
Sementara itu Opa Bernadi mengusap wajahnya yang telah mengeriput, ada rasa penyesalan yang begitu mendalam terhadap mendiang sang putra dan juga menantu, atas tindakan beberapa puluh tahun silam. Yang mengakibatkan mereka celaka, hingga kehilangan nyawa.
"Anthoni, jika saja kau menurutiku. Kau dan istrimu itu pasti masih hidup sekarang ini," gumamnya penuh penyesalan.
Dimana sifat Anthoni yang begitu jujur dan terlalu patuh terhadap peraturan negara, hingga berani melawan sang ayah demi menjunjung kejujuran akan tanah sengketa yang dijadikan lahan tambang batu berharganya sekarang ini.
"Itu tanah mereka dan kita tidak berhak mengambil tanah itu secara paksa!" bersikukuh Anthoni saat mengetahui kebenaran tersebut.
Rasa amarahnya memuncak dimana ia memergoki sang ayah bermain serong dengan wanita lain, hingga sang ibu yang terkena penyakit darah tinggi meninggal akibat tidak kuat mendengarnya.
Anthoni ingin mengadukan perkara tanah serta kasus tersebut ke pihak berwenang setempat, namun sang ayah tidak ingin usahanya bangkrut dan meminta para anak buahnya untuk mengejar sang anak yang ingin mengadukan dirinya.
Nyonya Merry yang kebetulan mendengar Anthoni telah mengetahui perilaku buruknya dengan sang atasan, ikut mengejar Anthoni dalam iring-iringan mobil para ajudan opa Bernadi.
Agar dirinya sendiri tidak dimasukan ke dalam penjara, karena peran sertanya membantu sang atasan dalam memuluskan rencana pembelian tanah sengketa.
Serta dirinya tidak ingin sampai sang suami mengetahui kasus perselingkuhannya dengan Opa Bernadi. Mengingat ancaman tanpa ragu dari Anthoni, yang akan mengadukan dirinya kepada tuan Anderson.
Anthoni menyadari mobilnya diikuti oleh para anak buah Opa Bernadi, segera memacu kendaraannya hingga melebihi batas dan aksi kejar-kejaran itu pun akhirnya terjadi.
Anthoni berhasil mengecoh para penguntit dan mengambil kesempatan untuk menurunkan sang istri beserta anaknya yang baru berusia beberapa hari, agar tidak mengikuti aksi berbahayanya.
Akan tetapi sang istri yang tidak setuju dengan keputusan Anthoni segera menolak. "Aku akan selalu mendampingi!" tegasnya.
"Kita tidak punya banyak waktu sayang, nyawamu dan anak kita begitu berharga bagiku. Aku tidak akan membiarkan kalian dalam celaka," ucap Anthoni kala itu menarik istrinya, agar keluar dari dalam mobil.
"Tidak sayang, bagaimana aku bisa hidup tanpamu!" lirih Cecilia.
Anthoni berdecak kesal, dengan paksa ia menarik bayi Evelyn dari tangan sang istri. Lalu menaruhnya di depan sudut toko.
"Tunggulah disini sayang, jika Daddy selamat. Daddy akan kembali lagi untuk mengambilmu," ucap Anthoni dan mengecup Evelyn untuk terakhir kalinya.
Lalu menutupi bayi Evelyn dengan tumpukkan kardus bekas, agar tidak ketahuan oleh para penguntit. Sesekali berharap agar bayinya selamat, paling tidak ditemukan oleh orang baik hati.
"Kenapa kau membuangnya disana sendirian Anthoni!" pekik Cecilia tidak terima.
"Kau membuatku tidak punya pilihan lain Cecilia!" jawab tegas Anthoni. Lalu memacu kendaraannya kembali ke jalanan, untuk meneruskan perjuangannya melaporkan tindak buruk sang ayah.
__ADS_1
...***...
Nyonya Merry menemukan mobil Anthoni di perjalanan menuju rumahnya, dengan segera ia menghadang mobil tersebut. Namun kecepatan yang terlalu tinggi, membuat Anthoni tidak dapat menghentikan laju mobilnya secara mendadak.
Hingga pada akhirnya ia membanting stir mobil itu ke kiri sampai menabrak tiang pembatas jalan, dan mengakibatkan kecelakaan tunggal itu pun terjadi.
Nyonya Merry terbelalak dan syok melihat kejadian tersebut, maksud hati ingin memberhentikan mobil yang ditumpangi oleh Anthoni, namun apa daya takdir berkata lain.
Anthoni beserta sang istri menghembuskan nafas terakhirnya ditempat itu juga, namun ada rasa syukur didalam hati Anthoni sendiri, dimana ia telah mengambil keputusan tepat.
Yaitu menurunkan Evelyn, hingga tidak ikut menjadi korban kecelakaan.
