
"K-kau apakah tuan paman, t-tapi bagaimana bisa?" ucap Evelyn terbata dan menatap pria disebelahnya dengan penuh selidik.
...***...
Beberapa saat sebelumnya.
Louise segera pergi ke bioskop, setelah mengetahui tujuan Evelyn dan Steve yang ingin menonton film bersama sehabis makan malam.
Pria itu lantas memesan tiket film dan tidak tanggung-tanggung, Louise bahkan memesan seluruh kursi untuk satu gedung penuh. Dan membagikannya secara cuma-cuma bagi siapapun sukarelawan yang ingin masuk dan menonton film di bioskop tersebut.
Tidak lupa pria itu menyisakan dua kursi kosong dengan jarak berjauhan, yang sudah pastinya untuk Evelyn dan Steve saat mereka tiba di bioskop nanti untuk membeli tiket dikasir.
Serta satu kursi kosong untuk dirinya sendiri, setelah tahu Evelyn duduk dimana, barulah Louise akan menduduki kursi disebelahnya.
Lalu, membeli popcorn dan makanan lain untuk dibawa ke atas. Kemudian menjatuhkan popcorn Evelyn dengan sengaja, sambil menunjukkan senyum smirknya dikegelapan ruang.
Heh!
Karena bagi Louise, hanya dirinya lah pria yang boleh dekat dengan Evelyn dan pria lain tentu saja tidak boleh dekat-dekat.
Titik! Begitulah keegoisan Louise kala itu.
Entah sebab apa, tapi satu hal yang pasti. Louise tidak akan membiarkan Evelyn didekati oleh pria lain selain dirinya sendiri. Apalagi pria itu belum jelas kepribadiannya dan salah satunya ialah Steve.
Selain itu, Louise juga tidak ingin Evelyn sampai bergantung kepada pria lain selain dirinya.
"Tuan, itukah dirimu?" tanya Evelyn dengan raut wajah penasaran.
Mengingat didalam ruangan tersebut sangat minim cahaya, yang mengakibatkan penglihatan menjadi kurang jelas, sebab lampu disana telah dimatikan.
"Menurutmu?" balas Louise begitu santai sambil memakan popcornnya.
Evelyn membukatkan kedua matanya. "Kenapa kau mengikuti kami berdua?" tukasnya tidak suka.
"Kenapa aku harus mengikuti kalian, aku memang sudah berada disini sejak dari tadi sebelum kalian. Harusnya akulah yang bertanya, kenapa kalian bisa ada disini juga," balas Louise.
Evelyn mengepal erat kedua tangannya dan mendengus kesal, lalu beranjak ingin pergi. Namun Louise segera melarangnya. "Kau mau kemana, film saja belum setengah jalan."
"Setelah melihatmu, aku jadi tidak ingin menonton film lagi, Tuan." Evelyn menepis tangan Louise, namun Louise menekan bahu Evelyn agar duduk kembali.
"Tunggulah sebentar sampai film ini selesai, kasihan pacarmu sudah membelikan tiket mahal dan terbuang percuma begitu saja kalau kau pergi," ucap Louise.
__ADS_1
Evelyn mendengus kesal, tapi ada benarnya juga perkataan Louise. "Kalau aku pergi, itu sama saja aku tidak menghargai apa yang diberikan oleh Steve padaku," batinnya tidak jadi pergi. Karena Evelyn tidak punya pilihan lain, selain harus menunggu film tersebut hingga selesai diputar.
Louise menarik sudut bibirnya, lalu mengulurkan popcorn kepada Evelyn yang sedang cemberut dan memaksanya untuk menerima. "Makan dan nikmati saja filmnya," ucap Louise tanpa melepaskan pandangan dari layar.
Evelyn menghela nafas. "Baiklah," balasnya mau bagaimana lagi.
Sementara itu Steve memperhatikan kejadian tersebut dan merasa aneh dengan keduanya. "Kenapa Eve sepertinya kurang nyaman dan kenapa dia mau saja makan makanan dari pria asing?" gumamnya bertanya-tanya.
...***...
Film tengah diputar dan para penonton pun menikmati pemutaran film tersebut, banyak dari mereka yang hanyut dalam suasana dan terbawa alur cerita. Termasuk Evelyn.
Gadis itu tertawa jika melihat adegan lucu, menangis jika melihat adegan sedih dan merasa gemas jika terjadi adegan menegangkan.
Hal tersebut membuat Louise tersenyum dan tidak henti-hentinya menatap Evelyn yang sedang fokus menonton film.
Tidak lupa menyediakan berbagai keperluan darurat, untuk diberikan kepada Evelyn. Seperti sapu tangan untuk menghapus air mata saat menangis, bahu untuk bersandar dan genggaman tangan jika sedang terbawa suasana serius.
Louise tidak mengerti dengan apa yang tengah ia rasakan saat ini, namun ada ketenangan dan juga kegembiraan dalam hatinya jika bisa berdekatan dengan Evelyn setiap saat dan menjadi pria satu-satunya yang selalu ada dan berguna untuknya.
