Anak Pembantu Milik Tuan Muda

Anak Pembantu Milik Tuan Muda
Bab 95. Tersadar.


__ADS_3

Beberapa hari sebelumnya.


Mansion Opa Bernadi.


Suara sayup-sayup terdengar dari dalam ruang kamar, ketika perdebatan antara nyonya Merry dan juga suara isakan tangis Evelyn begitu menusuk indera pendengarannya.


"Eve ... " lirih Opa Bernadi kala itu.


Ia terbangun dari mimpi-mimpinya, dimana dalam mimpinya itu seluruh keluarganya berkumpul lengkap, tertawa dan bahagia bersama. Namun kebahagiaan selama dialam bawah sadar itu pun harus disudahi, mengingat tanggung jawab dan juga dosa yang pernah ia perbuat semasa hidup.


"Eve ... " lirihnya kembali.


Hingga pada akhirnya ia melihat kerumunan orang berbaju putih datang dan memeriksa semua bagian tubuhnya.


"Cepat periksa, Tuan besar telah sadar!" ucap salah satu dokter bergerak cepat.


Sebuah mukjizat pun terjadi, Opa Bernadi akhirnya tersadar dari komanya selama lebih dari satu bulan.


"Tuan besar, tolong katakan sesuatu!" pinta Dokter Gunawan sambil memeriksa kondisinya. Menggunakan sinar dari senter kecil yang menyorot dan menyilaukan indera penglihatan.


"Eve ... " Pria itu meneteskan buliran bening, sambil menyebut nama Evelyn, namun nama yang dipanggil tidak kunjung menemuinya.


Karena setelah kejadian datangnya nyonya Merry ke kediaman Opa Bernadi, Evelyn telah meninggalkan rumah karena ingin menenangkan diri dikegelapan malam.


"Tuan ... " sapa lembut Bibi Maureen. Wanita paruh baya itu berusaha keras memberi penjelasan mengenai Evelyn yang sedang pergi dari rumah.


Hingga pada suatu hari dia melihat sang cucu kandungnya kembali pada siaran langsung di televisi, tengah memperjuangkan hak para warga yang pernah ia sakiti kala itu.


Hatinya bergetar dan tersentuh, sambil memegangi dadanya yang terasa penuh sesak akan dosa, sesekali meneteskan air mata dari kedua kelopak matanya yang telah mengeriput.


"Tuan, nona Eve sedang berjuang saat ini. Ia sedang meneruskan perjuangan tuan muda waktu itu, sekarang ini apakah anda tidak ingin membantunya? Apa anda ingin kehilangan keluarga anda lagi seperti tuan muda Anthoni?"

__ADS_1


"Tuan besar, ingatlah semua harta dan kekayaan anda ini, tidaklah penting daripada keluarga anda sendiri. Harta juga tidak dapat dibawa mati, semua ini hanyalah titipan semata."


"Lagipula Tuan besar, ini adalah waktu yang tepat untuk anda memperbaiki kesalahan terdahulu, dan mengakui semuanya serta meminta maaf kepada mereka semua. Dengan begitu anda akan terbebas dari rasa bersalah," tutur bijak Bibi Maureen.


Opa Bernadi menangis, terasa berat dan terdengar sesungukkan. Ia membalik kursi rodanya dan menatap Bibi Maureen, si pelayan setia.


"Antarkan aku ke pengadilan!" titahnya dengan susah payah.


...----------------...


Pengadilan.


Kedua kubu masih saling serang satu sama lain dan pihak Nyonya Merry juga terus melancarkan serangan maupun tuduhannya kepada para pelapor.


Hingga pada tahap akhir pun, pihak dari Evelyn kehabisan bukti dan juga saksi, sedangkan pihak perusahaan masih terus menyerangnya dengan tuduhan-tuduhan pedas.


"Yang Mulia Hakim Ketua, pihak perusahaan telah memiliki bukti kuat atas kepemilikan tanah tersebut sebelumnya. Dan mereka sekali lagi telah merusak reputasi perusahaan dengan berlagak seolah-olah merekalah yang tertindas disini."


"Perusahaan juga tidak mengerti, kenapa kasus yang telah ditutup ini dibuka kembali hanya karena ulah satu nona muda," tukas jaksa pihak nyonya Merry.


Nyonya Merry tersenyum puas, bahkan dia menambahkan jika pihak lawan hanya sedang mencari alasan untuk menjatuhkan dirinya. Karena perusahaan telah berhasil diambil alih sepenuhnya.