Opa Bernadi begitu sedih dan terguncang mendengar berita kematian Anthoni dan istrinya itu, lalu menyalahkan Merry atau semua yang terjadi.
"Jika kau berani mengadukanku, maka aku tidak akan membiarkanmu hidup tenang juga, tuan Bernadi! Sekarang tolonglah aku, karena aku sedang mengandung anakmu!" ancam nyonya Merry kala itu. Menggunakan alasan tersebut agar selamat dan bisa kabur dari kemarahan sang atasan.
Opa Bernadi tak jadi mengadukan hal tersebut dan memilih mengirim nyonya Merry ke tempat yang jauh, demi sang calon anaknya. Akan tetapi sungguh tidak disangka, anak tersebut bukanlah putranya, melainkan anak dari suami sahnya sendiri.
"Jadi aku telah tipu selama ini," ucap penyesalan Opa Bernadi kala mengetahui kebenaran tersebut.
Nasi sudah menjadi bubur, itulah pepatah yang sedang dialami oleh Opa Bernadi kala itu.
Opa Bernadi menghembus nafasnya keudara, setelah mengingat sepenggal kenangan menyedihkan tersebut. "Jangan sampai Evelyn mengetahui kejadian itu."
...----------------...
Keesokan harinya.
Pagi-pagi sekali, Evelyn mendatangi sebuah apartemen yang telah ditunjuk oleh Louise, untuk ia tempati selama bekerja di perusahaan Horisson.
"Apa ini tidak berlebihan?" batin Evelyn tak menduga.
Dan sesekali tercengang, sambil terus menatapi gedung mewah bertingkat menjulang tinggi dihadapannya itu. Karena bagaimana tidak, apartemen yang akan ia tempati nanti sudah seperti hotel berbintang saja.
Wanita itu terus melangkah maju, mencari nomor kamar yang telah diarahkan oleh Louise sebelumnya.
"510," ucap Evelyn terus menerus dan menatapi satu persatu papan angka berwarna kuning emas, yang menempel pada daun pintu apartemen.
__ADS_1
"510, akhirnya ketemu juga!" serunya sambil merogoh kunci. Lalu membuka pintu tersebut untuk masuk ke dalam.
Evelyn menghirup dalam-dalam aroma suasana baru tempat tersebut. "Semoga aku betah tinggal disini dan semoga saja si pria breng-sek itu tidak datang kesini untuk menggangguku!"
"Siapa yang kau sebut pria breng-sek?" ucap Louise tiba-tiba, tahu-tahu sudah berdiri saja dibelakang Evelyn.
Evelyn pun menoleh dan memicingkan kedua matanya. "Kau, kau si pria breng-sek itu!" umpatnya kesal. Lalu memalingkan wajahnya segera. "Entah kenapa setiap kali melihat dia, aku selalu saja kesal!" gerutunya dalam hati.
Louise menarik senyum tipis dan asik berdiri sambil menatapi Evelyn yang sedang kerepotan membawa barang bawaannya.
"Mau dibantu?" ucap Louise menawarkan bantuan.
"Tidak perlu!" tolak Evelyn tegas.
Louise hanya menaikkan kedua alisnya. "Ya sudah," balasnya dan menunggu hingga gadis itu selesai dengan ritual beres-beres kamar baru.
"Bagaimana kau bisa berada disini? Apa kau mengikutiku juga?" tanya Evelyn.
"Ini apartemen milikku, jadi aku bebas berada disini, dimanapun aku mau," balas Louise.
"Lalu, kenapa kau masih saja berdiri disini? Pergilah!" Evelyn mengusir Louise agar pergi dari kamarnya. "Membantu tidak, pergi juga tidak. Mengganggu saja," gerutunya pelan-pelan.
"Apa kau lupa, ini adalah hari pertamamu bekerja denganku. Jadi aku hanya ingin memastikan, kalau bawahanku ini tidak telat pergi ke kantor dihari pertamanya bekerja, dengan alasan lelah gara-gara pindahan," balas Louise.
"Lalu? Apa kau tidak ada pekerjaan penting dikantor, sampai harus sibuk mengurusi urusan orang lain?" ucap Evelyn ketus.
"Mengurusi urusanmu juga termasuk pekerjaan pentingku!" jawab cepat Louise, lalu melihat jam ditangannya.
Evelyn termangu mendengar penuturan Louise. "Mengurusiku, termasuk pekerjaan penting untuknya juga? Apa maksudnya?" batin gadis itu bertanya-tanya.
"Sekarang cepatlah berkemas, lima belas menit lagi kita harus pergi ke kantor! Aku menunggumu dibawah, kita pergi bersama-sama," ucapnya melanjutkan. Lalu turun ke bawah untuk mengambil mobil.
Evelyn mengerutu. "Dia selalu saja memerintah orang seenak jidatnya, lima belas menit? Mana cukup untuk berdandan."
.
.
__ADS_1
Bersambung.