
PT. Indo Berlian Perkasa.
Ruang Direktur Utama.
Nyonya Merry mendapat kabar dari sang asisten, jika Evelyn datang ke perusahaan ingin bertemu dan berbicara dengannya.
"Biarkan dia masuk," ucapnya kepada sang asisten.
"Baik Bu Direktur," patuh sang asisten.
Tak butuh waktu lama Evelyn masuk ke dalam ruangan sang Opa, dimana tempat itu sekarang diduduki oleh Nyonya Merry.
Melihat hal tersebut, Evelyn pun nampak kesal dan mulai menegur karena menurutnya sikap Nyonya Merry telah melewati batas aturan.
"Tante, itu adalah kursi Opa ku. Tapi kenapa kau malah mendudukinya," tegur Evelyn merasa keberatan.
"Ini adalah kursi jabatan Direktur Utama dan sekarang posisi ini sedang dijabat olehku, Opa mu sedang sakit dan perusahaan ini membutuhkan pemimpin agar terus berjalan. Jadi mau tidak mau Tante lah yang harus menggantikan posisinya," balas Nyonya Merry.
"Atas dasar apa Tante mengambil alih posisi itu? Kenapa tidak ada pembahasan sebelumnya tentang semua ini, atau setidaknya beritahu aku terlebih dahulu mengenai kepemimpinan perusahaan yang baru," ucap Evelyn menyatakan keberatannya.
"Evelyn, Tante senang kau menanyakan hal itu. Karena kau sudah disini, lebih baik Tante beritahu saja sekalian." Nyonya Merry memanggil sang asisten yaitu Bu Fani, untuk membawa beberapa berkas dan juga dokumen hasil rapat para pemegang saham beberapa waktu yang lalu.
"Berikan semua ini kepada Nona Evelyn dan biarkan dia membacanya," ucap Nyonya Merry dan Bu Fany mengangguk patuh.
"Apa ini?" tanya Evelyn enggan melihat.
"Itu adalah bukti, bagaimana semua ini bisa terjadi. Mulai dari surat kuasa yang telah di tandatangani oleh opa mu sendiri dan juga dokumen lain yang menyatakan jika Tantelah yang ditunjuk dan dipercaya oleh semua para pemegang saham untuk memimpin perusahaan ini," balas Nyonya Merry.
Evelyn membaca satu persatu berkas yang telah ditanda tangani oleh Opa Bernadi, dengan tangan yang sedikit gemetaran. Lembar demi lembar setiap kata yang tertuang didalam surat tersebut, dibaca olehnya dengan seksama dan tanpa terlewat satu patah kata pun.
Evelyn terkesiap dengan hati turut merasa sakit, saat mengetahui jika berkas tersebut nyatanya benar, seperti yang telah disebutkan oleh Nyonya Merry sebelumnya.
"T-tapi bagaimana bisa dan kenapa? Kenapa kalian semua tidak bertanya terlebih dahulu padaku?" tanya Evelyn.
"Kenapa Tante harus bertanya dulu kepadamu sayang?" balas Nyonya Merry mengajukan pertanyaan.
"Karena aku adalah salah satu pemegang saham di perusahaan ini dan pemegang saham berhak tahu mengenai kepemimpinan perusahaan. Apalagi masalah perubahan kepemimpinan, aku juga berhak memberikan suaraku. Tapi kenapa kau sepertinya mengabaikan keberadaanku disini Tante," ucap Evelyn.
Nyonya Merry terkekeh. "Maaf Evelyn, sepertinya Tante kelupaan menunjukkan padamu satu berkas lagi."
__ADS_1
"Apa itu?" tanya Evelyn mulai risau.
"Bacalah, maka kau akan mengerti setelah membacanya," balas Nyonya Merry. Dengan senyuman indah menghiasi wajahnya.
Evelyn membulatkan kedua matanya dan menatap Nyonya Merry dengan tatapan tidak menyangka.
"Sahamku? Kenapa saham milikku bisa berganti nama menjadi namamu Tante?" ucapnya tidak percaya.
Nyonya Merry tersenyum tipis. "Sudah Tante katakan padamu sayang, semua ini telah diberikan dan disetujui langsung oleh opa mu."
Evelyn menggeleng. "Tidak mungkin! Kalian pasti telah menipu Opa ku atau melakukan trik kotor padanya. Karena bagaimana mungkin, Opa ku mau menyerahkan kepemilikan sahamku padamu begitu saja!" balasnya tidak terima.
Lalu membanting dokumen tersebut diatas meja kerja tepat dihadapan Nyonya Merry, hingga hembusan angin dari hempasan dokumen tersebut menerpa wajahnya.
"Jaga sopan santunmu Evelyn, ingatlah kau sedang berbicara dengan siapa!" tegas Nyonya Merry mulai meninggikan suaranya.
Evelyn menelan ludahnya susah payah dan merasa kesal dengan kenyataan tidak masuk akal yang baru saja dia ketahui saat ini. Kedua netranya bahkan sampai memerah, karena menahan amarah yang menggebu dan merasa yakin jika ada adegan tipu muslihat dibalik semua kejadian yang telah terjadi diperusahaan opa Bernadi.
"Aku tidak percaya dengan semua ini!" sentak Evelyn.
"Tidak perlu marah dan menatap Tante seperti itu Evelyn, semua ini telah terjadi. Opa mu sendirilah yang telah memberikannya pada Tante, kalau kau tidak percaya. Tanyakan saja padanya jika sudah sadar nanti!" tukas Nyonya Merry.
