Anak Pembantu Milik Tuan Muda

Anak Pembantu Milik Tuan Muda
bab 110. Membuat perhitungan.


__ADS_3

Ken bergegas masuk ke dalam ruangan Louise, dimana sang bosnya itu sedang terduduk dengan wajah menatap ke lantai, sambil menjambak rambutnya dengan kedua tangan.


"Pak Louise," panggilnya.


"Hem," jawab Louise lesu.


"Ada file yang ku kirimkan padamu, ku harap kau segera melihatnya. Mungkin file itu bisa membantumu menyelesaikan salah paham diantara kalian," ucap Ken menggebu. Setidaknya inilah satu-satunya cara untuk menebus kelalaiannya itu.


Louise mengangguk, lalu kembali ke meja kerjanya dan membuka laptop. "Apa judulnya?" tanyanya sambil membuka program.


"Jari jemari Ken,"sahutnya.


Louise membuka file tersebut dan Ken menjelaskan kronologi berdasarkan pengamatan singkatnya.


"Menurut pengamatanku, Steve telah menunggu Evelyn di depan perusahaan ini dan bukan hanya hari itu saja, tapi hari sebelum-sebelumnya juga Steve terlihat di depan perusahaan seperti sedang menunggu dan memata-matai seseorang," tutur Ken menjelaskan.


"Nah ini kejadian sebelum Steve berkelahi dengan seseorang, terlihat mereka berdiskusi lalu berkelahi setelahnya. Kemudian Evelyn datang dan mereka berdua pergi dari tempat kejadian," lanjutnya kembali. Lalu membuka file yang lain.


"Ini rekaman yang lainnya, Steve menunggu Evelyn dan menarik calon istrimu itu dan memaksanya agar ikut. Itu terlihat jelas sekali Evelyn memberontak disini," jelas Ken serius sambil menunjuk-nunjuk apa yang dia lihat.


"Lalu, CCTV depan perusahaan tidak menemukan mereka karena Steve telah membawa Evelyn ketempat sepi dan aku berhasil meretas CCTV jalan dekat sudut perkantoran lain dan disanalah Steve mulai melancarkan aksinya," lanjut Ken.


"Dan kau harus lihat ini Louise, sebelum Steve mencium Evelyn, pria itu seperti menatap kesekeliling lalu mengangguk kecil. Dan setelah ku perluas jarak pandang pada CCTV sudut jalan itu, aku menemukan ada pria lain selain Steve yang bersembunyi dan memegang ponsel seperti sedang merekam aksi mereka berdua," tuturnya.


Louise memperhatikan rekaman tersebut dengan seksama, entah itu diputar ulang atau dipercepat. Lalu setelah itu ia perbesar gambar dimana seorang pria yang sudah tidak asing lagi baginya.


"Marco, ya aku yakin dia adalah Marco. Tapi apa tujuan dia melakukan itu semua?" Louise bertanya-tanya.


"Marco? Siapa dia?" tanya Ken.


"Ayah dari anak yang dikandung Gisella saat ini dan aku yakin pasti Gisella lah yang memintanya untuk melakukan semua itu," terka Louise.


Wajahnya mulai menunjukkan rasa tidak suka, terlebih aksi dari Marco dan Gisella melibatkan kehidupan pribadinya.


"Lalu apa yang akan kau lakukan Louise?" tanya Ken mulai gatal tangan.


"Mau apa lagi, kita datangu tempat mereka dan buat perhitungan disana!" tegas Louise dan Ken melonjak senang.

__ADS_1


"Bagus, kalau begitu ayo kita berangkat!" ajak Ken.


Kedua pria itu pergi menuju club, dimana Marco dan yang lainnya sedang berkumpul bersama.


...----------------...


Club.


Gisella tertawa paling kencang diantara mereka bertiga, dia menepuk bahu Steve, karena merasa bangga dengan apa yang dilakukan oleh adiknya itu.


"Bagus Steve, ku pikir aksimu kemarin bisa membuat Louise panas. Tetapi kau juga menaruh kebencian di kehidupan Evelyn dengan memberi foto-foto mesum Louise kepadanya. Kalau sudah begitu, aku yakin mereka akan membuat jarak dan saling menuduh satu sama lain," gelak Gisella.


Steve tersenyum miring, sambil mengusap bibirnya dan teringat akan aksi mencium Evelyn. "Aku tidak menyangka, bibir Eve begitu membuatku kecanduan, aku jadi ingin menciumnya lagi," celoteh Steve membagikan pengalaman ciuman pertamanya.


