Anak Pembantu Milik Tuan Muda

Anak Pembantu Milik Tuan Muda
Bab 37. Terus mencari.


__ADS_3

Beberapa saat kemudian.


Ken berkata kepada Selvi, meminta dirinya untuk segera memanggil Evelyn karena ini sudah waktunya untuk belajar.


"Selvi, tolong panggilkan Evelyn. Sudah 30 menit dia belum datang kesini juga," pinta Ken.


"Kau itu kenapa bawel sekali, biarkan dia istirahat dulu. Dia kan baru pulang sekolah, harus makan dan ganti baju juga," balas Selvi.


"Iya tau, tapi ini sudah cukup lama. Sedang apa sih sebenarnya dia itu?" tanya Ken tidak sabar.


Selvi menghembus nafasnya kasar dan membenarkan juga perkataan Ken tadi. Bahwa Evelyn belum menunjukkan batang hidungnya hingga lama seperti ini, padahal Evelyn tidak pernah melewatkan jam makan siang.


"Ya sudah, biar aku panggilkan dulu." Selvi menghampiri kamar Evelyn yang masih tertutup rapat. "Apa dia masih bicara dengan tuan Louise?" batinnya bertanya.


"Evelyn," panggil Selvi sambil mengetuk pintu.


"Evelyn," panggilnya sekali lagi.


Dirasa tidak mendapat jawaban, Selvi pun membuka pintu kamar Evelyn yang kebetulan tidak terkunci, lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar.


"Evelyn," sapa Selvi lagi. Namun nama yang dipanggil tidak kunjung jua menyahut. "Kemana dia?" gumamnya bertanya. Firasat buruk menerpa wanita itu, dikala pintu lemari baju Evelyn terbuka lebar.


Ia lantas membulatkan kedua mata, saat menatapi lemari baju tersebut telah kosong tanpa sisa.


"Jangan-jangan," duga Selvi. Terlebih ketika melihat semua barang Evelyn tidak ada ditempatnya.


"Evelyn!" pekik Selvi panik sekali. Lalu bergegas mencari semua orang dan memanggilnya.


"Kenapa kak Selvi?" tanya Mika keluar dari ruang laundry.


"Iya ada apa?" tanya Ken, begitu pula dengan petugas keamanan dan petugas kebun disana.


"Apa ada dari kalian yang melihat Evelyn?" tanya Selvi dan semua orang menggeleng.


"Bukankah dia tadi ada didalam kamar?" tanya Ken.


"Iya, tapi di dalam sana tidak ada. Terus semua barang dan baju juga sudah kosong, sepertinya dia pergi dari sini lewat belakang," balas Selvi. Ketika melihat jendela kamar Evelyn terbuka tadi.


"Ya sudah lebih baij kita mencari Evelyn segera sebelum hari gelap!" tegas Ken.


Selvi mengangguk. "Baik, kita harus mencarinya sampai ketemu. Kalian juga tolong bantu cari Evelyn disekitaran sini," ucapnya pada petugas disana dan mereka mengerti.

__ADS_1


"Ayo Mika!" ajak Selvi.


"Iya kak," balas Mika.


Ken beserta Mika dan Selvi pergi mencari Evelyn, dengan tidak lupa menghubungi Louise untuk memberitahu keadaan darurat padanya mengenai Evelyn yang tiba-tiba kabur dari rumah. Akan tetapi hasilnya sia-sia, karena nomor yang dihubungi tidak aktif sama sekali.


...----------------...


Sementara itu Louise mematikan ponsel, karena dirinya bersama dengan Gisella tengah berada di dalam pesawat menuju tempat dimana mereka akan menghabiskan bulan madu.


Dan selama diperjalanan tersebut, hati Louise mendadak gelisah. Karena hari ini, pria itu belum mendapat kabar terbaru dari Selvi mengenai Evelyn, tentang ponsel baru pemberiannya.


"Apa Selvi sudah memberikannya pada Evelyn?" batinnya bertanya.


Sebab Louise merasa penasaran sekali ingin mengetahui berita tersebut dan ia juga ingin sekali melihat ekspresi apa yang akan ditunjukkan oleh anak pembantunya itu melalui panggilan video call mereka nanti.


"Dia pasti senang sekali saat menerima pemberian hadiahku kali ini dan aku sudah tidak sabar menunggunya mengucapkan terima kasih padaku. Hem, baiklah. Setibanya disana aku akan segera menghubungi dia," ucap Louise bergumam sendiri sesekali tersenyum jika memikirkannya.


Tak ada bedanya dengan Louise, Gisella juga sudah tidak sabar mendengar kabar terbaru tentang Evelyn. Lebih tepatnya apa yang akan terjadi pada gadis itu setelah didamprat habis-habisan olehnya.


"Tersenyumlah Louise karena setelah ini kau akan mendapatkan kabar mengejutkan tentang pembantumu itu," batin Gisella tak sabar.


Lalu, wanita itu mengelus pergelangan tangan Louise. "Sayang, kau sedang memikirkan apa?" tanya Gisella.


