
Louise tengah uring-uringan, pasalnya ia sama sekali belum mendapat kabar dari siapapun mengenai Evelyn hari ini.
"Kemana sayang ku ini, kenapa dia belum mengabariku tentang keadaannya hari ini dan kenapa nomornya tidak bisa dihubungi?" cemasnya.
Terlebih nomor Ken juga sulit sekali untuk dihubungi, begitu pula dengan anak buahnya yang lain.
Kesal rasanya, pria itu pun mencaci maki semua anak buahnya termasuk Ken. Hingga pada akhirnya ia menghubungi orang rumah, karena kalau dihitung-hitung, jam segini Evelyn pasti sudah pulang dari bekerja.
"Evelyn sudah pulang ke rumah Tuan, tapi tidak tahu mengapa dia terlihat murung dan mengunci diri di kamar. Ia juga belum keluar dari kamarnya, dia juga bilang tidak ingin diganggu oleh siapapun," ucap Selvi.
Dan semakin gundah gulana-lah si Louise ini dan menduga-duga hal lain yang berkaitan dengan seorang pria. "Apa dia menemukan pria lain dalam hidupnya karena terlalu lama ditinggal olehku?" pikirnya negatif.
"Apa dia sudah makan? Atau bicara sesuatu tentang hal lain misalnya pria begitu?" cecar Louise.
"Tidak Tuan, dia pulang langsung masuk ke dalam kamar dan belum makan apapun."
"Ya sudah kalau begitu, jika bertemu dengannya saat makan nanti, tolong suruh Evelyn segera menghubungiku atau paling tidak angkat telepon dariku ya," ucap Louise.
"Baik Tuan," patuh Selvi dan panggilan itu berakhir.
Louise mengusak rambutnya hingga berantakan. "Apa aku harus pulang sekarang, lalu bagaimana dengan ularku ini? Apa dia sudah pulih sepenuhnya? Bagaimana kalau ada efek samping nanti, apakah ada garansi?" ucapnya berkacak pinggang di depan cermin, sambil menatap si ular.
Tak lama setelah itu ponselnya berbunyi, dan Louise segera menyambar ponselnya.
"Hallo honey, kenapa lama sekali meneleponku dan kenapa kau tidak menganggkat panggilanku tadi. Ada apa denganmu? Selvi bilang kau pulang dari perusahaan dalam keadaan murung," cerocos Louise.
"Katakan padaku Louise, kapan kau pulang ke Indo?" tanya Evelyn.
"Kira-kira dua minggu lagi, tapu kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu padaku honey? Apa kau sudah tidak tahan ingin bertemu denganku?" balas Louise percaya diri.
"Ada hal penting yang ingin kubicarakan padamu," balas Evelyn.
"Hal penting apa? Bicarakan saja disini, aku akan setia mendengarmu." balas Louise.
Evelyn menggeleng. "Tidak, setelah kau pulang baru kita bicarakan masalah ini." Lalu menutup panggilan secara sepihak.
Louise mengerjap-erjapkan kelopak matanya berkali-kali, merasa bingung dengan nada bicara Evelyn yang terdengar kesal.
"Ada apa dengannya?"
Lalu setelah panggilan itu berakhir, Louise mendapat panggilan kembali. Dan kali ini dari Ken.
__ADS_1
"Hei darimana saja kau Ken? Kenapa jam segini baru menghubungiku?" cecar Louise agak kesal.
"Maaf, baru isi pulsa. Panggilan jarak jauh butuh pulsa yang banyak," balas Ken cengengesan.
Louise mendesahh panjang. "Ya sudah, kalau begitu berikan laporanmu!" titahnya.
Ken memberitahu Louise tentang pekerjaan penting di perusahaan, dan tidak sempat mengawasi Evelyn sepanjang hari ini karena sibuk bekerja. Hingga tidak mengetahui jika Evelyn telah bertemu dengan Steve saat pulang.
Dan mengenai mata-mata yang telah ditunjuk untuk mengawasi Evelyn pun, kehilangan jejak saat kerumunan perkelahian terjadi. Jadi mereka tidak bisa memberikan laporan mengenai kondisi Evelyn setelah pulang bekerja.
Selain itu, kondisi Evelyn yang tengah murung membuat Louise ingin segera pulang ke tanah air. Dan ingin sekali rasanya menanyakan tentang apa yang sebenarnya terjadi.
...----------------...
Sementara itu, Gisella menyambut kedatangan Marco dengan senyum indah diwajahnya. Namun senyuman indah itu seketika runtuh, setelah mengetahui aksi memata-matai Evelyn gagal, karena ulah satu orang pria tidak dikenal.