"Tidak ada yang salah Evelyn, kau harus menerima semua kenyataan ini. Kau bukanlah pemegang saham perusahaan PT Indo Berlian Perkasa lagi, jadi kau tidak berhak mengatur atau memberikan pendapatmu untuk perusahaan ini! Jadi mulai sekarang, belajarnya menerima dan jadilah menantu Tante yang baik dan patuh, serta perbaiki sopan santunmu itu!" tegas Nyonya Merry begitu dalam.
Evelyn memalingkan wajahnya dan tak terasa air matanya menetes begitu saja, bukan menangis karena sedih, melainkan rasa sakit akibat sulit sekali menerima kenyataan yang ada. Hingga dadanya pun terasa penuh sesak dengan rasa amarah dan juga kecewa.
...***...
Sementara itu Steve segera menghampiri Evelyn yang baru saja keluar dari ruangan Direktur Utama, setelah mengetahui jika Evelyn datang ke perusahaan ini karena ingin bertemu dengan sang Mommy.
"Eve, sedang apa kau disini. Apa yang kau bicarakan dengan Mommy didalam dan kenapa kau seperti habis menangis?" cecar Steve.
Evelyn menatap tajam Steve dan melepaskan cincin pertunangan yang tersemat dijari manisnya, lalu menyerahkan kepada Steve dengan kasar.
"Ambil ini! Mulai sekarang kita tidak punya hubungan apapun lagi!" sergah Evelyn lalu pergi dari perusahaan kakeknya sendiri.
Namun Steve segera mencekal pergelangan tangan Evelyn. "Apa-apaan ini Eve? Kau ingin memutuskan hubungan pertunangan kita? Tapi kenapa?"
Evelyn menghentak tangannya. "Jangan sentuh aku! Aku tidak sudi memiliki hubungan dengan keluarga pencuri!" sentaknya geram.
__ADS_1
Steve melebarkan kelopak matanya, lalu berganti mencengkram kedua bahu Evelyn dan menaruknya agar mendekat. "Apa maksudmu berkata seperti itu Eve? Kenapa kau menuduh keluargaku pencuri!"
Evelyn menatap tajam Steve dan berdecih. "Cih! Kau sama sekali tidak tahu atau sedang pura-pura tidak tahu? Kau dan Mommymu itu telah mencuri perusahaan Opa ku ini! Steve aku tidak menyangka kalau kau telah tega mengkhianati aku dan juga Opa ku."
"Selama ini aku mempercayaimu, karena ku pikir kau adalah pria yang baik! Tapi ternyata kau dan mommymu punya maksud tersembunyi ingin merebut perusahaan opaku, dan bodohnya aku mengetahui semua ini saat semuanya telah terlambat."
"Pantas saja kau tidak peduli dengan Opaku sama sekali, karena kau memang benar-benar tidak tulus padanya! Aku membencimu Steve!" sentak Evelyn.
"Kenapa kau marah Evelyn, opa mu sendiri lah yang memberikan perusahaan ini kepada Mommy ku. Harusnya kau marah kepada Opa mu itu," balas Steve memutar balikkan fakta.
"Kau pikir aku percaya? Opa ku sedang sakit dan aku yakin kau dan mommymu itu yang telah memanfaatkannya disaat kondisi opaku sedang lemah! Aku tidak tahu apa tujuan keluargamu melakukan semua itu pada opa ku Steve, tapi yang jelas aku tidak akan menerimanya. Dan aku tidak bisa memaafkan semua tindakan yang telah keluargamu lakukan pada keluargaku!" ucap Evelyn begitu geram.
Lalu pergi dari perusahaan itu dan meninggalkan Steve yang terlihat kesal.
"Eve!" panggil Steve namun Evelyn tetap pergi dan tidak mau mendengarkannya.
...----------------...
Mansion Opa Bernadi.
Evelyn memutuskan untuk membawa Opa Bernadi pulang dan melakukan perawatan di dalam rumah besarnya, agar bisa memangkas biaya rumah sakit yang begitu besar jumlahnya.
Karena tidak ada pilihan lain, mengingat uang transferan setiap bulan didalam rekening pribadinya pun telah distop oleh perusahaan.
Wanita itu tidak henti-hentinya menangis dan memeluk sang Opa yang masih terbaring tidak sadarkan diri. Karena dia sendiri sedang bingung saat ini, bagaimana harus menyelesaikan masalah yang terjadi di dalam keluarganya.
Terlebih bagaimana caranya agar ia bisa membayar semua biaya-biaya operasional rumah tangga setiap bulan dan lain sebagainya yang nilainya cukup fantastis jika ditotalkan.
"Opa sadarlah, banyak hal yang ingin kutanyakan padamu. Kenapa kau tega membuatku menderita sendirian seperti ini," ucapnya terisak.
"Eve, jangan menangis lagi. Masih ada Bibi dan Paman Christ disini yang ada untukmu," ucap Bibi Maureen menenangkan.
"Bibi, aku tidak tahu harus bicara apa lagi. Aku juga tidak tahu harus mengadu kepada siapa, walau aku tahu kalian semua sungguh pengertian. Tapi kalian juga perlu biaya hidup, dan bagaimana aku bisa membayar kalian semua?" ucap Evelyn semakin menangis.
"Sudahlah jangan dipikirkan Eve sayang, untuk sekarang lebih baik kita fokus pada perawatan opa mu saja." Bibi Maureen menghapus air mata Evelyn dan terus memeluknya dengan erat. Sambil berdoa agar mendapat jalan keluar yang terbaik.
.
.
__ADS_1
Bersambung.