
Restoran Shabu and Grill.
Louise mengajak Evelyn makan siang di restoran all you can eat, karena Evelyn menyukai makanan tersebut dan juga tempatnya yang nyaman, serta jenis makanan berlimpah begitu segar tersaji diatas sana.
Dimana mereka bisa menyantap hot-pot maupun shabu-shabu sepuasnya dengan harga yang terjangkau.
Dan setelah mengambil beberapa aneka lauk serta sayuran segar, mereka pun langsung duduk bersama dengan posisi saling berhadapan.
"Makan lah," ucap Louise begitu makanan telah tertata rapi diatas meja.
"Tentu, selamat makan," balas Evelyn dan mulai menaruh beberapa lauk untuk dimatangkan terlebih dahulu, baik itu yang direbus maupun dipanggang.
"Selamat makan," balas Louise.
Lalu mereka bersama-sama membolak balik makanan diatas grill agar matang merata, sesekali sumpit mereka beradu saat melakukannya bersama-sama.
"Biar aku saja yang menyajikannya untukmu Tuan," ucap Evelyn.
Louise menggeleng dan menolak. "Tidak perlu, aku bisa sendiri. Nah, ini sudah matang. Makan-lah, duluan saja tidak perlu menungguku." Lalu menaruh beberapa lembaran daging yang sudah matang diatas mangkuk nasi Evelyn dan sibuk memanggang kembali.
"Baiklah," patuh Evelyn, lalu menyantap makanannya perlahan. Sesekali menatapi wajah Louise yang sedang serius memanggang, lantas tersenyum sendiri sambil menggigit ujung sumpitnya, "Tuan paman tampan sekali," celetuknya tiba-tiba.
Louise menarik senyum. "Aku memang tampan," balasnya yang ternyata mendengar samar-samar celetukkan gadis itu.
Seketika wajah Evelyn memerah karena malu, semerah udang yang sedang mereka rebus di panci saat ini. Dan hal itu pun membuat Louise terkekeh, saat melihat Evelyn menjadi salah tingkah sambil menyembunyikan wajahnya sedikit menunduk ke arah samping.
"Sudahlah, jangan malu-malu seperti itu. Bukan dirimu saja yang berkata aku ini tampan, tapi semua wanita juga mengatakan hal yang sama seperti itu padaku," ucap Louise menyombongkan diri.
Evelyn berdecih. "Cih! Sombong sekali," gerutunya. Tapi menyetujui juga perkataan tuan pamannya itu.
...***...
Setelah puas menikmati makan siang bersama, Louise dan Evelyn pun kembali ke dalam kantor untuk bekerja, sambil bersenda gurau dan tertawa kecil bersama.
Lalu, baru saja mereka menginjakkan kaki masuk ke dalam perusahaan. Keduanya dikejutkan oleh kehadiran seorang wanita cantik, sedang berdiri dengan tatapan menyalak menatap ke arah mereka berdua.
"Nyonya Bibi," sapa hormat Evelyn.
__ADS_1
"Oh bagus sekali, jadi begini kelakuan kalian berdua kalau tidak ada aku disini! Berjalan-jalan bersama sambil tertawa tanpa mengingat status kalian sekarang ini hah!" tukas Gisella menatap sinis.
"Evelyn, jangan hiraukan dia. Lebih baik kita kembali ke ruangan sekarang," Louise meminta Evelyn agar masuk ke dalam ruangannya terlebih dahulu.
"Baik Tuan," balas Evelyn patuh.
"Jika tidak ada keperluan penting, lebih baik kau pergi dari sini!" tegas Louise kemudian pergi meninggalkan Gisella menuju ruangannya.
Gisella mendengus kesal, sambil menatap Louise dan Evelyn yang masih saja jalan beriringan tanpa memandang keberadaannya sama sekali.
Lalu mengejar Evelyn. "Mau kemana kamu hei, dasar pelakor!" tukasnya berteriak. Dan itu ia dilakukan dengan sengaja, agar semua karyawan perusahaan mendengar tudingannya.
Namun Evelyn terus melangkahkan kakinya dengan mantap, karena Louise memintanya agar tidak menoleh. Dan sudah pasti hal tersebut membuat Gisella semakin naik pitam.
Dengan cepat wanita itu menjambak rambut Evelyn agar berhenti melangkah, lalu memakinya dengan kasar. "Dasar wanita ja-lang rendahan, beraninya merebut suami orang!" tukasnya marah sekali.
"Auw sakit!" ringis Evelyn sambil memegangi rambutnya yang ditarik.
Louise menepis tangan Gisella dari rambut Evelyn dan menatap tajam dirinya. "Jaga sikapmu Gisella! Atau aku tidak akan segan-segan memanggil security untuk mengusirmu dari sini!" sentaknya.
Aksi keributan mereka pun akhirnya mengundang perhatian semua orang disana dan Gisella semakin meninggikan suaranya.
"Kenapa aku harus pergi dari sini Louise? Kenapa bukan si pelakor ini saja!" sentaknya.
Evelyn menggeleng. "Jangan Pak Louise, tidak baik memukul seorang wanita. Apalagi wanita itu sedang mengandung dan masih berstatus istrimu," ucapnya mengingatkan.