Gisella mendengus, tapi dia tetap berusaha untuk sabar. Perlahan-lahan ia kembali melingkarkan tangannya pada otot lengan Loiuse dan bersandar dibahu suaminya itu.


"Umm suamiku sayang, aku sudah tidak sabar menghabiskan bulan madu kita dan bersenang-senang disana?" ucapnya manja dan antusias.


Louise menghembus nafasnya kasar dan mendesis kesal, lalu menyingkirkan tangan serta kepala Gisella dari lengan kekarnya.


"Jangan dekat-dekat, jika bukan karena Mommy yang memaksaku untuk pergi, sudah pasti aku tidak akan menuruti keinginan tidak bermanfaatmu itu!" balas Louise dingin.


Gisella mengelus wajah Louise. "Suamiku yang tampan, jangan marah-marah terus. Bukankah kita sudah menikah, bagaimana kalau kau lampiaskan semua kemarahanmu itu padaku saat kita sudah berada diatas kasur nanti," godanya sambil tersenyum.


Louise menatap Gisella tajam. "Kita memang sudah menikah, tapi itu hanya sekedar status dan tidak lebih. Jangan lupakan itu Gisella dan sekarang menjauhlah dariku!" ucapnya memperingati.


Gisella tersenyum dan menggeleng. "Louise, Louise. Kau itu keras kepala sekali, apa kau tidak takut akan menyesal nantinya."


Louise tak mengindahkan ucapan dari Gisella, dan memilih membaca buku saja dari pada melayaninya berdebat.


Gisella melirik ke arah Louise yang tidak memandangnya sama sekali, rasa dongkol wanita itu akibat dipermainkan Louise tadi pagi pun, tidak akan mudah mereda begitu saja.

__ADS_1


"Semoga saja anak pembantu sialan itu benar-benar pergi dari rumahnya dan aku tidak sabar menunggu reaksi apa yang akan kau tunjukkan padaku Louise. Kita lihat saja, apa yang bisa kau lakukan saat tahu anak pembantu sialanmu itu pergi!" gumam Gisella tersenyum smirk.


...----------------...


Sementara itu, Selvi beserta rekan-rekannya masih berjuang mencari Evelyn ke segala penjuru, hingga kawasan hutan pun tidak luput dari pencarian mereka.


"Kak Selvi, kita harus mencari kemana lagi. Aku takut sekali, mana hari sudah mau sore." Mika menunjukkan rasa kekhawatirannya.


Terlebih lagi hari semakin lama semakin gelap karena kabut dingin dan juga cuaca yang tidak mendukung dilokasi tersebut.


"Aku juga takut, tapi kita harus terus mencari dan semoga saja Evelyn segera ditemukan dan tidak terjadi hal buruk padanya," balas Selvi cemas.


Kedua wanita itu tidak dapat menyembunyikan lagi rasa takut mereka akan keberadaan Evelyn saat ini, mengingat Evelyn termasuk orang baru yang tidak familiar dengan kawasan mereka tinggal.


Serta banyaknya tindak kejahatan disana yang tidak menutup kemungkinan bisa menimpah kepada siapa saja termasuk Evelyn sendiri.


Selvi mencoba menelepon Louise kembali, atau siapapun orang yang bisa dimintai pertolongan untuk membantu mencari Evelyn. Termasuk pak Santos yang sedang dalam perjalanan menuju pencarian.


"Nomor tuan Louise masih belum aktif," ucap Selvi gemas, kali ini dia menangis karena cemas sekali dan begitupun Mika.


"Sudahlah kalian jangan menangis, lebih baik kita mencari Evelyn lagi. Kali ini kita cari lebih ke tempat yang lebih jauh lagi," ucap Ken lalu melajukan kembali mobilnya. Setelah melakukan pencarian didaerah tersebut.


...----------------...


Bandara.


Louise bergegas menyalakan ponsel, setelah berhasil menapakkan kakinya ke darat. Pria itu begitu tidak sabar untuk menghubungi Evelyn melalui ponsel baru pemberiannya.


Louise tersenyum tanpa henti, saat mengetahui nomor Selvi selalu menghubunginya beberapa kali.


"Selvi terus saja mengubungiku, dia pasti ingin mengabariku sesuatu mengenai hadiah yang kuberikan untuk Evelyn. Kalau begitu aku akan menghubungi Evelyn saja langsung," ucap Louise bermonolog.


Lalu menekan nomor Evelyn yang memang sudah dia beli dan dipasangkan pada ponsel itu sebelumnya, sebuah nomor yang hanya ia ketahui seorang.


Pria tampan berusia 32 tahun itu menunggu dengan sabar, akan tetapi raut wajahnya berubah gemas saat Evelyn tidak kunjung juga menjawab panggilannya itu.


"Kemana dia?" gumam Louise tak sabar.


Lalu menekan sekali lagi nomor tersebut dan melewati banyaknya pesan dari Selvi tentang Evelyn yang kabur dari rumah, serta kepergian gadis itu yang tidak membawa ponsel bersamanya.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2