Evelyn merasa canggung saat melihat film tengah memutar adegan romantis diatas ranjang, pandangannya seperti ragu-ragu untuk menatap adegan tersebut dan Louise menangkap ekspresi malu-malu itu.
"Film ini banyak sekali adegan ranjangnya, kalau tidak sanggup menonton adegan ini, lebih baik jangan memilih film bertema cinta," ucap Louise menyinyir.
Louise mendengus kesal mendengar kata istri, dimana ia sendiri sedang mengurus perceraiannya dengan Gisella. "Anak ini, semakin lama semakin bisa membalasku," batinnya merasa tersentil.
Evelyn tersenyum smirk, kebungkaman Louise membuatnya puas sekali. Tapi ada pertanyaan besar mengganjal dalam hati Evelyn, yang masih belum terjawab sampai saat ini, kenapa sang tuan paman tidak ingin membahas masalah istrinya.
"Apa yang terjadi, mereka sudah menikah cukup lama. Tapi aku tidak pernah melihat sekali pun tuan paman menggandeng nyonya bibi?" batin Evelyn penasaran.
...----------------...
Kediaman nyonya Merry.
Steve termenung memikirkan hubungan Evelyn dengan pria yang duduk disebelahnya saat menonton bioskop belum lama tadi, entah mengapa ia merasa jika Evelyn begitu dekat dengan pria itu.
Hingga film telah selesai diputar pun, pria tersebut nampak terus saja memandangi Evelyn. Terlebih ketika melihat ketegasan pria itu saat ingin mengantar Evelyn pulang.
Pulang denganku!
"Siapa dia, apa mereka punya hubungan?" batin Steve masih berusaha mencerna semua hal yang terjadi.
__ADS_1
"Ada apa sayang?" tanya Nyonya Merry mendekat kepada putranya yang sedang melamun.
"Tidak ada Mom," balas Steve menggeleng lemah.
"Kenapa? Cerita saja pada Mommy, apa kencanmu gagal?" tuntut Nyonya Merry.
"Kencanku dengannya lancar, hanya saja saat jalan bersama Eve ada seorang pria aneh yang begitu menjaga Eve agar aku tidak bisa mendekatinya," balas Steve.
"Siapa Steve?" tanya Nyonya Merry.
"Itu Louise, suamiku!" ucap Gisella menyela.
"Kakak," ucap Steve menoleh dan begitupun dengan Nyonya Merry.
"Suamimu? Louise? Apa maksudmu Gisella?" tanya Nyonya Merry tidak mengerti.
Gisella menceritakan hubungan Louise dengan Evelyn, dari awal sampai akhir. Wanita itu juga menuduh jika Evelynlah biang kerok dari putusnya hubungan pernikahannya dengan Louise.
"Siapa lagi pria yang selalu menjaganya jika bukan Louise seorang, aku tidak mengerti kenapa dia melakukan hal tersebut. Tapi aku yakin, Evelynlah yang selalu menggoda suamiku," ucap Gisella pasti dan merasa kesal.
"Eve ku bukan tipe wanita seperti itu!" sentak Steve tidak terima dengan pernyataan Gisella.
"Kau adikku yang polos dan tidak tahu bagaimana sifat asli wanita pujaan hatimu itu sebenarnya. Dia perempuan licik, entah hubungan mereka berdua sudah sampai sejauh mana. Atau bisa saja mereka sudah melakukan hubungan yang lebih serius lagi," ucap Gisella.
Steve terpejam sambil mengepal erat kedua tangannya dan mengingat kembali beberapa kejadian sewaktu Evelyn baru kembali di Yogyakarta. "Tanda merah itu, apakah itu ulah pria yang sama.
"Tidak! Aku percaya pada cintaku, Eve tidak mungkin melakukan hal buruk yang melebihi batas norma!" tegas Steve dan melangkah masuk ke dalam kamarnya.
"Terserah apa katamu, tapi tunggu saja, akan ada hari dimana kau akan tahu jika wanita itu adalah wanita tidak bermoral!" tukas Gisella.
"Gisella hentikan ucapan tidak terbuktimu itu! Apa kau tidak lihat adikmu berubah sedih saat mendengarnya!" ucap Nyonya Merry.
"Mom, apa yang aku katakan itu benar. Memang belum ada bukti, tapi aku yakin kalau wanita itu bukanlah wanita baik-baik. Dan jangan salahkan aku jika Steve sedih, karena memang akar permasalahannya bukanlah padaku!" balas Gisella lalu pergi ke rumah sang ayah sebelum ayahnya mengetahui jika dia berada di rumah sang ibu.
"Jika ucapan Gisella terbukti benar, sumpah demi apapun keturunanmu juga tidak akan aku lepaskan tuan besar. Karena telah tega menyakiti hati kedua anakku!" geram Nyonya Merry merasa sakit hati.
Dimana Evelyn salah satu penyebab putusnya hubungan pernikahan Gisella, serta Steve yang merasa sakit hati, karena ulah wanita yang sama.
.
.
__ADS_1
Bersambung.