmu dapat berubah menjadi cantik seketika dan orang-orang di sekitarmu seperti terkena sihir saat melihatmu?
Hanya ada satu kata yang terlintas di kepala Meisie Callia saat itu: Kesempatan.
Tidak akan ada lagi ejekan dan hinaan terhadap dirinya, seorang gadis yatim piatu dan korban kebakaran. Segala bentuk pujian menghampirinya dan kecantikan memberikannya perlakuan istimewa.
Namun, tidak ada yang abadi di dunia ini. Roda takdir pun mulai berputar.
Akankah mimpi Meisie bertahan? Atau malah face brush yang membawakannya mimpi itu, juga yang membangunkannya pada kenyataan?
Mohon dukungannya ya 🙏, jangan lupa mampir
__ADS_1