
Dua insan telah bertemu kembali dan saling menatap satu sama lain, dengan tatapan kecewa serta beragam pertanyaan menyelimuti dalam hati keduanya.
"Kenapa dia tidak menyambutku? Apa dia tidak merindukanku? Atau memang benar selama aku pergi dia menjalin kasih dengan pria lain?" batin Louise bertanya-tanya dan semakin kesal saja jika mengingat foto ciuman itu.
Sedangkan didalam pikiran Evelyn. "Kenapa dia tidak tersenyum, mana tingkah genitnya padaku. Apa benar yang dikatakan Steve, jika dia adalah seorang pemain wanita dan tidak pernah serius dengan sebuah hubungan. Dan apakah mungkin dia sudah bosan padaku dan telah mendapatkan boneka yang baru?"
Mereka berdua sama-sama menghela nafas panjang, kemudian kembali serius pada inti persoalan.
"Duduk!" titah Louise dan Evelyn menurut, lalu duduk dihadapan Louise.
"Katakan padaku, apa saja yang kau kerjakan selama aku pergi? Apa kau berpacaran dengan pria lain dan berciuman secara sembunyi-sembunyi dibelakangku?" tukas Louise.
Evelyn melebarkan kelopak matanya. "Apa maksudmu?" tanyanya tidak mengerti.
"Kau pura-pura bodoh atau memang sedang menyembunyikan sesuatu dariku hem?" sentak Louise sambil menunjukkan foto Evelyn dengan Steve yang sedang berciuman.
"I-ini," Evelyn terbata. Seketika mulutnya bungkam karena sedang berpikir kapan foto-foto tersebut diambil dan bagaimana bisa begitu pas sekali.
"Kenapa? Bukti sudah cukup jelas dan kau masih mau mengelak apa lagi?" tukas Louise.
"Ini memang fotoku dengan Steve, tapi percayalah aku tidak menjalin hubungan istimewa dengannya. Kemarin aku pulang dari kantor, tahu-tahunya Steve muncul dan menarikku agar ikut dengannya. Aku sudah menolak dan juga melawan, tapi Steve tiba-tiba menciumku," tutur Evelyn menjelaskan.
Namun Louise tetap tidak percaya, terlebih setelah salah satu pegawai kantornya ada yang berkata, jika kemarin lusa Evelyn kedapatan berduaan dengan Steve, saat mengobati luka diwajahnya sehabis berkelahi.
"Sudah berapa lama kau dan dia memulai hubungan kembali!" tukas Louise penuh penekanan.
Evelyn menautkan kedua alisnya. "Kau tidak percaya kepadaku?"
"Katakan!" sentak Louise.
Evelyn menghembus nafasnya kasar, kemudian beranjak dari tempat duduknya dan menatap Louise tajam. "Kalau kau tidak percaya padaku, untuk apa kau masih bertanya dan meminta penjelasan dariku!"
__ADS_1
"Evelyn!" pekik Louise memanggil. Ia juga beranjak dari tempat duduk untuk mencegah Evelyn pergi dari ruangannya. "Kau mau kemana?" tanyanya sambil mencekal pergelangan salah satu tangan Evelyn.
Evelyn menarik nafas dalam-dalam dan menghentak tangannya. "Aku mau pulang! Percuma saja rasanya berada disini, kau membuatku semakin sesak nafas!"
Louise mengeraskan rahang dan berganti mencengkram kedua bahu Evelyn. "Apa maksudmu? Apa aku membuatmu sesak nafas hem? Oh jadi benar dugaanku kalau kau memang berhubungan lagi dengan pria ingusan itu hah!" tukasnya.
Evelyn memejamkan kedua mata, sesekali menahan emosinya. "Sudah ku katakan, aku dan dia tidak memiliki hubungan apapun. Tapi kau tidak percaya dengan penjelasanku, jadi untuk apa aku lama-lama berada disini dan menghabiskan nafasku hanya untuk meladenimu!" balasnya sambil menunjuk-nunjuk dada Louise.
"Kenapa jadi kamu yang marah kepadaku! Apa kau tidak sadar kita sebentar lagi akan menikah dan apakah pantas seorang wanita mendekati pria lain lalu bermesraan dengannya padahal kau akan menjadi istri seseorang. Bagaimana perasaan calon suamimu mengetahui hal itu Evelyn!" sentak Louise.
Evelyn mencoba mengatur nafasnya yang menggebu dan itu terlihat dari dadanya yang terus naik turun tidak beraturan.