Marco dan Gisella saling berpandangan, lalu terkekeh bersamaab. "Apa sebelumnya kau belum pernah mencium seorang wanita?" tanya Marco.


Steve menggeleng. "Belum, Eve lah yang pertama."


"Apa rasanya?" goda Gisella.


"Manis dan nikmat," balas Steve tersipu.


Namun kegembiraan mereka tidak berlangsung lama, karena didepan sana ada kerumunan orang datang tanpa diundang dan memaksa masuk untuk bertemu dengan sang pemilik club.


"Marco keluarlah!" pekik Louise, sambil menggulung lengan kemeja panjangnya hingga kesiku.


Marco pun keluar dan ia terkejut mendapati Louise telah berada di dalam club nya. "Louise, ada apa datang kemari?" tanyanya basa basi.


"Kemana Steve dan Gisella, dimana kau menyimpan wanita ja-lang dan juga bocah ingusan itu?" balas Louise ingin membuat perhitungan.


"Tenanglah Louise, aku tidak menyimpan siapapun didalam club-ku. Ada masalah apa, lebih baik kita bicarakan baik-baik terlebih dulu," balas Marco penuh dusta.


"Breng-sek! Jangan banyak basa basi dengan Louise Alexander Horisson!" sentak Louise lalu melayangkan satu kepalan tinju ke wajah Marco hingga pria itu terjerembab.


Semua pengunjung dalam club berubah panik dan menjerit histeris, mereka berlari berhamburan meninggalkan club. Bahkan penjaga keamanan di sekitar tempat itu pun tidak sanggup melerai keduanya.


Bersamaan dengan hal tersebut, Gisella beserta Steve menghampiri keributan yang sedang terjadi dan betapa terkejut mereka saat melhat Louise and the genk ada di dalam club.

__ADS_1


"Louise!" pekik Gisella melerai keributan.


Louise beralih menatap Steve dan Gisella. "Cih!Sudah ku duga kalian semua sedang berkumpul disini," sergahnya.


"Jangan membuat kerusuhan disini Louise! Apa salah Marco sampai kau tega memukulnya!" sentak Gisella tidak terima dan memapah Marco untuk duduk.


"Kalian pikir aku tidak tahu dengan apa yang telah kalian lakukan kepada Evelyn," balas Louise.


"Jangan menuduh tanpa bukti! Sudah begitu berani sekali kau datang dan berlaku arogan disini!" sentak Steve.


Louise beralih menatap tajam Steve, lalu mencengkram kerah baju pria itu dan menariknya.


"Aku datang untuk membuat perhitungan dengan kalian semua! Kau telah salah karena telah membuatku kesal dan kesalahanmu adalah telah berani mendekati bahkan mencium calon istriku!" sentak Louise lalu melayangkan satu pukulan telak.


Pria itu berubah kalap, karena ulah Steve yang telah berani mencium Evelyn, hingga membuatnya salah paham dan berujung perdebatan panjang.


Terlebih Steve jugalah yang telah sengaja menunjukkan foto-foto dirinya sewaktu lalu kepada Evelyn, sehingga calon istrinya itu berubah jijik dan tidak ingin melihatnya apalagi disentuh.


"Berhenti Louise! Jangan pukul adikku!" lerai Gisella.


"Louise hentikan!" Ken dan Marco pun ikut memisahkan.


"Ergh!!" geram Louise tidak puas memukuli Steve. "Jangan larang aku Ken!" sentaknya.


"Sadarlah, kau telah melewati batas." Larang Ken berusaha menahan Louise yang ingin memukul Steve lagi.


Louise menghembus nafasnya kasar dan berusaha menekan emosinya. Lalu menatap semua orang satu persatu.


"Marco ini peringatan untukmu, jika sekali lagi kau berani ikut campur dan membantu mereka berdua. Aku pastikan club mu ini akan hancur dalam waktu satu malam!" ancam Louise tidak main-main. Kemudian menatap Gisella dan Steve


"Dan untuk kalian berdua, jika berani berbuat macam-macam lagi. Maka aku nersumpah demi apapun yang ada di dunia ini, aku akan membuat kalian menderita!" ancamnya.


Louise beserta Ken dan anak buahnya, pergi meninggalkan club setelah puas membuat perhitungan disana.


Namun tugas Louise belumlah usai, karena ia harus meyakinkan Evelyn dan membujuk gadis itu agar mau mendengarkannya serta meminta maaf atas segala tindakannya di kantor tadi.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2