Louise menurunkan lengannya dan menghela nafas panjang, tapi tidak menurunkan emosinya terhadap Gisella. Lalu menunjuk pintu keluar. "Pergi dari sini!" pintanya sedikit membentak.
"Kenapa kau selalu membentakku Louise? Apa karena wanita ini? Apa kau tidak ingat kalau kita ini masih berstatus suami istri. Kemana rasa hormatmu kepada istrimu sendiri, kau begitu tega menceraikan aku demi cucu seorang penjahat ini!" tukas Gisella.
"Cukup Gisella!" sentak Louise.
"Aku tidak akan diam sampai wanita itu pergi dari kehidupanmu, dia adalah wanita licik. Kita belum berpisah saja dia sudah berani mendekatimu! Bukankah itu namanya kegatelan, dan kau Louise selalu saja membelanya. Apa salahku dalam hal ini! Apa salahku melarangmu untuk dekat dengannya!" sergah Gisella. Sambil menghentak tangan-tangan security yang ingin menariknya keluar dari gedung.
"Kau bahkan tega sekali membawa wanita ini masuk ke dalam rumah kita!" ucap Gisella kembali dan itu mengejutkan semua orang. Hingga tatapan sinis semua orang yang mengetahuinya pun, langsung tertuju kepada Evelyn.
"Itu rumahku, aku berhak menerima siapapun di rumahku!" balas Louise.
"Selama perceraian belum terjadi, aku berhak memutuskan sesuatu. Jika aku tidak boleh tinggal bersamamu, maka Evelyn juga tidak berhak tinggal di rumahmu!" Sentak Gisella tidak terima.
__ADS_1
Sementara Gisella mengeluarkan kekesalannya kepada Louise, orang-orang didalam gedung itu mulai membicarakan Evelyn.
"Benar-benar pelakor! Wanita tidak tahu diri, sudah dibantu tapi tega sekali menghancurkan rumah tangga orang lain!" bisik-bisik mereka yang terdengar hingga ke telinga Evelyn.
"Tidak usah heran, dia cucu seorang penjahat. Apa saja pasti dihalalkan demi mendapat suatu tujuan. Lagipula dia kan sudah jatuh miskin, pasti sedang mencari pria kaya agar bisa hidup enak lagi," tukas beberapa orang yang ada disana.
Evelyn mengepal erat kedua tangannya, merasa kesal karena tidak tahan mendengar tudingan-tudingan pedas tanpa dasar dari orang-orang disekitarnya.
"Aku bukan pelakor!" sentak Evelyn.
"Aku memang cucu seorang penjahat tapi aku bukan pelakor!" sentaknya sekali lagi, sambil menatap semua orang yang terus mencibir dirinya.
Louise menghentikan perdebatannya dengan Gisella, setelah mendengar Evelyn berteriak. lalu menatap gadis itu yang terlihat sedih namun berusaha untuk tetap tegar.
Sia-sia saja usahanya selama ini untuk membujuk gadis itu agar tidak bersedih dengan masalah keluarga yang baru saja ia alami. Hanya karena ucapan tanpa bukti dari beberapa orang.
"Sedang apa kalian berkumpul disini, kembali bekerja! Atau aku akan memecat kalian semua!" sergah Louise.
"Kenapa mereka semua harus pergi Louise, apa kau takut hubungan terlarangmu diketahui oleh semua orang!" sindir Gisella.
"Cukup Gisella, jangan berkata macam-macam lagi tentang Evelyn!" bela Louise masih berusaha sabar.
"Kenapa aku tidak boleh berkata macam-macam padanya! Apa kau takut wanita simpananmu ini akan pergi hah!" tukas Gisella.
Evelyn benar-benar sudah tidak tahan lagi mendengarnya, ia pun memilih pergi daripada harus menghadapi semua tudingan pedas dari semua orang termasuk Gisella.
Namun belum sempat Evelyn melangkah pergi, Louise segera mencekal pergelangan tangan gadis itu dan menarik pinggang rampingnya, lalu menatap tajam semua orang.
"Mulai sekarang ku tekankah kepada kalian semua, jangan ada lagi yang berani berkata yang tidak-tidak mengenai Evelynku. Karena apa? Karena setelah aku bercerai dengan Gisella, maka aku akan menjadikan Evelyn sebagai istriku!" tutur Louise penuh ketegasan dan juga keseriusan.
Semua orang terdiam membisu setelah mendengar penuturan Louise, begitu pula dengan Gisella dan Evelyn yang tiba-tiba mematung.
Louise menatap Evelyn dengan tatapan seriusnya. "Ya Evelyn, aku sedang tidak bercanda. Aku akan menikahimu setelah berhasil mengurus perceraianku dengannya." Lalu tanpa ragu mendaratkan sebuah ciuman mesra didepan banyak orang.
Membuat semua orang yang menyaksikannya langsung membelalakkan kedua mata.
"Aku mencintaimu," ucap lembut Louise kepada Evelyn yang masih terdiam mematung, berkat ciuman mendadak itu.
.
__ADS_1
.
Bersambung.