"itu semua karena pria tadi, dia mengaku-ngaku sebagai kekasih wanita itu. Dan dia tidak terima jika aku menegurnya sama-sama membuntuti," jelas Marco.
Gisella sejenak berpikir, "Apa pria itu Steve?" batinnya menduga. Lalu menyebutkan ciri-ciri adiknya. "Apa dia pria muda bertubuh jangkung?"
Marco mengangguk. "Iya, darimana kau tahu?"
Gisella menghembus nafasnya kasar. "Itu adikku Steve," balasnya.
"Itu karena Steve mencintai gadis itu," balas Gisella.
Marco mengangguk paham. "Maaf kalau begitu, tadi aku menghajarnya hingga babak belur."
Gisella terkejut. "Kau menghajarnya? Apa dia baik-baik saja?" cemasnya.
"Hanya lebam saja di wajahnya, dia juga sudah mendapat perawatan dari wanita itu."
Gisella bernafas lega, tapi setelah mengetahui jika Steve telah bertemu dengan Evelyn, membuat Gisella berpikir mengajak Steve untuk bekerja sama.
Segera wanita jtu menghubungi Steve dan memintanya untuk datang ke alamat yang ditelah dikirimkan melalui pesan.
Lalu setelah Steve tiba ditempat, Gisella segera menyambutnya dengan rasa prihatin melihat wajah babak belur adiknya itu. "Kasian sekali, sini biar kakak ganti plesternya."
Steve menurut, kemudian duduk dikursi sambil memandangi tempat asing baginya. "Kakak, kau tidak pulang ke rumah selama beberapa hari. Dan kenapa tiba-tiba berada ditempat asing?"
"Ceritanya panjang," balas Gisella.
__ADS_1
Tak berselang lama kemudian Steve berdiri, menatap tajam pria yang baru saja berjumpa dengannya. "Kau! Sedang apa disini? Jangan bilang kau membuntuti kami juga," tunjuknya.
Marco mendekat. "Maaf Steve, jangan salah paham dulu. Aku Marco, maaf tadi aku telah menghajarmu."
Steve menautkan kedua alisnya dan merasa bingung, lalu menatap Gisella. "Kau mengenal pria itu?" tanyanya.
Gisella mengangguk. "Iya, kami saling mengenal. Dia Marco teman Kakak."
Marco memperkenalkan diri. "Steve, anggap saja aku sebagai kakak iparmu."
Steve semakin tidak mengerti, namun setelah Marco mengelus perut kakaknya itu. Ia menyadari sesuatu. "Jadi kau ayah dari bayi dalam kandungan Kakakku?"
"Bisa dibilang begitu dan kami akan menikah setelah berhasil membuat jarak diantara Louise dengan Evelyn. Untuk itulah kami mematai-matai dia dan mencari cara agar Louise salah paham terhadapnya," balas Gisella.
Steve akhirnya mengerti, namun menolak agar pria lain mendekati wanitanya itu. "Aku saja yang mendekati Eve-ku, kau Marco ambil fotoku saat aku dan dia berduaan. Aku pastikan besok akan ada foto bagus untuk dikirimkan kepada kakak ipar," ucapnya tersenyum miring.
Marco mengerti dan menyerahkan tugas mendekati Evelyn kepada Steve, sedangkan dirinya akan menjadi photografer dari kejauhan saja.
...---------------...
Keesokan harinya.
Selama memata-matai kurang lebih satu bulan belakangan ini, Steve mulai hapal apa saja yang menjadi kebiasan Evelyn. Mulai jam pulang kerja gadis itu, hingga kemana saja ia pergi setelahnya.
Seperti saat ini, Steve mengikuti Evelyn menuju pusat perbelanjaan. Dan disaat para anak buah Louise tengah lengah, serta waktu yang tepat, Steve segera menarik Evelyn untuk menjauh, lalu membawanya hingga ke tempat sepi.
"Steve kau ingin membawaku kemana!" ucap Evelyn menolak.
Namun Steve terus mencekal pergelangan tangan Evelyn, dan setibanya ditempat yang sesuai, Steve memberi kode kepada Marco untuk segera mengambil gambarnya.
"Steve apa yang kau lakukan disini, lepaskan aku!" sergah Evelyn menghentak tangannya.
Steve melepaskan tangan Evelyn, kemudian berganti menangkup kedua sisi wajah wanita itu. Lalu tanpa aba-aba lagi, Steve mendaratkan ciuman untuk Evelyn dan menahannya sejenak agar Marco dapat mengambil fotonya itu.
Marco pun tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut, dengan cekatan tangannya mengambil gambar dalam posisi yang sangat bagus.
Dan tersenyum puas setelah berhasil mendapatkannya. "Gisella pasti senang saat aku menunjukkan foto ini," batin Marco.
.
.
__ADS_1
Bersambung.