"Oh jadi kau ingin aku memahami perasaanmu, sementara kau sendiri tidak menyadari perbuatan apa yang telah kau lakukan semenjak kuliah dulu, hem?" ucap Evelyn membalas, lalu mengeluarkan foto-foto tidak senonoh calon suaminya itu dan melemparnya tepat didepan wajah.
Louise terpaku sambil menatapi lembaran demi lembaran foto dirinya yang berterbangan didepan wajahnya itu. "I-ini," ucapnya terbata. "Darimana kau mendapatkannya?"
"Bisakah kau menjelaskah aku tentang semua ini, foto-fotomu bersama dengan wanita lain yang berbeda-beda. Kau bukan hanya memeluk dan menciumnya, bahkan kau juga telah melakukan hubungan menjijikkan dengan semua wanita yang berada didalam foto itu!"
"Kau berkata kalau aku telah menyakiti perasaanmu, lalu bagaimana denganku? Kau telah menyembunyikan hal ini dariku cukup lama sekali.
"Aku jadi ragu padamu, jangan-jangan kau pergi ke Inggris karena ingin bertemu lagi dengan mereka semua, atau kau kesana karena ingin menambah koleksi perempuan tidurmu saja!" tukas Evelyn panjang lebar.
"Cukup Evelyn, tuduhanmu itu tidaklah benar! Aku pergi kesana memang ada urusan penting dan mulai sekarang kumohon jangan pernah membahas masa lalu! Aku akui aku adalah pria menjijikkan sewaktu dulu, tapi itu bukan berarti aku tidak bisa berubah. Mengenai hubungan kita sekarang ini, aku sangat serius. Aku tidak pernah berpikir akan meninggalkanmu setelah menikah nanti," balas Louise.
Evelyn menatap Louise dengan kedua mata yang berkaca-kaca, tidak tahu perkataan itu benar atau tidak. Namun rasanya sangat sulit sekali menerima kenyataan kalau calon suaminya itu ternyata seorang pemain wanita.
"Berapa? Berapa banyak wanita yang sudah dia tiduri, aku jadi merasa jijik sekali," batin Evelyn menangis.
"Evelyn, percayalah padaku."
Evelyn kembali mengangkat wajahnya dan menatap Louise sinis. "Kau minta aku percaya kepadamu, lalu bagaimana dengan kau. Kau tidak percaya kepadaku bukan? Bukankah itu lucu?
__ADS_1
"Evelyn __" ucap Louise namun terhenti ketika Evelyn mengangkat tangannya.
"Sudah cukup, aku tidak ingin berdebat lagi denganmu," ucap Evelyn lalu pergi.
Louise meninju dinding yang berada didekatnya, lalu terduduk lemas di bangku sambil memikirkan semua yang baru saja terjadi. Ia meraup wajahnya kasar sambil menatapi satu persatu foto-foto dirinya yang berserakan dilantai.
Seketika ia menyadari betapa jijik dirinya sewaktu dulu.
"Pantas saja dia berubah murung dan berbalik marah kepadaku, ini semua gara-gara foto-fotoku ini. Tapi yang jadi pertanyaannya adalah, siapa yang telah memberikan foto ini kepada Evelyn?" pikir Louise.
Pria itu menghembus nafas kasar keudara, sesekali menyugar rambutnya yang berantakkan. "Steve, ku yakin dia yang telah sengaja membuat jarak diantara hubunganku dengan Evelyn," duga Louise sambil meremas salah satu foto lama vulgarrnya saat sedang bersama dengan seorang wanita.
...***...
Sementara itu Ken, sedang berjuang meretas rekaman CCTV disetiap sudut jalan, sambil terus mengumpat kasar karena kesal.
"Mau bagaimana juga aku harus menemukan siapa dalang yang telah berani berbuat macam-macam dengan tuanku!" gerutu Ken.
Karena gara-gara orang tersebut, dirinya terkena semprot oleh Louise dan berakhir pemotongan gaji serta melayangnya bonus impian.
Jari-jemari pria ahli teknologi skill dewa itu begitu mahir berseluncur diatas tombol keyboard, memainkan beberapa kode yang sulit untuk dipahami oleh kalangan biasa.
Lalu dirinya tersenyum puas saat berhasil menemukan orang yang telah mengambil gambar Evelyn dan Steve yang berciuman dan meng-copy file kejadian tersebut dari awal mereka bertemu.
"Ketemu kau," ocehnya tersenyum smirk.
Secepat kilat Ken mengirim file rekaman CCTV kepada Louise sebelum terhapus, agar semua masalah bosnya cepat selesai.
.
.
__ADS_1
Bersambung.