"Yang Mulia, saya rasa Nona Eve hanya sedang kesal karena kakeknya lebih percaya kepada orang lain daripada cucunya sendiri. Itu terbukti dari surat kuasa PT dan juga Akta pemegang saham, dimana Tuan Bernadi memberikannya secara langsung kepada Nyonya Merry dan bukan kepada cucunya. Jadi bisa dikata ini adalah dendam pribadi," tukas jaksa itu lagi.


Louise yang mendengarnya nampak kesal, ia bahkan tidak sabar ingin sekali menjambak mulut pengacara Nyonya Merry yang begitu lugas dan pintar sekali menuduh serta memutar balikkan fakta dengan tuduhan pedas.


Sedangkan Evelyn nampak termenung, sambil menatapi satu persatu raut putus asa keluarga korban mafia tanah.


"Tidak! Kita tidak boleh kalah begitu saja!" batin Evelyn menolak untuk menyerah. Hingga pada akhirnya kepala gadis itu tegak saat hakim ketua ingin menutup kasus tersebut.


"Nona Evelyn Maryana Bernadi, apakah dari pihak anda ada pembelaan lain atau saksi yang dapat memberatkan pihak perusahaan? Karena jika tidak ada lagi, maka kasus ini akan kami tutup," ucap salah satu hakim.

__ADS_1


"Yang Mulia Hakim, saya kehilangan kedua orang tua saat saya baru saja dilahirkan. Saya belum sempat melihat ataupun menerima kasih sayang mereka karena kasus kecelakan yang menimpahnya saat itu."


"Saya begitu sedih dan begitu saya tumbuh besar, pikiran saya pun hanya bisa berharap tidak akan ada lagi kasus kecelakaan serupa, dimana munculnya anak-anak yatim piatu baru diluaran sana."


"Akan tetapi, ketika saya mengetahui apa alasan dibalik kecelakaan mereka hingga meninggalkan dunia ini. Itu membuat saya terkejut dan terus merutuki setiap pihak yang terlibat dalam kasus tersebut, karena mereka telah menyebabkan luka berkepanjangan bagi setiap korban-korbannya, termasuk saya sendiri."


"Untuk itu saya ingin berjuang melanjutkan perjuangan kedua orang tua saya, terutama ayah saya yaitu almarhum Anthoni Bernadi. Yang ingin mengembalikan hak para warga korban penggusuran secara paksa. Tidak peduli siapapun lawannya, bahkan saya siap melawan Kakek saya sendiri demi menjunjung kebenaran."


"Dan untuk itulah, kami semua berdiri disini. Memperjuangkan hak dan juga keadilan, serta menuntut pihak perusahaan agar dihukum seadil-adilnya," ucap panjang lebar Evelyn dengan tegar.


Lalu merangkapkan kedua tangannya sambil menatap setiap korban dan terakhir ia menatap kamera salah satu stasiun televisi yang menyiarkan siaran langsung tersebut.


"Saya Evelyn Maryana Bernadi, cucu kandung dari tuan besar Bernadi mengucapkan permohonan maaf sebesar-besarnya kepada keluarga korban mafia tanah yang pernah dirugikan oleh pihak perusahaan terutama oleh tuan Bernadi sendiri."


"Dan jika kasus dalam persidangan ini kalah, sebab bukti kuat dan juga saksi yang kurang mencukupi, maka sekali lagi saya mohon maaf. Terima kasih," ucap Evelyn lagi kembali.


Seluruh masyarakat yang menyaksikan baik dari dalam ruangan persidangan, maupun yang menonton melalui televisi terhening cukup lama. Karena tersentuh dengan penuturan Evelyn yang bisa dibilang cukup menguras emosi.


Sedangkan dari pihak Nyonya Merry hanya berdecih mendengar hal tersebut, bahkan salah satu dari mereka malah ada yang mendiskusikan tentang bayaran bonus setelah kasus ini menang nantinya.


Namun disaat putus asa itu menyelimuti seluruh korban yang bersedih, dan bertepatan dengan sang Hakim yang ingin menutup kasus tersebut dengan mengangkat ketukan palunya.


Tiba-tiba seorang pria tua dengan menaiki kursi rodanya memasuki ruangan persidangan itu. "Tunggu sebentar Yang Mulia Hakim!" tegas Opa Bernadi dari muka pintu.


Suaranya yang masuk dikeheningan ruang sidang, membuat semua orang yang mendengarnya berdiri dan terbelalak saat itu juga.


"T-tuan besar," tergagaplah Nyonya Merry kala melihat sang mantan atasan telah tersadar dari komanya.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2